NovelToon NovelToon
BESAN ADALAH MAUT

BESAN ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.

Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.

Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.

Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?

Karena terkadang, **besan adalah maut**.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Jalan Bertiga

Minggu pagi itu, Pratiwi dan Handoko sudah berada di dalam mobil. Sejak keluar dari rumah, Pratiwi tidak berhenti membicarakan rencana mereka hari itu. Ia bahkan sudah membuat catatan kecil di ponselnya mengenai beberapa hal yang harus dibeli.

Hari itu mereka memang sengaja meluangkan waktu untuk hunting bahan seragam keluarga untuk pernikahan Raka dan Kania. Sebenarnya Raka sudah beberapa kali menawarkan untuk memberikan pakaian yang sudah jadi kepada keluarganya.

"Mi, biar Raka kasih bajunya sekalian. Nanti semua tinggal pakai."

Namun Pratiwi tetap pada pendiriannya. "Enggak usah. Kita beli bahan saja. Modelnya terserah masing-masing. Kamu kan tahu sendiri, selera orang beda-beda."

Raka akhirnya mengalah.

Jadilah pagi itu Pratiwi dan Handoko berangkat untuk menjemput Mellisa.

"Pi, nanti kita cari bahan yang bagus, ya. Jangan yang terlalu mengilap."

Handoko mengangguk sambil tetap fokus menyetir.

"Iya."

"Terus warnanya jangan terlalu tua."

"Iya."

"Dan jangan terlalu mahal."

Handoko melirik istrinya sekilas. "Nah, ini yang paling penting."

Pratiwi terkekeh. "Ya iyalah. Masa mau beli bahan untuk satu keluarga, enggak lihat harga?"

"Kukira tadi yang penting bagus."

"Bagus dan masuk akal harganya."

Handoko tertawa kecil. Beberapa menit kemudian, mobil mereka berhenti di depan rumah Mellisa.

Pratiwi segera menurunkan kaca jendela.

"Jeng Mellisa!"

Mellisa yang sudah berdiri di depan rumah menoleh. Ia tersenyum melihat Pratiwi melambaikan tangan.

Namun ketika pandangannya berpindah ke kursi pengemudi, langkahnya sempat tertahan.

Handoko. Laki-laki itu juga melihatnya. Untuk sesaat mata mereka bertemu. Hanya sebentar.

Namun cukup untuk membuat keduanya sama-sama kehilangan kata-kata.

Handoko segera mengalihkan pandangan ke depan. Tangannya tetap berada di kemudi, seolah tidak terjadi apa-apa.

Mellisa menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah mendekati mobil.

"Maaf ya, Jeng. Menunggu lama?"

"Enggak."

Pratiwi tersenyum lebar. "Ayo masuk!"

Mellisa membuka pintu belakang dan duduk di kursi belakang. "Pagi, Mbak, pagi Mas!"

"Pagi!"

Jawaban Handoko terdengar tenang. Terlalu tenang. Mellisa tersenyum kecil lalu menutup pintu.

Pratiwi kembali mengajak bicara begitu mobil mulai bergerak. "Jeng Mel, nanti kita lihat beberapa pilihan dulu. Aku sebenarnya sudah punya bayangan warnanya."

"Warna apa?"

"Entah ya. Mungkin dusty rose atau warna yang agak nude."

Mellisa mengangguk. "Bagus."

"Kalau kamu sendiri sukanya warna apa?"

"Aku enggak terlalu pilih-pilih."

Pratiwi menoleh sebentar. "Benar? Enak dong. Berarti enggak bikin aku pusing."

Mellisa tertawa kecil. "Mbak juga enggak perlu pusing."

Handoko mendengarkan percakapan itu sambil sesekali tersenyum. Suasananya sebenarnya cukup biasa. Pratiwi banyak bicara. Mellisa sesekali menanggapi. Handoko lebih banyak diam karena menyetir.

Namun bagi dua orang yang duduk di dalam mobil itu, suasananya tidak sesederhana kelihatannya.

Ada sesuatu yang terus berusaha mereka abaikan.

Sesuatu yang bernama masa lalu.

"Eh, Jeng," kata Pratiwi tiba-tiba, "kamu kan dulu adik kelasnya Mas Handoko, ya?"

Mellisa sedikit tersentak. "Iya."

Pratiwi tersenyum. "Kemarin pas lamaran, Papi cerita gitu kan? Katanya kamu adik kelasnya."

"Iya, kami satu kampus."

Handoko tidak ikut bicara. Namun genggaman tangannya pada kemudi sedikit mengerat.

Pratiwi melanjutkan dengan nada santai. "Berarti dulu kalau ketemu sering, dong?"

Mellisa tersenyum tipis. "Ya... lumayan."

Handoko menatap jalan di depannya. Lumayan.

Satu kata itu terdengar begitu sederhana. Padahal mereka sama-sama tahu, hubungan mereka dulu jauh lebih dari sekadar *lumayan sering bertemu*.

Ada masa ketika mereka hampir setiap hari bertemu. Ada masa ketika satu hari tidak bertemu saja terasa seperti ada sesuatu yang kurang.

Namun semua itu tidak perlu diketahui Pratiwi.

"Kemarin pas lamaran, langsung mengenali?"

"Ya, Mas Handoko dulu kan senior yang cukup dikenal."

Pratiwi tertawa. "Serius?"

Mellisa ikut tersenyum. "Iya."

Handoko akhirnya menyela. "Ah, enggak juga."

"Kenapa enggak?" Mellisa menjawab spontan.

Handoko kembali melihat kaca spion. Tatapan mereka bertemu. Mellisa langsung menunduk.

Pratiwi tertawa "Nah, berarti benar dong. Sampai sekarang saja Jeng Mellisa masih ingat."

Mellisa tersenyum canggung. "Namanya juga satu kampus."

Pratiwi mengangguk tanpa sedikit pun mencurigai sesuatu. Ia lalu kembali membicarakan pernikahan Raka dan Kania. "Raka itu dari kecil memang enggak suka yang terlalu ramai. Makanya aku juga enggak mau seragamnya aneh-aneh."

"Memang dari dulu begitu," kata Handoko.

Mellisa mendengarkan. Tanpa sadar, ia tersenyum.

"Masih sama berarti, Pi."

Handoko kembali melihat kaca spion. "Iya."

Jawaban singkat itu membuat hati Mellisa berdesir.

Ada sesuatu dalam nada suara Handoko yang membuatnya teringat pada masa lalu.

Dulu, laki-laki itu juga sering menjawab seperti itu. Singkat. Sederhana. Tetapi selalu membuatnya merasa didengarkan.

Mellisa buru-buru mengalihkan pandangan ke luar. Ia tidak ingin pikirannya pergi terlalu jauh.

Pratiwi kemudian bertanya. "Jeng, kalau nanti sudah dapat bahannya, mau jahit di mana?"

"Belum tahu."

"Kalau mau, nanti aku kasih nomor penjahit langgananku."

"Boleh, Mbak."

"Dia bagus. Aku sudah lama pakai jasanya."

"Terima kasih."

"Enggak usah terima kasih. Kita kan sudah mau jadi keluarga."

Kalimat itu membuat Mellisa terdiam sejenak.

*Mau jadi keluarga.* Ada rasa hangat yang muncul.

Sekaligus perih. Karena takdir ternyata kadang suka bercanda.

Dulu, ia dan Handoko pernah membicarakan masa depan dengan begitu yakin. Mereka pernah membayangkan akan menjadi keluarga. Namun hidup membawa mereka ke jalan masing-masing.

Dan sekarang, setelah bertahun-tahun, mereka kembali duduk dalam satu mobil. Bukan sebagai dua orang yang sedang merencanakan masa depan. Bukan juga sebagai sepasang suami istri.

Melainkan sebagai dua orang dari masa lalu yang kebetulan kembali dipertemukan oleh pernikahan anak.

Mellisa menarik napas pelan. Pratiwi sama sekali tidak menyadari perubahan wajahnya.

"Jeng, nanti setelah beli bahan kita makan, ya."

"Enggak usah, Mbak."

"Harus. Masa sudah jalan-jalan enggak makan."

Handoko tertawa kecil. "Kalau sudah urusan makan, mami memang enggak pernah bisa ditolak."

"Ya memang. Makan itu penting."

Mellisa tersenyum. Percakapan kembali ringan.

Mereka membicarakan makanan, penjahit, ukuran pakaian, dan rencana acara pernikahan. Hal-hal sederhana. Hal-hal yang seharusnya tidak berarti apa-apa.

Tetapi sesekali, sebuah kalimat membuat Mellisa dan Handoko saling terdiam. Ketika Pratiwi bercerita bahwa Handoko dulu paling suka makanan tertentu ketika baru menikah, Mellisa tanpa sadar berkata,

"Masih suka."

Handoko langsung menatap kaca spion. Mellisa baru menyadari apa yang baru saja ia katakan.

Pratiwi justru tertawa.

"Kok Jeng Mellisa tahu?"

Mellisa terdiam sebentar.

"Ya... mungkin masih sama, dulu sering lihat dia makan itu."

Handoko tersenyum kecil. "Iya. Masih."

Pratiwi tidak berpikir macam-macam. Baginya, mereka hanya dua orang yang pernah satu kampus. Wajar jika Mellisa mengetahui beberapa kebiasaan Handoko.

Namun bagi Mellisa, jawaban itu terasa seperti sesuatu yang jauh lebih dalam. Ternyata ada hal-hal yang masih ia ingat. Dan ternyata, Handoko pun masih mengingat hal-hal yang sama.

Mellisa kembali diam. Ia memandang keluar jendela, membiarkan angin dari celah kaca menyentuh wajahnya.

Sementara Handoko terus mengemudi. Tidak ada yang mengatakan apa-apa. Namun di antara mereka ada begitu banyak kalimat yang tidak pernah selesai. Begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab. Begitu banyak kenangan yang selama ini mereka kira sudah mati.

Dan pagi itu, tanpa mereka kehendaki, semuanya kembali bernapas. Pratiwi masih sibuk membicarakan warna bahan seragam. "Pokoknya nanti kita cari yang paling bagus."

"Iya," jawab Handoko.

Mellisa tersenyum kecil. Lalu kembali menunduk.

Mungkin memang benar, waktu bisa membuat seseorang belajar menerima masa lalu. Tetapi waktu tidak selalu membuat seseorang lupa.

Kadang-kadang, waktu hanya mengajarkan kita cara menyimpan seseorang jauh di dalam hati...

sampai suatu hari orang itu duduk hanya beberapa meter di depan kita, dan kita baru sadar bahwa ternyata perasaan itu tidak pernah benar-benar hilang.

1
Oma Gavin
lanjutkan dan jgn melek mata' kalian berdua kan lagi jatuh cinta jadi masing" buta dengan kebahagiaan anak" kalian tetaplah edan jgn sadar
sutiasih kasih: sadarnya nnti aj... klo sdh di hadpkn dgn khilangan dan kehancuran keluarga....
tak ada lgi jln pulang dri petualangan nafsu yg sesat....
🙄🙄
total 1 replies
sutiasih kasih
gmn klo smpe km tau knyataannya wi.... suamimu sdh main gila dgn calon besanmu....
Jamayah Tambi
Depan isteri kau boleh buat Handoko.Kalau ketahuan macam mana.Tak ke merusak hubungn anak2 kamu nanti
Jamayah Tambi
Masalah manusia ialah otak sihat kalah dgn hati yg bercelaru
Jamayah Tambi
Menikah kerana tanggungjawab, bukan cinta kerana hati masing2 mencintai yg lain
Jamayah Tambi
Kacau ni kerana cinta lama
Jamayah Tambi
Kan dah kata salah faham.Dapat pulak ART dungu
Jamayah Tambi
ART Yg bodoh jawab call dari Mellusa mengatakan Handoka melamar kekasih hati.Dah agak dah mesti salah faham.
Jamayah Tambi
Tak salah faham ke ni
Jamayah Tambi
Mesti suami Mellisa selingkuh
Jamayah Tambi
Bahaya ni ,bila lelaki berjumpa semula dgn cinta pertama
Oma Gavin
wed .. wes .. angel musuh wong tuwo ora duwe isin yg ada seperti puber kedua 😅
Oma Gavin
drama perselingkuhan dimulai dari sekarang ngga mikir anak . mereka masing" yg akan nikah udah ketutup sama cinta pertama yg blm kelar
Oma Gavin
intinya sudah pada tua dan mau jadi besan tolong dijaga kehormatan diri masing" jgn merasa kayak abg mau clbk ingat umur
Oma Gavin
ngga bisa dibayangin kalau ada di dunia nyata bukannya mikir gimana anaknya bisa bahagia dgn pernikahan nya malah mengenang mantan sampai segitunya
Dew666
💜
Oma Gavin
berarti yg berkhianat pertama kali handoko dong jgn salahin mellisa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!