NovelToon NovelToon
Dekapan Atasan Suamiku

Dekapan Atasan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Pengkhianatan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

panggilan dari atasan

Nayla masih memegang ponsel di telinganya ketika mobil Arga menghilang di ujung jalan.

Perempuan berbaju merah muda itu duduk di kursi penumpang depan. Tempat yang dulu sering Nayla duduki ketika Arga mengajaknya makan malam atau sekadar berkeliling kota pada akhir pekan.

Kini tempat itu ditempati perempuan lain.

Nayla menutup mata, berusaha menahan rasa sesak yang kembali memenuhi dadanya.

“Bu Nayla?” suara pria di seberang telepon memanggilnya lagi. “Apakah Ibu masih di sana?”

Nayla membuka mata perlahan. “Iya. Maaf.”

“Apakah Ibu bersedia datang ke kantor hari ini?”

Ia menatap ruang tamu apartemen yang masih dipenuhi sisa-sisa kehidupan normal. Cangkir kopi Arga berada di meja makan. Piring sarapan belum dikeluarkan. Tirai belum dibuka sepenuhnya. Semuanya tampak biasa, padahal dunia Nayla seperti baru saja hancur.

“Jam berapa?” tanyanya.

“Jika Ibu tidak keberatan, pukul sepuluh pagi. Saya akan menunggu di lobi dan mengantar Ibu ke ruangan Pak Raka.”

Nayla melihat jam di ponselnya. Baru pukul 06.43. Masih ada waktu tiga jam.

“Baik,” jawabnya. “Saya akan datang.”

“Terima kasih, Bu. Sampai bertemu.”

Panggilan berakhir.

Nayla menurunkan ponselnya perlahan. Ia tidak langsung bergerak. Ada banyak pertanyaan memenuhi pikirannya.

Mengapa Raka Aditya ingin menemuinya?

Apa yang diketahui atasan Arga tentang urusan rumah tangga mereka?

Apakah Arga melakukan kesalahan di kantor?

Atau, jangan-jangan Raka juga tahu tentang perempuan yang baru saja masuk ke mobil suaminya?

Nayla mencoba mengusir kemungkinan itu. Rasanya memalukan jika orang-orang di kantor Arga mengetahui bahwa suaminya berselingkuh, sementara Nayla adalah orang terakhir yang menyadarinya.

Namun, jika Raka benar-benar tahu sesuatu, Nayla harus mendengarnya.

Ia sudah terlalu lama bersembunyi di balik alasan-alasan Arga.

***

Pukul sembilan lewat tiga puluh menit, Nayla sudah siap.

Ia memilih blus putih sederhana dengan celana panjang hitam. Rambutnya diikat rendah agar terlihat rapi. Tidak ada riasan tebal di wajahnya, hanya pelembap dan sedikit lip balm untuk menutupi bibir pucatnya.

Ketika menatap cermin, Nayla nyaris tidak mengenali dirinya sendiri.

Matanya sedikit bengkak karena semalaman menangis. Wajahnya terlihat lelah. Namun ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya.

Selama ini, Nayla selalu memilih diam agar rumah tangganya tetap terlihat baik-baik saja. Ia menahan pertanyaan, menelan kekecewaan, dan terus mencari alasan untuk membela Arga.

Hari ini, ia tidak ingin lagi menjadi perempuan yang hanya menunggu jawaban.

Nayla mengambil tas, kartu identitas, dan ponsel. Sebelum keluar, ia sempat menoleh ke arah kamar.

Ranjang mereka masih berantakan. Di salah satu sisi, bantal Arga tergeletak miring. Bau parfum suaminya masih tersisa di ruangan itu.

Nayla menutup pintu kamar pelan-pelan.

Entah mengapa, gerakan kecil itu terasa seperti ia sedang menutup sesuatu yang selama ini ia pertahankan.

***

Gedung PT Arunika Properti berdiri di kawasan bisnis pusat kota. Bangunannya tinggi, didominasi kaca gelap dan ornamen logam berwarna abu-abu. Nayla pernah beberapa kali datang ke sana untuk menghadiri acara kantor Arga, tetapi ia tidak pernah masuk sendirian.

Biasanya, Arga akan menggandeng tangannya.

Biasanya, Arga akan memperkenalkan Nayla dengan bangga sebagai istrinya.

Hari ini, Nayla datang membawa kecemasan yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapa pun.

Begitu memasuki lobi, seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun mendekatinya. Ia mengenakan setelan biru tua dengan kartu identitas menggantung di dada.

“Bu Nayla Pradipta?” tanyanya sopan.

Nayla mengangguk. “Iya.”

“Saya Dimas. Asisten Pak Raka. Mari, saya antar.”

Nayla mengikuti Dimas menuju lift pribadi di sisi lobi. Mereka masuk bersama beberapa pegawai lain yang kemudian keluar satu per satu di lantai berbeda. Sepanjang perjalanan, Nayla merasa beberapa orang meliriknya. Ia tidak tahu apakah itu hanya perasaannya, atau memang ada sesuatu yang orang-orang di kantor ini ketahui.

Lift berhenti di lantai dua puluh tujuh.

Dimas mengantar Nayla melewati lorong yang jauh lebih sepi dibanding lantai bawah. Dindingnya dihiasi lukisan abstrak dan beberapa penghargaan perusahaan. Di ujung lorong, terdapat ruangan besar dengan pintu kayu gelap.

Dimas berhenti di depannya.

“Pak Raka menunggu di dalam.”

Nayla menarik napas panjang. “Terima kasih.”

Dimas mengetuk pintu dua kali.

“Masuk,” terdengar suara pria dari dalam.

Suara itu rendah, tenang, dan tegas.

Dimas membuka pintu, lalu mempersilakan Nayla masuk.

Ruangan tersebut luas, tetapi tidak berlebihan. Ada meja kerja besar di dekat jendela, rak buku di sisi kiri, serta sofa abu-abu di dekat meja kecil. Cahaya matahari masuk dari jendela tinggi yang memperlihatkan pemandangan kota.

Seorang pria berdiri di dekat meja kerjanya.

Ia mengenakan kemeja hitam dengan lengan terlipat sampai siku. Posturnya tinggi dan tegap. Rambutnya rapi, wajahnya tegas, dan tatapannya membuat Nayla langsung mengerti mengapa semua orang menyebut Raka Aditya sebagai sosok yang sulit didekati.

Namun tidak ada kesan sombong di wajahnya.

Yang ada justru ketenangan yang aneh.

“Silakan duduk, Bu Nayla,” ucap Raka.

Nayla melangkah mendekat, lalu duduk di sofa dengan hati-hati. Raka ikut duduk di kursi yang berhadapan dengannya, menjaga jarak yang cukup sopan.

“Terima kasih sudah datang,” katanya.

“Pak Dimas mengatakan Bapak ingin membicarakan sesuatu yang penting.” Nayla menggenggam tas di pangkuannya. “Apa ini tentang suami saya?”

Raka tidak langsung menjawab.

Tatapan pria itu turun sesaat pada tangan Nayla yang tampak gemetar, lalu kembali menatap wajahnya.

“Sebelum saya menjawab,” ujar Raka pelan, “saya ingin memastikan satu hal. Apakah Arga pernah membuat Ibu merasa tidak aman atau tertekan di rumah?”

Pertanyaan itu membuat Nayla terdiam.

“Apa maksud Bapak?”

“Jawab saja sesuai kenyataan.”

Nayla menunduk. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan orang asing. Namun entah mengapa, cara Raka berbicara tidak terasa menghakimi. Tidak ada nada ingin tahu berlebihan. Pria itu hanya terdengar serius.

“Arga tidak pernah memukul saya,” jawab Nayla akhirnya. “Tapi akhir-akhir ini dia sering marah. Dia juga… banyak berubah.”

Raka mengangguk pelan, seolah sudah menduga jawaban itu.

“Apakah Ibu mencurigai sesuatu?”

Nayla menatapnya.

Dua kata “Sayang Kantor” kembali terbayang.

Perempuan di mobil Arga.

Pesan-pesan yang mengatakan jangan sampai Nayla tahu.

Bibir Nayla bergetar. “Saya melihat sesuatu pagi ini.”

Raka tidak mendesaknya. Ia hanya menunggu.

“Saya melihat suami saya menjemput seorang perempuan,” lanjut Nayla dengan suara pelan. “Dia masuk ke mobil Arga. Dan semalam… saya melihat pesan dari perempuan itu di ponsel Arga.”

Raka mengatupkan rahangnya. Reaksi itu sangat kecil, tetapi Nayla menangkapnya.

Bukan terkejut.

Melainkan seperti seseorang yang telah mengetahui kebenaran itu lebih dulu.

“Bapak tahu?” tanya Nayla.

Raka menghela napas panjang.

“Saya sudah mencurigainya selama beberapa minggu,” jawabnya. “Di kantor, Arga sering menggunakan alasan pekerjaan untuk meninggalkan tugasnya. Ada beberapa laporan yang terlambat. Ia juga beberapa kali terlihat pergi bersama seorang pegawai.”

“Siapa perempuan itu?”

Raka terdiam beberapa saat.

“Namanya Siska Wulandari. Staf pemasaran.”

Nama itu terdengar asing di telinga Nayla, tetapi kini ia memiliki wajah dalam bayangannya: perempuan dengan blus merah muda yang masuk ke mobil Arga pagi tadi.

“Siska,” ulang Nayla.

Raka mengangguk.

“Apakah mereka…” Nayla tidak sanggup menyelesaikan pertanyaannya.

“Saya tidak ingin mengatakan sesuatu tanpa bukti yang cukup,” potong Raka dengan tenang. “Namun saya memanggil Ibu karena saya tidak ingin Ibu mengetahui semuanya dari orang lain atau dalam cara yang lebih menyakitkan.”

Air mata kembali memenuhi mata Nayla.

“Lebih menyakitkan?” suaranya bergetar. “Apa yang lebih menyakitkan dari ini, Pak?”

Raka menatapnya dalam-dalam. Untuk pertama kalinya, ketegasan di wajah pria itu melunak.

“Melihat suami sendiri bersama perempuan lain,” jawabnya. “Terutama ketika selama ini Anda masih berusaha percaya kepadanya.”

Nayla menunduk agar air matanya tidak terlihat.

Namun satu tetes tetap jatuh ke punggung tangannya.

Ia buru-buru menghapusnya.

“Saya bodoh, ya?” katanya lirih. “Saya selalu membela dia. Saya selalu menganggap dia hanya lelah bekerja. Padahal dia…”

“Kamu tidak bodoh.”

Nayla terdiam.

Raka baru saja memanggilnya tanpa formalitas. Bukan “Ibu Nayla”, melainkan “kamu”.

Pria itu tampak menyadari ucapannya, lalu kembali menggunakan nada formal.

“Maaf. Maksud saya, Ibu tidak bodoh. Percaya kepada pasangan bukan kesalahan.”

Nayla menatap Raka.

Ada sesuatu dalam tatapan pria itu yang sulit dijelaskan. Bukan kasihan. Bukan pula rasa ingin tahu. Seolah Raka benar-benar memahami betapa sakitnya dikhianati.

“Kenapa Bapak peduli?” tanya Nayla tanpa sadar.

Raka terdiam.

Untuk sesaat, wajahnya kembali dingin. Pandangannya beralih ke jendela, ke arah gedung-gedung di kejauhan.

“Karena saya tidak menyukai orang yang menyalahgunakan kepercayaan orang lain,” jawabnya akhirnya.

Jawaban itu sederhana, tetapi terasa menyimpan sesuatu.

Sebelum Nayla sempat bertanya lebih jauh, pintu ruangan tiba-tiba terbuka.

Arga berdiri di sana.

Wajahnya pucat saat melihat Nayla duduk berhadapan dengan Raka.

Tatapannya berpindah dari Nayla ke atasannya, lalu kembali kepada Nayla.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” suara Arga terdengar tajam.

Nayla berdiri perlahan.

Rasa takut sempat muncul di dadanya. Namun setelah melihat kemarahan Arga, sesuatu dalam dirinya justru mengeras.

Ia tidak lagi ingin menjadi perempuan yang selalu diam.

“Aku juga ingin tahu,” jawab Nayla, menatap suaminya lurus-lurus, “apa yang kamu lakukan setiap kali kamu bilang sedang bekerja.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!