Disebuah kerajaan bulan yang dihuni ribuan manusia Srigala. Disaat gerhana bulan merah, permaisuri Lira baru saja melahirkan seorang anak perempuan yang cantik namun tidak memiliki aura Srigala yang membuat sang Raja Argan harus membunuh anak kandungnya sendiri karena dianggap aib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 004: Sayembara Kerajaan Bulan Perak
Di ruang sidang utama Kerajaan Bulan Perak, Raja Argan menatap satu per satu wajah para prajurit terhebat hingga para penasihat dan tetua kerajaannya. Suasana terasa berat namun penuh ketegasan dari sang Raja.
"Sampaikan ke segenap penjuru dunia kaum srigala: Aku, Raja Argan, mengadakan sayembara terbuka. Siapa pun yang mampu membuktikan dirinya yang paling kuat, akan diangkat menjadi pasukan inti pelindung kerajaan, beserta hadiah seratus keping emas murni!" ucap Argan lantang memecah keheningan.
"Siap Baginda, perintah ini akan segera kusampaikan ke setiap klan yang ada!" jawab Tetua Agung Balthazar, penasihat tertinggi Kerajaan Bulan Perak dengan hormat, lalu segera berangkat menjalankan tugasnya menyebarkan kabar itu ke seluruh penjuru.
Tak butuh waktu lama, kabar sayembara itu sampai pula ke telinga Seraphina, Lira, hingga ke seluruh penjuru Klan de Luna.
"Seraphina... sepertinya ada sesuatu yang sangat buruk sedang menimpa Kerajaan Bulan Perak. Aku harus kembali ke sana," ucap Lira tampak gelisah tak keruan.
"Lira, untuk apa kembali ke tempat yang tak pernah sedikit pun menghargaimu?" tanya Seraphina.
"Ada hal yang tak bisa kujelaskan sekarang, Nak. Tapi, aku harus kembali kekerajaan Bulan Perak demi Rakyat kerajaan," jawab Lira mendalam.
"Baiklah, aku janji kita akan pergi kerajaan bulan perak. Tapi, tidak sekarang. Tunggulah waktu yang tepat," ucap Seraphina menenangkan.
Sementara itu di wilayah Klan Cakar Badai, kabar itu pun sudah terdengar jelas. Drakar, pemimpin klan yang paling lama memendam dendam pada Argan, tertawa lebar mendengarnya.
"Lihatlah, Raja yang sombong itu akhirnya gemetar ketakutan sampai harus mencari kekuatan tambahan dari mana saja!" ucap Drakar penuh nada meremehkan.
"Kalau begitu, apakah kita datang sebagai penantang atau ikut sayembara layaknya peserta lain?" tanya Gorah, tangan kanan sekaligus sahabat setianya.
Drakar menyunggingkan senyum penuh rencana jahat. "Kita tak datang sekadar untuk menantang. Kita datang untuk merebut takhta yang selama ini seharusnya milik kita."
"Aku mengerti maksudmu," jawab Gorah sambil mengangguk mantap.
Kembali ke halaman luas Klan de Luna, Alaric memanggil putrinya mendekat. "Seraphina, apakah kau berniat ikut serta dalam sayembara itu?"
"Aku tidak akan ikut, Ayah. Aku lebih memilih berdiri di pinggir lapangan hanya sebagai penonton," jawab Seraphina tegas.
"Baiklah kalau begitu. Maka seluruh warga klan kita dilarang ikut campur, kecuali ada yang benar-benar ingin menguji kemampuannya," ujar Alaric menatap seluruh pasukannya.
"Tuanku Alaric, izinkanlah aku ikut sayembara itu. Aku juga ingin mengukur seberapa jauh kemampuan bertarungku sejauh ini," ucap Boras melangkah maju dengan penuh semangat.
"Baiklah, kau boleh pergi," ucap Alaric.
Saat itulah pandangan Alaric tertuju pada sosok Lira yang berdiri agak jauh. Ia merasa ada sesuatu yang aneh pada wanita itu. "Seraphina, siapakah wanita tua itu? Sepertinya ia bukan bagian dari klan kita."
"Dia Lira, Ayah. Dulunya berasal dari Kerajaan Bulan Perak," jelas Seraphina.
"Lalu mengapa kau membawanya ke tempat perlindungan kita?" tanya Alaric heran.
"Di sana tak ada yang menganggapnya. Hanya dianggap budak rendahan yang nyawanya tak berharga sama sekali," jawab Seraphina sedih.
Alaric melangkah mendekat, dan seketika dahinya berkerut menyadari sesuatu. "Lira... mengapa tak kurasakan sedikit pun aura srigala padamu? Apa yang terjadi?"
Air mata perlahan menetes di pelupuk mata Lira. "Kekuatan dan srigalaku lenyap saat itu juga... tepat di saat aku mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa putriku yang hendak dibunuh ayahnya sendiri."
Di lain waktu kembali ke Kerajaan Bulan Perak, Tetua Agung Balthazar menghadap kembali kepada Raja Argan. "Baginda, dua hari lagi sayembara itu akan dimulai. Segala persiapan sudah hampir rampung."
"Lakukan penyempurnaan hingga tak ada kekurangan sedikit pun," perintah Raja Argan. Lalu ia beralih menatap Elara. "Elara, kau juga harus bersiap sekuat tenaga. Kaulah satu-satunya keturunanku yang sah, penerus takhta ini. Kau harus mampu berdiri lebih kuat dari siapa pun yang datang nanti."
"Aku mengerti, Ayah. Aku akan berlatih sekuat tenaga agar tak mengecewakan harapan Ayah," jawab Elara penuh semangat.
"Jangan pernah mengecewakanku," ucap Argan singkat lalu berbalik pergi meninggalkan putrinya.
"Anakku yang hebat, Ibu yakin kau pasti bisa melakukannya," bisik Sari sambil memeluk bahu Elara.
"Terima kasih, Bu." Ucap Elara. "Torgar, temani aku sekarang ke tempat latihan," pinta Elara, yang langsung diangguki patuh oleh pengawal setianya.