NovelToon NovelToon
Seluas Samudera

Seluas Samudera

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni / Enemy to Lovers / Si Mujur / Tamat
Popularitas:285k
Nilai: 4.8
Nama Author: Nonelondo

PERINGATAN!!!

Sebelum membaca, siapkanlah hati kalian seperti judul novel ini 'Seluas Samudera'. Karena kalian akan dibuat jengkel setengah mati. Jika kalian tidak siap, lebih baik mundur!

----------

Novel ini mengangkat kisah tentang seorang
Kapten pasukan khusus Angkatan Laut. Yang jatuh cinta dengan anak Komandan-nya. Mereka bertemu di rumah sakit tanpa tahu satu sama yang lain. Saat sang Kapten tertembak, dan sebagai perawat wanita itu merawatnya. Namun sayang, karena ada sesuatu hal. Sang Kapten secara sepihak memutuskan jalinan asmara diantara mereka.


Memang kalau telah dijelaskan, aku mau lepas darinya? Tentu, tidak! Aku tidak mau Dia sudah buat aku begini, malah meninggalkanku. Itu gak boleh! Oh! Aku tahu caranya biar dia bisa balik lagi bersamaku. Ya! Akan kucoba.

-Dewi Abarwati-

Dia berharap ada kata maaf dulu dari Dewi, sebelum dia merubah status hubungan mereka menjadi sepasang kekasih kembali.

-Krisanto-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31 Menghabiskan Malam Bersama 4

“Loh! Kamu sama Mas Kris, Nak?” kaget ibunya di sana.

Lelaki itu berdiri di depan toko melihat-lihat pajangan luar. Dewi menelpon di seberangnya. Di dekat pilar yang berada di tengah gedung. Yang dari atas bisa melihat basement. Mereka berada di lantai 3.

“Iya, tadi Mas Kris telepon Dewi, terus nyusul Dewi ke sini."

Karena sebelumnya ada ijin ke orang tuanya pergi sendiri ke sini, Dewi jadi memberi alibi begitu.

“Oo... Gitu.”

“Jadi nggak apa-apa Dewi pulang malam, Bu?”

“Yah... Nggak apa-apa. Kalau sama Mas Kris, Ibu mah percaya.”

Dasar! Camer kepo. Seperti kita ketahui bersama, ibu Dewi memang suka sekali dengan Kris.

“Tapi, ini. Sepertinya Dewi pulang tengah malam loh Bu. Soalnya..."

Memotong. "Iya, nggak apa-apa. Udaaah... Nggak usah dipikirin, kamu bersenang-senang saja sama Mas Kris ya."

“Ya sudah, kalau begitu. Mas Kris juga titip pesan ke Ibu dan Ayah, minta maaf karena telah mengajak Dewi nonton tengah malam.”

“Iya. Bilang sama Mas Kris pesan diterima."

“Dewi ijin ya Bu,” ulang Dewi.

“Iya, iya. Sudah nggak usah dipikirin. Selamat bersenang-senang ya, Nak.”

“Terima kasih, Bu.”

Setelah sambungan terputus Dewi menghampiri Kris. Yang dihampirinya menoleh.

“Sudah?”

“Iya, sudah. Kata Ibu nggak apa-apa, dan kata Ibu juga pesan Mas diterima.”

Kris tersenyum kecil buat ucapan polos Dewi yang terakhir.

“Begitu ya? Ya sudah. Ayo, kita naik ke atas.”

Mengangguk. “Iya.”

Tentu bioskop berada di lantai paling atas. Biar cepat sampai, mereka naik lift. Nggak lama yang ditunggu datang, mereka masuk. Lift beranjak naik. Mall itu memiliki 7 lantai.

Dewi sekilas melihat pria rupawan di sebelahnya. Luar biasa dia bahagia sekali... Kris berlama-lama bersamanya. Ini merupakan hal yang diimpikannya jalan berdua dengan Kris lagi. Sungguh beruntungnya dia hari ini memutuskan jalan ke mall.

Keluar dari lift, mereka berdua berjalan menuju bioskop, dan berhenti di dalam yang jaraknya tidak jauh dari pintu masuk.

“Kamu mau nonton seperti biasa?” tanya Kris.

Yang ditanya begitu sedikit terpana. Rupanya Kris masih ingat. Dulu ketika mereka bersama, pria itu nggak pernah sekalipun nonton genre film kesukaannya. Demi kesenangan Dewi, pria itu mengalah, mereka menonton komedi padahal pria itu suka action.

Tersipu. “Iyaaa...”

Menghela nafas. “Kamu jangan buat aku begini, Dewi...”

Bingung. “Ha?”

“Tak apa-apa." Kris membuyarkan pikirannya sendiri.

Ya! Pria itu itu nggak tahan kalau Dewi sudah bertingkah menggemaskan.

“Aku? Apa kamu yang pilih?” lanjut Kris.

“Mas saja.”

“Apa kamu ada referensi film?”

“Aku sudah tidak tahu lagi film-film baru, Mas.”

Kris memandangi Dewi sebentar, sebelum pergi ke loket.

“Ya sudah. Kamu tunggu sini.”

“Tunggu Mas!” tahan Dewi.

Menoleh. “Ya?”

“Biar nggak repot, sini barang-barangnya biar aku yang pegang dulu.”

“Oh ya.”

Kris menyerahkan, lalu pergi. Dewi memandangi. Tentu, dia masih ingat tatapan Kris tadi walau hanya sesaat.

Tatapan itu... Hanya tatapan biasa, tapi mengapa seperti ada sesuatu ya? Apakah karena perkataannya, yang mengartikan dia sudah lama nggak nonton film sejak putus darinya? Dan itu membuat Kris jadi terhenyak sesaat?

**********

“Sudah Mas?” tanya Dewi, setiba pria yang ditunggunya.

Mengangguk. “Iya, sini barangnya.”

Dewi menyerahkan, namun tidak semua. "Yang ini biar aku saja yang bawa.”

Merampas lembut. “Tidak apa-apa, biar aku saja yang bawa.”

“Tapi Mas kebanyakan loh. Lagian kan, kata Mas, Mas malu bawa kado. Jadi sini, untuk kado biar aku saja yang bawa.” Dewi mencoba merampas lagi.

Tetap ditahan. "Ini lain cerita, Dewi. Dulu saat kita belanja, semua bawaan aku yang pegang, 'kan?”

Kris ini adalah sosok pria yang membiarkan dirinya membawa beban, dan membiarkan wanita yang jalan bersamanya melenggang bebas.

“Iya, yaaa..." Dewi tersipu-sipu lagi.

Kali ini pria itu hanya membalas tingkah Dewi yang menggemaskan dengan senyuman. Lalu mereka bersama melangkah keluar.

“Tiketnya jam 9. Lebih baik kita cari makan dulu," ujar Kris.

Tadi sewaktu mereka bersama Tasya, dia mengaku sudah makan sejatinya sih belum. Sepertinya dia harus mengisi perutnya karena mereka masih berlama-lama di sini. Biar begitu dia yang harus memilih tempat makan mereka biar tidak menggangu dietnya.

Namun sayang, tak jauh dari gedung bioskop, Kris menghentikan langkah tepat ditempat makan yang menunya sangat dihindari Dewi.

“Di sini saja kita makan.”

“Sebenarnya aku sudah makan, tadi kan sewaktu dengan Tasya aku bilang sudah. Jadi lebih baik kita cari tempat makan yang menyediakan cemilan. Biar aku bisa ngemil, jadi Mas saja yang makan."

“Kamu tidak pernah menolak jika makan ditempat begini, Dewi.”

Dewi mengindai sebentar. Restoran itu restoran steak. Memang dulu dia tak pernah menolak jika diajak Kris makan ditempat seperti ini.

“Tapi kan aku sudah makan, Mas.”

“Kamu tidak pernah ada alasan menolak Dewi,” ulang Kris.

Dewi mendesah kecil. Iya sih, ini memang makanan favoritnya. Aslinya dia itu menyukai makanan yang berbau-bau daging. Apa lagi steak. Rupanya Kris masih ingat. Ya sudahlah...

Wanita itu pun berjalan masuk duluan yang menyatakan dia bersedia makan di situ. Lelaki itu turut mengikuti di belakang.

Di dalam, Kris memesan 2 supreme tenderloin premium. Daging sapi import yang empuk dan lembut dengan kualitas terbaik, juga 2 jus alpukat. Semua itu kesukaan Dewi, dan Kris memesan yang sama juga untuknya.

Namun saat Kris bicara dengan pelayan, Dewi memandangi pria di depannya. Mungkin benar kali ya, Kris sangat mengenali dirinya. Jika begitu, dia jadi ingat sebelum mereka berangkat ke Medan. Sewaktu di rumah Kris, masalah bongsai. Juga, saat dalam perjalanan mereka menuju bandara, Kris menjelaskan tentang keluarganya dengan raut wajah nggak enak. Tak luput juga sewaku di bandara, tentang keluarganya juga, dan masih ada lagi hal-hal lainnya. Jadi apa benar ingatannya dulu bermasalah? Tapi, apa iya? Ada hal yang terlewatkannya dulu ketika dia bersama Kris?

Usai pelayan itu pergi, Kris membongkar salah satu kantong kresek belanjaan mereka mencari sesuatu. Dewi menjulurkan kepalanya ingin tahu. Kris mengeluarkan casing Hp salah satu pilihan Dewi.

“Sini, Hp-mu."

Dewi ragu-ragu memberi, haruskah Kris memakaikan casing Hp untuknya?

“Sini,” pinta Kris lagi.

Akhirnya Dewi menyerahkan. Kris melepas casing lama menggantikan yang baru. Usai itu, mempelihatkannya.

“Bagus.”

Mengangguk. “Iya, Mas.”

Menyerahkan. "Ini.”

Menerima. "Makasih ya, Mas."

“Mm," balas Kris hangat.

“Oh ya, Mas. bagaimana kabar Mamak, Bapak, Dena, dan Ria?”

“Mereka suka menanyakanmu. Setiba aku di Jakarta saja, mereka langsung menelponku menanyakanmu.”

Terbeliak. "Masa?”

“Iya. Mereka juga ada titip salam untukmu.”

Tersenyum. “Salamin balik ya, Mas.”

“Iya.”

Tak lama makanan datang, sebelum memulai makan, Kris mengambil piring Dewi dan mengiris-iris daging yang ada di piring itu. Melihat pria di depannya melakukan itu, hati Dewi pun serasa turut teriris.

Kris masih memperlakukannya seperti dulu mengiris-ngiris daging buatnya. Pandangannya kini beralih memandangi wajah tambatan hatinya.

Mengapa hari ini Kris sangat berbeda sekali. Mengapa? Apakah Kris sedang membangun setapak demi setapak suatu harapan ke dirinya? Secara gak langsung sedang memberi tahunya, bahwa selalu mengingat saat-saat mereka dulu bersama. Mungkinkah begitu?

“Ini,” serah Kris.

“Terima kasih, Mas.”

Kemudian seusai makan, mereka berjalan ke parkiran. Pria itu mengajak Dewi menaruh barang belanjaan mereka ke mobilnya. Karena biar nggak repot nanti di bioskop.

Sesampainya di sana, Dewi terpana. Saat Kris membuka pintu pengemudi melihat Hp Kris yang satu lagi memang benar tertinggal. Tergeletak di antara bangku pengemudi dan bangku sisi pengemudi.

Ya, Tuhan... Apakah karena dia super galau jadi apa yang ada diotaknya kebanyakan negatif? Selalu saja dipenuhi pertanyaan-pertanyaan aneh tentang Kris? Berarti tadi Kris bicara apa adanya.

“Ini, pakailah." Kris menyerahkan jacket yang baru diambilnya dari hanger.

".........."

“Di dalam dingin,” terang Kris.

".........."

Melihat mantan pujaannya hanya membisu tidak merespon. Akhirnya Kris melebarkan jacketnya, tanpa permisi mengenakan ke punggung Dewi. Wanita itu terpana.

Tentu saja semua perhatian Kris hari ini membuat Dewi seperti sedang dilatih senam jantung. Kadang jantungnya berhenti sejenak, kadang memompa-mompa lagi.

"Ayo." Kris melangkah.

"Iya."

Mereka berjalan balik lagi ke mall menuju gedung bioskop. Setelah menaruh barang belanjaan di mobil.

1
rajwa ameera
luarrr biasa crtnya,,,
Dila Ayu
susah move on dari novel ini.. apalagi sekarang ada televisi cerita ttg tentara angkatan laut...
ibune Aldo
ya elah Dewi, kalau gini sih namanya kamu menyiksa diri sendiri, mesti berbohong, dan berlanjut dengan kebohongan lain terus
ibune Aldo
kenapa gak jujur aja WI, sama teman ", toh diputuskan pacar bukan akhir dunia.. ya walaupun kamunya masih cinta, tapi setidaknya biar tidak kelihatan begitu nelangsa sih
ibune Aldo
masih o
penasaran alasan kris
🌹bunda kamila🌹
ngga nyesel bacanya....keren thor👍👍
Nonelondo (ig : nonelondo): hai, novelku "My Man" uda terbit dibaca ya...
total 1 replies
dite
heran aku, atas nama teman bkin salah kayak gitu kok dikasih maaf

aslinya laki apa banci sih 😑

seolah dia ga masalah orang yg dia cintai dibikin sakit ama temen2nya
ngapa ga putus hubungan aja ama temennya
temen kayak gt kok dipiara
dite
komunikasi itu penting, ga smua salah di dewi nya. kris haruse jg ngasih tahu dewi dia mau dewi gmna, ga diem aja tapi trus nesu
dite
gilak si kriss, sibuk amat ngurusin ciwi2
si rena lah dianter ksana kmari, parah ini kriss
baik sih baik, tpi ya ga gt jg kalik...

babehku sibuk mo anter2 tmnnya, lgsg aku tikung buat ngantrerin aku
novita setya
mas kris,om ken..11 12 bucin nya
novita setya
naah ini aja seru menarik drpd asmara bikin ngelu ndas saia...action nya tegang seru wow..top
novita setya
ah dewi msh gt2 aja..kuasai emosi dong biar ga kekanak2an lg..ck
novita setya
kak othor jujur deh pas novel kelar pasti baca jg kan..ada rasa pengen nabok 2 cwe nyebelin ga..koq kuaat gt loh bikin tokoh rena dewi sebegitu nyebelin
novita setya
etdah..alih2 ngatasin mslh..mlh nambah mslh nih bocah pke semaput pulak..woooyyy kebnykan mikir lu wii
novita setya
2 cwe yg asliii nyebelin
novita setya
lah np nangis wi..kan lu rela dijadikan keset rena. tanpa membantah & melawan pulak..y sdh trma aja nasibmu.
novita setya
teguh & laras udahlah ga usah ngurus dewi. dy aja rela dicincang rena tanpa perlawanan..
novita setya
2 wanita 1 tujuan. beda cara. yg satu super lemot yg lain ambisius..
novita setya
laras ngapain sih repot2 ngebelain dewi..kl emang dy cerdas udah diatasi mslh ini sejak dl biar ga da celah pelakor dtg. laah si dewi lembek2 aja np km pasang bdn..rugi deh kena sangsi
novita setya
mending pts aja lah..tp jgn sm rena. tasya aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!