Jauh di negara Italia, kisah antara mantan jaksa yang mengubah profesi menjadi seorang dosen dengan seorang mahasiswi fakultas hukum yang tak lain ialah pembantu di rumahnya, mengawali hubungan sebagai dosen dan mahasiswi membuat keduanya sering bertemu. hingga akhirnya tumbuhlah benih cinta di antara keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Choi Nna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Selamat membaca.
jangan sampai keasyikan baca malah lupa like😀😀
jujur aja! like dan komen kalian sangat membantu dan menambah semangat author dalam melanjutkan cerita. jadi mohon dukungannya yah🙏🏼😀
Nana malah melotot, Nana berpikir bahwa itu adalah jawaban yang sederhana, biasa saja, siapapun bisa menjawabnya, tapi dia malah mendapatkan 2 poin sekaligus! Wauuuu... Good job Nana!
"Otak encer emang!" Ucap Harry berbisik pada Nana.
"Tidak apa kalian tidak fokus mengikuti materi saya, yang penting kalian bisa seperti Augustine. Bisa menjawab meskipun dia sedang memikirkan bekalnya." Ucap dosen itu tersenyum.
Membuat semua siswa-siswi tertawa.
*
*
*
Setelah materi selesai, mereka semua pulang karena itu adalah materi terakhir.
Seperti biasa Nana akan membaca kembali materi yang tidak dia mengerti sebelum pulang.
"Gila si Nana yah Lun!!! Bisa-bisanya dapet dua point' sekaligus, kan gue juga pengen!" Willy datang menghampiri Nana yang masih sibuk dengan tabletnya.
"Iya... Tapi jawaban Nana emang asthetic banget sih... Gue gak kepikiran lah soal kasusnya." Jawab Luna.
"Jangan berisik gue pusing nih." Nana
"Emang lo ngapain sih ngayal di kelas? Tumben banget."_ Luna.
"Gak dengar lo, dosen tadi ngomong apa?"_ Nana.
"Seriusan lo?! Lo gak fokus cuma karena bekal?"_ Willy.
"Bukan itu, gue lapar, gak sarapan tadi."
"Eh lo belum jawab pertanyaan gue, lo tadi pagi gak bawa bekal, terus bekal itu dari mana?" Tanya Luna.
"Ibu nitip sama uncle Mike..... Udah ah, balik yuk! Ntar aja di rumah gue makannya." Nana menyimpan tabletnya dan berdiri.
"Gue anter pulang yah? Biar cepat sampai." Tawar Willy.
"Jalan kaki lebih cepat sampai di rumah dari pada naik mobil." Jawab Nana sambil terus berjalan.
"Iya gue tau, cuman kan lo lesuh jalan kaki. Mataharinya juga terik. Lo bisa makan di mobil nanti." Willy kekeh ingin mengantar Nana.
"Yah udah yuk!" Akhirnya Nana setuju untuk di antar Willy.
Tentu saja Willy sangat senang. Akhirnya Nana mau juga di antar pulang olehnya.
"Nah gitu dong, sekali-kali ikut aku." Willy mengacak rambut Nana dengan manja.
"Ih lebay banget sih lo Wil! Usapnya biasa aja dong. Kek lo lagi ngelus kepala pacar lo aja." Ucap Luna melihat tingkah Willy yang kegirangan.
"Bodoh amat! Lagian kalo gue pacar Nana kan gakpapa." Ucapan Willy malah membuatnya mendapatkan cubitan dan jitakan dari Luna dan Nana.
"Gila lo yah ngomong kayak gitu ke gue?!"
"Tau nih! Lama-lama otak Willy error' jadinya." Timpal Luna.
Ponsel Nana berdering.
Uncle aneh.
📞Nana: iya uncle?
📞Mike: kelas kamu sudah selesai?
📞Nana: iya, baru aja bubar. Ada apa uncle?
📞Mike: cepatlah, aku menunggumu di basement biasa.
📞Nana: baiklah uncle.
Panggilan terputus.
"Siapa Na?" Tanya Willy.
"Uncle Mike." Jawab Nana singkat.
"Prof. Mike nungguin kamu?" Tanya Willy mulai khawatir. Dia takut Nana malah balik sama profesor itu dibanding dia.
"Kayaknya sih... Yah udah cepetan yuk!"
Mereka berjalan sedikit lebih cepat menuju mobil Mike.
"Maaf uncle Nana lama." Ucap Nana saat melihat Mike sedang berdiri bersanda di depan mobilnya bersedekap dada.
Kemudian menyalimnya.
"MMM.." ucap Mike.
"Selamat siang prof." Luna ikut menyalim diikuti oleh Willy.
"Siang!..." Jawab Mike singkat.
"Ada apa uncle?" Tanya Nana.
"Apalagi? Uncle menunggumu... Masuklah!" Ucap Mike berekspresi datar.
"Maaf uncle! Tapi Nana udah janji duluan sama Willy." Nana menolak dan menatap Willy.
"Kalau bukan mommy yang suruh, uncle juga gak mau nungguin kamu!" Padahal tidak ada suruhan sama sekali dari Laura. Itu hanya alasan Mike saja.
"Yahh... Gimana dong na?" Tanya Willy dengan raut wajah kecewa.
"Gimana lagi... Mommy aku yang suruh..." Nana hanya menatap maaf pada Willy. Nana tidak ingin mommynya mengomeli unclenya lagi karena tidak pulang bersama Nana.
Sedangkan Mike tersenyum penuh kemenangan kala Nana lebih memilihnya daripada Willy.
"Yah udah gini aja deh! Besok aja kamu jemput aku di rumah, pulangnya kamu juga yang anterin. Gimana?" Tawar Nana pada Willy.
"Seriusan nih? Antar jemput?" Tanya Willy memastikan.
"Serius, tapi kamu kagetnya karena aku nyusahin atau karena kamu senang?" Tanya Nana melihat ekspresi wajah Willy yang terlihat kaget.
"Yah kaget senang donggg... Yah sudah, kamu balik dulu gih.. awas yah kalo ingkar janji!" Willy kembali mengelus rambut Nana tepat didepan Mike.
Nana hanya tersenyum mengiyakan, tidak tau saja dia, bagaimana geramnya Mike saat ini.
"Nana masuk, uncle udah laper." Mike menarik lengan Nana.
Luna dan Willy hanya menatap heran perlakuan prof. Mike pada Nana.
"Ngapain masih disini? Kalian gak pulang?" Tegur Mike pada Willy dan Nana yang masih berdiri menatap nya.
"Ah iya.. kalau begitu kami duluan prof..... Bye na!" Jawab Luna kemudian melambai pada Nana yang sudah duduk didalam mobil.
Mike masuk kedalam mobil. Tampaknya dia masih kesal dengan Willy yang mengelus kepala Nana tadi. Mike menatap Nana di sampingnya yang hanya diam.
"Uncle kenapa? Kok kesal gitu." Akhirnya Nana menyadari sikap unclenya.
"Yah iyalah kesal!" Mike masih menatap Nana.
Asal kalian tau. Mike belum menyalakan mesin mobilnya, dia hanya menatap Nana kesal.
"Emangnya kenapa? Kesal ke Nana lagi?" Tanya Nana.
"Ke siapa lagi!?"
"Yaaahh... Kesalnya karena apa?"
"Yaaa... Kesal karenaaa....." Ucapan Mike tergantung karena tidak mungkin dia mengatakan bahwa ia cemburu dengan perlakuan Willy padanya.
"Karena apa?"
"Yaa... Kesal aja!" Jawaban Mike membuat Nana mengerut kan keningnya.
"Uncle gimana sih?, Dimana-mana tuh orang kalau kesal pasti ada alasan nya..."
"Tau ah!"
"Bodoh amat!" Ucap Nana.
"Rambut kamu yang disentuh William tadi yang mana?" Suara Mike menurun, menarik lengan Nana agar mendekat padanya.
Wajah mereka benar-benar sangat dekat. Bahkan Nana pun bisa merasakan nafas Mike.
"Ma.. Mak..sud uncle a..pa?" Nana gugup karena melihat Mike dari dekat.
Nana mengakui, unclenya memang sangat tampan.
"Uncle bilang, kapalamu dan rambutmu mana yang disentuh kekasihmu tadi." Ucap Mike.
Tanpa menunggu jawaban dari Nana. Mike langsung mengusap kepala Nana seperti seorang yang mengusap debu dari bajunya kemudian mengecupnya.
"Jangan pernah ada laki-laki lain menyentuhmu selain uncle, walaupun itu kekasihmu." Mike melepaskan lengan Nana dan menyalahkan mesin mobilnya.
Sedangkan Nana hanya diam tak menjawab ucapan Mike. Dia begitu tidak paham dengan situasinya saat ini.
Deg-degan. Itulah yang dia rasakan.
"Uncle jangan melakukan hal itu lagi. Orang lain akan berpikir yang tidak-tidak jika melihatnya." Ucap Nana.
"Memangnya kenapa? Apakah uncle melakukan hal yang salah? Uncle hanya tidak mau ada laki-laki lain yang menyentuh mu... Aku akan menjagamu seperti adikku, aku tidak ingin kau.... Ah au' ah." Mike hanya bingung dengan kalimatnya sendiri.
"Iya tauu... Tapi gak gitu juga kali. Gak perlu diusap, apalagi di kecup. Willy bukan kuman uncle."
"Uncle tidak mengatakan kalau William itu kuman. Uncle hanya menyingkirkan bekas sentuhannya darimu."
"Memangnya kenapa jika Willy menyentuhku? Toh cuman ngelus kepala doang. Lagian Willy bukan pacar aku uncle! Dia sahabat aku. Aku udah anggap dia sebagai kakakku sendiri!" Ucap Luna.
"bodoh amat! Mau dia pacar, sahabat, ataupun kakak kamu uncle tidak peduli. Kalau sekali lagi uncle liat dia nyentuh kamu, uncle akan hajar dia sampai babak belur, bukan cuman William. Tapi semua laki-laki selain uncle."
"Walaupun dia daddy?"
"Kecuali daddy."
"Uncle posesif banget sih? Namanya juga sahabatan yah gitulah, toh Willy juga bukan ke Nana doang gitunya, keluna juga sering."
"Bodoh amat. Intinya gitu. Jangan sampai uncle liat kamu di sentuh sama William lagi, apalagi ngelus kepala kamu nih." Mike kembali menepis bekas sentuhan Willy di kepala Nana.
"Au' ah!" Nana akhirnya mengalah.
"Dan juga, uncle sangat tidak suka tatapan sahabatmu itu padamu."
"Apanya lagi uncle? Tatapan apa?"
"Kenapa kau sangat tidak peka terhadap orang-orang di sekitarmu? Aku tau dia menyukaimu."
"Tentu saja dia menyukaiku, akupun menyukainya, aku menyukai uncle, aku menyukai semua orang. Apakah uncle suka jika ada yang membenciku? Kau sangat aneh sekali uncle!"
"Bukan itu maksud uncle, maksudnya tuh, dia cinta sama kamu, menyukaimu sebagai wanita, bukan sebagai sahabat. Kau belum mengerti juga?"
"Bodoh ah.. terserah uncle."
"Terserah uncle? Baiklah, jangan sampai uncle melihat tatapan yang sama lagi, bukan hanya William, tapi semua pria."
"Kenapa uncle sangat posesif padaku? Bagaimana aku akan pacaran jika pria melihatku saja uncle marah?"
"Kau bilang terserah uncle kan?"
"Emm.." Nana malas membalas ucapan unclenya itu.
Ditengah jalan, mereka kembali terjebak macet.
"Kenapa sih ni jalanan? Tiap kali uncle bareng kamu pasti kejebak macet uncle?"
"Lah kok nyalahin Nana sih?"
"Gak nyalahin. Emang faktanya gitu kok. Kemarin-kemarin uncle gak kena macet pas gak ada kamu tuh."
"Uncle please jangan ngomel lagi. Nana udah laper banget nih. Uncle juga laper kan? Nah, jangan buang tenaga uncle untuk mengomel. Ntar makin tua loh." Ucap Nana lesuh.
"Kamunya yang mulai duluan!"
"Tuh kan.. Nana lagi...Nana lagi.. nyata-nyata nya uncle yang mulai malah nyalahin Nana." Nana menyandarkan kepalanya kepintu kaca mobil.
"bodoh ah."
kira² mike sama Nana bersatu ga ya
penasaran endingnya..smngt thor💪