Sebuah cerita tentang makhluk mitologi yaitu werewolf dan vampire, menyamar dan berbaur dengan manusia untuk menemukan putri yang hilang. Salah satu dari mereka ternyata adalah mate sang putri.
Namun setelah putri yang hilang ditemukan terjadi peperangan besar yang membunuh banyak vampire.
kisah ini menceritakan tentang dua golongan vampire dan juga dua golongan werewolf yang saling memperebutkan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putriifrhm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Alice
"Kita akan membuat strategi baru, peperangan kali ini akan menentukan nasib kita dan bahkan dunia. Kita semua tahu, bahwa Bill tak akan pernah puas dengan apapun, ia akan terus menghancurkan kerajaan lain," terang James di meja tempat biasa mereka berdiskusi. Namun, tidak dengan suasana seperti biasanya. Yaitu, bersama Arnold, Rose, Hilda, dan Thomas. Kini, hanya James, Leo dan Jane serta Argus.
Dengan tangan kiri yang terbungkus pembalut, Leo menggambar strateginya di atas perkamen dengan tinta pena. Ia tampak serius, hingga keringat keluar dari pelipisnya. Kemudian ia menunjukkan hasil kerjanya, "Jadi, aku akan meminta James dan pasukan senior untuk melawan Bill. Kalian hanya bisa menyerang Bill dengan kekuatannya sendiri, kalian menggunakan pedang atau cermin. Tapi, aku yakin Bill sudah mengetahui ini, jadi, rencana baruku pasti akan membuatnya kehilangan akal. Kalian, serang ia secara bergantian di tempat berbeda, karena Bill akan bingung dimana orang dan tempat yang harus ia hindari," Jelas Leo, ia menyelipkan spidol di telinganya, menjelaskan setiap detail hal yang ia gambar.
James menarik perkamen dari hadapan Leo, menggesernya di permukaan meja, mata dengan sorotan tajam itu berusaha memahami setiap gambar yang ada. "Inti dari semua ini, kita harus lebih dulu membunuh Bill."
Leo menggeleng, "Tidak juga, Kevin, Alice dan pasukan Dryford lainnya? Mereka sama berbahaya, hanya saja, Bill sedikit lebih berpengalaman. Hanya karna darah ratu Iblis, dia bukan berarti tak bisa mat--"
"Alex, ingat juga ada Alex. Bagaimana bisa kita melawannya, dia saudara kita walupun sedang terpengaruh oleh Bill!" sela Jane. Ia menatap Leo dan James bergantian, seolah benar-benar kesal karena telah melupakan Alex.
Leo menghela nafas, "Kita tak bisa membiarkannya. Alex bisa saja membantu Bill menguasai dunia, dia juga termasuk orang jahat dan harus di singkirkan."
"Baiklah, biar aku saja yang melawannya!"
"Tidak, kau tidak ikut berperang-"
Jane berdiri, "Apa maksudmu?"
"Kau tahu itu. Aku tak ingin mengambil resiko, kau itu werewolf baru-tidak, kau itu half-blood. Kau tak tahu cara menggunakan kekuatanmu sendiri."
Jane tertawa miris, "Jangan pernah meremehkanku. Lagi pula, aku tak mungkin membiarkan kakakku sendirian melawan mereka, aku tak ingin kehilangan orang lagi!"
"Jane.." panggil Leo dengan lembut. "Aku tahu perasaanmu, tapi-"
"Jangan atur diriku!"
Leo pun berdiri, "Kau istriku! Aku berhak atas segala keputusan dalam hidupmu!"
"CUKUP!" suara bariton milik James berhasil membuat perselisihan antar suami istri itu berhenti.
Argus berdehem tiba-tiba, "Jadi, aku dan pasukanku akan melawan Kevin. Dan kau tuan Leo, aku rasa kau bisa ikut perang yang dimulai satu minggu lagi, karena tanganmu akan pulih pada waktu itu."
Leo mengangguk, baru saja ia hendak duduk, Jane menariknya dengan paksa. Berjalan cepat keluar istana, menuju taman yang biasa digunakan untuk berpesta.
Jane melepas genggamannya pada Leo, "Kau ingin lihat seberapa kuat aku?" Jane menaikkan tangannya ke udara, kemudian menurunkannya dengan cepat seolah menarik sesuatu. Dan alhasil, petir besar menyambar tanah yang ada di hadapannya, hampir mengenai Leo. Petir itu menyambar ke tanah hingga membuat lubang sedalam seratus meter, hal itu sudah dipastikan bahwa siapa saja makhluk yang kena, akan hancur lebur.
Leo terperangah, "Whoa!"
"Kau lihat?"
Leo menggeleng keras untuk menyadarkan dirinya, "O-oke, aku akan membawamu perang."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Bill, aku dengar, mereka tengah bersiap melawan balik," ujar Kevin, ia meneguk secawan darah dengan rakus hingga berceceran di bajunya.
Bill tersenyum miring, "Aku tak peduli, aku bisa mengalahkan mereka semua dengan bersamaan."
"Bisakah kalian berdua berhenti membahas perang? Aku lelah, bahkan kalian tidak menanyakan pendapatku untuk menyerang mereka saat itu," pekik Alice, ia berdiri dengan tangan mengepal.
Kevin tertawa kecil, ia menghampiri kakak perempuannya itu, kemudian menatapnya lekat-lekat. "Ada apa? Kau tampak mencurigakan."
"Jangan-jangan, kau sekutu mereka?"
Alice diam, menatap lurus.
"Aku tak pernah melihatmu seperti ini," Kevin memegang dagu kakaknya dan mengangkatnya.
Alex datang dan menepis tangan Kevin dari dagu Alice, "Jangan perlakukan wanita seperti itu!" ujarnya pelan, namun dengan nada dingin dan penuh ancaman.
Kaki Kevin mundur beberapa langkah, ia terlihat sedikit gentar dengan tatapan dingin yang diberikan oleh Alex. Namun, kemudian ia malah tertawa, "Wah, kau kini menjadi sok gentle man, ya?"
Alex hanya diam, matanya tetap menatap mata Kevin.
"Sudahlah, kalian ribut hanya karena wanita satu ini?" Bill datang di antara mereka dan membuat Alex mengalihkan pandangannya ke arah Alice.
"Aku tidak ikut perang," ujar Alex tanpa menatap Bill.
Bill langsung menarik kerah kemeja yang dikenakan Alex dan mendekatkan wajah Alex ke wajahnya, "Apa kau bilang? Hmph, kau tak tahu balas budi. Kau pikir siapa yang menghidupkanmu?"
"Dan apa kau pikir, aku mau melawan orang banyak tanpa alasan yang jelas? Lagi pula mengapa kau tak memberitahu alasannya padaku--"
"Untuk apa kau harus tahu hah?!" Bill mendorong tubuh Alex hingga terpental dan menghancurkan dinding di sana. Kemudian pria berbrewok tipis itu pergi dari sana bersama dengan Kevin.
Alice melesat, menghampiri Alex yang berusaha bangkit.
"Kau terluka?" Alice membantu Alex berdiri.
Alex hanya menggeleng, ia membersihkan pakaiannya.
"Kau mau tahu alasannya?"
Pria beriris biru itu menghentikan aktifitasnya, matanya beralih menatap Alice, menantikan ucapan Alice yang selanjutnya.
"Sebenarnya, aku dan Kevin berusaha membunuhmu, Jane, dan Leo-"
"Leo?"
"Mate Jane."
Pupil Alex mengecil, ia merasa sedikit terusik dengan kata Mate Jane.
"Setelah itu, kau berhasil mengalahkan kami. Tapi, kami juga berhasil membunuhmu," Alice menunduk, seolah menyesali perbuatannya. "Kemudian, Bill menghidupkan kami. Vampire lain menghisap darah manusia, tapi kau pasti heran, mengapa kami menghisap darah Iblis. Kami penghianat." Alice menarik nafas, "Bill menghidupkanku dan Kevin tanpa ada perubahan, tapi saat menghidupkanmu, kau kehilangan ingatan."
"Lalu, apa alasannya?"
"Bill itu serakah, ia ingin menggulingkan seluruh kerajaan di dunia. Termasuk manusia, jadi, dia menghidupkanmu dan mencuci otakmu agar bisa menjadi alatnya untuk berperang. Aku sangat bersyukur kau cerdik, tak mudah di perdaya oleh Bill."
Mata Alex memicing, "Mengapa kau memberitahu segalanya padaku?"
"Aku lelah, aku hanya ingin segera pergi dari sini. Bahkan aku rela menjadi budak di kerajaan Rebloor, asalkan aku bisa pergi dari sini."
"Aku akan pergi bersamamu, aku akan membantumu pergi."
Alice tersenyum tipis, ini pertama kalianya ada seseorang yang membantunya dengan tulus. "Alex, Jane itu adikmu. Dan orang-orang yang telah kau bunuh adalah, ibu, ayah, dan teman-temanmu."
Alex mengacak rambutnya, "Aku benar-benar,kehilangan akal saat itu. Rasanya aku tak sanggup menatap wajah orang-orang di sana lagi," ia duduk di lantai, mengusap wajahnya dengan penuh penyesalan. "Bantu aku mengingat semuanya, Alice."
Alice tersenyum hangat, ia terlihat seperti wanita pada umumnya, bukan lagi wanita yang di cap kejam.