Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.
Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.
Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.
Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEJADIAN ANEH
Lima belas tahun sudah sejak wafatnya sang Ustad yang meninggal karena fitnahan, dan sang istri yang mendapatkan perlakuan tak beradap.
Desa yang sekian lama tenang mulai mencekam dengan meninggalnya salah satu warga yang tidak wajar.
Hari itu, saat pemakaman Embok Paijah, sanak saudara Embok Paijah yang di tinggalkan terlihat begitu bersedih. Parmi, dan Karti yang berada agak jauh dari mereka pun asik berbisik. "Embak Parmi! Lihat jasadnya Embok Paijah nggak, mengerikan sekali. Meninggalnya dengan kulit yang melepuh seperti habis terbakar saja." Ujar Karti.
Parmi nampak antusias, dia pun menjawab. "Iya, Kar! Saya juga lihat. Astaga... padahal, sebelum meninggal dia terlihat hanya sakit panas biasa."
Karti mendekat lalu berbisik. "Mungkin kualat sama suaminya. Kan semenjak dia menikah lagi, kabarnya dia sangat keras sama sang suami, alias nggak berbakti gitu. Dan kabarnya lagi, suaminya kan orang pintar yang selalu di percaya oleh desa sebelah sangat ahli dalam pengobatan orang-orang yang terkena sihir dan semacamnya. Sampe heran aku sama Mbok Paijah, menikah kok sama dukun."
"Mungkin juga, Kar!" Terlihat Parmi yang masih ragu dengan keterangan Karti.
Parmi tiba-tiba merasa perasaannya gelisah memutuskan pulang lebih dulu.
"Aku pulang dulu, Kar! Aku lupa tadi, udah kunci pintu apa belum. Soalnya suamiku lagi pergi ke kota."
Karti mengangguk. "Iya Hati-hati, Embak Parmi."
Karti pun maju bercampur dengan yang lain.
Terlihat suami Paijah Rusman menatap makam istrinya begitu lesu. "Akang bakal cari, siapa yang telah buat Eneng meninggal. Akang nggak rela Neng, meninggal secara engak wajar seperti ini." Rusman yang sangat menyayangi istrinya itu sangat merasa kehilangan.
Karti pun makin heran.
Loh, desas-desus warga bilang, kalau Embok Paijah wafat karena di santet sama suaminya sendiri. Tapi tadi Mang Rusman bilang mau balas dendam sama yang telah membuat istrinya meninggal.
Karti pun makin di buat penasaran, dengan kematian tetangganya itu.
***
Di sepanjang perjalanan pulang. Parmi merasa jalan yang biasa di lalui itu sangat mencekam, tidak ada seorang pun yang lewat. Bahkan suasana hari yang awalnya cerah, tiba-tiba berubah menjadi gelap. Angin dingin tiba-tiba meniup, membuat dedaunan bergoyang tak beraturan.
Ranting-ranting pepohonan bergesekan, menimbulkan suara yang membuat bulu kuduk merinding.
SREEKKK...!!!
KREEK...!!! KREEK...!!!
Parmi mempercepat langkahnya, perasaannya makin tidak karuan, kala mendengar suara burung gagak yang terbang berputar melayang-layang di atas kepalanya.
"Kok jadi serem begini, sih! Perasaan tadi biasa-biasa saja." Gumam Parmi mendekap tubuhnya sendiri yang merasa kedinginan walau hari masih menunjukan pukul 10 pagi.
Parmi...!!!
Parmi...!!!
Suara panggilan misterius itu sontak membuat Parmi makin panik ketakutan.
"AAAA....!!! Siapa kamu!" Teriaknya ketakutan, sambil mempercepat langkahnya yang tiba-tiba kakinya terasa berat seperti batu.
Parmi terlihat mengigil sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Aduh, kaki kok jadi susah buat melangkah sih." Parmi berbicara sendiri sambil mencoba mengangkat kakinya satu persatu.
Tiba-tiba.
WUSSHHH!
sebuah bayangan hitam tinggi besar seperti mendorongnya sangat kuat.
"Aw!" Pekik Parmi yang tersungkur ke tanah. Ketakutan pun makin ia rasakan.
"Jangan. Jangan sakiti aku! Jangan sakiti aku. Siapa pun itu, aku moho ampun. Aku salah!" dengannya berlari sekencang mungkin supaya dapat menghindar dari bayangan hitam yang masih terlihat oleh ujung mata Parmi, terus mengikutinya dari belakang.
"TOLONG!" Parmi terus berteriak meminta tolong.
Tiba-tiba. BRUAAAKKK!!!
"Embak Parmi! Kok masih di sini? Katanya tadi pulang duluan." Sebut Karti yang nggak sengaja di tabrak Parmi yang berlarian seperti orang ketakutan.
Parmi membuka mata lebar. Pikirannya tiba-tiba blank, melihat semua pengantar jenazah menatap ke arahnya penuh tanda tanya.
Dia pun heran melihat keadaan yang tiba-tiba cerah dan terang benderang.
"Karti! Aku tadi lihat suasana gelap gulita, seperti mendung tebal yang mau turun hujan, dan banyak burung-burung gagak yang berterbangan, dan parahnya lagi, aku tadi melihat bayangan hitam tinggi besar lalu menabrakku sampai aku terjatuh ke tanah. Tapi kok, sekarang tiba-tiba jadi cerah?" Tanya Parmi yang terlihat kebingungan.
Semua orang pun tertawa kecil, termasuk Karti.
"Kamu mimpi kali. Sejak tadi cerah gini kok. Lagian, mana ada sosok hitam tinggi besar itu, kamu memang lagi bermimpi kali ya? Sudah yu, ayo pulang!" Karti yang akrab dengan Parmi beberapa tahun belakangan ini menggandeng sahabatnya pulang.
Dengan Parmi yang masih bingung dengan apa yang di alaminya barusan.
"Parmi-Parmi. Kamu makin tua makin nggak jelas ya? Pantas suamimu suka keluyuran malam." Seloroh salah seorang warga yang masih memikul cangkulnya.
Mata Parmi seketika nyalang menatap Mang pria
muda yang wajahnya tertup separuh oleh kain yang di lilitkan. Pria itu hanya tersenyum kecil lalu pergi.
"Dasar mulut nggak pernah sekolah! Jaga ucapanmu ya? Jangan sampai aku sobek-sobek itu mulut!" Maki Parmi yang nggak Terima. Pria itu tak menanggapi, dia makin jauh saja di depan.
"Udah, nggak usah di laden, Embak Parmi. Ayo pulang. Rumahmu lebih penting dari kata-kata anak muda itu." Ujar Karti, menasehati.
Parmi yang merasa omongan Karti benar, hanya bisa patuh.
Kalau saja uang pemberian dari Embak Sulis nggak aku sembaranhan taro, aku kejar kamu sampai dapat.
Awas kamu!
Parmi melangkah sambil terus mengumpat di sepanjang jalan. Karti hanya bisa mendengarkan ocehan tersebut.
Dari kejauhan, seseorang berjubah hitam menyunggingkan senyum mengerikan melihat rombongan tersebut, lalu seketika sosoknya berubah seperti kepulan asap hitam lalu memudar di udara.
***
Di rumah mewah nan megah.
Sulis tak henti mengomel memarahi suaminya.
"Kamu itu, kalau nasehatin anak yang bener dong, Mas! Nasehatin pake suara keras, mana ada anak yang mau nurut." Gerutu Sulis.
"Laela itu sangat bandel, Lis! Sudah sepatutnya saya
menasehatinya dengan suara sedikit keras, karena sudah berkali-kali di nasehati, tapi tetap dia tidak mau menjalankan sholatnya, dan juga selalu keluyuran di malam hari. Nggak baik buat seorang gadis, Lis."
Sulis pun makin emosi kala suaminya yang biasa diam kalau dia omelin, kini malah menjawab. "Mau sholat, mau tidak! Itu urusan dia mas! Aku, kamu! Tidak ada hubungannya. Biarin aja dia suka-suka sendiri. Toh dosa dia yang nanggung. Intinya, saya tidak suka kamu membentaknya. Dia itu anakku, jadi jangan mentang-mentang dia nggak ada hubungan darah sama kamu, terus kamu seenaknya sama dia."
Rohmat kembali mengelus dada.
"Astagfirullahhalazim, Lis! Saya tidak pernah menganggap dia bukan darah daging saya. Saya menganggap Laela, Adalah anak kandung saya sendiri, saya menasehatinya untuk kebaikan anak kita, Lis."
"Munafik! Kamu Mas. Beni aja kamu bela-belain terus, kamu puji-puji terus. Tapi Laela, kamu selalu complain setiap hari." Gerutu Sulis kesal.
"Bukan complain karena dia bukan anak kandungku, Sulis. Tapi karena kelakuannya. Dia itu perempuan, tapi dia selalu keluyuran malam, sekolah selalu bolos. Kita wajib menegurnya, Sulis." Rohmat berusaha menasehati istrinya yang bebal itu.
Namun, bukannya Sulis memahami, malah dia makin kesal. "Pokoknya aku nggak terima! Titik! Awas kamu kalau bikin Laela menangis lagi. Ingat! Harta yang kita miliki semua hakku, atas namaku. Jadi, baik-baiklah kalau kamu tidak ingin aku tendang dari rumah ini."
Tegas Sulis mengancam, lalu melenggang pergi.
"Astaga." Rohmat geleng-gelang kepala.
Beni yang mendengar pertengkaran mereka terlihat sedih, lalu dia berbalik menuju peternakan sapi.
Dia mengahapus air matanya yang sukses menitik.
"Pantas Mama enggak pernah sayang aku, di hatinya hanya ada Laela. Padahal aku pun anak kandungnya juga kan." Beni yang masih duduk di sekolah SMA hanya bisa pasrah, walau dia sangat menginginkan kasih sayang dari seorang ibu.
Laela tersenyum puas. "Makan tuh! Enak aja bentak-bentak anak kesayangan Mama. Tau sendiri kan, akibatnya. Asikk... malam nanti mau ke rumah Mang Jaka ah. Di sana mah paling tepat buat bikin hati bahagia. Banyak cowok-cowok tampan. Juga bebas mau apa aja. Ahai!" Laela pun kembali ke kamarnya sambil berdendang lagu bahagia.