Aminah dipaksa Bekerja banting tulang untuk kesejahteraan semua anggota keluarganya tapi tak pernah dianggap sama sekali.
Bahkan lelaki yang dia cintai dan dia bantu mencapai cita-cita nya pun menusuknya dari belakang dengan memanfaatkan dirinya,
Mampukah dia bangkit setelah semua kesakitan yang dia terima
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Aminah terkekeh pelan sambil menatap sang ibu penuh luka, dia menggelengkan kepalanya karena tahu jika berdebat dengan mereka semua tidak akan ada gunanya.
"Maaf bu tapi aku tidak pernah merasakan kasih sayang seperti yang ibu dan ayah berikan kepada ketiga adikku, yang aku tahu aku hanya sapi perah yang selalu dituntut untuk menghasilkan segalanya dan bisa dimanfaatkan baik itu uang maupun tenaga".
Airmata yang dia tahan akhirnya tumpah juga, rasa sakit dihatinya mengakar sampai dia sangat sulit untuk melepaskan tapi juga tidak bisa melampiaskannya.
Dia menghapus airmata itu dengan kasar dan tak mau terlihat lemah, dia tak ingin mereka kembali menginjak-injak dirinya tanpa sisa.
"Aku anak sulung tapi tak pernah merasakan bagaimana rasanya makan enak bersama kalian padahal setiap aku gajian ibu selalu mengambil seluruh gajiku dan hanya menjatah aku untuk ongkos yang betul-betul pas tanpa bisa aku gunakan untuk kebutuhan pribadiku".
Dia menarik nafasnya yang sejak tadi sangat sesak, sedangkan ayah dan ibunya mematung mendengar curahan hati anak sulungnya itu, kedua adiknya kini mendengus kesal menatap sang kakak seolah kakaknya ini adalah ratu drama yang menyebalkan.
Pip.. Pip.. Terdengar suara klakson mobil didepan rumah.
Aminah menghapus air matanya dengan kasar kemudian melangkahkan kakinya keluar rumah tanpa memperdulikan ayah dan ibunya, bahunya menyenggol kedua adiknya sehingga mereka hampir saja terjerembab.
"Kak Aminah". Kesal Lisa.
Tidak lama Aminah masuk dengan kedua laki-laki yang tidak mereka kenali, perasaan mereka semua langsung berubah tidak enak.
"Jangan bilang anak itu mau pergi dari sini? ". Ucap sang ibu dalam hati.
"Tidak bisa dibiarkan, Aminah harus tetapi dirumah ini, aku tidak akan bisa menikmati gajiku lagi kalau dia pergi". Sungut Sang ayah dengan wajah tidak suka.
Sedangkan kedua adiknya itu menatap langkah kakaknya dengan khawatir, mereka takut jika sampai kakak sulung mereka pergi makan uang jajan dan skincare mereka akan berkurang.
"Ibu tahan kak Aminah, sepertinya dia mau pergi dari rumah". Panik Lisa melihat kakaknya membawa kedua lelaki itu masuk kedalam kamarnya.
"Iya bu, kalau kak Aminah pergi, uang jatah ibu pasti berkurang, ibu tidak mau kan? ". Ucap adik ketiga Aminah dengan panik.
Herman dan Halimah bergegas masuk dan melarang kedua lelaki iu membawa barang Aminah keluar rumah.
"Hentikan, dia tidak akan pergi dari sini, jangan angkut barangnya". Cegat Herman menghentikan langkah kedua orang itu.
"Maaf Pak, kami hanya menjalankan pekerjaan kami, kami sudah dibayar dan sudah berjanji akan membawa semua yang disuruh kan jadi silahkan bapak bicara pada putri bapak". Ucap salah satu dari mereka sambil terus berjalan keluar.
Herman mengepalkan tangannya, sedangkan Halimah kini sudah masuk kedalam kamar Aminah dengan penuh emosi dan menghardik sang anak dengan keras.
"Dasar anak tidak tahu diuntung dan tidak tahu Terima kasih, kamu sudah merasa hebat, ha!! ". Teriaknya dengan suara menggelegar.
Aminah hanya menatap datar kearah keduanya tanpa peduli, dia bahkan melewati keduanya tanpa sepatah kata pun.
"Aminah berhenti kamu disitu, jangan kurang ajar". Herman mencekal lengan sang anak dengan keras sehingga membuat Aminah meringis kesakitan walau tak berkata apapun.
Aminah menatap datar dan dingin tangan sang ayah yang mencengkram tangannya dengan keras meninggalkan ruam merah dan kontras dengan kulitnya yang putih.
Dia kini menatap ayahnya dengan pandangan yang membuat bulu kuduk sang ayah tiba-tiba saja berdiri dan ketakutan.
"Silahkan kasari aku semau anda tuan Herman dan ibu Halimah, supaya saya punya bukti untuk melapor kepolisi setelah keluar dari rumah ini". Jawabnya dengan dingin.
Suasana langsung hening seketika, Herman langsung melepaskan tangan Aminah dengan ketakutan, wajahnya berubah pucat selaras dengan wajah sang istri.
"Jangan keterlaluan Aminah, kami ini adalah kedua orang tuamu sudah sepatutnya kamu menuruti dan membahagiakan kami, kamu tidak seharusnya". Cicit Halimah mengepalkan tangannya.
Matanya memerah menahan amarah, matanya menatap sang anak seakan ingin memakannya hidup-hidup.
Ucapannya terpotong karena Aminah mengeluarkan suaranya dan kini berhadapan dengannya tepat berjarak satu meter darinya.
"Tidak membangkang". Ucapnya sambil terkekeh miris.
"Kurang ajar". Desisnya
"Aku bukan anak kalian tapi sapi perah yang sekarang sedang sulit kalian kendalikan, dan peras kembali". Jawabnya sambil menggelengkan kepalanya menatap sang ibu penuh luka dan kesakitan.
"Jangan banyak bicara Aminah, kamu putri sulung keluarga ini, tugasmu adalah membantu kami untuk membahagiakan keluarga, jangan durhaka, ibu tidak akan memberikan mu doa baik yang akan memberkahi hidupmu, doa orang tua itu menembus langit".
Halimah menggunakan senjata pamungkasnya ini setiap kali Aminah tidak menurut apa yang dia katakan dan biasanya berhasil tapi melihat reaksi Aminah membuatnya ketar-ketir.
"Benar kata ibumu, kamu tidak akan bisa mencapai kesuksesan kalau durhaka pada orangtua, kalau kamu terus seperti ini, ayah juga tidak akan pernah mau menjadi wali nikah muda biar saja kamu jadi perawan tua". Ancamnya dengan pongah.
Aminah hanya menggeleng kemudian tertawa penuh kepahitan, matanya ingin mengeluarkan air mata tapi dia menahannya.
"Silahkan ayah, jika itu yang menurut anda dan istri anda baik silahkan lakukan, kalau perlu aku tak akan menikah jika anda yang jadi wali nya".
Plak..
Herman menampar keras wajah Aminah sehingga tertoleh kesamping, gambar tangan kini tercetak jelas pada pipinya.
Mina hanya tersenyum penuh luka tanpa mengatakan apapun, dia berbalik untuk mengangkat barang-barangnya, dan menyuruh petugas itu mengambil semuanya dan dia akan berada didalam mobil untuk menunggu.
Tapi sebelum dirinya mencapai pintu rumah dia berbalik dan memandang keluarganya penuh luka.
"Aku menerima tamparan ini dan tidak akan melaporkannya kepolisi bukan karena aku takut tapi ini adalah baktiku yang terakhir sebagai anak kalian, terserah kalian bagaimana akan bersikap, aku tidak peduli".
Dia melangkahkan kakinya dengan tegas tanpa kembali menoleh sedangkan kedua parubayah itu mematung melihat luka dan kesakitan dimata sang anak sulung.
"Ayah kenapa diam saja, itu kak Aminah pergi, kejar ayah, kak Aminah tidak boleh pergi dari sini". Ucap Lisa dengan panik.
dia berlari keluar berusaha mengejar sang kakak dan mencekal tangannya dengan kasar.
"Kakak ini kenapa sih? , ibu dan ayah itu sudah membesarkan kakak, jangan jadi manusia tidak tahu diri seperti ini". Sungut Lisa dengan kesal.
"Diam Lisa, kamu pikir aku tidak tahu tujuanmu menghalangiku pergi, kau tidak mau kehilangannya tambang uangmu agar tetap bisa bertingkah seperti orang kaya menggunakan gajiku". Bentaknya dengan penuh emosi.
Kedua parubayah itu langsung menyusul mendengar bentakan Aminah kepada adiknya, suaranya menggelegar sehingga mengumpulkan tetangga didepan rumahnya karena penasaran apa yang terjadi.
"Hentikan Aminah".