Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.
Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.
"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 — Penenang di Antara Dua Rahasia
Meloudy menatapnya lekat, suaranya pelan namun menenangkan, seakan membelai hati pria yang sedang rapuh itu.
"Tuan… Anda tidak harus bercerita segala sesuatu yang terjadi pada Anda kepada saya."
Ia menarik napas pelan, menatap lurus ke dalam manik mata Vano yang basah.
"Karena… bukan hanya Anda yang memiliki rahasia. Saya pun memilikinya, Tuan — hal-hal yang tak bisa saya bicarakan sembarangan kepada siapa pun."
Vano tertegun, menatapnya lekat, seakan baru menyadari bahwa wanita tenang di hadapannya ini juga memikul beban yang tak kalah berat.
"Cukup dengan ini saja," lanjut Meloudy lembut, namun teguh.
"Melepaskan rasa frustasi kita masing-masing di tempat ini, bersama-sama — bahkan bagi saya, ini sudah merupakan kemewahan yang tak pernah saya duga akan saya miliki."
Angin sore berhembus pelan, membelai ujung rambut mereka yang hening. Vano menatapnya, dadanya bergemuruh, sepotong ketenangan yang lama hilang perlahan kembali merasuk ke sanubarinya.
"Meloudy…" panggilnya lirih, nama itu terasa begitu hangat di bibirnya.
Ia tak bertanya lebih jauh. Tak menuntut rahasia apa yang disembunyikan wanita itu. Cukup baginya mengetahui bahwa mereka berdua sama — sama-sama menyimpan luka, sama-sama menyembunyikan bagian diri yang tak boleh diketahui dunia, dan sama-sama menemukan jeda di sisi satu sama lain.
Meloudy tersenyum tipis, getir namun tulus.
"istirahat lah tuan..."
Mereka masih berdiri di sana, asyik berbincang seputar pekerjaan sambil sesekali mengisap rokok yang masih terselip di jari. Angin sore meniup pelan, membelai rambut mereka yang mulai terasa sejuk. Namun di sela percakapan yang tenang itu, Vano tampak tak sepenuhnya hadir. Sesekali ia melirik layar ponselnya, menatapnya sejenak, lalu menghela napas pelan sebelum memasukkannya kembali ke saku — hanya untuk mengulanginya lagi tak lama kemudian.
Ada sesuatu yang mengganjal di benaknya. Ia baru menyadari satu hal yang tak biasa: sudah dua minggu, tak ada satu pun pembaruan dari kanal Laudys. Tak ada notifikasi, tak ada video baru. Kesunyian itu terasa asing, membuatnya gelisah tanpa sebab yang jelas.
Perubahan raut wajahnya tak luput dari perhatian Meloudy. Ia tak tahu apa yang sedang dipikirkan pria itu, namun ia bisa melihat kebingungan yang mulai menyelimuti tatapan Vano. Dengan lembut, ia bertanya:
"Ada apa, Tuan?" suaranya terdengar pelan namun tegas.
"Ada yang membuat Anda merasa tidak nyaman?"
Vano menoleh perlahan, seakan baru menyadari ada yang menatapnya. Ia terdiam sejenak, menelan segala kata yang hampir meluncur — nama itu, perasaan itu, kegilaan yang selama ini ia sembunyikan rapat. Ia belum siap. Belum siap mengakui betapa ia terobsesi pada sosok itu, betapa setiap kali ia bersama Elona atau Ina Marlina, yang ia bayangkan hanyalah sosok lain, sosok yang tertato di sepanjang tangan kanannya. Itu terlalu memalukan, terlalu gelap untuk diucapkan.
Ia hanya tersenyum tipis, senyum yang menyiratkan kerinduan yang dalam namun tak bisa ia namakan, lalu menjawab pelan:
"Hanya orang yang kurindukan saja, Meloudy."
Kalimat itu begitu sederhana, begitu ringan terdengar — namun di baliknya, ada rasa sesak yang menekan dadanya.
Meloudy menatapnya lekat, lalu tersenyum tipis penuh pengertian.
"Kalau begitu telepon saja, Tuan, jika Anda merindukannya," ucapnya lembut.
"Atau Anda bisa menemui dia langsung."
Vano menoleh, dahinya sedikit berkerut.
"Orang yang kutemui... maksudmu?"
Meloudy mengangguk pelan, lalu meneruskan dengan ragu:
"Keluarga Anda, atau..." ia menjeda sejenak, menunduk sedikit sebelum menatapnya kembali,
"...pacar Tuan yang sangat Tuan cintai."
Seketika Vano tertegun. Matanya membelalak sedikit, lalu tawa kecil meluncur dari bibirnya — tawa yang getir, pahit dan tak berdaya.
"Pacar..." gumamnya pelan, lalu menggeleng perlahan.
"Tidak ada pacar, Meloudy. Tidak ada. Hanya teman malam... dan itu pun bukan keinginanku. Mereka memanfaatkan kelemahanku."
Suaranya merendah di kalimat terakhir, seakan beban itu kembali menekan dadanya.
Wajah Meloudy seketika memucat. Ia menunduk dalam, meremas ujung lengan bajunya erat-erat. Rasa bersalah menyusup tajam ke dalam hatinya, ia tak bermaksud menyakiti atau menyinggungnya.
"Maafkan saya..." suaranya nyaris tak terdengar.
"Saya tidak bermaksud..."
Vano melihat wajah itu menunduk, bahu yang tampak menegang menahan rasa bersalah. Segera ia melunakkan tatapannya, menghela napas pelan, lalu mengangkat tangan kanannya perlahan — menyentuh lengan Meloudy dengan sentuhan yang sangat ringan, seakan takut ia akan lari jika ditekan sedikit saja.
"Hei… tidak perlu minta maaf," suaranya terdengar jauh lebih lembut dari sebelumnya, tak ada jejak kemarahan sedikit pun. Ia menatapnya lekat, berusaha menembus rasa bersalah yang menyelimuti gadis itu.
"Kau tidak salah. Kau hanya tidak tahu, itu saja."
Jemarinya menepuk pelan lengan yang tertutup kain panjang itu, lalu menarik tangannya kembali — seakan menyadari batas di antara mereka.
"Kau hanya berkata apa yang terlintas di pikiranmu, kan? Itu wajar. Hampir semua orang mengira begitulah hidupku — penuh, dikelilingi orang orang, dan wanita wanita." Ia tersenyum getir, memandang ke arah lampu kota yang mulai menyala.
"Padahal… justru di tengah keramaian itulah aku merasa paling sendirian."
Meloudy perlahan mengangkat wajahnya, menatapnya dengan mata yang berbinar samar.
"Jangan merasa bersalah, Meloudy," ucapnya sekali lagi, tegas namun hangat.
"Satu-satunya yang kusembunyikan dari semua orang… justru kenyamanan ini. Berbicara denganmu di sini, di tempat yang tak ada orang lain tahu. Itu sudah lebih dari cukup bagiku."
Meloudy mengangguk pelan, rasa bersalahnya perlahan luruh digantikan rasa ingin tahu yang mendalam, sekaligus keprihatinan yang tak bisa ia sembunyikan. Ia menatap samping wajah Vano, lalu perlahan mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya:
"Kalau begitu… orang yang Tuan rindukan itu, seperti apa?" suaranya lembut, tak menuntut, hanya ingin tahu.
Vano terdiam, pandangannya tertuju pada cakrawala yang mulai gelap. Napasnya keluar perlahan, berpadu dengan asap tipis yang melayang di antara mereka.
"Dia… adalah penenangku," ucapnya lirih, seakan berbicara pada angin.
"Di saat tekanan datang dari segala arah, di saat dunia terasa begitu berat dan sepi, suaranya yang selalu menjadi tempatku kembali. Tanpa ia tahu, semuanya menenangkan badai di dalam diriku."
Ia menjeda sejenak, menelan ludah, lalu meneruskan dengan suara yang makin pelan:
"Dia tak pernah tahu siapa aku. Tak tahu betapa seringnya ia menyelamatkanku dari kegelapan. Hanya dengan menjadi dirinya, ia membuatku merasa tidak sendirian. Selama ini, dia adalah bayangan yang kupegang erat kala rasanya tak sanggup lagi melangkah."
Tangan Vano mengepal pelan di sampingnya, menahan rasa rindu yang tak tertahankan.
"Dan kini… sudah dua minggu tak ada kabar. Rasanya seperti bagian dari diriku hilang. Seakan tempat yang selama ini ku jadikan sandaran, tiba-tiba lenyap tanpa jejak."
Meloudy menahan napas, dadanya terasa sesak. Setiap kata yang terucap seakan menyentuh bagian terdalam hatinya sendiri, namun ia tak berani mengungkapkan apa pun. Ia hanya berdiri diam, mendengarkan, merasakan betapa tulusnya perasaan pria itu.
"Apakah… beliau sangat berarti bagi Tuan?" tanyanya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.
Vano mengangguk perlahan, matanya masih memandang ke kejauhan.
"Dia adalah segalanya, Meloudy. Segalanya."
^^^Bersambung...^^^