Genre : Action, Adventure, Fantasy, Romance, Harem (?), Game, Isekai, Supernatural, Akademi (Arc 4), Drama (?)
- Arc 1 - Training To Be Strong - End
- Arc 2 - Engagement, First Event, Spirit, and Memory - End
- Arc 3 - Second Event <Young Heroes Tournament> - End
- Arc 4 - I Am Your Lover - End
- Arc 5 - ???
Berawal dari seorang Pemuda biasa - biasa saja bernama Shirosaki Sieg. Dia mati saat memainkan game yang poluler di zamannya yaitu game <Become The Legends>
Dan tidak disangka - sangka dirinya justru terlahir kembali ke dalam game itu.
Untuk memperparahnya lagi, dia berpindah ke tubuh salah satu tokoh Villain salah satu Villain yang paling jahat dan yang selalu merepotkan MC di game itu.
Dia tahu masa depan apa yang menanti dirinya dan tahu bahwa dia akan mati sejak terlahir sebagai tokoh ini.
Karena tidak ingin dirinya mati, maka dia akan berusaha menjadi kuat dan memanfaatkan pengetahuannya untuk sebisa mungkin berusaha untuk tidak mati di tangan MC maupun Last Boss.
Peringatan!! Banyak kesalahan ejaan, kata - kata kasar di setiap chapter!
Terinspirasi dari Novel/Manga 'My Death Flags Show No Sign Of Ending'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 30 - Flower That Symbolizes Death
...•Normal Pov•...
~ Keesokan Harinya
"Yo. Kau pasti Anak Muda yang dibicarakan baru-baru ini kan? Aku sudah mendengarmu dari Raja. Katanya kau punya minat pada Pedang." Seorang Om-om menyapa Sieg yang saat ini masih lagi lanjut mengayunkan Katananya.
Namun karena sapaan Paman itu. Sieg menghentikan kegiatan lalu menatap ke arahnya dan berkata "Ha?"
Saat ini. Sieg ada di Halaman Pelatihan sendirian. Dia masih lagi berlanjut berlatih sendirian sejak dari semalam. Singkatnya, Sieg tidak tidur semalaman.
Dan saking fokusnya dia terlalu terpaku pada latihannya. Dia sampai tak sadar bahwa Hari sudah pun Pagi.
'Sepertinya aku terlalu fokus..'
Sieg segera pulih kembali dan baru ingat kalo Pak Tua yang menyapanya tadi masih ada disini. Lantas Sieg pun menoleh sambil berkata..
"Siapa?"
"Komandan Pasukan Kerajaan ini. Bern. Senang bertemu denganmu Sieg Von Black." (Bern)
"Jangan sok akrab denganku Bajingan. Menjauh kau." Kata Sieg kasar walau sebenarnya dia tidak ingin mengatakan itu. Tapi baguslah, Pak Tua ini tampak tak terlalu memikirkan sikap kasarnya ini.
"Wah. Bagus. Anak Muda memang harus semangat seperti itu." Dan dia malah tidak memarahi Sieg dan menjawab dengan semangat.
"....." Sieg tidak membalas. Dan segera pergi dari situ namun, bahkan sebelum sempat meninggalkan Halaman Pelatihan ini. Pak Tua itu tiba-tiba melancarkan tendangan maut pada Sieg.
Tentu saja Sieg secara reflek menghindarinya sambil menahan tendangan Pak Tua itu. Berkat tubuhnya yang sedikit berotot dan tinggi, dia bisa menahan Tendangan Pak Tua ini dengan tangan kosong Meski tinggi Sieg dan Bern berbeda jauh.
"Hoh seperti yang diharapkan dari Tunangan Putri Athanasia. Kau tidak boleh diremehkan."
"Bajingan. Apa maksud tindakanmu ini?"
"Bukankah sudah jelas? Aku disini ingin mengujimu!!"
Bern mengubah serangannya dari yang tendangan ke pukulan. Sieg tidak tinggal diam, tentunya dia membalasnya, namun dia tidak membalas menggunakan pukulan. Melainkan dia memanipulasi Es di sekitarnya dan membekukan pijakan Bern, membuat Bern terpeleset karena pijakannya yang terlalu licik.
"Uwaahhh!!"
Dan diapun terjatuh. Begitu melihat lawannya terjatuh, Sieg pun langsung mengarahkan Katananya pada Bern sehingga Katananya menggores sedikit leher Bern.
"Kau benar-benar ingin mati." Kata Sieg dingin.
Bern yang merasakan lehernya mulai tergores akibat Katana Sieg mulai mengangkat kedua lengannya menandakan bahwa dia menyerah..
"Berhenti-berhenti. Aku menyerah-aku menyerah."
"Kau pikir setelah semua ini. Masalah ini akan kulupakan begitu saja? Jangan bercanda denganku Bajingan."
"Tapi kau tidak boleh membunuh seseorang di dalam Istana. Kau akan ditangkap loh." Dia tersenyum penuh kemenangan, namun senyuman itu segera sirna saat Sieg melanjutkan perkataannya.
"Tidak ada yang tahu kalau kau akan mati karena hanya kita berdua yang ada disini." (Sieg)
"Ahahaha.. benar juga. Kepalamu sangat cerdas ya sesuai dengan rumor yang beredar." Kata Bern sambil menggaruk-garuk pipinya.
Rumor lagi.. rumor lagi.. rumor lagi. Sieg sudah muak mendengar semua itu. Decakan lidah dari Sieg terdengar, dan dia langsung menyarungkan Katananya
"Tcih, Dasar penganggu."
Melihat pungung belakang Sieg yang menjauh. Bern pun mulai bangkit sambil membersihkan celananya. Dia menepuk-nepuk dan di saat yang sama, ada seseorang yang mirip penampilan [Assassin] muncul di sampingnya.
"Kenapa Anda menahan diri tadi? Seharusnya anda bisa mengalahkannya dalam sekali serang." Kata [Assassin] tersebut.
Kekuatan Komandan Pasukan Kerajaan tidak selemah itu sampai bisa dikalahkan oleh anak berusia 11 tahun. Jika dia dikalahkan dengan mudah seperti itu, maka tidak layak untuk memegang gelar Komandan.
"Yah. Aku hanya ingin menguji Anak muda itu. Dan juga.. barusan dia mengeluarkan sihir tanpa rapalan. Dia unik ya." (Bern)
"Anda tertarik padanya?" (Assassin)
"Tentu saja tertarik. Dia sudah sangat kuat untuk anak seumuran dirinya. Dan soal Rumor tentang penampilannya, sepertinya itu memang benar adanya. Jika dia dekat dengan Putri Athanasia, maka Rambut dan matanya akan menjadi hitam dan merah. Sedangkan, jika dia menjauh dari Putri Athanasia maka rambutnya akan berubah menjadi warna putih salju dan mata biru safir." (Bern)
"Jadi? apa yang harus saya lakukan? Saya masih punya perintah yang harus diselesaikan yang diberikan Putri Athanasia." (Assassin)
"Selidiki Anak itu. Anak itu tidak normal." (Bern)
"Saya tidak mau menuruti anda karena Saya adalah Maid Pribadi Putri Athanasia. Tapi karena ini juga kebetulan, salah satu Perintah dari Putri untuk menyelidikinya, jadi saya akan melakukannya." (Assassin)
"Oke, Terima Kasih banyak." (Bern)
Kemudian [Assassin] itu langsung menghilang. Dan hanya Bern satu-satunya yang masih lagi sendiri di tengah-tengah Halaman Pelatihan itu.
Dia kembali melihat ke arah Pijakan yang dibekukan Sieg. Itu terlihat tidak normal dan juga.. apakah itu adalah Sihir?
...•••••••••••••••...
Sieg saat ini ada di Kamar Istananya. Dia sedang membersihkan tubuhnya di Kamar Mandi karena tubuhnya dipenuhi dengan bau keringat. Terlalu lama berlatih memang seperti itu..
Membersihkan tubuhya tidaklah terlalu lama. Setelah selesai, dia langsung mencoba memeriksa seisi Kamar ini.
Dia ingin tahu. Apakah ada barang berguna disini? Jika ada, mungkin biaa membantunya di masa depan.
Dan setelah dicari-cari. Yang ada hanyalah Meja, Perhiasan (Emas), dan buku kosong. Selain itu semua, yang lainnya hanyalah sampah tak berguna.
Sieg pun menghela nafas. Dan duduk Di Kursinya. Sepertinya Raja itu adalah orang yang teliti, dia sampai mempersiapkan ini semua.
Sieg kemudian mengeluarkan sebuah Buku dari [Inventory]nya. Itu adalah buku-buku yang berasal dari Perpustakaan keluarganya.
Sebelum datang kesini. Sieg telah mengambil buku-buku tersebut untuk dibaca karena mungkin saja dia merasa bosan selama di perjalanan perjalanan.
Dan tak disangka, Buku itu akan berguna di saat seperti ini. Buku ini bisa menghilangkan rasa kebosanannya.
"Ah.. benar juga.. kalau soal buku, apakah tidak masalah jika aku mendatangi Perpustakaan Kerajaan?" Sieg ingin pergi ke sana. Barangkali ada buku yang bisa membantu dirinya. Tapi dia akan dianggap tidak sopan memasuki tempat itu.
Mau bagaimanapun, Perpustakaan Kerajaan adalah hal pribadi. Di sana semua informasi yang ingin dicari lengkap. Dan orang tak berkepentingan tidak diizinkan masuk kesana.
Jadi kita harus meminta izin pada Raja untuk bisa memasuki Perpustakan Kerajaan. Tapi melakukan hal itu juga tidak semudah yang dikatakan.
"Apa aku harus minta Izin pada Raja?" (Sieg)
Sewaktu menggumamkan itu. Pintu Kamar Sieg diketok oleh seseorang.
*Tok* *Tok*
"Masuk."
Pintu kamar Sieg dibuka. Menampilkan sosok Gadis cantik yang berumur 13 Tahun. Itu adalah Natasya.
"Kau punya urusan apa disini?" (Sieg)
"Raja mengundang semua anggota Keluarga Black Untuk sarapan bersama." (Natasya)
"Maksudmu Miyu, Ayah, dan Ibupun juga ikut hadir?" (Sieg)
"Ya." (Natasya)
"Baiklah. Aku akan segera kesana." Sieg menutupi bukunya dan meletakkannya di meja. Dia gak perlu khawatir jika Buku itu hilang, karena Buku itu hanyalah Buku cerita dongeng.
...•••••••••••••••...
Setibanya Sieg disana. Sieg pun langsung memasukinya dan dia dibuat kagum dengan pemandangan Ruang Makan Keluarga Kerajaan.
Dan di tengah-tengah Ruanh Makan ini. Disana dia bisa melihat Kursi berjejeran dan Meja yang lebarnya sangat panjang.
Di antara Kursi kosong itu sudah ditempati oleh Harold, Mayumi, Miyu, Lawrence, Alice, dan Athanasia. Sepertinya cuma Sieg satu-satunya yang terlambat dan dilihat dari reaksi mereka, sepertinya mereka sedang menunggunya.
"Kakak. Ayo duduk disini!" Miyu tanpa ada rasa malu sekalipun. Berteriak-teriak memanggil Sieg sementara di hadapannya ada Keluarga Kerajaan. Biasanya itu akan dianggap tidak sopan
Tapi Untungnya, Anggota Kerajaan memakluminya. Lagian itu hanya anak kecil, kenapa mereka harus marah?
Sieg hanya diam. Dan duduk di samping Miyu. Dan di samping Miyu, ada sosok Harold dan Mayumi.
Dan di hadapan Sieg.. itu adalah Athanasia. Dia sedikit menyesal karena telah memilih kursi yang ini.
"Karena semuanya sudah tiba. Kita bisa mulai." Raja menjamu mereka. Satu per satu makanan yang telah dihidangkan oleh Para Koki, dibawa oleh Para Maid dan Maid itu meletakkannya di atas Meja makanan.
Perjamuan ini rasanya terlalu mewah bagi Sieg dan ini berbeda dari yang ada di Kediaman. Keluarganya tidak sampai menyiapkan hal beginian.
Yah.. Keluarga Kerajaan emang beda. Walau Gelar Raja dan Duke hanya beda satu Peringkat. Gelar Raja lebih tinggi daripada Duke.
"Nah. Silahkan dinikmati Duke Black dan Keluarganya."
...•••••••••••••••••...
Suasana menjadi hening ketika mereka semua sedang sarapan. Namun, suasana hening itu dipecahkan oleh suara seorang Gadis dan Gadis itu adalah Miyu.
"Kak. Ayo kita jalan-jalan nanti. Bisakah?" (Miyu)
"Bawa orang lain." (Sieg)
"Tapi.. Miyu ingin kakak yang menemani Miyu." (Miyu)
"Kau bisa bawa Pelayan Lamban itu." (Sieg)
"Sieg. Untuk sesekali, temanilah Miyu untuk bermain." Kata Mayumi. Dia sepertinya ingin Putra putrinya saling akrab.
Mendengar permohonan Ibunya. Sieg pun tidak bisa menolaknya lagi dan mendesah pelan.
"Baiklah..." kata Sieg pasrah.
"Yeyy!!"
Lawrence, Alice, dan Athanasia itu hanya menyaksikan itu saja. Mereka sedang mencoba menyelidiki Sieg dan sesuai dugaan, walau dia kadang kasar dan tampak seperti orang jahat. Sebenarnya anak itu adalah anak yang baik. Buktinya adalah dia dengan mudah menuruti Permintaan Ibunya.
Dengan kata lain. Dia adalah anak yang berbakti pada orang Tuanya. Melihat ini, Alice Sang Istri Raja terpikirkan sesuatu.
"Ah, Putriku sayang. Bagaimana jika kau menemani Sieg-chan dan Miyu-chan juga? Mereka masih asing dengan tempat ini, jadi temani mereka." Kata Alice sambil tersenyum lembut pada Athanasia.
Sieg dan Athanasia bersamaan mengerutkan dahi. Awalnya masing-masing ingin menjauh satu sama lain, namun jika Alice berkata begitu, untuk saling menjauhi sepertinya akan sulit.
Dan lagian, tidak bisakah orang lain saja yang dijadikan sebagai Pemandu mereka?
"Ah itu benar. Kak Atha! Tolong temani Miyu dan kakak Miyu! Miyu juga ingin dekat Kak Atha!" Miyu berterus terang dan mengatakan sejujurnya.
Hal ini membuat Athanasia sulit tuk menolak karena kelemahannya adalah anak Kecil, apalagi jika yang meminta itu adalah Anak Seimut Miyu. Maka kesempatannya untuk menolak adalah 00.00%.
"Ba-baiklah. Kakak akan menemanimu Miyu-chan."
Orang-orang Dewasa yang ada di ruangan ini tersenyum. Semoga mereka bisa akrab. Tetapi untuk Sieg sendiri, dia hanya bisa diam menonton semua itu.
...•••••••••••••••••...
"Bajingan. Jangan mendekatiku. Menjauh sana."
"Seharusnya saya yang berkata demikian Sieg Von Black. Mohon menjauhlah sedikit. Saya tidak mau disalahpahami oleh orang-orang yang bekerja di Istana."
"Ummm. Kak Seig, Kak Atha. Jangan berkelahi! Berbaikanlah!"
Saat ini ketiga orang yaitu Sieg, Athanasia dan Mitu sedang berjalan-jalan mengelilingi Istana setelah mereka selesai sarapan bersama Keluarga mereka tadi.
Namun saat mereka mengelilingi Istana, semuanya tak berjalan dengan lancar. Masing-masing yaitu Athanasia dan Sieg berusaha untuk menjauhi satu sama lain.
Mereka selalu ribut di saat sedang melakukan tur kecil ini. Namun, dengan adanya Adik Kecil Imut, Miyu Von Black ini. Mereka pun menghentikan perdebatan mereka.
"Kau Adik yang merepotkan. Kenapa aku harus berbaikan dengan Putri Manja ini?"
Athanasia yang mendengar itu mengerutkan dahinya.
"Ini kebetulan juga. Saya juga tidak ingin berbaikan dengan anda."
"Apa katamu? Dasar Putri Manja."
"Umm!! Kak Sieg. Sudah hentikan!" Miyu memeluk Sieg. Miyu tak perlu khawatir akan suhu dingin tubuh Sieg karena Sieg memakai pakaian yang lumayan tebal, jadi dia tidak akan terlalu merasa kedinginan.
Selain itu Miyu sendiri suka dengan tubuh dingin Sieg.
"Tcih. Baiklah-baiklah aku mengerti. Lepaskan aku."
Sieg mendecakkan lidahnya. Sebenarnya Sieg tidak ingin berdebat dengan Athanasia, tapi dia hanya ingin menjauhinya namun mulutnya itu yah... sangat bermasalah sehingga terjadilah perdebatan antata keduanya.
Miyu pun segera melepaskan pelukannya. Dan dia kembali antusias saat melihat bunga-bunga bertebaran di Istana ini.
"Kebun Bunga?" Kata Sieg.
Athanasia yang ada di sampingnya langsung menjawab.
"Ya. Ini adalah Kebun Bunga yang saya budidayakan sendiri."
"Dengan kata lain Bunga Kotor dan menjijikkan ini adalah Tanamanmu?" Kata Sieg dengan kesar saat mengetahui kalo ini adalah Kebun bunga milik Athanasia.
"Sieg Von Black. Anda tahu? Anda telah membuat saya kesal dari tadi. Bagian mananya Bunga ini kotor dan menjijikkan? Ini adalah hasil murni tanaman saya sendiri, mustahil ini kotor." Kata Athanasia dengan sedikit marah.
Sedangkan Sieg dalam hati meminta maaf pada Athanasia. Mulutnya ini memang sulit dikontrol.
"Ha. Jika dibandingkan dengan Bunga yang pernah kulihat. Bunga ini tak ada apa-apanya."
Athansia menjadi sedikit tertarik dengan Bunga yang dimaksudkan Sieg. Apakah ada bunga yang lebih indah dari Kebun Bunga yang dia tanam disini?
Dia penasaran. Tapi dia memutuskan untuk enggan bertanya.
"Kak Atha. Sini mendekatlah!"
Mendengar panggilan Sang Adik Imut. Athanasia pun mendekatinya sambil tersenyum lembut.
'Dia memang lemah terhadap anak-anak' Pikir Sieg. Kepribadian Athanasia sesuai dengan penjelasan yang ada Di Game. Dan Dia pun hanya mengikuti Athanasia dari belakang.
"Ya? Ada apa Miyu-chan memanggil Kakak..?"
"Nih Bunga untuk Kakak!"
Dia memberikan setangkai bunga indah yang berwarna biru pada Athanasia. Jika diperhatikan dengan baik, bunga itu selaras dengan mata biru safir Athanasia.
Athanasia pun menerimanya sambil berkata "Wah, indahnya. Terima kasih."
"Nih, Kak Sieg juga bisa dapat Bunga ini!" Miyu memberikan Bunga indah pada Sieg.
Dan Sieg pun mengambilnya. Sambil memperhatikannya, dan disaat itu Sieg menyipitkan matanya ketika mengetahui arti dari bunga ini.
Sieg kemudian melihat ke arah Miyu. Ingin mengatakan sesuatu tapi tak ada satu katapun yang keluar.
"Kak? ada apa? Apakah ada yang salah dari Bunga Pemberian Miyu?" Kata Miyu bingung.
Dan Athanasia lalu melihat ke arah Sieg dan matanya membelalak terkejut ketika melihat Bunga yang diterima Sieg.
"Itu.. Miyu-chan. Bunga ini bernama 'Marigold' dan itu mengartikan sebagai Kematian.." jelas Athanasia ragu.
Mendengar hal ini. Miyu menjadi pucat. Karena dia tidak terlalu tahu tentang Bunga, jadi dia langsung mengambil dan memberikannya pada Sieg begitu saja.
Dan parahnya lagi. Itu adalah Bunga 'Marigold' dimana Bunga tersebut mengartikan Kematian. Dan jika kita memberikan bunga itu pada seseorang, sama saja mengatakan bahwa orang itu akan mati.
"Hiks.. hiks.. maafkan Miyu Kak Sieg. Hiks.. Mi-miyu tak bermaksud.." Miyu mulai menangis membuat Sieg dan Athanasia tersentak kaget.
Tapi memang wajar sih jika Miyu menangis. Dia baru saja secara tidak langsung mengatakan bahwa Kakaknya akan mati.
*Pluk*
Sebuah telapak tangan dingin mengelus-ngelus rambut Sang Adik Imut membuat Miyu tersentak kaget.
"Dasar Adik bodoh. Hal sepele ini kenapa harus kau tangisi? Ini hanya bunga, mana mungkin aku akan mati. Dan salahkan Putri Manja itu yang telah menanam Bunga ini."
"Ke-kenapa saya ikut terlibat?"
"Ini semua salahmu kan? Kau yang telah menanam Bunga ini. Aku tidak habis pikir kenapa kau menanam Bunga seperti ini di Kebunmu sendiri, apa ada seseorang yang kau inginkan mati?"
Athanasia tidak bisa membalas. Memang dia yang salah, karena telah menanam Bunga ini.
Sementara. Di sisi lain, tangisan Miyu terhenti karena dia bisa merasakan Belaian Kakaknya untuk pertama kalinya. Dan tertawa cengengesan.
"Hehehe..."
Tentunya tak ada yang sadar akan hal tersebut sebab Sieg dan Athanasia masih lagi berdebat.
"Kau sudah tenang? Kalau begitu, pergi sana. Kau adik yang merepotkan."
Belaian Tangan Sieg terhenti begitu ia tahu Miyu tidak lagi sedih. Miyu sedikit kecewa tapi tak apa, lagian belaian tadi cukup lama dan membuatnya senang.
Karena suasana hatinya sudah menjadi senang dan kembali seperti semula. Lalu Miyu pun mengelilingi Kebun Bunga ini. Supaya bisa mengawasinya, Athanasia memperhatikannya dengan tajam tanpa membiarkan perhatiannya terpaku pada arah lain.
Dan Sieg disitu, Ia menatap ke arah bunga pemberian Miyu. Dia masih lagi terpikirkan tentang Arti bunga ini.
"Aku akan mati huh? Itu bukan cerita yang lucu." Gumaman Sieg dapat didengari Athanasia yang ada di sampingnya.
Ia pun melihat ke arah Sieg dan dia bisa melihat bahwa Sieg memasang wajah yang penuh kegelisahan. Bukankah dia terlalu memikirkan tentang bunga itu? Kalimat itu terbesit di benak Athanasia.
"Apa anda baik-baik saja Sieg Von Black?"
"... Nah, sekarang apa? Kau mengkhawatirkanku? Leluconmu tidak lucu."
"Saya tidak mengkhawatirkan anda tapi saya hanya ingin bilang jangan terlalu memikirkan tentang Bunga itu. Lagian seperti yang anda katakan, itu hanya Bunga. Tidak mungkin anda akan mati sesuai dengan Realita."
"Kata-katamu sangat pintar. Tapi kau yang tidak tahu apa yang terjadi padaku di masa depan, sebaiknya diam saja."
Bentakan itu membungkam mulut Athanasia dan tidak ada lagi pembicaraan yang terjadi diantara keduanya. Tapi Athanasia masih penasaran akan sesuatu, kenapa Anak seumurannya ini bilang begitu? Bukankah itu hanya Bunga, dan belum tentu juga Sieg akan mati.
Tapi seperti yang dikatakan Sieg. Untuk Athanasia yang tidak tahu masa depan apa yang menantinya, dia bisa mengatakan kalimat seperti itu dengan mudah.
Namun, untuk Sieg sendiri. Dia sangat ingat betul masa depan yang akan menantinya. Masa Depan dimana terjadinya pembantaian disana sini dan perang Kerajaan yang berlaku beberapa tahun yang akan mendatang.
Semua itu disebabkan oleh Last Boss [Demon King : Zaran]. Jadi sebelum itu terjadi, Sieg harus menjadi kuat.
Jika tidak. Maka sesuai dengan Arti Bunga yang dipegangnya, Sieg akan mati.
Dan langkah pertama yang harus dia lakukan adalah turun tangan dalam mengatasi [Event Besar] yang akan terjadi di Ibukota ini.
'Sisa 1 hari lagi...'
...••••••••••••••...
Sekian Sampai disini saja Dulu ya.
Jangan Lupa Dilike, Komen, Share, Vote Dan Rate 5 Bintang
padahal novelnya bagus karena bisa dibuat dengan hati
emosional nya dapet
action nya dapat
alur nya bagus
bahkan cewe² nya cakep uy😋
siapa yang memanggil alucard disini???dingin tetapi tidak kejam