NovelToon NovelToon
Setelah Kata Usai

Setelah Kata Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Menikah dengan Kerabat Mantan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: Fahri Sohil Munawar

Beberapa hubungan berakhir bukan karena rasa cinta yang pudar, melainkan karena rahasia yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
​Diputus sepihak oleh Putri membuat Alex terjebak dalam labirin pertanyaan tanpa jawaban. Rasa patah hati membawanya pada titik terendah, memaksa Alex merangkak bangkit dan menata ulang takdirnya lewat kata demi kata yang ia tulis.
​Kehadiran Syafa seperti cahaya senja yang tenang—menghangatkan hatinya yang beku dan membantunya menyembuhkan luka. Namun, saat batas antara masa lalu dan masa depan semakin kabur, Alex dihadapkan pada kenyataan pahit yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
​"Setelah Kata Usai" adalah perjalanan emosional tentang bagaimana menyembuhkan diri dari pengkhianatan, memahami arti melepaskan, dan menemukan cinta sejati di tempat yang paling tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahri Sohil Munawar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 mencoba melupakannya

Selepas interaksi singkat di koridor tadi, mereka bertiga langsung masuk ke ruang kelas karena jam kuliah akan segera dimulai. Namun, begitu dosen masuk dan mulai menjelaskan materi, Alex sama sekali tidak bisa fokus. Kepalanya terasa sangat berat dan matanya terus memejam karena menahan kantuk yang luar biasa. Hingga akhirnya, pertahanan Alex runtuh. Dia pun tertidur pulas dengan kepala bertumpu di atas meja.

Tak lama berselang, Pak Irwan(dosen yang sedang mengajar) menyadari ada satu mahasiswa yang posisinya sangat mencolok di barisan tengah.

"Hei, siapa itu yang tidur di belakang?" tegur Pak Irwan dengan suara lantang, menghentikan penjelasannya di papan tulis.

Umam yang duduk di sebelah Alex langsung panik. "Lex, bangun, Lex! Ada Pak Irwan!" bisik Umam setengah mati, sambil menyikut-nyikut lengan Alex dengan cemas.

Alex mengerjap kaget, langsung menegakkan tubuhnya dengan nyawa yang belum terkumpul penuh.

"Kamu, Alex! Maju ke depan!" perintah Pak Irwan dengan raut wajah masam.

Alex berjalan gontai ke depan kelas dengan tatapan semua mahasiswa tertuju padanya.

"Coba kamu jelaskan kembali, apa yang baru saja Bapak terangkan di papan tulis?" tanya Pak Irwan, melipat kedua tangannya di dada.

"Ee ... aa ... itu, Pak ...," jawab Alex terbata-bata. Pikirannya benar-benar kosong melongpong. Dia sama sekali tidak tahu apa materi kuliah hari ini.

Pak Irwan menghela napas panjang, menatap Alex dengan gelengan kepala. "Alex, Alex. Kalau lagi jam kuliah itu fokus, bukan malah tidur! Makanya, kalau enggak bisa bangun pagi, malamnya jangan hobi begadang! Sekarang, KELUAR KAMU dari kelas saya!"

Mendengar bentakan Pak Irwan, Umam dan Marko yang duduk di bangku mereka hanya bisa saling bertatapan sambil menepuk jidat kompak.

"Iya, Pak. Maaf," gumam Alex lirih dengan kepala tertunduk.

Dengan perasaan malu yang bercampur aduk, Alex melangkah keluar dari ruang kelas. Begitu pintu tertutup di belakangnya, umpatan dalam hatinya langsung meledak. ‘Ah, anjing! Gara-gara cewek enggak tahu diuntung itu, gue jadi kayak gini!’

Langkah kaki Alex mengentak koridor yang sepi. Karena emosinya sudah di ubun-ubun, Alex refleks melayangkan tendangan keras ke arah sebuah tong sampah plastik di dekat pilar.

BRAKK!

Tong sampah itu terguling mengenaskan, membuat seluruh representsi sampah di dalamnya berserakan di atas lantai yang bersih. Sialnya, tanpa sepengetahuan Alex, tidak jauh dari tempat itu ada Pak Obe (petugas kebersihan) kampus yang sedang memegang sapu.

Pak Obe langsung berkacak pinggang dengan wajah memerah. "Woy! Ngapain lo tendang tong sampahnya?! Capek-capek gue bersihin dari tadi!" semprot Pak Obe, marah besar.

Alex tersentak, rasa bersalah langsung menyerangnya. "Maaf, Pak. Enggak sengaja," ucap Alex lemas.

"Enggak sengaja matamu! Pokoknya enggak mau tahu, sebagai hukumannya, lo yang bersihin dan buang semua sampah di area koridor kampus ini!" tegas Pak Obe sambil menyodorkan sapu dan pengki ke arah Alex.

Alex hanya bisa menerima sapu itu dengan pasrah. Sambil mulai memunguti sampah yang berserakan dengan tangan gemetar karena emosi, Alex kembali mengumpat habis-habisan di dalam hatinya.

‘Ah, anjing! Putri anjing! Sial banget hidup gue hari ini!’

Setelah selesai membereskan tugas hukuman membersihkan seluruh koridor kampus, tubuh Alex rasanya mau rontok. Dengan langkah gontai, dia berjalan menuju kantin kampus untuk beristirahat sambil menunggu jam kuliah kedua temannya selesai. Begitu sampai di kantin, Alex langsung memesan segelas air putih hangat untuk membasahi tenggorokannya yang kering.

Namun, karena rasa kantuk dan lelah yang luar biasa masih menggelayuti tubuhnya, Alex kembali tidak bisa menahan diri. Kepalanya perlahan terkulai di atas meja jorok kantin, dan dia pun langsung terlelap di pojokan.

Tak lama kemudian, kelas akhirnya dibubarkan. Umam dan Marko berjalan keluar bersama mahasiswa lainnya.

"Si Alex kemana ya, Mam?" tanya Marko sambil mengedarkan pandangan ke koridor.

"Entah, paling di kantin," jawab Umam yang sama-sama bingung mencari keberadaan sahabatnya itu.

Mereka berdua pun melangkah menuju kantin kampus. Benar saja, sesampainya di sana, mereka langsung melihat siluet Alex yang sedang tertidur pulas di meja paling pojok ujung kantin.

BRAKK!

Umam sengaja menggebrak meja kantin itu dengan keras menggunakan telapak tangannya.

Sontak Alex langsung terlompat bangun dengan jantung yang berdegup kencang akibat kaget setengah mati.

"Ah, anjing! Kaget gue!" umpat Alex setengah sadar, berusaha mengumpulkan kembali nyawanya yang sempat terbang.

Marko yang baru saja hendak duduk di sebelah Alex tiba-tiba mengendus udara di sekitarnya, lalu spontan menutup hidung dengan wajah mengkerut. "ANJING, BAU SAMPAH!"

Alex mendengus sebal, menatap Marko dengan tatapan malas. 

"Gue yang bau sampah, kenapa emang?!"

"Lah? Kok bisa? Habis ngapain lo, berenang di bak sampah?!" timpal Umam yang langsung tertawa puas melihat komat-kamit wajah Alex.

"Kaga, Elu berdua tahu kan tadi gue diusir Pak Irwan? Nah, pas di koridor gue emosi, terus refleks nendang tong sampah sampai berserakan semua. Sialnya, gue kira enggak ada siapa-siapa, ternyata di ujung lorong ada Pak Obe lagi pegang sapu. Kena hukum deh gue disuruh bersihin seluruh sampah koridor kampus," tutur Alex dengan nada pasrah sekaligus kesal.

Mendengar kronologi apes itu, tangis tawa Umam dan Marko langsung pecah di tengah kantin. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak tanpa memedulikan tatapan mahasiswa lain.

"Wkwkwk! Makanya, kalau lagi patah hati tuh jangan dibawa-bawa ke kampus, bego! Mampus lo, udah mah dikeluarkan dari kelas, eh malah berakhir jadi asistennya Pak Obe!" ejek Umam sambil terus memegangi perutnya yang kram karena menertawakan penderitaan sahabatnya sendiri.

Setelah puas berbincang-bincang dan menertawakan nasib apes Alex di kantin, mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk pulang karena jam kuliah hari itu sudah selesai. Mereka berpisah di area parkiran. Marko pulang sendiri mengendarai sepeda motornya, sementara Alex kembali menumpang di mobil Umam karena kondisi fisiknya yang sudah kepalang lelah.

Di dalam kabin mobil yang sejuk, keheningan sempat bertahan beberapa saat sebelum akhirnya Umam membuka percakapan sambil memutar kemudi.

"Untung lo tadi enggak nyamperin Putri, Lex. Coba lo tadi nekat samperin si Putri, habis lo malu dilihatin orang sekampus," kata Umam dengan gaya sok bijaknya, merasa bangga karena sudah berhasil menasihati sahabatnya itu di koridor tadi.

Alex yang menyandarkan kepalanya ke kaca mobil hanya bisa tersenyum tipis, terlalu lemas untuk mendebat kebenaran ucapan Umam.

Melihat respons Alex yang pasif, Umam melirik sekilas lalu mendecak sebal. "Bilang makasih, kek! Malah diam saja lo!" ucapnya sambil memasang wajah cemberut yang dibuat-buat, menuntut apresiasi.

"Iye, makasih iye, anjing! Puas lo?!" ucap Alex dengan nada yang mulai meninggi karena rada marah sekaligus gemas dengan tingkah sahabatnya itu.

"Yang tulus dong... Bilang gini; 'Makasih ya Umam, sahabatku yang paling ganteng di dunia'," sahut Umam tanpa tahu malu, sengaja mengejek untuk memancing emosi Alex.

"NAJIS!" potong Alex cepat dengan ekspresi wajah yang tampak sangat masam karena jijik.

Alex memutar bola matanya, lalu menoleh ke arah Umam dengan tatapan meremehkan. "Eh, emang lo ganteng ya, Mam? Perasaan muka lo pas-pasan amat," tanya Alex balik mengejek, membalas dendam atas ledekan di kantin tadi.

"Yeh, dasar temen enggak tahu di untung!" gerutu Umam sambil fokus kembali memandang jalanan di depan.

Suasana kembali hening sejenak, sebelum akhirnya raut wajah Umam berubah menjadi lebih serius. "Tapi serius, Lex. Gimana? Udah dapet caranya buat nanya ke si Putri?" tanya Umam membuka topik utama yang mengganjal pikiran mereka.

Alex menghela napas panjang, menatap kosong ke dasbor mobil. "Entahlah... mungkin cara lo yang di mobil tadi bisa dicoba. Anterin gue ke konter depan deh, Mam. Gue mau beli nomor baru sekarang," ucap Alex, memantapkan niat yang sejak tadi berputar di otaknya.

Tanpa banyak tanya lagi, Umam langsung mengarahkan mobilnya menuju sebuah konter pulsa dan kartu perdana yang berada di dekat area luar kampus.

Sesampainya di konter, Alex turun dan berdiri di depan etalase kaca yang memajang puluhan jenis kartu perdana dari berbagai operator. Otaknya tiba-tiba berpikir keras. 'Kalau gue cuma beli satu nomor, terus langsung diblokir lagi sama dia setelah gue chat, perjuangan gue bakal sia-sia,' batin Alex menganalisis situasi.

Enggan mengambil risiko gagal, Alex akhirnya menunjuk tiga bungkus kartu perdana yang berbeda. "Mbak, beli yang ini, ini, sama yang ini. Tiga kartu sekaligus ya," ujar Alex kepada penjaga konter.

 Dia benar-benar berniat melakukan serangan beruntun di dunia maya demi mendapatkan penjelasan Putri.

Setelah menyelesaikan pembayaran dan mengantongi tiga nomor baru tersebut, mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju kediaman Alex. Begitu mobil Umam berhenti di depan pagar rumah, Alex langsung turun dengan membawa kantong plastik kecil berisi kartu perdana.

"Makasih ya, Mam. Duluan gue," pamit Alex.

"Yo! Kabarin kalau ada perkembangan!" seru Umam sebelum akhirnya melajukan mobilnya pergi.

Alex melangkah masuk ke dalam rumahnya yang sepi. Begitu melewati pintu kamar, dia langsung melempar tas ranselnya ke atas kursi. Hal pertama yang dia lakukan adalah melepaskan seluruh pakaian kuliahnya yang terasa sangat kotor.

Bau asam sampah koridor kampus tadi masih tercium menyengat dan membuat hidungnya sendiri tidak nyaman. Tanpa membuang waktu, Alex langsung menyambar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Dia menyalakan pancuran air, membiarkan air dingin mengguyur seluruh tubuhnya yang penat, mencoba meluruhkan sisa-sisa kesialan, bau sampah, dan rasa perih akibat penolakan Putri yang dia alami sejak pagi tadi.

1
Putry Chan
deskripsi terlalu bertele-tele, belum nyambung.
judul dan tagar tidak nyambung " dusta yang sempurna" tema balas dendam, romansa fantasi tapi deskripsi nya hanya berbicara putus cinta dan trauma tidak ada unsur kebohongan, fantasi, atau persaingan.
tidak memancing penasaran.
kurang emosi yang terasa

dan cover tulisan belum menyatu
kurang memikat mata
belum ada menggambar isi cerita
Fahri Sohil Munawar: terimakasih kak atas sarannya akan saya perbaiki terimakasih mohon bimbingannya
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
Fahri Sohil Munawar: makasih kak sudah mampir 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!