Menjadi seorang dukun bukanlah sebuah pilihan atau cita-cita, tapi sebuah panggilan jiwa...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Praharra lagi
Udara terasa dingin namun tidak menusuk hanya hampa tanpa aroma. Langit di atasnya berwarna kelabu keperakan tanpa matahari tanpa bayangan.
Dari kejauhan samar-samar terlihat sesosok bayangan berjalan tanpa suara, wajahnya yang tak jelas hanya bayangan yang melintas seperti kenangan yang hampir terlupa. Ia ingin memanggil seseorang, tapi suaranya tenggelam sebelum sempat keluar.
"Sugeng rawuh, cah bagus?"
"Waktumu sudah tiba," imbuhnya
Angin tiba-tiba berputar kencang, pepohonan yang sebelumnya tak terlihat, tiba-tiba muncul di sekelilingnya batang-batang hitam menjulang seperti tangan raksasa yang ingin mencengkeram. Tanah di bawah kakinya berdenyut seolah hidup.
Ia ingin mundur tetapi tubuhnya membeku, lelaki tua itu mengangkat tangan keriputnya menunjuk tepat ke dadanya. Seketika dadanya terasa sesak, nafasnya dirampas sesuatu yang tak terlihat. Suara bisikan berubah menjadi tangisan dan jeritan bercampur memenuhi kepalanya. Sosok itu semakin mendekat bahkan lebih dekat. Kulitnya retak seperti tanah kering dan dari celah-celah keluar bayangan hitam yang bergerak sendiri. Batangan itu bergerak seolah hendak mencekiknya.
Saat Joko hendak mundur tiba-tiba tanah runtuh ia terjatuh ke dalam kegelapan tanpa dasar. Dan ia terbangun. Tubuhnya tersentak keras di atas tempat tidur nafasnya memburu, dada naik turun. Beruntung Pranyoto segera masuk ke dalam kamar.
"Syukurlah kamu bangun,"
Nafas Joko masih memburu membuat Pranyoto segera memberinya segelas air putih.
"Habiskan airnya kemudian atur nafasmu!"
"Katakan apa yang kau lihat dalam mimpimu?" tanya Pranyoto
"Aku...aku melihat seorang kakek tua, lalu dia bilang sugeng rawuh cah bagus," jawab Joko
"Hmm," Pranyoto mengusap janggutnya
"Itu artinya, dia memilihmu?"
"Dia siapa??"
"Leluhur kita, kakekmu??" jawab Pranyoto
"Memilih apa maksudnya??"
Pranyoto kemudian menceritakan tentang ilmu warisan keluarganya.
"Selama ini aku sudah berusaha untuk melakukan ritual itu, tapi selalu gagal. padahal aku adalah satu-satunya keturunannya masih hidup, tapi aku lupa kalau kau juga adalah keturunannya?" Pranyoto tersenyum tipis
"Tapi mana mungkin aku, bapak tahu kan aku ini seperti apa?!"
Joko merasa minder, ia tahu jika dirinya bukanlah anak yang sempurna seperti anak-anak lainnya.
"semua orang itu sama le, jangan pernah berkecil hati. Oh ya kemarin Bu Mirza nelpon bapak, katanya bapak harus kesekolahan hari ini untuk mengambil surat pindah kamu,"
Seketika Jantung Joko berdegup kencang, ia merasa tidak enak hati kepada ayahnya.
"Maafkan Joko Pak," ucap Joko dengan airmata yang sudah menumpuk di sudut matanya
"Kenapa minta maaf,"
"Karena Joko sudah merepotkan bapak,"
Pranyoto hanya tersenyum tipis kemudian mengusap kepala Joko.
"Aku tidak merasa di repotkan le, bersiaplah sebaiknya kita jalan sekarang,"
Joko mengangguk.
Tidak lama Joko sudah bersiap menggunakan seragam sekolah. Di bonceng Pranyoto mereka pun bergegas menuju ke sekolah Joko.
Setibanya di sekolah Joko segera menuju ke ruang guru bersama dengan sang ayah.
Saat Pranyoto sedang mengurus administrasi perpindahan sekolah, Joko berjalan meninggalkan ruang guru. Ia berjalan meninggalkan ruang guru.
Ia seperti mengikuti seseorang yang menuntunnya ke sebuah tempat.
Agung menyeringai saat melihat Joko di depannya.
"Mau apalagi kamu kemari, bukankah seharusnya kamu sudah pindah??"
"A.. A .. aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal sama Sri dan teman-teman,"
Suara tawa riuh terdengar. Mereka seolah merendahkannya, namun Joko tetap diam dan tak menghiraukannya.
"Jangan mimpi kamu, banc* seperti mu tidak akan aku biarkan mendekati calon istriku apalagi berteman dengan mu, jijik aku!" seru Agung
Kembali mereka menertawakan Joko.
"Kasih pelajaran saja Bos!!"
Agung menyeringai, ia kemudian mengambil sebuah kayu. Netra Joko membulat sempurna. Dadanya bergemuruh, jemarinya mengepal. Ia tahu Agung akan merundungnya lagi.
"Kali ini aku harus melawan," gumamnya
Ia berhasil menghindar saat Agung melepaskan pukulannya, membuat Agung kesal. Meskipun hanya menghindar setidaknya Joko bisa menyelamatkan diri dari amukan brutal Agung. Beberapa kali serangannya gagal membuat Agung semakin naik darah.
Ia menoleh kearah seorang temannya dan memberi isyarat licik. Tiba-tiba seseorang menjegal Joko.
Joko meronta, Agung menyeringai puas. Dengan tatapan bengis Agung memukul Joko hingga tersungkur.
Seketika Joko tumbang, ia memegangi perutnya yang terasa nyeri. Ia meringis menahan sakit.
Seperti ada kontak batin, Pranyoto bisa merasakan apa yang dirasakan oleh putranya. Ia buru-buru keluar dari ruang untuk mencari putranya.
Langkahnya begitu cepat, netranya bergerak mencari keberadaan putranya.
"Dasar banc* !"
Pranyoto menghentikan langkahnya. Netranya bergerak menyapu sekelilingnya dibarengi indra pendengarannya yang menelisik suara di sekitarnya.
Tatapannya berhenti di sudut kelas. Ia melihat Joko tersungkur. Hatinya trenyuh saat melihat seorang temannya bersiap memukulnya dengan seringai kebencian.
Ia menarik nafas pelan-pelan. Tidak lama bibirnya bergerak membuat Agung tiba-tiba melepaskan kayu yang di pegangnya.
"Ada apa dengan tanganku??" Agung berteriak ketakutan saat ia tak bisa mengendalikan tangannya
"Ada apa bos!" seru teman-temannya
"Entahlah, aku tidak bisa menggerakkan tangan ku!" jawab Agung
Ia berusaha mengambil balok kayu yang terjatuh, namun tangannya tiba-tiba kaku tak bisa digerakkan.
"Ah!" I berteriak kesal dan menatap tajam ke arah Joko
"Dia pasti menggunakan ilmu hitam!"
Ia berjalan menghampiri Joko.
"Kau pikir bisa melawanku dengan ilmu hitam, kamu salah!"
Agung memerintahkan anak buahnya untuk mengambil sebuah kalung yang ia simpan di dalam tas.
"Cepat pakaikan!" teriaknya
Dengan cepat seorang anak buahnya langsung memakaikan kalung itu. Ajaib, seketika Agung bisa menggerakkan tangannya lagi. Ia tersenyum senang.
"Kamu lihat, sekarang aku bisa menggerakkan tangan ku lagi, Ilmu hitam mu tak mempan lagi!" tukasnya sombong
Ia menarik kerah baju Joko dan menyeretnya.
"Sekarang terimalah pembalasanku, banc* !"
Sementara itu Pranyoto memperhatikan kalung itu dengan seksama.
"Hmm," gumamnya pelan.
Ia terdiam mematung, dan tak lama Bu Mirza menghampirinya.
"Agung!"
Wanita itu berteriak tepat saat Agung hendak melepaskan pukulannya.
Agung segera bangun dan berdiri, membungkuk dan menghampirinya.
"Maaf Bu, kami hanya bercanda!"
"Bercanda kok sampe babak belur!"
Bu Mirza kemudian mengajak mereka semua ke ruang guru.
Ia kemudian memanggil guru BK, bahkan orang tua Agung.
Kali ini Bu Mirza dengan tegas membatalkan hukuman untuk Joko setelah melihat sendiri apa yang dilakukan Agung padanya.
"Tapi semua bukti sudah jelas, Joko memang bersalah, kalau masalah putraku yang memukulnya mungkin untuk membela diri," ucap Anggoro
Bu Mirza langsung menunjukkan rekaman balok kayu yang di pakai Agung untuk menghantam Joko.
"Meskipun sekolah kita tidak punya cctv, tapi aku melihatnya sendiri,"
Di tengah perdebatan Bu Mirza dan Anggoro yang terus menyudutkan wanita itu bahkan mengancam untuk memecatnya, Pranyoto justru membuat keputusan yang bijak.
Pria itu memutuskan untuk memindahkan Joko ke sekolah lain.
Saat keluar dari ruang guru Anggoro langsung mengintimidasinya.
Pria itu berkali-kali mengolok-oloknya dan juga menghinanya, tentu saja hal itu membuat Joko geram. Namun Pranyoto tetap tenang bahkan tak tersulut emosi sedikitpun.
"Aku tahu kamu sudah menggunakan ilmu hitam untuk memprovokasi Bu Mirza, dukun kampung seperti mu memang licik, untungnya aku gak bisa kamu provokasi," Anggoro kemudian mengeluarkan sebuah kalung dan memamerkannya kepada Pranyoto
"Kalau kamu masih bisa selamat dari kebakaran semalam, itu karena kamu beruntung saja. Ingat...kamu tidak akan bisa mengusik keluarga kami karena aku yakin kamu tidak bisa mengalahkan pemilik kalung ini!!"
lantas untuk memutus adalah dgn bnyk punya istri kok ngeri men ya
tp emang sih siapa yg g sedih krn kehilangan tp mbok ya jgn terllu berlebihan sih
kira3 siapa yg bikin niken seperti itu
kek gtu ya ko
nah tuhh tau kan kek mana klo ada istri bnyk sookoorrr🤭🤭🤣🤣🤣
kek mana coba setan dan jin aja bisa cembokur lho ko
kmu sih g hati2
Tabarakallah....
Alhamdulillah....
setelah mengetahui Joko merasa kepanasan maka Maryati reflek membacakan doa sambil mengusap kepala Joko
karena Maryati sering membaca ayat-ayat Al Qur'an seeeh
padahal saat itu, Pranyoto bukan lah berasal dari kaum bangsawan atau pejabat lhooo tapi bisa memperistri Maryati yang berasal dari bangsawan
ada apa gerangan yang terjadi dengan rumah Maryati ??
kenapa mendadak hawa di rumah nya menjadi sejuk meski tak ada AC
pake maen bisik-bisik segala neeeh
kita-kita kan jadi ikutan keeepooo 🏃🏃