NovelToon NovelToon
Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh

Status: tamat
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:636.7k
Nilai: 5
Nama Author: Uffahazz_2

Perselingkuhan membawa Glacia pada kecelakaan tragis yang membuatnya divonis lumpuh. Hebatnya, setelah apa yang ia lakukan, Narendra masih kekeh mempertahankan pernikahan mereka. Alih-alih meninggalkan Glacia yang cacat, Narendra justru berperan baik merawat dan menjaga wanita itu meski berkali-kali dilempari makian.

Glacia benci Narendra, karena dialah sang ayah tak merestui hubungan Glacia dengan pacarnya. Apa yang sebenarnya Narendra pikirkan? Kenapa lelaki itu selalu menolak ajakan bercerai? Padahal Glacia sendiri tahu Narendra memiliki wanita idaman yang ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uffahazz_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Ajakan Bercerai

Kelopak mata itu mengerjap. Glacia perlahan membuka mata dan mengernyit ketika rasa pening menyergap kepalanya sesaat. Sejenak ia berusaha menyesuaikan cahaya dan penglihatannya. Langit-langit polos berwarna putih dan monoton adalah hal pertama yang Glacia tangkap.

Namun ketenangannya terusik ketika melihat sosok yang duduk diam di kursi samping ranjang, menatapnya dengan pandangan khas tanpa ekspresi.

Narendra bersidekap sambil bersilang kaki. Ia hanya diam tak berkata apa pun, sampai detik berikutnya lelaki itu beranjak mengambil minum di nakas dan menyodorkannya pada Glacia disertai sedotan.

Mulanya Glacia menolak, ia memalingkan wajah berusaha membuat Narendra menyerah. Namun ternyata salah, ketika Glacia menoleh lagi sedotan itu masih setia berada di ujung bibirnya.

Glacia memicing, mengabaikan rasa haus ia pun menepis gelas tersebut hingga terlempar dan pecah mengenai lantai. Suara pecahannya menimbulkan bising yang membuat seorang petugas medis masuk beberapa saat kemudian. Narendra yang melihat itu mengangkat tangan dan memberi isyarat pada perawat itu untuk segera keluar.

Meski ragu pemuda berseragam itu akhirnya menutup pintu, meninggalkan ketegangan yang kini menyelimuti sepenjuru ruang. Narendra menoleh pada Glacia yang kini membuang pandangan ke arah jendela. Wajahnya dipenuhi kemarahan dan emosi terpendam.

Melirik sebentar ke arah pecahan beling di lantai, Narendra lekas beranjak ke sudut lain ruangan. Ternyata ia mengambil gelas baru dan mengisinya dengan air di gallon yang tersedia.

Narendra kembali mendekati Glacia dan menyodorkan minum padanya. Berkali-kali Glacia menolak hingga ia dibuat tak berkutik ketika Narendra menahan tengkuknya kuat, memasukkan sedotan dengan paksa hingga membuat Glacia tersedak sesaat.

Glacia meneguk air putih itu hingga tersisa setengah. Ia mendorong Narendra menjauh ketika selesai. Terengah-engah mengusap bibirnya yang basah menggunakan punggung tangan, matanya memicing tajam pada lelaki yang kini justru nampak santai tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Narendra menyimpan gelas di tangannya ke atas nakas. Ia lalu berbalik menghadap Glacia seraya memandangnya datar. Keduanya sama-sama bungkam hingga kemudian Glacia melontarkan kalimat yang berkali-kali mendapat pengabaian. "Surat cerai—"

"Ini bukan saat di mana kita harus membahasnya," sergah Narendra datar.

Mendengar hal itu Glacia jelas berdecih frustasi. "Alasan! Bilang saja kau mau menghindar lagi, kan? Kau pasti senang melihat keadaanku sekarang. Kau pasti puas mengutukku yang tak bisa berjalan. Kau puas, hah?!" teriaknya, sambil mencengkram selimut hingga urat-urat di tangannya terlihat.

Narendra melirik sejenak selang infus di tangan Glacia yang kembali mengeluarkan darah hingga membias bercampur dengan cairan. Ia lalu memandang Glacia tanpa ekspresi, wanita itu juga menatapnya penuh permusuhan.

"Sebenarnya apa maumu?!" serunya lagi disertai emosi. "Kenapa kau selalu menolak ketika kuajak bercerai? Kita tidak saling mencintai, untuk apa bertahan dalam pernikahan ini?!"

Lagi dan lagi Narendra hanya diam. Responnya tersebut membuat amarah Glacia semakin meluap ke permukaan. Narendra yang selalu diam, Narendra yang seakan selalu tak berkutik ketika mereka membahas perceraian, Narendra yang bergerak seperti boneka di bawah bayang-bayang ayahnya. Narendra selalu menuruti apa pun perintah Yohanes, dan Glacia benci semua itu.

Alih-alih membalas Glacia, Narendra justru melontarkan kalimat yang tidak nyambung. "Istirahatlah. Besok kau akan menjalani terapi," ucapnya sembari berbalik hendak berjalan ke arah pintu.

Namun, langkah tersebut tertahan ketika Glacia melemparkan gelas di nakas ke arahnya. Gelas itu mengenai kepala Narendra dan jatuh berserak di lantai. Belum kering tumpahan air beberapa saat lalu, kini Glacia sudah membuat kekacauan baru.

Bukan masalah Narendra yang harus mengganti dua gelas pecah itu, ia lebih tertarik pada Glacia yang kini kembali mengamuk di tempat tidurnya.

Wanita itu meraung melemparkan selimut serta bantal meski tak satupun mengenai Narendra. Selang infusnya lagi-lagi terlepas dan menimbulkan luka. Narendra bergeming di tempat mengamati Glacia yang berteriak kesetanan mengumpatinya.

"Brengsek! Kau benar-benar brengsek!!! Sebenarnya apa maumu dari pernikahan sialan ini?! Kau sudah mendapatkan kekuasaan di perusahaan Papa! Lalu apa lagi sekarang?! Hiks ... hiks ... Kau bajingaaann!!! Gelandangan tak tahu diri!! Enyah saja kau, sialaaann!! Aku membencimuuu!!"

Brak!

Prang!

Semua barang terdekat tak lepas dari jangkauan Glacia. Bahkan meja nakas kini turut terbalik setelah digulingkan olehnya. Benar apa kata orang, seseorang yang sedang ketakutan atau marah selalu memiliki refleks tenaga yang kuat.

Tak lama pintu terbuka, dokter dan beberapa perawat masuk. Mereka berhamburan mendekati Glacia yang mengamuk di ranjang, melewati Narendra yang masih betah bergeming memandangi istrinya yang kembali menggila.

Hanya perlu beberapa menit untuk tim medis menenangkan Glacia dan membuatnya kembali tidur. Narendra masih mematung di tempatnya ketika dokter mendekat dengan nafas terhela berat.

Ia berucap pada Narendra. "Saya tidak tahu sebelumnya kalian terlibat masalah apa, tapi sebisa mungkin tolong jaga psikisnya agar tidak terguncang. Dia sudah cukup terpuruk mengenai keadaan kakinya. Kami tidak bisa melanjutkan prosedur pemulihan kalau mentalnya tidak stabil. Semoga Tuan mengerti maksud saya."

Narendra diam, namun rautnya tak menunjukkan bantahan. Dokter itu menepuk pundak Narendra sebelum keluar bersama para perawatnya, meninggalkan Narendra yang lagi-lagi ditelan keheningan karena Glacia kembali tak sadarkan diri.

"Kau sebegitu inginnya bercerai, meski tak terhitung berkali-kali Gallen berselingkuh di belakangmu," gumam Narendra memecah kesunyian. Matanya tak lepas dari Glacia yang sudah jauh lebih baik meski belum begitu rapi.

Pecahan gelas dan tumpahan air sudah dibersihkan oleh salah satu perawat tadi. Narendra berjalan mendekat membereskan seprai serta selimut Glacia sebelum suara seseorang menyela dari belakang. Rupanya salah satu perawat tadi kembali.

"Dokter menyuruh saya mengobati luka anda, Tuan."

Sontak Narendra mengulurkan tangan menyentuh belakang kepalanya sendiri. Basah, dan ketika ia menarik tangannya kembali, seberkas noda merah terlihat di sana.

Narendra bahkan tidak sadar kepalanya terluka, karena ia tidak merasa sakit sama sekali. Dengan malas ia membiarkan perawat itu membersihkan lukanya, beruntung hanya luka gores ringan yang tak memerlukan jahitan.

Usai diobati, perawat itu pergi begitu pula Narendra yang keluar setelah memastikan Glacia aman untuk ditinggal. Ia menerima telepon dari Yohanes yang kemudian disambungkan pada panggilan video hingga Narendra bisa melihat suasana ruang rapat di kantor.

Entah sudah berapa jam rapat itu berlangsung, yang jelas Narendra dituntut turut serta bergabung meski sebelumnya sang mertua berkata tidak perlu. Jelas karena posisi Narendra saat ini seorang direktur yang tak bisa diabaikan kehadirannya.

Untunglah, Glacia sudah tenang dan suasana ricuh tadi dapat teratasi. Sekarang giliran Narendra mengesampingkan dulu masalahnya dan fokus pada pekerjaan.

Ia pun meninggalkan ruang rawat Glacia dan beringsut mencari tempat nyaman untuknya melakukan meeting daring.

1
Yeti Kosasih
Lizy perempuan penuh tipu muslihat .mengerikaan
Yeti Kosasih
Aaah sungguh cinta yg rumit....
Yeti Kosasih
Klo wanita SDH sakit hati ,mati rasa maka sesal yg di dpt pasangannya..menyesal seumur hidupmu Nareen..kamu pikir Lizy perempuan tulus dan kalem..kamu salah Lizy perempuan yg menakutkan yg penuh dgn sisat dan muslihat ditutupi topeng wanita lemah lembut..sereem
Yeti Kosasih
Aaah Glacy..akupun g bisa nyalahin kamu..pasti kamu murka ya..di bully dipermalukan..eeh Naren mlh cenderung asyeek berduaan sama Livy...
jujur aku mlh berharap kamu sama Rapael deeh...dia Dokter ,lembut dan sepertinya g byk menyimpan rahasia seperti Naren
Yeti Kosasih
Ayolaah Glacy..terimalah Naren..cba deeh turunin egomu berdamai dgn semuanya pasti yg kau rasakan keindahan...🥰🥰
Lia Ernawati
🥰
Ida Rianti
Luar biasa
Ida Rianti
Lumayan
Mujiningsih Mujiningsih
Luar biasa
Zahra Cantik
bagus & seruuu
Nurie
thor terbaik
Desi Asmarani
Luar biasa
Yeyet Agus
duh, novel ini sungguh bnyk misteri, sdkt tegang tp asyiiik. Tks thor, semangat berkarya.
Dysha♡💕
Luar biasa
Dysha♡💕
pasti Narenda ini orang kaya deh,,
Lestari Ratnawati
extra part
🍃⃝⃟𝟰ˢᴅᴇss𝐀⃝🥀
Akhirnya masa² kritis sudah terlewati 🤭
semoga GK ada lg pengganggu kedepannya
🍃⃝⃟𝟰ˢᴅᴇss𝐀⃝🥀
wkwkwkw jujur utk hal yg berhubungan dgn Gibran ini yg sulit diungkapkan 😆 hayo Naren pelan²
🍃⃝⃟𝟰ˢᴅᴇss𝐀⃝🥀
akhirnya selesai jg perjuangan Narend membantu melepaskan Glacy, tapi Rafael.. tulus mu bukan pada tempatnya, semoga Tuhan mengampuni dosamu, karna kau kn ga menyakiti Glacy emang. Tapi kau melukai perasaan Naren 🥺
🍃⃝⃟𝟰ˢᴅᴇss𝐀⃝🥀
Rafael menjadi gila karena gelar dokter nya yg menurut nya gak berguna karna gabisa selamatkan nyawa adiknya dari serangan kanker 🤭 jadilah dia main dokter-dokter an sekarang di apartemen dengan fasilitas medis yg sangat lengkap🤣bener² sakit jiwa kan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!