Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Saku
Langkah pertama yang mereka ambil di dalam lorong itu terasa seperti langkah pertama yang lain, namun tidak ada langkah kedua yang serupa dengan yang biasa mereka kenal.
Lorong batu dengan kristal-kristal biru berkilau di dindingnya berakhir tidak lebih dari lima puluh langkah dari pintu masuk, dan di baliknya, dunia yang sama sekali berbeda terbentang luas di hadapan mereka. Bukan gua, bukan pula ruangan tertutup seperti yang dibayangkan Wick sebelumnya. Yang ada di depan mereka adalah hutan, atau sesuatu yang menyerupai hutan, dengan pepohonan yang batangnya setengah terbuat dari kayu dan setengah lagi dari kristal bening yang tumbuh menyatu dengan urat-urat kayu itu sendiri, memantulkan cahaya dari langit-langit yang jauh di atas sana, terlalu tinggi untuk terlihat sebagai apa pun selain kabut cahaya keperakan yang lembut.
"Aku tidak pernah terbiasa dengan ini," gumam Petra, mendongak, mencoba mencari tahu apakah ada langit sungguhan di atas mereka atau hanya ilusi yang meniru langit. "Rasanya seperti berjalan di dalam mimpi orang lain."
"Bukan mimpi orang lain," kata Brann, sudah mulai berjalan dengan semangat khasnya yang tidak pernah benar-benar padam meski baru saja memasuki tempat asing, "tapi kau tidak sepenuhnya salah juga. Setiap lantai Menara adalah dunia sakunya sendiri, terpisah dari dunia luar, dengan aturannya sendiri. Beberapa punya langit buatan seperti ini. Beberapa punya cuaca yang tidak masuk akal. Aku pernah dengar cerita tentang lantai di Menara lain yang malamnya berlangsung tujuh kali lebih lama dari siangnya, tanpa alasan yang bisa dijelaskan siapa pun."
"Kenapa bisa begitu?" tanya Wick, masih terpesona menatap sekelilingnya, langkahnya sedikit lebih hati-hati dari biasanya, seolah takut lantai kristal di bawah kakinya bisa pecah.
"Tidak ada yang benar-benar tahu," jawab Brann, dengan nada yang untuk sekali ini terdengar lebih rendah hati daripada biasanya. "Itulah yang membuat Menara begitu menarik sekaligus menakutkan. Kita bisa mempelajari pola-polanya, mencatat perilakunya, tapi kita tidak pernah benar-benar memahami kenapa ia ada, atau kenapa setiap lantainya begitu berbeda satu sama lain."
Arden mendengarkan sambil terus melangkah, memperhatikan bagaimana rerumputan di bawah kaki mereka bukan hijau biasa, melainkan berwarna biru pucat, dan bagaimana setiap langkah terasa sedikit lebih ringan dari yang seharusnya, seolah tubuhnya sedikit lebih ringan dari beban sebenarnya.
"Kau merasakannya juga?" tanya Corym pelan, berjalan di sisinya.
"Gravitasinya," kata Arden, mengangguk sedikit. "Sedikit lebih ringan di sini."
"Bukan hanya perasaanmu," sela Ilena dari belakang, alat pemindainya sudah aktif di tangannya, cahaya redupnya berkedip mengikuti pola tertentu. "Sekitar tujuh persen lebih ringan dibanding permukaan. Cukup untuk memengaruhi keseimbangan kalau tidak terbiasa, tapi tidak cukup untuk benar-benar berbahaya."
"Kau bisa mengukur itu?" tanya Petra, terkesan.
"Prisma ini bisa membaca banyak hal selain Anima," jawab Ilena, tanpa mengangkat kepala dari alatnya. "Gravitasi, tekanan udara, komposisi elemen dasar di sekitar kita. Berguna untuk memastikan kita tidak berjalan ke tempat yang akan membunuh kita tanpa peringatan."
Tomas, yang sejak tadi memimpin di depan, mengangkat tangan sekali, isyarat singkat yang sudah dipahami seluruh anggota tanpa perlu kata-kata. Rombongan berhenti bergerak.
"Ada sesuatu di depan," katanya pelan, jongkok di balik semak kristal rendah, matanya menyipit menatap jarak sekitar tiga puluh langkah ke depan. "Bergerak lambat. Kelompok kecil."
...----------------...
Arden merangkak maju bersama Tomas untuk melihat lebih dekat, dan di sanalah mereka menemukan sumber gerakan itu: empat makhluk berkaki empat, tubuhnya sebagian terbuat dari kristal yang sama dengan pepohonan di sekitar mereka, bergerak pelan di antara rerumputan biru pucat, mencari sesuatu yang tidak jelas apa, mungkin sekadar makanan atau sekadar naluri berkeliaran tanpa tujuan.
"Serigala kristal," gumam Halden, sudah merangkak mendekat dari sisi lain, suaranya tenang seperti biasa. "Umum di lantai-lantai menengah dengan formasi kristal seperti ini. Tidak terlalu berbahaya sendirian, tapi berbahaya kalau dibiarkan berkelompok dan menyerang bersamaan."
"Berapa banyak yang bisa kita tangani sekaligus?" tanya Corym.
"Empat bukan masalah besar untuk kita," jawab Halden. Ia menoleh ke arah Petra yang ikut merangkak mendekat, matanya berkilat dengan campuran kewaspadaan dan semangat yang sulit disembunyikan. "Ini kesempatan bagus untukmu berlatih formasi nyata, bukan sekadar latihan pedang di markas."
Petra mengangguk cepat, terlalu cepat, hingga Halden menahannya sejenak dengan tangan di bahunya.
"Dengarkan aku dulu," kata Halden. "Kau akan bertarung berpasangan denganku. Jangan mencoba menyerang lebih dari satu makhluk sekaligus. Biarkan aku menahan yang kedua kalau perlu. Fokusmu adalah teknik, bukan kecepatan menyelesaikan pertarungan."
"Aku mengerti," kata Petra, lebih tenang sekarang, meski matanya masih menyala.
Arden memberi isyarat pada yang lain untuk mengambil posisi. Tomas mundur ke belakang, busurnya sudah dipersiapkan, anak panah pertama terpasang di talinya. Corym melangkah maju bersama perisainya, siap menjadi tumpuan pertahanan. Ilena berdiri di belakang formasi, satu tangan sudah terangkat, jemarinya mulai berkedut pelan seolah menarik sesuatu yang tak terlihat dari udara di sekitarnya. Doran tetap di posisi tengah, Ashe bertengger siaga di bahunya, siap terbang membantu dari udara kalau diperlukan. Brann berdiri agak jauh di belakang bersama Wick, tangannya sudah memegang salah satu botol ramuannya, meski untuk pertarungan sekecil ini kemungkinan besar tidak akan dibutuhkan.
"Sekarang," kata Arden pelan.
Tomas melepaskan panah pertama. Anak panah itu melesat cepat, menembus udara dengan suara berdesis tipis, mengenai salah satu serigala kristal tepat di bahu depan. Makhluk itu melolong, suaranya berdenting seperti kaca beradu, dan seketika seluruh kelompok kecil itu berbalik ke arah rombongan Jangkar Kelabu, gerakan mereka yang tadinya lambat berubah menjadi cepat dan agresif.
Corym maju lebih dulu, perisainya terangkat, menahan terjangan pertama serigala yang paling dekat dengannya. Benturan itu menghasilkan suara berat yang bergema di antara pepohonan kristal, dan Corym mendorong balik dengan kekuatan yang stabil, cukup untuk membuat makhluk itu terhuyung mundur tanpa membuang terlalu banyak tenaga.
"Halden, sekarang!" seru Corym.
Halden dan Petra bergerak bersamaan menuju serigala kedua yang mencoba menyerang dari sisi. Halden mengambil posisi lebih dulu, memotong jalur makhluk itu dengan tebasan yang presisi, memaksa sang serigala mengubah arah, tepat ke arah yang sudah diperhitungkan Halden untuk memberi Petra kesempatan menyerang dari sudut yang lebih aman.
Petra maju dengan bahu yang direndahkan, persis seperti yang diajarkan Halden malam sebelumnya, mengayunkan pedangnya bukan dari pergelangan tangan melainkan dari seluruh tubuhnya. Tebasan itu mengenai kaki depan serigala kristal, membuat retakan kecil menjalar di permukaannya yang keras.
"Bagus," kata Halden singkat, sudah bergerak untuk memberikan pukulan penentu yang membuat makhluk itu ambruk, pecahan-pecahan kristal berhamburan sebelum menghilang perlahan menjadi debu halus yang tertiup angin.
Ilena, yang sejak tadi mengumpulkan energi di tangannya, akhirnya melepaskan mantra pertamanya. Udara di sekitar telapak tangannya berputar, mengumpulkan hawa dingin yang terlihat sebagai kabut tipis, sebelum meluncur ke arah serigala ketiga dalam bentuk tombak es tajam yang menusuk tepat di sisi tubuhnya. Makhluk itu melolong kesakitan, gerakannya melambat drastis saat lapisan es mulai menjalar di sekujur tubuh kristalnya.
"Sekarang!" seru Ilena, suaranya tegang karena masih perlu berkonsentrasi menjaga mantranya tetap stabil.
Doran memberi isyarat pada Ashe, dan familiar kecil itu meluncur turun dari udara, cakarnya yang belum sepenuhnya tumbuh dewasa tetap cukup tajam untuk mencabik bagian yang sudah melemah karena es, membuat serigala ketiga itu ambruk tak lama setelahnya.
Serigala terakhir, yang paling besar dari kelompok itu, berbalik mengincar Arden yang sejak tadi berdiri sedikit di belakang formasi, mengamati pertarungan dengan mata yang menilai, memperhatikan pola serangan makhluk itu sebelum bertindak.
Arden melangkah maju satu langkah tepat saat serigala itu melompat, pedangnya sudah tercabut dari sarungnya dengan gerakan yang begitu halus hingga hampir tidak terlihat sebagai persiapan sama sekali. Ia tidak menggunakan kekuatan besar, tidak perlu. Satu tebasan presisi, dipandu oleh pengalaman bertahun-tahun membaca gerakan lawan, cukup untuk memotong tepat di titik lemah antara kepala dan leher kristal makhluk itu.
Serigala terakhir ambruk, pecah menjadi debu seperti yang lain, dan hutan kristal kembali hening, hanya diselingi suara angin lembut yang menggerakkan dedaunan setengah kristal di sekitar mereka.
...----------------...
"Itu," kata Petra, terengah pelan tapi tersenyum lebar, "terasa jauh lebih baik daripada latihan di markas."
"Karena musuh sungguhan tidak berpura-pura," kata Halden, menepuk bahunya sekali. "Tapi tekniknya sudah lebih baik dari minggu lalu. Kau mendengarkan."
"Aku selalu mendengarkan."
"Kadang," koreksi Halden, meski senyum tipis muncul di wajahnya yang biasanya tenang tanpa ekspresi berlebihan.
Corym memeriksa perisainya sejenak, memastikan tidak ada kerusakan berarti dari benturan tadi, sementara Tomas sudah mengambil kembali anak panahnya yang masih utuh dari tanah berumput biru. Brann mendekat dengan wajah penuh rasa ingin tahu, berjongkok di dekat gundukan debu kristal yang tersisa dari salah satu serigala.
"Menarik," gumamnya, mengambil sedikit debu itu dengan jarinya, menggosoknya perlahan. "Strukturnya berbeda dari kristal biasa. Aku ingin membawa sampel kecil untuk diteliti nanti."
"Selama itu tidak memperlambat kita," kata Arden, membersihkan pedangnya dengan kain kecil sebelum menyarungkannya kembali.
"Tidak akan," janji Brann, sudah mengeluarkan botol kosong kecil dari ranselnya untuk mengumpulkan sampel itu.
Wick, yang sejak tadi berdiri agak jauh bersama Brann, mendekat dengan wajah masih sedikit tegang, meski matanya berbinar penuh kekaguman. "Kalian membuatnya terlihat mudah."
"Tidak semudah itu," kata Corym, tersenyum padanya. "Tapi kami sudah melakukannya cukup lama untuk tahu apa yang harus dilakukan dan kapan harus melakukannya. Itu bedanya antara pertarungan yang terlihat mudah dan pertarungan yang benar-benar mudah."
Ilena, yang sejak pertarungan berakhir berdiri agak menjauh dari kelompok, masih menatap layar kecil pada prismanya dengan alis berkerut dalam. Ia tidak segera bergabung dengan perbincangan yang lain, jarinya menekan beberapa simbol kecil di sisi alat itu, mencoba membaca ulang sesuatu yang baru saja tercatat.
Angka yang muncul di sana tidak masuk akal.
Ia sudah terbiasa membaca pola dasar Anima setiap anggota timnya, kebiasaan rutin yang ia lakukan hampir setiap misi untuk memastikan tidak ada yang kelelahan berlebihan atau membutuhkan istirahat. Pola Corym, Petra, Halden, semuanya normal, sesuai dengan tenaga yang mereka keluarkan dalam pertarungan singkat tadi.
Tapi pola Arden berbeda.
Selama sepersekian detik saat ia menebas serigala terakhir, hanya sepersekian detik yang nyaris tidak akan tertangkap kalau prisma itu tidak sedang aktif membaca seluruh area pada saat bersamaan, ada lonjakan kecil dalam Anima Arden, jauh lebih kecil dari insiden yang pernah ia catat sebelumnya, tapi cukup aneh untuk membuatnya berhenti. Lonjakan itu muncul, lalu menghilang secepat ia muncul, seolah sesuatu di dalam tubuh Arden secara otomatis menariknya kembali sebelum benar-benar terlihat oleh siapa pun, termasuk Arden sendiri.
Ilena menatap angka itu lebih lama, mencoba mencari penjelasan yang masuk akal. Mungkin hanya gangguan kalibrasi lagi, seperti malam itu ketika prismanya berkedip tanpa alasan jelas di dekat kontrak Draymoor. Mungkin hanya efek dari gravitasi lantai ini yang sedikit berbeda, memengaruhi pembacaan alat secara tidak terduga.
Tapi jauh di dalam dirinya, bagian yang selalu mempercayai data lebih dari asumsi, Ilena tahu ini bukan kebetulan semata.
"Ilena?"
Ia tersentak sedikit, mengangkat kepala. Arden sudah berdiri di dekatnya, menatapnya dengan alis terangkat, jelas sudah memanggilnya lebih dari sekali.
"Kau baik-baik saja?" tanya Arden. "Kau terlihat jauh sekali."
"Aku baik-baik saja," kata Ilena, cepat, terlalu cepat, menyembunyikan layar prismanya dengan gerakan yang ia harap terlihat wajar. "Hanya memeriksa data kalian semua. Semuanya normal."
Arden menatapnya sejenak lebih lama, seolah hendak bertanya lebih jauh, tapi akhirnya hanya mengangguk. "Baik. Kita lanjutkan. Doran, arah mana yang paling dekat dengan tanda di peta?"
"Ke sana," kata Doran, menunjuk ke arah barisan pepohonan kristal yang lebih rapat, di mana cahaya keperakan dari langit-langit jauh tampak sedikit lebih redup, seolah tertutup sesuatu yang lebih padat di atasnya.
Rombongan mulai bergerak lagi, formasi mereka kembali terbentuk secara alami, langkah-langkah mereka meninggalkan jejak samar di rerumputan biru pucat yang perlahan bangkit kembali di belakang mereka.
Ilena berjalan sedikit lebih pelan dari biasanya, sesekali melirik ke arah punggung Arden yang berjalan tenang beberapa langkah di depannya, tidak menyadari sama sekali bahwa dirinya sedang diperhatikan dengan cara yang berbeda dari biasanya.
Ia tidak mengatakan apa pun pada siapa pun tentang apa yang baru saja ia lihat.
Belum saatnya, pikirnya, memilih kata yang sama yang sering diucapkan Arden sendiri tanpa menyadari ironi di dalamnya. Ia hanya perlu mengamati lebih lama, mengumpulkan lebih banyak data sebelum ia benar-benar yakin bahwa apa yang tercatat di prismanya bukan sekadar kesalahan kalibrasi.
Tapi jauh di dalam dirinya, sebuah pertanyaan kecil mulai tumbuh, pelan namun keras kepala, menolak untuk benar-benar hilang meski ia coba dorong ke belakang pikirannya.
Apa sebenarnya yang baru saja terjadi pada Arden, tepat sebelum tebasan terakhirnya mengenai sasaran?