NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Naga

Pendekar Pedang Naga

Status: tamat
Genre:Fantasi / Petualangan / TimeTravel / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:32.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Hashirama Senju

MOHON MAAF, INI NOVEL PERTAMA SAYA, ISINYA MASIH SANGAT BERANTAKAN.LEBIH-LEBIH ALURNYA JUGA LONCAT-LONCAT. BTW LANJUTAN DARI NOVEL INI LEBIH RAPI YA, JUDULNYA PETUALANGAN ZHANG XIUHAN. TRIMS DAN MAAF SEKALI LAGI...

Zhang Xiuhan merupakan pemuda biasa saja yang tak memiliki keahlian bela diri. Meski tak memiliki latar belakang kependekaran, kebaikan hatinya telah berhasil mematahkan Mantera pada Pedang Naga Emas yang kemudian memaksanya untuk masuk dan terlibat di dunia persilatan.


Tak hanya terlibat di dunia kependekaran, Zhang Xiuhan juga melibatkan dirinya dalam memerangi militer Kekaisaran Min yang telah melakukan penjajahan di banyak wilayah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hashirama Senju, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 29 - Mempertontonkan Kemampuan Li Jie

Misi kali ini, Li Jie akan dijadikan tumbal karena ia diminta untuk meninggalkan jejak jurus Es-nya agar semua sekte selamat dari tuduhan.

"Li Jie, kami kira sudah saatnya jurus andalanmu dipertontonkan." Guru Fengying memberitahu Li Jie bahwa para tetua ingin menyaksikan kemampuannya.

Guru Fengying bercerita bahwa selama rapat rahasia, Matriark Wang mendapat banyak nyinyiran karena mengusulkan Li Jie masuk ke dalam bagian dari pengemban misi.

Li Jie dibawa ke lapangan pertandingan yang sudah dihadiri oleh beberapa tetua dan Matriark Wang Chunying. Begitu Li Jie sudah berada di tengah lapangan, Tetua Wen Ling terbang dari tempat penonton menuju ke hadapan Li Jie.

"Bocah kecil, aku mendapat antrian pertama untuk mencicipi kemampuanmu, tolong jangan permalukan Guru Feng di hadapan banyak orang." Tetua Wen Ling adalah orang yang paling tidak mempercayai kemampuan Li Jie.

"Baik, Tetua. Mohon tetua menyiapkan kata-kata pujian untuk Guru Feng." Li Jie paling tidak suka jika ada yang meremehkan Gurunya.

Tetua Wen Ling meludah dengan sinis dan mulai melakukan serangan dari segala arah. Ia melompat-lompat dari satu titik ke titik lain sambil menyabetkan kakinya yang berpisau ke tubuh Li Jie.

"Dia tidak tergores oleh pisauku?"

Tetua Wen Ling berhenti sejenak dan mengawasi Li Jie yang meniru gaya Matriark Wang. Ia berdiri dengan dua tangan di belakang, bedanya, jika Matriark Wang memasang wajah angkuh, Li Jie memilih untuk tersenyum ramah.

Senyuman ramah Li Jie dianggap sebagai hinaan oleh Tetua Wen Ling.

"Kau curang! Aku tidak menggunakan pusaka perisai. Tapi Kau sepertinya memakainya!" Wen Ling tak terima.

"Maaf jika mengecewakan Tetua, tapi Li Jie tak memiliki pusaka yang Tetua maksud." Li Jie masih dengan posisinya berdiri santai dan tersenyum. Membuat lawannya makin merasa dilecehkan.

Li Jie memang sengaja tidak berlaku hormat sebab ia berulang kali melihat Tetua Wen Ling mempermalukan gurunya di depan umum. Kini saatnya memberi pelajaran, pikirnya.

Wen Ling maju mendekat bersiap mendaratkan pukulan, ia semakin kaget melihat Li Jie hanya diam dan tak berniat menghindar atau menyerang.

Begitu pukulan Wen Ling sudah semakin dekat, Li Jie menghentakkan kaki kanannya dan membuat tangan Wen Ling memukul bongkahan es yang cukup keras.

Para penonton berdecak kagum, diantara mereka, guru Fengying yang paling bahagia melihat kejadian itu.

"Tetua, sepertinya Tetua masih bermain-main. Mari lebih serius sedikit."

Ucapan Li Jie membuat Wen Ling murka. Wen Ling menyerang dengan membabi buta. Memaksa Li Jie untuk beranjak dari posisi santainya.

Li Jie mulai melakukan serangan balik karena tetua Wen Ling bertarung dengan sangat serius dan mulai menggunakan pedangnya. Li Jie pun mulai mengeluarkan beberapa jurus yang diajarkan Guru Zhillin.

Semakin lama mereka bertukar jurus, semakin terlihat Li Jie mengungguli Tetua Wen Ling. Hal tersebut membuat guru Fengying melompat ke lapangan untuk menghentikan pertandingan.

Tetua Wen Ling pergi dari arena pertandingan dengan wajah geram. Li Jie memanggil Tetua Wen Ling yang berjalan menjauh menahan marah dan malu.

"Tetua Wen, bagaimana kemampuan murid Guru Feng? Lumayan, bukan?" Li Jie berbicara seolah memberi candaan pada Tetua Wen Lin yang menahan amarah.

Guru Fengying melotot ke arah Li Jie. Lalu beralih melihat ke segenap penonton,

"Tetua-tetua yang terhormat, siapa lagi yang masih ingin bermain bersama Li Jie?"

Mendengar ucapan guru Fengying, para tetua saling berbisik. Mereka tak mau mengambil resiko dipermalukan di depan umum.

"Guru Feng, misi sudah semakin dekat. Kami kira Li Jie lebih baik fokus untuk latihan saja." Tetua Yong Yelu memberi usul dan segera disetujui oleh anggota yang lain.

Matriark Wang Chunying dan segenap tetua dari Sekte Kalajengking Merah membubarkan diri.

"Kerja bagus, Guru Feng." Matriark Wang Chunying memuji Guru Feng sebelum ia berlalu pergi. Pujian yang dilontarkan Matriark Wang tidak terdengar seperti sebuah pujian karena diucapkan dengan ekspresi tegang.

Meski demikian Guru Feng nampak begitu bahagia mendengarnya. Li Jie mendapat cerita dari Lien Hua terkait mengapa guru Feng selalu merasa rendah diri dan tidak gembira.

Guru Feng memiliki ayah yang sangat hebat kemampuan bela dirinya. Hal tersebut membuatnya mendapat banyak cemoohoan sedari kecil sebab ia tak bisa mencapai kesuksesan sebagaimana ayahnya.

Karena dibayang-bayangi oleh kehebatan ayahnya itulah Guru Feng selalu merasa menjadi anak yang gagal. Hal tersebut juga yang membuatnya mengira bahwa ibunya tak begitu menyukainya sebab ia tak mampu menjadi pendekar hebat sehebat ayahnya.

Padahal, Matriark Wang tidak pernah mempermasalahkan kemampuan Guru Fengying yang biasa-biasa saja. Matriark Wang membenci sikap puteranya yang rendah diri dan tidak bersemangat.

***

"Li Jie, aku melihat pertandingan antara Kau dan Tetua Wen. Kukira Kau akan sangat mudah menghabisiku dalam waktu singkat." Lien Hua meracikkan ramuan herbal untuk Li Jie. Ia berusaha menebus kesalahannya dengan merawat Li Jie hingga lukanya sembuh total.

Tapi tentu saja itu hanya alasan belaka. Ia jelas-jelas mulai terpesona dengan ketampanan Li Jie dan berusaha keras untuk menarik perhatiannya.

"Bahkan, dalam kondisi yang masih terluka pun Kau dengan mudah mengalahkan tetua Wen. Pertanyaanku, mengapa Kau mengaku kalah saat bertanding denganku dulu?"

Li Jie diam sejenak. Semua pertanyaan perempuan adalah jebakan. Ia tak boleh menjawab dengan tergesa-gesa.

Setelah diam beberapa lama, Li Jie menjawab,

"Aku sendiri tak mengerti, maaf."

Mendengar jawaban Li Jie, Lien Hua kebingungan mau menyahut bagaimana. Ia sebenarnya mengharap jawaban lain.

"Li Jie, saat kau sedang menjalankan misi, siapa orang yang paling ingin segera Kau temui?"

Lien Hua membawakan ramuan yang telah selesai ia racik. Kini ia duduk di samping Li Jie yang terbaring. Dengan lembut Lien Hua meminta izin untuk memeriksa luka di perut Li Jie.

"Orang yang paling ingin kutemui, Guru Zhillin kurasa."

Wajah ramah Lien Hua menghilang dengan mendadak. Lien Hua menekan luka di perut Li Jie dengan kuat.

"Apakah ini sakit?" Tanyanya dengan ketus. Li Jie mengeluh sakit karena Lien Hua memang menekan lukanya kuat-kuat.

"Tentu sakit. Kau ingin membuatnya menganga lagi?" Li Jie memegangi lukanya yang sakit.

Lien Hua beranjak berdiri. Wajahnya tak lagi ramah.

"Aku akan membunuhmu jika Kau tak segera menyukaiku!"

Lien Hua berlalu pergi sambil menahan amarah. Meninggalkan Li Jie sendirian yang kebingungan dengan tingkah laku perempuan. Kebingungan Li Jie kian menjadi ketika dalam beberapa waktu Lien Hua tergopoh-gopoh masuk ke ruangannya.

"Li Jie, apa yang Kau dengar barusan, aku hanya bercanda. Ingat itu. Hanya bercanda!"

Lien Hua kembali berlalu pergi dan membuat Li Jie menggeleng-gelengkan kepala.

1
Juprianto
bagussss thor
S P Lani
iya makanya otak penulis ini bisa di periksa ga ya kok aneh bin ajaib ide ceritanya ga di pahami .beda bukan berarti bagus penulis loe yg bener aja masuk logika baru orang paham
S P Lani
otak penulis nya kayanya terbalik nih sengklek .musuh tau semua pergerakan tapi mereka buta akan persiapan musuh ngapain novel di buat kalau cuman bacot doang di ceritain ahh novel nya di ganti lah sama yg lain boros boros kuota baca novel beginian
S P Lani
terlalu detail dan bertele tele sedangkan makna ceritanya di singkat boa anjng penulis noh
S P Lani
pendekar nya kaleng kaleng cumannnama aja .
S P Lani
pendekar mati sama anak kecil ga bisa apa apa bukan pendekar kan goblog tingkat dewa penulis nya kalauanada hal seperti itu ngapain jadi pendekar goblog goblog alur cerita yg membagongkann
S P Lani
kemampuan se upil sok Sokan menerabas bahaya .kan punya otak punya perhitungan kalau ga mampu jgn maksa .hrs nya begitu pola pikir penulis maksain tapi mokad urusan nya .goblog penulisnya
S P Lani
katanya jagoan ayah nya aja bisa kalah tapi lawan anak muda maunmokad go blog penulisnya jgn bacot ga jelas jagoan jagoan mokad
S P Lani
kalau jurus ga bisa dinkuasai ngapain di buat itu kan logika nya
S P Lani
males kasih like nya juga novel kaya gini mening di skip ketimbang kasih like
S P Lani
bodoh ini novel bikin malu ceritanya kaya anak TK di atur atur buat markas aja sampe segitu nya .pendekar dianggap anak prosotan TK kkali ya hahaha
S P Lani
ihh salah perhitungan celaka lah dirimu
Mochamad Basori
whuuuuussss
Khairuddin PBBA
Luar biasa
S P Lani
pendekar sedikit sedikit sedih nangis aduh skip aja lah tolol nya penulis udah ga kepikiran
S P Lani
emang tolol penulisnya ga pernah baca reverensi orang lain kayanya ceritanya plet aja ga tau tingkat kultivasi ga tau apa apa katanya cuman nulis aja semua penulis hahahhaha
S P Lani
ga tau kali penulisnya tingkatan pendekar da gak ada keterangan tentang tingkatan nya dari awalnpula
Khairuddin PBBA
Luar biasa
Khairuddin PBBA
iya Thor, LPN hibernasi selamanya keknya padahal ceritanya bagus banget
semangat Thor
Deddy Hermawan
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!