NovelToon NovelToon
Jeritan Hati Arumi

Jeritan Hati Arumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri
Popularitas:498
Nilai: 5
Nama Author: bidadari

“ Hidup itu harus di jalani saja ”


Perkataan itu. Membekas di telingaku suara hangat nenek yang memberitahu ku bahwa hidup harus ku jalani dengan ikhlas


Namun waktu cepat berjalan, sehingga aku muak dengan perkataan seperti itu bagi mereka seorang gadis yang tidak berkecukupan harus di perilaku kan berbeda karena dia tidak mampu untuk apapun.



Terkadang kita lelah untuk menjadi orang yang baik, entahlah aku hanya letih menjadi seorang wanita yang baik dan di pandang sebelah mata sama semua orang.





— Jeritan Hati Arumi —

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4 Yang Pergi

Suara Hujan mengisi langit malam tanpa sinar bulan, udara dingin menusuk tajam setiap tulang Arumi gadis itu melirik dengan ekor matanya kepada sang nenek yang sedari tadi enggan berbicara dengannya.

Entah kecewa entah apa, tangan kecilnya memindahkan baskom ke arah dimana bocor menaungi atap rumah mereka. kalau bisa di katakan hampir seluruh sudut penuh dengan baskom berisi air hujan yang akan di gunakan untuk mencuci piring esok pagi.

" Nek maafkan Arumi " Kata itu meluncur penuh penyesalan, Nek Yana menoleh ke arah sang cucu. Rasa sayang menyelimuti dadanya saat melihat gadis kecilnya menangis

" Nduk, nenek tidak pernah marah denganmu. Nenek hanya kecewa dengan para warga yang langsung main hakim sendiri. " Ungkap Nek Yana sembari menepis buliran air mata yang mengalir deras di pelupuk matanya

" Aku memalukan nek maafkan aku " Kata Arumi sembari memilin jemari nya, hatinya terasa sesak luka di fisiknya tidak seberapa daripada luka di dalam dadanya. Ia harus di permalukan tadi oleh teman masa kecilnya

" Nenek yang harus meminta maaf, seharusnya kamu hidup tidak seperti ini andai dulu. Nenek mengizinkan ibu mu untuk merantau hidup mu, tidak akan se menderita ini... " Kata Nek Yana suara nya begitu parau

Arumi beranjak dari duduknya ia memeluk lutut sang nenek yang berbalut kain batik. Ia mendongakkan kepalanya dengan air mata yang mengalir deras, " Nenek tidak salah "

Tangannya terangkat menghapus buliran air mata, yang sangat betah sekali di pipi yang di penuhi garis masa itu " Maafkan nenek nduk"

" Nenek berhenti berkata seperti itu, Arumi ngga pernah menyalahkan nenek.. Arumi hanya letih " Ungkap Arumi dengan suara serak ia menghela kan napas beratnya

" Nduk, bila nenek tiada nanti pergilah ke rumah paman mu merantaulah. Carilah lelaki yang bisa menuntunmu di jalan tuhan " Kata sang nenek tetiba

" Nenek! Tidak boleh meninggal Rumi! " Tekan Rumi ia melingkari tangannya di pinggang sang nenek. Lalu menangis di dada nya ia tidak akan sanggup kehilangan sosok ibu keduanya,

Yang selalu setia menjaganya, nenek yang menjadi penghibur lara nya bila ia sedih ia menenggelamkan wajahnya di dada yang naik turun.

" Ardian lelaki yang baik, temui lah dia di kota nduk. Saat nenek tiada " Ucap Nek Yana napasnya tersengal membuat Arumi mengurai pelukan itu. Ia menatap wajah sang nenek yang di liputi kesedihan yang mendalam

" Nenek harus panjang umur!, lihat Arumi berbahagia dengan lelaki itu " Sahut Arumi menyingkirkan ke khawatiran di dadanya

Tangan ringkih sang nenek, mengusap wajah gadis berhidung bangir dengan kulit eksotis yang menawan. Matanya berkaca-kaca berharap sang cucu bisa bahagia di dunia yang kejam,

" Ingat apapun yang kamu hadapi, Allah selalu jadi rumah bagi jiwa mu. Hidup itu harus di jalani saja nduk, dengan seikhlas nya kamu kuat " Kata nenek dengan napas tersengal tetiba tangannya terhenti bergerak. Mata nya tertutup — Arumi membeku di tempat ia memeluk erat sang nenek

" NENEK!! "

Suara nya nyaring mengisi kesunyian di malam yang dingin tangisan tidak bisa membuat nyawa sang nenek hidup kembali.

Arumi mengguncang kan tubuh sang nenek dengan cepat. Ia tidak mau kehilangannya orang yang ia sayangi lagi

" Nek bangun maafkan Rumi, yang buat nenek kecewa yang buat nenek malu memiliki cucu seperti ku! " Cicit Arumi

" Nek!! " Pekik Arumi matanya terpaku dengan tubuh tersebut yang sudah kaku dan dingin.

" Aku sendiri!, nggaa!! " Pekik Arumi

Ia memeluk erat raga yang sudah tidak berjiwa tersebut. Tangisnya memenuhi ruangan yang lembab tersebut tidak ada satupun warga yang tahu kalau dirinya sedang berduka,

Hujan di depan semakin lebat mengisi kesunyian yang Arumi rasakan, ia mengecup dahi sang nenek wanita yang selalu ada di samping nya dan sekarang dia hanyalah abu yang tiada artinya.

" Nek Rumi sayang nenek "

****

Matahari terbit namun sinar nya redup, awan mendung menari di langit yang tidak cerah seolah awan itu ingin mengeluarkan banyak nya air hujan.

Di sebuah pemakaman umum hanya ada beberapa orang yang peduli saja, menghadiri pemakaman Nek Yana seorang wanita tua yang selalu di butuhkan jasanya pada seluruh orang di desa namun kematiannya tidak begitu di pedulikan orang.

Begitulah orang yang tidak tahu terimakasih, Arumi memandangi nisan yang terukir nama indah sang nenek hatinya berdenyut nyeri saat mengingat kejadian kemarin.

" Yang sabar ya Nduk, masih ada Bibi dan Arini serta paman " Kata seorang wanita paruh baya yang sedari tadi berperan penting untuk melancarkan pemakaman sang nenek

" Makasih Bi, Paman, Arini " sahut Arumi dengan suara parau matanya tidak beranjak dari gundukan tanah yang mengubur seorang wanita tua yang ia sayangi.

" Rumi, Bibi harap kamu bisa ikhlasin nenek mu... Nenek akan senang bila kamu bisa melepaskannya " Kata Bi Surti mama dari Arini yang sedari tadi mengelus bahunya dengan tulus.

" Nenek orang yang baik Rumi " Celetuk Arini ia memeluk erat sang sahabat

" Nenek meninggal karena ku, aku membuatnya terluka dan malu " Arumi menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan nya ia terisak Ibu dan anak itu langsung menenangkan Arumi

Jiwa yang patah, hanya perlu kasih sayang yang luas

" Nduk, kematian itu sudah suratan takdir yang maha esa bukan salahmu " Ucap Surti dengan suara lembut

" Ya Rumi benar kata ibu "

" Aku pembunuh " Gumam Arumi penuh penyesalan

1
Emily
curiga samudra itu arwah
bidadari: 🙂🙂 baca terus ya ka
total 1 replies
Emily
laila pemuja syaiton
Emily
wah udah murtadkah keluarga adrian
Emily
Innalillahi wainnailaihi rojiun ya thour
Emily
kenapa obatnya gak disimpan di saku malah di tenteng tenteng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!