NovelToon NovelToon
Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Perperangan / Ahli Bela Diri Kuno / Penyelamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aku Pemula

Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.

Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.

Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 - Pedang Misterius yang Hilang

Hujan tak kunjung reda malam itu. Gemuruh petir masih berulang, menerangi langit kelam hanya untuk sekejap, lalu kembali menenggelamkan dunia dalam kegelapan. Seakan-akan langit ikut meratap atas jiwa-jiwa yang gugur di bumi.

Di dalam gua yang sunyi, hanya suara tangisan bayi yang terdengar jelas. Tangisan itu menusuk, menggema, dan seolah melawan suara badai di luar. Bayi mungil itu, Lin Feng, terus menangis, seakan tahu bahwa dunia yang menyambutnya bukanlah dunia penuh kasih, melainkan dunia yang dipenuhi darah, pedang, dan pengkhianatan.

Tetua Qingyun berdiri tegak di sisi jasad muridnya. Wajahnya tegas, namun sorot matanya penuh duka. Ia memandang wanita muda itu lama, lalu menutup kedua matanya dengan lembut. "Tidurlah dengan tenang," gumamnya, suaranya lirih namun penuh keteguhan. "Aku akan menepati janjiku."

Pedang panjang berwarna perak kebiruan yang berada di samping jasad itu bergetar perlahan. Pedang Naga Langit. Pedang yang telah menelan darah begitu banyak orang dalam sejarah, dan kini menunggu pewaris sejatinya. Cahaya samar dari bilahnya masih berdenyut, seperti napas seekor naga yang tengah tertidur.

Tetua Qingyun meraih pedang itu, mengangkatnya dengan kedua tangan. Berat pedang itu seakan jauh melampaui logika logam biasa; bukan hanya berat karena bahan pembuatannya, tapi juga karena sejarah dan takdir yang terkandung di dalamnya.

Pedang itu pernah menjadi simbol kemuliaan, tapi kini juga menjadi alasan banyak pihak jatuh ke dalam jurang ambisi dan keserakahan.

Namun, malam itu belum berakhir. Dari luar gua, suara langkah kaki kembali terdengar. Tidak hanya satu, melainkan puluhan. Suara derap kaki menjejak lumpur, bercampur dengan teriakan-teriakan kasar.

Tetua Qingyun mengangkat kepalanya, sorot matanya berubah dingin. "Mereka belum selesai rupanya."

Tiga pria berjubah hitam yang tadi ia bunuh hanyalah perintis. Pasukan utama kini datang. Obor-obor menyala, menembus gelapnya hujan. Bayangan belasan orang muncul di mulut gua, mata mereka menyala dengan nafsu yang tak bisa ditutupi.

"Di sana!" teriak salah satu dari mereka. "Pedang itu! Pedang Naga Langit ada di tangan orang tua itu!"

Tatapan mereka serentak terarah pada bilah pedang di tangan Tetua Qingyun. Bahkan di tengah hujan deras, cahaya biru dari pedang itu tetap memancar, menarik mata setiap orang yang melihatnya.

Tetua Qingyun berdiri di depan bayi dan jasad muridnya, tubuhnya tegap seperti gunung. "Siapa pun yang ingin merebut pedang ini," ucapnya, suaranya bergemuruh bagaikan petir, "harus melangkahi tubuhku terlebih dahulu!"

 Para pengejar itu tak gentar. Mereka berteriak serentak, menghunus pedang, tombak, dan berbagai senjata lain. Belasan bayangan segera menerjang masuk.

Tetua Qingyun menarik napas panjang. Aura dalam tubuhnya meledak, menyebar ke seluruh gua. Batu-batu bergetar, dinding gua retak, dan udara menjadi begitu berat hingga sulit bernapas.

Ia melangkah maju. Dengan satu tebasan pedangnya, cahaya biru meluncur bagai naga yang keluar dari kedalaman samudra. Suara raungan menggema, seakan naga itu benar-benar hidup.

Darah memercik. Tiga orang terdepan langsung terbelah tubuhnya, jatuh tanpa sempat berteriak.

Namun musuh-musuh lainnya tidak berhenti. Mereka menyerang secara bergelombang, mengerahkan kekuatan penuh untuk merebut pedang itu. Suara logam beradu dengan logam, teriakan perang bercampur dengan dentuman energi, membuat malam semakin mencekam.

Tetua Qingyun bergerak cepat, tubuhnya seakan menyatu dengan pedangnya. Setiap tebasan menghasilkan kilatan cahaya yang mematikan. Satu demi satu musuh tumbang, darah mereka mengalir bercampur dengan hujan, mengotori tanah di sekitar gua.

Namun jumlah musuh terlalu banyak. Meski tubuhnya masih tegap, napas Tetua Qingyun mulai terasa berat. Usiannya sudah menua, dan energi yang ia gunakan tak lagi semurni dahulu.

Di sela-sela pertempuran, seorang pria berjubah hitam lebih besar dari yang lain maju ke depan. Di tangannya, sebuah tombak panjang dengan ujung berwarna merah gelap berkilau dalam kilat.

"Tetua Qingyun!" teriaknya, suaranya keras. "Kau boleh kuat, tapi waktumu sudah lewat! Serahkan pedang itu, atau aku akan mengakhiri hidupmu malam ini!"

Ia menjejak tanah, melompat ke udara, lalu menghujamkan tombaknya. Udara bergetar, tanah bergetar, kekuatan dari tombak itu menembus bumi.

Tetua Qingyun menatapnya dengan dingin. Ia mengangkat pedang, menahan serangan itu. Dentuman keras terdengar, membuat gua bergetar lebih keras. Batu-batu runtuh dari langit-langit gua, debu berterbangan.

Namun Tetua Qingyun tidak mundur. Dengan teriakan lantang, ia mengerahkan sisa kekuatannya, melawan dorongan tombak itu. Cahaya biru dari pedangnya meledak, menghantam tubuh lawannya.

Pria berjubah hitam itu terhempas jauh, darah memuncrat dari mulutnya. Tubuhnya menghantam batu besar, membuatnya remuk.

Namun, tubuh Tetua Qingyun sendiri ikut berguncang hebat. Wajahnya pucat, napasnya terengah. Ia tahu, dirinya tidak bisa terus bertahan.

Ia menoleh ke belakang. Bayi kecil itu masih menangis, tangisannya terdengar semakin kuat, seakan menyuarakan tekad untuk hidup. Di sampingnya, jasad muridnya terbujur kaku, wajahnya masih menyimpan senyum samar meski telah meninggal.

Tetua Qingyun memejamkan mata sejenak. Hatinya perih.

"Pedang ini…" gumamnya lirih. Ia menatap Pedang Naga Langit yang berkilau di tangannya. "Jika tetap di sini, pedang ini akan menjadi alasan Lin Feng diburu tanpa henti. Tidak… aku tidak bisa membiarkan itu terjadi."

Dengan tangan bergetar, ia mengangkat pedang itu tinggi. Bibirnya bergerak, merapalkan mantra kuno yang sudah lama ia pelajari. Cahaya biru dari pedang itu semakin terang, lalu berubah menjadi kilatan-kilatan kecil seperti sisik naga yang beterbangan di udara.

Para musuh yang masih hidup terhenti, wajah mereka penuh ketakutan. "Apa yang dia lakukan…?!"

Tetua Qingyun mengerahkan seluruh kekuatan terakhirnya. Dengan suara bergemuruh, ia berteriak, "Pergilah, Naga Langit! Menghilanglah dari dunia ini sampai waktunya tiba! Carilah tuan sejati yang akan membangunkanmu kembali!"

Pedang itu bergetar hebat, mengeluarkan suara raungan panjang yang bergema ke seluruh hutan. Kilatan cahaya biru menelan seluruh gua, membuat semua orang menutup mata.

Ketika cahaya itu meredup, pedang itu telah lenyap.

Hanya tersisa udara dingin, dan keheningan yang menggetarkan jiwa.

Para pengejar saling berpandangan, wajah mereka pucat pasi. Tanpa pedang itu, tujuan mereka lenyap. Mereka kehilangan alasan untuk bertempur. Satu per satu, mereka mundur dengan tergesa-gesa, meninggalkan gua yang kini hanya menyisakan tiga hal: jasad, hujan, dan tangisan bayi.

Tetua Qingyun terhuyung, lututnya hampir jatuh. Tubuhnya gemetar karena mengeluarkan energi terlalu banyak. Namun ia berhasil tetap berdiri, memandang ke arah Lin Feng yang masih menangis keras.

Ia tersenyum tipis. "Anak kecil… kini pedang itu bukan lagi bebanmu. Saat waktunya tiba, ia akan kembali kepadamu. Dan pada saat itu… dunia akan berubah karena namamu."

Ia lalu mengangkat bayi itu, mendekapnya erat di dada.

Malam semakin larut, hujan semakin deras. Namun di dalam gua itu, sebuah takdir telah berubah. Pedang yang menjadi rebutan banyak orang kini telah hilang entah ke mana, tersegel oleh kekuatan yang bahkan musuh terkuat pun tak mampu melawan.

Dan seorang bayi, Lin Feng, kini menjadi pusat dari rahasia besar.

Tetua Qingyun menatap ke luar gua, ke arah hutan yang gelap gulita. "Mari pergi, Lin Feng. Jalanmu masih panjang, dan dunia belum tahu siapa dirimu. Namun suatu hari nanti… semua akan berlutut di hadapan nama yang lahir dari malam ini."

Tangisan bayi itu perlahan mereda, digantikan dengan suara hujan yang tak kunjung berhenti.

1
Dian Pravita Sari
bosen selalu gak tamat cerita jgn mau bc noveltoooon krn gak jelas ceritanya
Aku Pemula: Terimakasih Kak atas kritikan nya

semoga novel ini bisa selesai ya, bantu terus dukung
total 1 replies
Aku Pemula
Hai kak, terimakasih sudah kasih komentar.

bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
Dian Pravita Sari
percuma kolom komentar
entar tp gak pernah di gubris
Aku Pemula: terimakasih ya kak sudah kasih komentar /Pray/
total 1 replies
Dian Pravita Sari
s
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa
Dian Pravita Sari
sudah ku duga cerita selalu gak tsmatmsnaktedibilitssn
Penggemar Pendekar
go go
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Rohmat Ibn Sidik
lanjut
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!