Bukan hanya tentang cinta. Tapi, tentang ikrar dari sebuah pernikahan itu sendiri. Mencintai, tapi tidak dicintai, rasa sakit yang bertubi-tubi. Yang pada akhirnya memilih pergi, setelah sebuah pengorbanan mewakili rasa cinta yang mendalam.
Dua kisah yang berbeda, tapi tujuannya sama. memperjuangkan pernikahan.
Aulya, nama yang simpel, tapi hidupnya penuh kesedihan. Menikah dengan Muhammad Zaen, laki-laki yang tidak mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syarifatul hidayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Benar-benar Malu
"Ayo cepat mandi, kita sholat bersama. Kenapa kamu bengong," Panggil Zaen
"Mas, koperku benar yang ini kan?"
"Iya, kenapa? Kita kan tidak naik pesawat, dimobil juga tidak orang lain, hanya kita." Ujar Zaen heran melihat Aulya, yang masih merasa heran melihat isi kopernya.
"Bajuku ketukar Mas,"
"Loh, ketukar dengan siapa?"
Zaen akhirnya melihat isi koper Aulya, dia juga merasa heran dengan baju-baju yang ada di dalamnya. semua baju yang ada di koper aulya, sudah di ganti dengan baju dres pendek tanpa lengan, dan ukuran panjangnya hanya se lutut saja.
Karena semua rencana di atur Bapak Fakhri, maka semua yang terjadi dengan kesalahan koper, mungkin juga Bik Ita, yang di perintah ibu Irma. Hanya saja Aulya tidak menyadari akan semua itu.
Aulya terlihat sedih, dia bingung untuk ganti baju. Dan bagaimana jika dilihat oleh orang lain.
"Kamu pakai saja, bukankah aku suami kamu, lagian kita hanya berdua saja disini, kalaupun pak wito dan bibik kesini, dia pasti menelpon kita terlebih dahulu."
"Mas tidak keberatan, Aulya pakai baju pendek? Tidak akan di bilang ganjen kan?" ujar Aulya masih dengan raut wajah sedih.
"Iya, pergilah untuk mandi, kita harus sholat duhur."
Aulya akhirnya memilih baju yang ukurannya paling panjang. Tapi, tetap saja hanya selutut. Dengan perasaan sedih dan malu, dia berjalan lemas sekali.
Setelah selesai, Aulya melangkah menuju kekamar, panas dingin dirasakan oleh Aulya. Karena dirinya tidak penah membuka Aurat, meskipun di hadapan Zaen.
Mata Zaen tidak berkedip saat melihat Aulya, perasaan apa yang datang Zaen pun tidak paham. Tapi jantungnya berdetak kencang. Aulya menyadari jika dirinya sedang di perhatikan oleh Zaen.
"Mas, kita sholat,"
"Iya," terkejut dan langsung berpaling mengambil sejadah. Dan di gelar, Zaen tidak berani menoleh lagi ke belakang.
Aulya juga segera memasang mukenahnya, mereka akhirnya sholat berjamaah. Selesai sholat, Aulya menyalami Zaen.
"Tadi bibik bilang, ada jus di kulkas, kamu mau minum? Aku mau ambil ke dapur." ujar Zaen.
"Biar Aulya yang ambil Mas."
"Gak merepotkan?"
"Ini kewajiban Aulya Mas, jadi sudah tugas Aulya menyiapkan semuanya."
"Makasih ya."
Aulya membuka mukenahnya, lupa kalau dirinya hanya memakai baju dres pendek. Saat hendak berjalan, dia berhenti dan menoleh kearah Zaen.
"Mas, boleh pinjam kemejanya,"
"Sudah tidak perlu pakai kemeja, disini juga tidak ada siapa-siapa. Dan Villa ini tertutup, hanya aku sama kamu saja."
"Tapi, mas Zaen tidak terganggu kan,"
"Pergilah."
Aulya benar-benar dibuat malu, dia berjalan sambil menoleh kekanan dan ke kiri. Karena takut ada orang lain di Villa itu.
Mengambil Jus Jambu dan Alpukat dituang ke gelas, dan langsung di bawa ke kamar oleh Aulya.
meletakkan di meja, dengan badan membungkuk. Sehingga membuat Aulya tidak nyaman dadanya kelihatan. Zaen melihatnya lalu berpaling, keduanya sama-sama merasa kurang nyaman.
"Mas silahkan diminum,"
"Duduklah, kamu minum juga jusnya."
sambil duduk di jendela yang menghadap kolam renang, terasa sejuk tanpa harus menghidupkan AC, sama-sama diam, meneguk minumannya masing-masing.
"Mas, setelah Mama sembuh, aku mau pulang ke rumah,"
"Apaa, kenapa mau pulang," Ujar Zaen dengan nada terkejut.
"Aulya kan udah pernah bilang sama Mas, kalau Mama sudah sembuh, Aulya yang akan mengalah, kasihan Sela Mas."
"Kamu boleh pulang, kalau aku yang mengantarkan. Jangan gegabah pergi, karena kesalahanku, biarkan aku selesaikan dulu masalah ini. Setelah selesai, dan mama tahu, baru kita bicarakan keputusannya seperti apa."
"Tapi Mas, Sela..."
"Untuk saat ini berhenti bicara Sela dulu. Ini kan acara kita, di kasik kesempatan oleh Papa dan Mama. Kita gunakan, mungkin akan ada titik terang dari hubungan kita nantinya."
Aulya pun diam, dia menunduk. Dan tak lama kemudian, keduanya merasa panas. sama-sama bingung, menghidupkan AC. Entah apa yang ada di dalam minuman itu, keduanya seperti meminum obat perangsang, yang membuat keduanya lupa akan semuanya. Zaen sangat bergairah melihat Aulya, tanpa pikir panjang Zaen menarik tubuh Aulya yang sedang mondar mandir merasa panas badanya.
Keduanya pun saling menatap, dengan tatapan penuh rindu, tanpa berkata apa-apa, Zaen mencium bibir Aulya, dan dalam hitungan detik keduanya terhipnotis dengan cumbuan.
Lama sekali saling memadu kasih, dan tanpa sadar mereka sudah berada di atas ranjang yang penuh bunga.
Mungkinkah hari ini menjadi sebuah jawaban untuk hubungan mereka berdua, dan sudah melangkah jauh, menuju surga dunia.
🌹🌹🌹🌹🌹🍁🍁🍁🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Disisi lain, Sela sudah di beri jadwal untuk mengurus Ibu Irma, dengan berpura-pura menjadi suster yang di tugas rumah sakit. Semua harus mengikuti aturan Bapak Fakhri, CCTV tetap menjadi pemantau. Tanpa Sela sadari jika dirinya sedang di awasi oleh Bapak Fakhri.
"Saya akan membuktikan, kalau kamu bukan pilihan yang tepat untuk Zaen." Batin Pak Fakhri setelah melihat CCTV yang memperlihatkan kerja Sela.
Sela kini tengah menjaga Ibu Irma, dengan seksama Ibu Irma melihat wajah Sela, seperti kenal, tapi lupa bertemu dimana.
"Selamat sore Ibu, saya suster yang baru. Sekarang Ibu harus nurut ya sama saya." ujar sela dengan nada lembut.
"wajahmu seperti tidak asing. Kamu dari mana."
"Saya dari rumah sakit, di utus kesini untuk menjaga ibu,"
"Iya, untuk beberapa hari saja. Karena menantuku sedang bulan madu," Jawab Ibu Irma.
Pyaaar,,, Gelas yang di pegang Sela terjatuh, karena sela terkejut mendengar Zaen dan aulya sedang bulang madu.
"Hei kenapa dengan mu," panggil Ibu Irma.
"Maaf Ibu, tangan saya tiba-tiba kesemutan. Sebentar saya bersihkan dulu."
"Iya cepat bersihkan dulu. Kamu tidak hati-hati,"
"Kurang ajar kamu Zaen, kali ini kamu sudah benar-benar menyakiti aku. Pantas saja Handphonemu tidak aktif, jadi ini alasannya." Batin Sela.
Marah dan kesal karena sudah di bohongi oleh Zaen, dia membuang pecahan kaca itu ke tempat sampah, dan kembali ke kamar ibu irma, untuk menyuapi ibu irma. Kali ini Bapak fakhri tersenyum senang, karena melihat Sela yang marah, karena di tinggal Zaen.
"Pantau terus, kalau dia berbuat macam-macam kepada ibu, bunyikan bell, biar penjaga di rumah ini langsung kekamar ibu." Ujar Pak Fakhri, kepada penjaga di ruang CCTVnya.
"Baik Tuan."
"Saya ada urusan dulu di luar, ingat jangan sampai lengah."
"Baik Tuan,"
Bapak Fakhri langsung pergi, kali ini Gerak gerik Sela akan selalu di pantau, karena Sela terlihat mencurigakan.
Bapak Fakhri tidak ingin gagal untuk membuktikan kepada Zaen tentang kebenaran sifat Sela yang sesungguhnya.
●●
Di Villa, Keadaan sudah gelap gulita, saat mata Zaen terbuka, dia terkejut, karena tanpa sadar sudah berada di atas tempat tidur.
ratapi penyesalanmu..
apalagi ketika kau liat perlakuan istri tersayangmu pada ibumu kau akan nyesel zaen telah mempertahankanya...
pergi yg jauh aulia biar zaen tau rasa..