"Cintaku padamu tulus, aku sanggup meninggalkan semuanya untukmu." Bima.
"Tapi aku tidak bisa. Aku tidak mau mengambilmu dari Tuhanmu, dan juga keluargamu." Kayla.
Dua anak manusia bertemu tanpa sengaja dan akhirnya saling jatuh cinta.
Akankah keduanya dapat bersatu di tengah prinsip hidup yang mereka anut berbeda.
Yukk simak akhir kisah Bima dan Kayla...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikha dito, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Toko Buku
"Ma... lo beneran yakin pengen mempelajarinya?"
Kennan memecah keheningan sembari menyetir roda empatnya menuju sebuah toko buku terbesar di kota Yogyakarta.
Saat ini Kennan dan Bima tengah berada di dalam kendaraan roda empat milik Kennan. Setelah memutuskan mengajak Bima untuk ke toko buku, keduanya memilih menggunakan mobil Kennan dan menitipkan roda dua Bima ke tempat yang aman tentunya.
Hmm
Bima hanya menggumam. Cowok blasteran itu terlihat tengah fokus pada ponsel pintarnya. Sekilas Kennan hanya melihat jika sang sahabat tengah membuka aplikasi google maps pada layar ponsel pintarnya.
"Nggak perlu tanya google buat ke Gramedia Ma... Kek anak kos baru masuk Jogja wae..." Kennan.
"Gue nggak." Bima tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan dari layar ponsel pintarnya.
"Emangnya elo nyari alamat apaan sih, fokus banget..." Kennan melirik layar ponsel pintar Kennan melalui ekor matanya.
"Cuma searching doang..."
Bima tanpa sedikitpun memutus pandangannya, hingga membuat Kennan semakin penasaran dengan aktifitas Bima.
"Elo mau nyari bola basket?" tanya Kennan saat sekilas menemukan gambar sebuah toko peralatan olahraga di layar ponsel pintar Bima.
"Ah... Iya... Eh... tidak..." gagap Bima segera mematikan pencariannya dari layar ponsel pintarnya.
Kening Kennan mengerut, otaknya menelaah reaksi aneh Bima yang terlihat tidak biasa. Jelas jelas dia melihat Bima membuka sebuah toko peralatan olah raga yang sepertinya masih terletak di sekitaran kota Yogyakarta.
"Cuma cari bola basket aja lo mau sembunyiin dari gue Ma..." Kennan terdengar menyindir.
"Gue nggak lagi nyari bola Kenn..." Bima dengan menggenggam kuat ponsel pintarnya, pandangan matanya lurus ke depan. Jujur saja Bima memang tidak sedang ingin membeli bola basket atau alat olah raga lainnya. Cowok blasteran Jerman itu tengah memeriksa toko alat olah raga yang menjadi tempat Kayla bekerja. Bima berharap akan menemukan nomor telepon atau apapun yang dapat dia hubungi untuk mencari informasi tentang keberadaan Kayla, namun ternyata zonk. Tidak ada satupun nomor kontak yang tertera dalam laman toko kecil itu.
Terdengar hembusan nafas berat dari Bima, hal itu membuat Kennan semakin penasaran dengan sahabat blasteran Jerman nya tersebut. Ingin rasanya mencecar Bima dengan banyak pertanyaan yang telah memutari tempurung kepalanya, namun hal itu Kennan urungkan mengingat watak Bima yang tidak akan membuka mulutnya jika dipaksa.
"Turun... Udah sampai." Kennan lalu menuruni kendaraan roda empatnya kemudian berjalan lebih dulu menuju pintu masuk toko buku tanpa menunggu Bima. Hal itu Kennan lakukan bukan karena marah pada Bima karena sahabatnya itu tidak mau bercerita namun dia memberikan ruang pada Bima. Kennan yakin suatu saat nanti jika sudah saatnya sahabat blasteran Jerman nya itu bakal bercerita dengan sendirinya. Toh dirinya juga sama, memiliki sebuah rahasia yang belum ia bagi dengan sahabat sahabatnya.
Kennan bejalan menuju rak buku yang memajang buku buku tentang pengetahuan agama Islam yang dianutnya. Pupil matanya berpencar menyusuri judul buku yang Bima inginkan, jari tangannya pun ikut bergerak menyibak buku buku dalam rak tersebut.
"Udah ketemu?!" tetiba Bima sudah berdiri di samping Kennan yang tengah memegang buku di tangan kanannya. Mata cowok blasteran Jerman itu terlihat bersinar antusias.
Bukannya menjawab ataupun menyerahkan buku pesanan Bima, Kennan malah memandang Bima dengan terlihat memikirkan sesuatu.
"Elo yakin mau mempelajarinya Ma?" tanya Kennan sedikit tidak yakin.
Sebenarnya bukan hal aneh jika Bima menginginkan buku mengenai ajaran agamanya, Bima sudah sering meminta bahkan bertanya banyak hal tentang itu. Hanya saja Kennan tidak menyangka jika Bima seantusias ini.
"Elo pikir gue main main." Bima dengan merebut buku dari tangan Kennan, lalu berjalan mendahului sang sahabat untuk menuju area kursi baca yang tak jauh dari deretan rak rak buku.
Kennan memandangi punggung sang sahabat dengan banyak tanya dalam benaknya, tak berapa lama kemudian mengayunkan langkah guna menyusul Bima. Beberapa langkah berjalan, Kennan tetiba menghentikan ayunan langkah kakinya saat pupil matanya menemukan deretan novel remaja berjejer rapi di atas rak buku. Memandangi sebentar deretan buku itu kemudian mengulurkan tangan meraih salah satu judul novel remaja yang menarik perhatiannya.
"Tita... Sepertinya suka..." gumam Kennan dengan lebih mendekat pada rak buku yang berisi kumpulan novel remaja tersebut.
Setelah memilih beberapa, Kennan memutuskan mengambil beberapa buku novel untuk ia beli buat Tita. Kemudian berjalan menuju Bima yang tengah fokus membaca buku.
Beg... Bruk...
Kennan mendaratkan bobot tubuhnya di samping kursi Bima, serta meletakkan buku novel ke tas meja cukup keras hingga membuat Bima mendongakkan wajah karena terkejut.
"Kasih aba aba dikit lah, jangan bikin gue copot jantung." protes Bima terdengar kesal.
"Ck... nggak usah ngegas gitu kali. Elo baca buku pelajaran aja nggak segitunya."
Bima mencebik masam tanpa bersuara, dia segera mengarahkan pandangan pada buku di tangan namun urung dilakukan saat pupil matanya menemukan tumpukan novel di depannya.
"Elo mau baca novel menye menye kek gitu Kenn?" Bima dengan tatapan heran pada buku novel kemudian pada wajah Kennan.
"Bukan buat gue." datar Kennan tak sedikit pun gugup.
Masih dengan keheranan. "Terus buat siapa?" tanya Bima.
"Nou." Kennan tetap saja mampu memberikan alasan yang tepat tanpa perlu menimbulkan banyak pertanyaan dari Bima nantinya.
"Elo beliin Naura... Yang bener aja..."
Meski Kennan terlihat akrab dengan adik perempuannya namun tetap saja Bima merasa ada keanehan dengan keikhlasan Kennan membelikan oleh oleh buku novel itu untuk gadis manis centil satu darah dengan kapten tim basketnya tersebut.
"Gue punya utang sama dia." Kennan menjawab seenteng mungkin karena ternyata Bima tetap saja masuk memiliki celah curiga kepadanya. Padahal dirinya sudah berusaha serapi mungkin untuk tidak menimbulkan pertanyaan keluar dari mulut Bima.
Sepertinya kesamaan sikap dan sifat Kennan dengan Bima membuat sahabatnya itu tetap saja memiliki kecurigaan terhadapnya.
"Utang apaan?" Bima sepertinya tidak begitu saja percaya pada alasan yang dilontarkan Kennan.
"Elo nggak perlu tau. Itu urusan rumah tangga gue, nggak boleh diumbar keluar."
Hah... Hahaha...
Bima terbahak.
"Kek urusan laki bini aja nggak boleh diumbar keluar..."
Kennan mencebik, pura pura kesal.
"Lo nggak tau riwehnya urusan sama pere... eh saudara perempuan. Tiap hari udah kek drakor." Kennan memberi alasan.
"Apaan itu drakor Kenn?"
Beruntung Bima tidak peduli pada Kennan yang hampir keseleo lidah.
"Drama Korea." sahut Kennan pendek
Bukannya pura pura namun Bima memang benar tidak tahu. Dia bukan cowok penikmat drama televisi, apalagi drama viral.
"Drama apaan itu?"
Ck
Kennan berdecak.
"Cerita film yang penuh dengan cowok cowok tampan bak pangeran cantik di televisi Ma..."
"Seperti iklan itu." Kennan menunjuk sebuah layar promosi skincare yang menyala di luar toko buku.
Bima pun mengarahkan pandangan ke luar jendela kaca toko.
Kening cowok blasteran Jerman itu mengerut. Bukan karena gambar pada layar promosi melainkan pada kerumunan orang yang tengah mengunjungi bazar buku yang memang diadakan di halaman toko.
"Kayla."
🌷🌷🌷
awaaas loe
disaat Kayla senam jantung, eh... si Bimbim malah tidur 😁
smg ceritanya tdk bertele".....aku hdiahkn secangkir kopi buatmu thorrr mangatttt ....
si kay kan gk bs bohong