Menikahi Majikan Ibu — Season 2
Genre : Komedi Romantis
Perjalanan rumah tangga Barata Wirayudha, pemilik BW Group yang menikahi putri dari pembantunya sendiri, Bella Cantika.
Perbedaan umur, latar belakang dan karakter membuat rumah tangga keduanya menjadi berwarna.
Bara yang temperamen, arogan dan mudah terpancing emosi, tetapi ia seorang yang penyayang keluarga dan daddy terbaik untuk putra-putrinya.
Bella yang lemah lembut dan dewasa, terkadang suka ketus pada suaminya berusaha menjadi ibu terbaik untuk anak-anaknya di usia yang masih muda.
Keduanya tidak romantis tetapi bercita -cita memiliki kehidupan rumah tangga yang romantis. Apakah rumah tangga mereka tetap berjalan mulus di tengah perbedaan?
Ikuti kisah rumah tangga Bara dan Bella bersama putra putrinya, Rania Wirayudha, Issabell Wirayudha dan The Real Wirayudha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Casanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Rujak serut
Dua minggu berlalu, kondisi Bella pasca kecelakaan kecil yang menimpanya mulai membaik. Tubuhnya yang remuk akibat membentur aspal perlahan sembuh. Lecet di tangan dan kaki pun mulai mengering dan terkelupas. Luka kecil di pelipisnya samar-samar tidak terlihat. Bella menutupinya dengan bedak setiap hendak bepergian ke luar rumah.
Di kehamilan kedua ini, Bella jauh lebih kuat dan sehat. Tidak ada tanda-tanda yang biasa dialami ibu hamil muda. Tidak muntah, tidak mual, tidak juga pusing. Semua keluhan yang biasa dialami ibu hamil trimester pertama itu tidak menyapanya.
Sebaliknya, Bara yang mengalami semua itu. Mual, muntah dan pusing setiap bangun tidur. Kehilangan nafsu makan, bahkan pria itu harus kehilangan berat tubuhnya karena kondisi ini.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, Bara terbangun dari tidur dengan kepala berdenyut. Tubuhnya terhuyung, menghambur menuju kamar mandi. Waktu baru saja menunjukan pukul lima pagi, Bara sudah berisik menumpahkam isi perut ke dalam wastafel.
"Mas, kamu baik-baik saja?" tanya Bella tiba-tiba. Ia terbangun saat mendengar kucuran air kran dari kamar mandi.
Lama tidak terdengar jawaban. Bara sibuk dengan mual dan muntahnya. Menguras habis isi perut sampai tak bersisa.
"Mas, sebaiknya kita ke dokter saja. Ini sudah tidak beres. Takutnya ada penyakit yang tidak biasa. Ini sudah berhari-hari," bujuk Bella.
"Sudah berulang kali aku mengunjungi rumah sakit, Bell. Dokter mengatakan kalau aku baik-baik saja. Tidak ada penyakit serius. Hanya diberi vitamin." Bara menjelaskan. Tampak ia duduk bersandar di meja wastafel kamar mandi. Sebagian wajah dan kaos tidurnya basah. Napas naik turun, mual dan muntah membuatnya kelelahan.
"Mas, aku khawatir." Bella berjalan mendekat. Tanpa ragu-ragu, ibu hamil dengan gaun tidur tipis itu memeluk Bara.
"Sudah. Aku baik-baik saja. Yang terpenting itu, kamu jangan sampai sakit. Ada anak kita di dalam kandunganmu."
"Ya, Mas."
Bara menjatuhkan dagunya di pucuk kepala Bella setelah mengusap wajah basahnya dengan handuk kecil yang terlipat di meja wastafel. Dikecupnya pelan puncak kepala istrinya. Hangat dan nyaman saat bisa berbagi banyak hal dengan seseorang.
"Kapan lagi kita ke dokter memeriksa kandungmu?" tanya Bara. Teringat kalau mereka belum melakukan pemeriksaan lagi.
"Tunggu dua bulan, Mas. Minggu depan."
"Bagaimana dengan Rikka? Apa dia menyulitkanmu, Bell?" tanya Bara mendekap erar istrinya.
"Tidak, Mas. Semua baik-baik saja."
"Syukurlah kalau begitu. Aku tidak mau terjadi hal buruk padamu dan anak-anak. Menerima orang asing di rumah kita itu memang pahala, kalau tidak membuat masalah. Aku tidak keberatan. Apalagi masalah uang, semakin memberi, semakin mendapatkan lebih."
"Real bagaimana?" tanya Bara. Belasan hari sibuk di kantor, ia tidak memiliki banyak waktu membahas masalah rumah dan anak-anak. Pulang kerja sudah larut malam dan anak-anak pun telah terlelap. Bella pun demikian. Sejak Bella hamil lagi, rezekinya bertambah. Ada beberapa proyek baru bernilai fantastis sekaligus menyita waktunya.
"Real baik-baik saja, Mas. Belakangan tidak terlalu sering mengamuk lagi. Aku belum menemukan pengasuh yang cocok untuk Real. Yang kemarin hanya kerja tiga hari, sudah menyerah dengan kelakuan Real," keluh Bella.
"Pelan-pelan saja, Bell. Itu jodoh-jodohan. Nanti Real juga akan bertemu dengan jodoh yang tepat."
Bella mengangguk. "Hampir lupa. Nanti siang Kailla mau ke sini. Setelah dia pulang kuliah." Bella bercerita.
"Untuk apa lagi anak nakal itu ke rumah kita?" tanya Bara.
"Dia mau membawakan rujak serut untukku."
"Anak itu kalau masalah membawakan makanan untukmu benar-benar rajin. Mudah-mudahan saat dia hamil tidak menyusahkan kita. Cukup menyusahkan Pram saja." Bara tergelak, mengurai pelukannya.
***
Siang itu, semilir angin meniup dedauan di pekarangan rumah Bara. Rikka sedang bersama Real bermain di halaman samping, ditemani Bella yang duduk di kursi taman dengan segelas jus buah naga. Sejak hamil, Bella memilih mengkonsumsi lebih banyak sayur dan buah-buahan di samping makanan yang berprotein tinggi.
"Mbak, Real sudah makan siang?" tanya Bella. Tatapannya tertuju pada sang putra yang sedang bermain dengan mobil pemadam kebakaran yang baru dibeli Opa Rania.
"Belum, sebentar lagi."
"Tolong siapkan saja, Mbak. Aku capek bolak balik ke dalam rumah."
Rikka menurut, masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan makan siang Real. Langkah kaki gadis itu terhenti, saat pandangannya beradu pada seorang perempuan cantik berambut pirang yang berjalan ke arahnya. Berlenggak lenggok bak model dunia dengan rambut pirang menyala.
"BOO," teriak Kailla yang datang bersama Ricko. Tampak asisten tampan itu membawa sekantong buah-buahan segar, bahan untuk membuat rujak.
"Kailla ...." Bella menggantungkan kalimatnya. Buru-buru berdiri dan menyambut sahabatnya.
"Apa kabar? Kamu sudah baikan?" tanya Kailla menghambur memeluk Bella. Ia melewati Rikka yang berdiri mematung.
"Siapa mereka?" Rikka memandang Kailla dan Ricko bergantian. Namun, ia memilih mengabaikan kedua tamu Bella. Ia harus segera ke dalam dan menyiapkan makan siang.
"Boo, rujak serutnya habis. Jadi aku beli huah-buahan, nanti serut sendiri, ya." Kailla melempar senyuman dengan kedua alis naik turun.
"Ya ...." Pundak Bella melemas dengan raut kekecewaan tercetak jelas di wajah cantiknya.
"Lain kali, aku akan meminta Ricko membelikannya untukmu." Kailla menambahi.
"Ok, aku tunggu."
"Ini diletakan di mana?" tanya Ricko menunjukan seplastik buah ke hadapan Bella.
"Tolong diletakan di dapur saja, Kak Ricko. Ada asisten rumah dan Mbak Rikka di dapur," titah Bella.
Kailla menjatuhkan bokongnya di kursi taman yang sempat diduduki Bella sebelumnya.
"Ayo ceritakan bagaimana kehamilanmu? Kapan aku bisa hamil sepertimu," ucap Kailla mengusap perut rata Bella yang berdiri di sampingnya. Ada nada kesedihan di dalam kalimatnya.
"Soon ...." Bella tersenyum.
"Oh ya, perempuan tadi siapa?" tanya Kailla.
"Wajahnya ada kemiripan denganmu kalau diperhatikan sekilas, Bell." Kailla menambahi.
"Benarkah?" Bella menangkup pipinya dengan telapak tangannya.
Kailla mengangguk.
"Dia kakakku. Namanya Rikka. Apa memang terlihat mirip?" tanya Bella memastikan.
"Ya. Senyum kalian hampir sama." Kailla menjawab. Bola matanya berputar, Kailla berpikir.
"Ricko menyukai Bella sejak dulu. Bahkan menurut Sam, Ricko mencintai kakaknya Bella sebelumnya. Apa orang yang sama." Kailla berkata dalam hati.
"Boo, apa kakakmu ini yang mantan pacar Ricko?" tanya Kailla mencari tahu.
"Bukan. Itu Kak Rissa." Bella menjawab.
Kailla tersenyum usil. Namun saat ini otaknya sedang berkeliaran.
"Sepertinya Ricko memiliki ketertarikan dengan tipe-tipe perempuan seperti Bella. Terbukti, dia menyukai Rissa dan Bella. Bisa jadi dia juga cocok dengan kakak Bella yang satu ini."
***
TBC
bacaan ringan disaat wsktu luang
hiburan bukan bacaan spiritual 🙏🙏🤭
pemahaman rumahtangga bara pasca penghianatan brenda sang mantan istri membuat ruang bella terbatas. kalau bara suamiku sudah ku tukar tambah