Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.
"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.
"Belum," jawab Sarah tenang.
Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.
"Lalu... apa kamu punya pacar?"
"Tidak," jawab Sarah lagi.
Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.
"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."
****
Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
“Siapa itu, Sar?” tanya Tini, menyenggol bahu Sarah yang masih menatap jengah ke arah polisi muda yang baru saja keluar dari tenda dengan langkah sumringah.
“Nggak usah dibahas dulu. Lagi sebel aku,” ketus Sarah. Ia langsung membalikkan tubuhnya dengan wajah yang masih ditekuk, enggan memperpanjang rasa penasarannya Tini yang sudah terlihat sangat menggebu-gebu.
Sarah melangkah lebar menuju meja tempat pendataan di pojok tenda karena pengendara sebelumnya telah selesai mengurus berkas. Ia ingin urusan ini cepat selesai agar bisa segera kabur dari tempat itu.
“Jadi Ibu ini tidak membawa satu pun surat-suratnya, ya?” tanya polisi paruh baya yang bertugas mencatat administrasi. Kacamata bacanya melorot sedikit di ujung hidung.
“Iya, Pak,” jawab Sarah lesu, menumpukan kedua tangannya di tepi meja dengan sisa-sisa harapan.
Polisi itu menghela napas, lalu meletakkan penanya di atas kertas tilang. “Karena tidak membawa suratnya, terpaksa motornya kita amankan di kantor ya, Bu.”
“Apa?” teriak Sarah spontan. Suaranya yang melengking membuat beberapa orang di dalam tenda menoleh. “Kok sampai ditahan, Pak? Kan itu motor saya sendiri, bukan motor curian atau motor orang lain.”
“Tapi Ibu tidak bisa memberikan bukti hukum kalau ini memang motor Ibu sendiri. STNK saja tidak bawa, makanya motornya kami tahan dulu sebagai prosedur pengamanan. Nanti Ibu bisa jemput motornya sambil membawa STNK asli dan bukti kepemilikan ke kantor kami,” jelas polisi itu dengan sangat sabar namun tidak bisa diganggu gugat.
Muka Sarah semakin ditekuk, rasanya ingin menangis saking kesalnya dengan kecerobohannya sendiri pagi ini.
“Sar, terus kita balik ke sekolah gimana?” desak Tini yang mulai panik di sampingnya. Ia berulang kali melihat jam dinding digital di ponselnya. “Jam kelima bentar lagi mulai, lho. Masa kita jalan kaki?”
“Nggak tahu, terbang kali,” jawab Sarah asal, meluapkan kejengkelannya.
Tiba-tiba, suara tawa renyah yang sangat familiar terdengar dari arah belakang mereka. Sarah tahu persis pemilik suara itu. Ia membalikkan tubuhnya dengan cepat, lalu menatap horor pada pria berseragam polisi yang sedang berdiri bersedekap sembari menahan tawa di ambang pintu tenda.
Polisi paruh baya yang mendata Sarah ikut mendongak melihat rekannya yang lebih muda. “Nanti anggota kami antarkan saja Ibu-Ibu kembali ke sekolahnya. Kebetulan ada yang mau kembali ke arah sana.”
“Naik motor, Pak? Tarik tiga gitu?” sahut Sarah cepat dengan nada protes yang kentara.
“Nggak mau ah, Pak. Memangnya kita berdua cewek cabe-cabean pakai tarik tiga? Mana kami pakai rok kerja juga ini ke sekolah. Kalau murid-murid kami melihat di jalan gimana? Bukan contoh yang baik juga buat anak-anak, Pak.”
Tini di sebelahnya mengangguk setuju dengan sangat mantap. “Benar, Pak. Bisa jatuh wibawa kami sebagai guru kalau bonceng tiga begitu.”
Polisi di meja pendataan itu terkekeh pelan. “Siapa yang mau ngantar pakai motor, Bu?”
“Terus?” tanya Sarah bingung.
“Saya yang antar.”
Sebuah suara berat memotong pembicaraan. Keduanya secara bersamaan menoleh ke belakang, menatap ke arah polisi muda yang sejak tadi gemar menertawakan penderitaan Sarah. Pria itu menunjuk sebuah mobil dinas polisi yang terparkir di bawah pohon rindang.
Sarah langsung memutar tubuhnya kembali menghadap polisi senior sebelumnya, mengabaikan senyuman pria muda itu.
“Nggak ada petugas lain yang bisa antar, Pak?” tanyanya setengah berbisik, berharap mendapatkan jawaban yang diinginkannya.
“Yang lain ada, tapi semuanya pakai motor operasional. Kalau yang bawa mobil dinas hari ini cuma dia doang, Bu,” jawab polisi itu jujur sembari menyerahkan secarik kertas tanda sita kendaraan.
Sarah mendesah sangat panjang. Dadanya terasa sesak karena takdir seolah sengaja mempermainkannya hari ini.
“Kenapa harus terus-menerus berurusan sama dia, sih,” batinnya merutuk kesal.
“Udah, Sar, terima aja. Lumayan nggak kepanasan kita di jalan. Daripada telat masuk kelas dan pingsan di jalan karena jalan kaki,” bisik Tini mencoba bersikap realistis.
Sarah masih tetap diam beberapa saat, menimbang antara gengsi tinggi atau kenyamanan dalam kondisi darurat. Akhirnya, ia mengangguk pelan dengan sangat terpaksa.
“Ya sudah,” katanya pasrah.
Sarah akhirnya berdiri tegak, begitu juga dengan Tini. Keduanya berjalan lambat di belakang polisi muda yang kini bertindak sebagai penyelamat sekaligus sosok yang paling dihindari Sarah. Mereka berjalan beriringan menuju mobil patroli sedan yang terparkir rapi di samping tenda razia.
Tini dengan sigap segera membuka pintu bagian belakang dan langsung menyelinap masuk ke dalam, disusul oleh Sarah yang hendak duduk di sampingnya. Namun, gerakan Sarah tertahan saat pria berseragam itu membalikkan badan sebelum membuka pintu kemudi.
“Ini nggak ada yang mau duduk di depan?” tanya polisi muda itu sembari menaikkan sebelah alisnya, menatap Sarah.
Tini yang mendengar hal itu langsung menyenggol lengan Sarah dengan kuat dari dalam mobil. “Sar, pindah ke depan sana. Nggak sopan tahu, masa pak polisinya dianggap kayak sopir taksi.”
“Kalau mau, kamu aja yang pindah ke depan, Tin,” jawab Sarah ketus, tangannya memegang erat bingkai pintu mobil belakang.
“Eh, aku udah punya suami, Sar. Ntar apa kata orang atau rekan kerja kalau aku duduk di samping cowok lain di depan,” ucap Tini mencari alasan yang terdengar logis.
“Hubungannya apaan, coba? Kan cuma duduk di mobil,” tanya Sarah, mulai tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya.
“Ya adalah, nggak enak dilihat masyarakat. Kalau kamu ‘kan jomblo, bebas, nggak bakalan ada yang cemburu atau salah paham,” jawab Tini tanpa beban.
Sarah mendengus kesal, matanya melirik sinis ke arah pria berseragam di depannya.
“Aku yang jomblo, tapi belum tentu si pak polisinya ini jomblo juga. Mana tahu bini dia lagi nungguin dengan sabar di rumahnya sekarang.”
Pria yang berdiri di samping pintu kemudi itu tiba-tiba memotong perdebatan dengan cepat sembari menahan senyum.
“Saya belum menikah, Bu.”
“Tuh, dengar sendiri, kan? Dia belum nikah katanya,” ujar Tini bersemangat, merasa mendapatkan amunisi baru untuk menjodohkan sahabatnya.
“Ya pacarnya nanti yang marah-marah kalau tahu. Dibilang pelakor nanti aku,” jawab Sarah ketus, wajahnya memerah karena malu sekaligus kesal karena sahabatnya terus saja menanyakan hal-hal yang tidak pantas.
Panas....cemburu melanda😂
kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤
Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya thor