Masih tahap revisi bertahap, jika menemui POV 1 maka itu belum bisa Author revisi, terimakasih.
Velicia, gadis manis yang baik hati. Setelah mengalami pengkianatan dan perselingkuhan antara teman dan pacarnya, kini dia menjadi gadis yang dingin dan selalu menjauhkan diri dari orang lain.
Bagaimana kisah perjalanan hidup Velicia selanjutnya? Akankah dia mendapatkan cinta yang tulus untuknya? Akankah hatinya yang beku bisa mencair?
Cover from google edited by din din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"Kau belum memberikan pertanyaannnya bagaimana bisa aku menjawab marah atau tidak," ucapku kesal, ya mungkin ini karena bawaan ketika aku menjadi seseorang yang berkepribadian dingin.
Dean menggenggam kedua telapak tanganku, nampak jarinya mengusap usap punggung tanganku itu.
Dean masih menatap mata Ku yang terlihat begitu penasaran dengan apa yang ingin ditanyakannya kepada Ku.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Tanya Ku.
Dean hanya tersenyum sendiri, lalu dia berkata. "Tidak jadi," Dean menggandeng tangan Ku lagi dan mengajak Ku berjalan.
"Tunggu," Aku menarik tangan Dean hingga membuat langkah Kami terhenti bersamaan.
"Apa?" Tanya Dean lembut.
"Apa yang ingin kau tanyakan? Kenapa tidak jadi?" Tanyaku balik yang penasaran sekali karena Dean tadi nampak terlihat sangat serius ingin bertanya.
"Tidak ada," Dean menatapku, lalu satu jarinya menyentil hidungku.
"Ouch, kau ini," keluh Ku sambil mengusap hidungku perlahan.
Dean hanya tertawa kecil, terlihat jelas lesung pipi diwajahnya itu, dan itu seperti sebuah magnet tersendiri bagi para gadis dikampus, tidak heran jika di kampus dia sebenarnya cukup populer, hanya saja dia memang tidak pernah menghiraukan mereka dan yang membuatku bertanya-tanya sekarang adalah kenapa aku? Kenapa aku yang dia pilih sedang kan masih banyak gadis yang cantik yang memiliki image baik di kampus.
Dean melanjutkan langkahnya, dia masih menggandeng tanganku seakan enggan melepaskannya.
"Dean, bolehkan aku bertanya sesuatu?" Tanyaku yang berjalan di belakangnya.
"Apa?" Tanya Dean balik, tapi dia masih melangkah pelan.
"Banyak gadis cantik dan baik di Kampus, kenapa kau memilihku?" Tanya Ku yang penasaran.
Dean berhenti melangkah lagi, lalu dia menoleh ke arahku seraya ber decap pelan.
"Sebelum aku menjawabnya aku juga mau menanyakan sesuatu," ucap Dean.
Perkataan Dean membuatku bingung, kenapa dia ingin menjawab pertanyaan setelah aku menjawab pertanyaannya.
"Dari sekian pria yang tampan dan kaya, kenapa kau malah memilihku yang biasa saja ini?" Tanya Dean.
Aku tercengang dengan pertanyaannya, kenapa pertanyaannya memungkinkan mendapat jawaban yang sama dengan pertanyaan ku.
"Aku tidak tau," jawabku pada akhirnya, karena memang aku tidak tau kenapa aku memilihnya.
"Kalau begitu aku pun tidak tau," timpal Dean.
Dia lanjut berjalan yang membuatku hanya terdiam seribu bahasa, apa-apaan coba jawabannya itu. Tapi jika dipikir lagi memang benar jawaban itu, karena cinta itu tak bersyarat dan tak melihat alasan apapun, cinta itu datang dikala dia ingin datang.
"Jadi pergi," Tanya Dean seraya mengulurkan tangannya kearah ku.
Aku pun tersenyum menyambut uluran tangannya. Sepanjang jalan di malam itu dia terus menggandeng tanganku dengan senyuman di wajahnya, sekali kali dia mengayunkan tangan kami kedepan dan kebelakang dengan pelan, malam itu serasa sangat panjang, entah kenapa aku merasa sangat bahagia ada perasaan yang mulai muncul lagi setelah sekian lama terkubur jauh di dalam lubuk hati.
DISISI LAIN
Sunny nampak melihat Dean dan Velicia yang sedang berjalan bersama sembari sesekali ber sandau gurau, dia menggenggam erat tali selempang tasnya yang melingkar di badannya.
"Sial... kenapa? Kenapa harus dengannya, kenapa malah dia yang berjalan bersamanya," gerutu Sunny dari jarak jauh.
Dia benar-benar tidak terima jika Dean bersama Velicia.
"Aku harus melakukan sesuatu!" Gerutu Sunny lagi.
***
Sesampainya di daerah pemukiman milik Dean, aku pun memanggil Taxi untuk pulang.
"Jadi kau tidak tinggal di Apartemen yang lama?" Tanya Dean.
"Tidak, Davin memaksaku pindah dengannya," jawabku.
"Baiklah, hati-hati dijalan," pesan Dean padaku seraya membukakan pintu mobil Taxi agar aku bisa masuk.
"Iya," ucapku sambil masuk kedalam mobil.
Dean menutup pintu mobil Taxi, dan melambaikan tangannya ketika Taxi mulai menyalakan mesin dan pergi dari sana. Aku masih bisa melihatnya berdiri di tepi jalan memandang Taxi yang aku naikki berjalan menjauh darinya dari kaca spion depan.
***
Dean melangkah kearah rumahnya hingga dia bertemu Yuki yang baru saja kembali dari toko ibunya. Yuki sedari tadi ternyata sudah melihat kakaknya itu bersama dengan Velicia.
"Kakak, bukankah itu kak Cia?" Tanya Yuki yang memandang Taxi tadi berlalu pergi.
"Iya," jawab Dean dengan sedikit senyuman di wajahnya.
"Kalian... hmmm, ada sesuatu ya??" Goda Yuki pada kakaknya itu.
"Anak kecil jangan banyak tanya," Dean masih mencoba menutupi nya dari Yuki. Dia mengusap kepala adiknya itu.
"Ahhh, kakak ga asyik, ayolah katakan padaku?" Yuki memaksa Dean untuk bicara.
Dean hanya tersenyum seraya berjalan menuju rumahnya. Yuki jadi merasa kesal dia memanggil-manggil nama kakaknya itu tapi tidak di hiraukan, Yuki pun hanya bisa mengikuti langkah kaki kakaknya itu menuju rumah mereka.