NovelToon NovelToon
Ruang Rindu

Ruang Rindu

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Nikahmuda / Pernikahan Kilat / Obsesi / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: ARyanna

Pernikahan yang berawal dari perjodohan juga tanpa diiringi cinta.


"Bukankah kamu pernah bertanya, hal apa yang bisa membuatku bahagia. Jika sekarang aku menjawab apa kamu akan mengabulkannya?" kata Febriana Citrani, yang kerap dipanggil Anna.

Prasetyo mengangguk, "Jika aku bisa, aku akan melakukannya untukmu."

"Aku sangat yakin kamu pasti bisa," ujar Anna sejenak menatap suaminya. "Ceraikan aku, itu kebahagiaanku!"

Tatapan mata Prasetyo menajam.

"Selama ini aku tersiksa," ucapnya dengan nada rendah tapi terdengar menekan tiap kata yang diucapkannya, seraya tangannya menunjuk tepat di dada.

Sudut bibir Anna tertarik menciptakan senyum masam, tak mendapat respon ia pun bangkit memunguti pakaiannya hendak berlalu pergi.

"Baiklah tapi dengan satu syarat, aku ingin kamu memberiku anak lagi, laki-laki. Setelah syarat itu terpenuhi kamu bisa pergi."

Prasetyo pun bangkit berjalan melewati tubuh Anna yang mematung seakan tak mempercayai ucapan suaminya, Prasetyo pun berlalu masuk ke kamar mandi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARyanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Aku celingak-celinguk mengerjakan dan mengisi kertas ujian. Rasanya setelah aku cuti selama satu setengah tahun menjadikan otakku sedikit tersendat.

Setelah aku memiliki anak, jalan pikiranku sungguh berbeda, yang menempel diotakku kini adalah harga susu dan popok yang biasa dipakai Aqila.

Apalagi aku sudah tidak bisa mengandalkan dua sahabatku Vera dan Nisa, mereka sudah jauh dariku, bahkan mereka sudah hampir dinyatakan lulus dari kampus.

Berjuang sendirian memanglah menyakitkan, apalagi junior-juniorku yang dulunya sangat menghormati dan menurut saat ospek, kini pada jual mahal untuk urusan contek mencontek. Buktinya dipanggil namanya saja sudah pura-pura budeg, awas saja kukutuk jadi budeg beneran.

"Hoyyyy ngalamun!" ucap Nisa yang mencoba mengagetkanku tapi tak mempan.

Aku menoleh lesu ke arahnya tanpa berucap apa-apa.

"Kenapa mukamu, kusut amat. Macam baju yang teronggok dipojokkan tak bertuan ha ha ha," kata Nisa menertawaiku.

"Pasrah sama nilai ujian," sahutku lesu.

Nisa berdecak. "Kenapa bisa gitu?" tanyanya mamasang wajah serius.

"Itu karena kalian yang tega ninggalin aku, masak kalian berdua udah mau lulus aku masih tinggal. Jahat!" kataku dengan sedih seolah mendramatisir.

"Lah, salah sendiri kenapa hamil duluan," celetuk Nisa dan kuhadiahi dengan cubitan.

"Aduhhh sakit tahu!" jeritnya meringis kesakitan.

"Makanya punya mulut dijaga," kataku memperingatkan padanya. "Hamil duluan maksudnya apa?"

"Harusnya hamil setelah lulus kuliah," kata Nisa menjelaskan sambil mengusap bekas cubitanku.

Vera terkekeh. "Gimana kabar Aqila, lama gak ketemu pasti udah gede?"

"Hmm, sekarang udah bisa jalan mesti masih tertatih-tatih," kataku usai menyesap soft drink.

"Udah ada setahun belum sih Aqila?" sahut Nisa sambil mencomot kentang goreng.

"Tepatnya bulan ini," jawabku sambil menikmati burger dengan saus keju pedas. Tak berapa lama kunyahan dimulutku terhenti dan aku menatap kedua temanku secara bergantian.

"Ini tanggal berapa?" tanyaku pada mereka.

"15 maret, kenapa?" sahut Vera menatap ke arahku.

Mataku berkedip beberapa saat, kemudian aku meletakkan burgerku yang masih tersisa di atas meja.

Aku mendegus. "Astaga, aku lupa," ucapku merutuki diri.

"Lupa apa?" tanya Nisa dan Vera penasaran.

"Hari ini Aqila ulang tahun dan aku tadi pagi berjanji pada Mas Pras setelah ujian selesai aku langsung pulang. Aku lupa," jelasku pada mereka.

"Ya udah sekarang pulang, ngapain masih disini?" ucap Vera seakan mengusirku agar cepat pergi.

Akupun bangkit berdiri mengambil tasku, berpamitan kemudian berlalu pergi.

Di perjalanan, hari kian gelap. Mengetahui aku belum ada persiapan apa-apa aku jadi kian panik sebab pikiranku kian bercabang. Ditambah jalanan yang macet membuatku frustasi, sebab rasanya menguras waktu dan juga emosi.

Ponselku berdering membuatku setengah mengumpat, dan seketika tangan kiriku berusaha merogoh ponsel dalam tas. Tertera nama Mas Pras disana.

"Mas... Aku masih dalam perjalanan pulang, jalanan macet," kataku usai Mas Pras berucap salam. Dia yang tahu keadaan dan situasiku kini berucap paham dan sebelum telpon ditutup ia berucap hati-hati dijalan.

Butuh waktu sekitar empat puluh menit aku sampai dirumah, dan kulirik jam dipergelangan tanganku menunjukkan pukul tujuh malam. Usai mobilku sampai dipekarangan rumah aku hanya memarkirkan mobilku sembarangan kemudian berjalan cepat memasuki rumah. Di ruang tamu sudah ada Aqila, Bik Marni dan juga Siti.

"Bapak mana?" tanyaku menanyakan keberadaan Mas Pras.

"Bapak diatas Non, baru saja pulang," jawab Bik Mar dan membuatku sedikit terkejut.

'Mas Pras baru pulang?' batinku bertanya-tanya.

"Ma—Ma," ucap Aqila memanggilku dan berjalan tertatih meminta untuk digendong.

Aku tersenyum ke arah Aqila dan berujar, "Sama Mbak Siti dulu ya, Mama nyusul Papa." Ucapku setelahnya berlalu mengabaikan Aqila yang memanggilku dan berjalan cepat ke arah tangga menuju kamar.

Tapi begitu aku membuka handle pintu, betapa terkejutnya aku saat mendapati Mas Pras yang juga tengah menarik pintu.

"Baru sampai rumah?" ucap Mas Pras.

"Iya, kata Bik Mar, Mas juga barusan sampai rumah?" tanyaku tanpa merubah posisi kami berdiri ditengah-tengah pintu.

"Iya, maaf tadi Mas mendadak ketemu sama client," ucapnya membuatku sedikit heran.

"Client?"

"Maksudnya customer, pelanggan dibengkel," kata Mas Pras sambil menggaruk pelipisnya.

Akupun mengangguk. "Ya sudah kalau begitu aku mau masuk, nanti aku menyusul kalian dibawah," kataku hendak menerobos masuk ke pintu tapi Mas Pras tiba-tiba mencekal lenganku.

"Kenapa?" tanyaku sedikit terkejut dan sontak menatap kearahnya.

Mas Pras kemudian mendekat dan menundukkan sedikit kepalanya, dengan gerak cepat dia ******* bibirku hingga mendatangkan ribuan kupu-kupu mulai beterbangan diperutku.

"Jangan pakai lama," ucapnya usai menarik wajahnya dari hadapanku, kemudian mengusap bibirku dengan jari jempolnya. Tak lama diapun berlalu pergi meninggalkanku yang masih terpaku di depan pintu yang terbuka lebar.

Aku terdiam sesaat, dan kemudian berkata lirih," Apa-apaan dia?"

To be Continue

1
Felycia Fernandez
bener2 tokcer ini 👍👍👍👍👍💗
Shofiya An Najah
kaaa riyana aku balek lagiii🤭, aku suka bngt novel" kaka aku baca hampir semua novel kaka dari tahun 2019 sampe sekarang masih suka ingat judulnya walaupun apk udh pernah aku hapus jdi setiap instal apk ini lgi, yang dicari pertama kali pasti novel kaka, dan aku ud berulang kali lepas pasang apk ini dn udh brp kali ngulang baca novel kaka, emng sebagus ituuu🥹🥹
Nkf: Sama kak 🤣🤣
total 1 replies
ione
/Good/
Nazril Azka
lanjut audio toon nya kak
Ira Suryadi
Luar Biasa
Glorya Raya
Luar biasa
Eva The-kk
udah berkali2 baca d tahun2 lalu tp masih aja mewekkk. author ni ihhh pinter banget bikin greget
Big Family
Luar biasa
Big Family
Lumayan
Eva The-kk
aku nangis mewek bagusss cerita tp slow
Pasikah CwElosbes
crta nya bagus baru mampir ksni skian lam..crta yg ringan mnglir bgtu saja TPI seru
Aysha Luthvi
baca ke 3 kali ny biasa ny baca novel d longkap ini mah ngga aq suka cerita ny
Dinda
Luar biasa
Aysha Luthvi
suka banget cerita kak
Aysha Luthvi
baca ke dua kali ny
Bunda Aish
keren cerita nya.... ada terjadi di sekitar kita....
Bunda Aish
ngulang baca....
Santi
Ya Allah aku minta pasangan yg seperti mas pran
Lena Sari
Anna pasti akan menyesal ...meninggalkan yg pasti demi yg tidak pasti,akankah Adrian mencintai mu seperti Pras?kasian qila.
Lena Sari
gitu amat Ama suami,,giliran minta duit ja baru manis.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!