Zeya Aurelie mencintai Dewangga Lintang Geraldo selama empat tahun, dua tahun penuh kebahagiaan, dan dua tahun berikutnya dipenuhi jarak yang tak kasat mata. Sejak kematian sahabat Dewangga, kehadiran Selina Amoura sebagai tanggung jawab yang harus ia lindungi perlahan menggeser posisi Zeya sebagai prioritas di hidupnya.
Hingga pada hari yang seharusnya menjadi awal bahagia mereka, justru menjadi hari paling kelam dalam hidup Zeya. Di saat ia kehilangan kedua orang tuanya secara tragis, Dewangga tak pernah datang, lebih memilih berada di sisi wanita lain. Hancur dan kecewa, Zeya memilih pergi, membawa luka, dan sebuah kehidupan yang berada didalam rahimnya.
Kini, ketika penyesalan akhirnya menyadarkan Dewangga, semuanya sudah terlambat. Ini adalah kisah tentang cinta yang dikhianati, tentang kehilangan, dan tentang perjuangan seorang pria untuk mendapatkan kembali wanita, serta anak, yang hampir ia kehilangan selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greytha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 4
Tanah merah yang baru ditimbun masih basah. Aroma tanah dan bunga yang terinjak bercampur dengan udara sore yang mulai dingin. Satu per satu pelayat sudah pergi, meninggalkan suasana yang jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Doa-doa telah selesai dipanjatkan, karangan bunga berdiri kaku di sisi makam, dan langkah kaki yang tadi ramai kini berganti dengan keheningan yang menekan dada.
Yang tersisa hanya Cika, Zeya, serta Linda Tante Rissa dan suaminya Malvin. Mereka berdiri beberapa langkah dari pusaran yang masih terlihat baru, dua gundukan berdampingan yang seolah menjadi bukti bahwa hari ini benar-benar nyata.
Zeya berdiri tanpa suara. Tatapannya terpaku pada papan nisan yang baru ditancapkan. Angin pelan menggerakkan ujung kerudungnya, tapi tubuhnya sendiri nyaris tak bergerak.
Cika melirik sahabatnya, cemas. Sejak tadi Zeya tidak mengatakan apa-apa. Tidak menangis. Tidak bersuara. Hanya diam dengan wajah yang terlalu kosong untuk ukuran seorang anak yang baru saja kehilangan kedua orang tuanya. Terakhir Zeya bersuara adalah saat kedua orangtuanya akan dibawah ke pemakaman.
"Zey…" Cika memanggil pelan, menyentuh lengannya.
Tak ada respons.
Tante Rissa mendekat perlahan. "Nak… ayo kita pulang dulu. Kamu pasti capek."
Zeya tetap berdiri. Bibirnya sedikit terbuka, napasnya mulai terdengar tidak teratur. Tangannya yang sejak tadi menggenggam ujung bajunya perlahan melemas.
Tiba-tiba pandangannya berkunang-kunang. Dunia di sekelilingnya seperti berputar cepat. Suara Cika terdengar samar, seperti datang dari lorong yang panjang.
"Zeya? Lo kenapa?" suara Cika mulai panik.
Langkah Zeya goyah. Tubuhnya condong ke depan sebelum akhirnya kehilangan keseimbangan.
"Zeya!"
Cika refleks menangkap tubuh sahabatnya sebelum jatuh menghantam tanah. Namun berat tubuh Zeya membuat mereka berdua hampir tersungkur. Linda segera berlari membantu menopang dari sisi lain.
"Ya Allah… Zeya!" Tante Rissa ikut berlutut di samping mereka, wajahnya pucat, terlihat jelas wajah cemasnya ketika melihat Zeya yang tiba-tiba jatuh.
Wajah Zeya memutih, bibirnya kehilangan warna. Matanya terpejam, tubuhnya lemas tanpa daya.
"Dia pingsan, Mah!" Linda berkata dengan suara gemetar.
Cika menepuk pelan pipi Zeya. "Zey… bangun, Zey. Jangan bikin gue takut, please."
Tidak ada respon dari wanita itu, matanya masih setia tertutup dengan wajah pucatnya.
Tante Rissa dengan tangan gemetar mengusap kening Zeya yang dingin. "Mungkin dia terlalu capek… dari semalam belum makan juga."
Cika menahan napasnya yang tak beraturan. Dadanya terasa sesak melihat sahabatnya terkulai begitu saja di depan makam orang tuanya.
"Ayo kita bawa dia ke mobil dulu. Kita harus ke rumah sakit," ucap om Malvin cepat, mencoba tetap tenang agar mereka semua tidak bertambah takut.
Mereka bersama-sama mengangkat tubuh Zeya dengan hati-hati. Kepala Zeya bersandar lemah di bahu Cika. Wajahnya terlihat begitu rapuh, seolah seluruh tenaganya habis bersamaan dengan ditimbunnya tanah terakhir di atas pusara kedua orang tuanya.
Di tengah area pemakaman yang mulai sepi, suara kepanikan terdengar jelas, ketakutan akan kondisi Zeya yang tak sadarkan diri membuat mereka bertambah panik. Dua makam baru itu kini berdiri sunyi di belakang mereka, sementara Zeya terkulai tanpa sadar, seakan tubuhnya akhirnya menyerah setelah terlalu lama dipaksa kuat.
•
•
Lorong rumah sakit itu terasa panjang dan melelahkan. Lampu putih di langit-langit memantulkan bayangan mereka di lantai keramik yang mengilap. Di depan ruang pemeriksaan, mereka berdiri dengan perasaan yang tak menentu. Entah mengapa hari ini adalah hari yang sangat panjang untuk mereka.
Cika berdiri paling dekat dengan pintu, punggungnya bersandar ke dinding. Tangannya terus saling meremas, napasnya belum sepenuhnya stabil sejak di pemakaman. Linda mondar-mandir kecil, sesekali melirik ke arah pintu. Tante Rissa duduk dengan kedua tangan bertaut di pangkuannya, menunduk, bibirnya komat-kamit merapatkan doa, sementara om Malvin suaminya juga ikut duduk disampingnya, mengelus punggung tangan istrinya.
Tak ada satu orangpun yang bersuara menyisakan kesunyian ditengah-tengah mereka.
Beberapa menit terasa seperti berjam-jam, sampai akhirnya gagang pintu bergerak. Dokter keluar dari ruang pemeriksaan dengan map di tangannya. Mereka semua spontan berdiri mendekat.
"Dok, gimana kondisi anak saya?" suara Tante Rissa yang bergetar terdengar paling dulu.
Dokter mengangguk pelan. "Secara fisik, kondisinya stabil. Dia pingsan karena kelelahan berat, kurang makan, dan tekanan emosional yang ekstrem."
Cika menelan ludah. Linda hanya diam mendengarkan.
"Namun," lanjut dokter dengan nada lebih serius, "ada hal lain yang perlu kalian ketahui."
Wajah mereka semua sponta menegang, om Malvin langsung merangkul istrinya yang terlihat hampir jatuh karena sudah tidak sanggup menopang dirinya sendiri.
"Pasien sedang hamil."
Sunyi.
Kalimat yang diucapkan dokter barusan membuat mereka tidak tau harus berekspresi apa.
"Hamil…?" Linda mengulang pelan, seperti tak yakin dengan pendengarannya sendiri.
Tante Rissa membeku. Tangannya perlahan turun dari dada, matanya membesar. "Maksud Dokter… Zeya… hamil?"
"Ya," jawab dokter tegas namun tetap tenang. "Kehamilannya masih sangat awal, kemungkinan baru minggu ini. Itu juga bisa membuat tubuhnya lebih rentan drop, apalagi dalam kondisi stres seperti ini."
Cika menatap dokter tanpa berkedip. Dunia seperti berhenti bergerak.
Hari ini orang tuanya dimakamkan.
Hari ini juga seharusnya dia menikah.
Dan sekarang…
Pandangan Cika tiba-tiba berkunang-kunang. Lututnya melemas.
"Cika!" Linda berusaha meraihnya, tapi tubuh Cika sudah lebih dulu jatuh terduduk di lantai. Tangannya menahan tubuhnya sendiri, napasnya memburu.
"Gue… gue nggak nyangka…" suaranya serak, hampir tak terdengar. "Zeya…"
Tante Rissa menutup mulutnya, air mata kembali jatuh. Perasaan syok, merasa bersalah, dan ketakutan bercampur di wajahnya. Semua ini terasa terlalu banyak untuk satu hari.
Dokter menunggu sampai mereka sedikit lebih tenang sebelum melanjutkan.
"Ada satu hal lagi yang perlu saya tekankan," ucapnya serius. "Kondisi mental pasien saat ini sangat terguncang. Kehilangan dua orang tua secara mendadak adalah trauma berat. Ditambah lagi dengan kondisi kehamilan yang mungkin belum ia ketahui."
Mereka semua terdiam.
"Pasien menunjukkan tanda-tanda syok psikologis. Jika tidak ditangani dengan baik, bisa berkembang menjadi depresi berat atau gangguan stres pascatrauma. Dia butuh perhatian ekstra, lingkungan yang stabil, dan dukungan emosional penuh. Saya sarankan pendampingan psikolog atau psikiater secepatnya."
Kata-kata itu seperti palu yang mengetuk pelan tapi pasti.
"Jadi… sekarang gimana, Dok?" Linda bertanya lirih.
“Untuk malam ini, biarkan dia istirahat. Jangan beri tekanan atau pertanyaan berat. Saat dia sadar nanti, sampaikan semuanya dengan hati-hati. Pastikan dia tidak sendirian."
Di balik pintu ruang pemeriksaan itu, Zeya terbaring dengan selang infus terpasang, wajahnya pucat dan tenang dalam ketidaksadaran. Ia belum tahu bahwa hidupnya kembali berubah arah, bahwa di tengah kehilangan yang menghancurkan, ada kehidupan lain yang sedang tumbuh di dalam dirinya.
Sementara di luar, orang-orang yang mencintainya berdiri dalam kebisuan, mencoba menerima kenyataan yang datang terlalu cepat dan terlalu kejam dalam satu hari yang sama.