Di saat Arumi mengalami kesulitan karena ibunya sakit keras, Rina - sang ibu tiri menawarinya uang dalam jumlah besar. Dengan syarat, Arumi harus bersedia tidur dengan calon suami kakak kembarnya.
Tujuh tahun berlalu, seorang anak lelaki berusia enam tahun hadir. Aqeel Elvano, bocah dengan kecerdasan yang luar biasa di bidang kesehatan.
Bagaimanakah nasib Arumi? Dan siapakah Aqeel Elvano? Hanya bisa kamu temukan jawabannya ketika membaca kisah dasyat ini. Happy reading....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lulu, Fauzan
"Hai, apa yang kau lakukan!" teriak Pramusaji yang baru saja masuk. Ia langsung bergegas mendekati Alena dan Aqeel.
Beruntung Alena langsung menghentikan gerakan tangannya yang hendak memasukan buah kedalam mulut Aqeel.
"Tentu saja mau memberikan anak saya makan," jawab Alena tenang.
Pramusaji itu menggelengkan kepalanya, merasa heran. Apakah mata ibu itu udah rabun atau memang otaknya lagi tak bekerja dengan benar alias konslet?
"Ibu, coba perhatikan baik-baik buah itu," perintah Pramusaji.
"Emang kenapa dengan buah ini." Alena menunjukkan buah itu dengan polos. Sontak saja Pramusaji itu memberikan tatapan tajam ke arah buah.
Alena hanya bisa nyengir kuda saat ia memperhatikan buah yang dipegang, dan buah itu hanyalah buah hiasan.
"Kenapa Bun?" tanya Aqeel yang ikut penasaran.
"Buah yang dipegang Bunda mu adalah buah hiasan. Mungkin Bunda mu banyak pikiran." Ujar pramusaji menjawab pertanyaan Aqeel.
"Apalah Bunda ini," gerutu Aqeel menyilangkan tangannya di dada.
"Bunda hanya salah ambil," sahut Alena yang sedikit malu. Memang tadi saat mengambil buah ia tak memperhatikan dengan benar. Pikirannya hanya fokus pada Arumi, sedangkan tangannya bekerja asal hanya untuk menyenangkan Aqeel.
"Lain kali harus lebih cermat ya, Bun." Tutur Pramusaji pada Alena dengan nada penuh tekanan. Ia pun berjalan utuk meletakkan nampan yang sejak tadi ia bawa, "Ini menu untuk makan malam yang disediakan rumah sakit." Imbuhnya sebelum pergi.
"Terima kasih."
Alena menghela nafas lega. Bersyukur ia tak jadi membuang tenaga untuk membelikan Aqeel makanan.
"Bunda, Aqeel mau makan," coleteh Aqeel saat tak melihat tanda-tanda Alena mau menyuapinya.
Alena berdecak pelan. Ia sendiri tengah kelaparan. Dengan malas Alena meraih piring makanan yang terletak di atas nakas. Namun, suara dering telepon memutus gerakan tangannya.
Alena cepat-cepat menarik tangannya. Meraih ponselnya yang berada di atas nakas dalam ruangan itu.
"Sebentar ya," ucap Alena sembari menggeser tombol hijau di ponselnya.
Melihat sikap Alena membuat Aqeel setengah cemberut. Tetapi ia tak berani protes.
Alena melangkah keluar rungan saat melihat nama si penelepon.
***
Jalanan Jakarta cukup lenggang di sore hari. Setelah melakukan acara tukar cincin sebagai tanda jika Fauzan sudah mengikat Lulu, mereka kini tengah melaju ke rumah sakit.
Fauzan sebenarnya lelah, tetapi melihat Lulu yang kukuh ingin ke rumah sakit akhirnya membuatnya luluh, meskipun dalam keadaan terpaksa ia mau mengantarnya calon istrinya.
Lagi pula tak patut rasanya bila ia membiarkan Lulu pergi sendirian. Orang tuanya pun pasti akan menceramahi nya.
Suasana dalam mobil sepi. Lulu memilih menyibukkan diri melihat jalanan melalui kaca jendela mobil dari pada berbincang dengan Fauzan yang selalu berhasil memancing emosinya.
Fauzan melirik sekilas pada Lulu. Sebenarnya ia ingin mengajaknya berbincang, tetapi melihat Lulu yang tampak acuh membuatnya sungkan.
Fauzan kembali fokus pada jalanan di depannya, berkonsentrasi menyetir. Membuat suasana dalam mobil itu hening.
Aneh. Bukankah biasanya kedua calon mempelai akan saling melempar pertaanyaan untuk mengenal lebih jauh? Sedangkan ini, untuk melihat dirinya saja Lulu seperti tak sudi. Fauzan menghela napas. Sebagai lelaki ia dituntut harus gentle.
"Apa kau akan terus diam?" Fauzan membuka suara setelah beberapa saat mereka saling diam.
"Lalu kau mau aku bicara apa?" Sahut Lulu tanpa mengalihkan pandangannya dari luar.
"Tentu saja bicara masa depan!" Kesal Fauzan.
"Heh, kau dan aku itu terpaut enam tahun, dan aku lebih tua darimu. Masa depan apa yang kau bicarakan? Lagipula kau saja masih mahasiswa magang!" ucapan pedas dari Lulu membuat Fauzan seketika meminggirkan mobilnya dan berhenti.
"Kenapa kau berhenti?" tanya Lulu yang memasang kewaspadaan.
"Kenapa? kau takut? Apa usia ku tak mampu membuat mu menjadi seorang ibu? Apa pekerjaan magang ku tak mampu menghidupi mu?"
"Kau pikir saja sendiri!" Ketus Lulu.
"Kau kira aku seorang profesor yang harus mikir sendiri. Mau makan aja butuh sendok dan garpu. Masa mau bikin anak harus mikir sendiri!"
"Yak! Fauzan dasar bocah. Apa mulutmu itu gak bisa disaring terlebih dahulu sebelum berucap!" Kesal Lulu menjadi malu. Kedua pipinya memerah.
"Duh mbak Lulu, bagaimana mau nyaring. Jika saringannya masih kau pegang. Ini apa kau mau menyaringnya?" Fauzan memajukan bibirnya. Membuat Lulu semakin kesal. Hati Fauzan berbunga-bunga saat menggoda calon istrinya itu. Walau mereka sering bertengkar, tetapi tak bisa dipungkiri bila ia nyaman saat bersamanya.
Ia kagum dengan Lulu yang acuh dengannya. Sedangkan semua orang tau dari mana asal keluarganya. Fauzan tersenyum simpul. Bila saja ia bisa mendapatkan hati wanita itu, ia yakin cintanya akan tulus
"Apa kau pernah ditimpuk dengan uang receh?" tanya Lulu dengan senyum devilnya.
"Eh, aku tak semurah itu. Biasanya aku ditimpuk dengan cek kosong," jawab Fauzan.
"Terserah kau saja! Cepat jalan." Kesal Lulu yang kalah terus saat berdebat dengan Fauzan.
Fauzan mengikuti apa kata Lulu menjalankan mobilnya sebelum wanita itu mengoceh lebih banyak.
Lulu kembali memperhatikan jalanan. Ia malas untuk berbicara dengan Fauzan. Jujur saja, Lulu masih belum bisa menerima Fauzan sebagai suaminya kelak.
Lulu kembali termenung. Mengingat apa yang terjadi saat di rumah nya tadi. Saat orang tua Fauzan melingkarkan cincin di jari manisnya.
Saat Keluarganya tersenyum bahagia, tapi semua tidak ada yang bertanya apakah dia bahagia, bahkan mengeluarkan pendapat untuk menolak pun tidak. Apa lagi memberi kesempatan untuk mengeluarkan isi hatinya. Mereka terlalu mementingkan urusan bisnis dari pada perasaan.
Lulu menghela napas. Melirik Fauzan melalui sudut matanya. Menyakinkan dirinya sendiri bila memang lelaki disampingnya lah yang kelak akan menjadi kepala rumah tangganya.
Lulu bergidik ngeri. Ucapan konyol Fauzan kembali terngiang dalam benaknya saat sesi lamaran tadi. Lulu akui semua adalah kesalahannya, yang terus memprovokasi Fauzan. Lelaki itu justru berbicara yang tidak-tidak sehingga berakhir dengan keputusan final. Dalam satu bulan lagi mereka akan mengadakan lamaran lalu pernikahan.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Fauzan yang sejak tadi melihat Lulu semakin gusar.
"Aku ingin pernikahan kita batal." Jawab Lulu lugas. Ia tak mau memiliki suami seorang bocah.
"Kau tahu itu tidak akan mungkin terjadi bukan? Ibarat kata, kau tanpa ku itu bagaikan butiran debu dan jika kau bersama ku, kau bagaikan permata yang akan menyala di kegelapan."
"Fauzan! Kau sangat narsis! Ke kanak-kanakan! jika kau ingin menjadi dilan, sorry aku bukan milea."
"Kenapa aku harus jadi dilan? Aku bisa menjadi Fauzan calon suami mu yang akan menghujani kau dengan ribuan kata terindah."
"Sekali lagi kau berbicara, akan ku buat milikmu tidak akan bisa berdiri lagi. Jika bisa kau menjadi kasim." Ancam Lulu agar Fauzan tak lagi menggodanya.
Fauzan sontak langsung tutup mulut. Ia mengunci rapat mulutnya dan fokus pada jalanan di depannya.
Perlahan ia mengurangi laju kendaran saat mobil yang mereka tumpangi telah sampai di parkiran rumah sakit.
"Ngomong-ngomong, siapa yang akan kau jenguk?" Tanya Fauzan heran.
Lulu segara menglangkahkan kakinya keluar. "Bukan urusanmu. "
klo mau baca novel..liat dulu bab terakhirnya..