NovelToon NovelToon
The Moon Curse

The Moon Curse

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Kutukan
Popularitas:339
Nilai: 5
Nama Author: stella bluebell

wanita miskin yg biasa-biasa saja tiba tiba jadi putri bangsawan?
violenne lavienna arabelle wanita biasa berusia 29 tahun,yg bekerja di kota Nanterre,Paris.
Dia adalah wanita yg tidak mendapatkan peran keluarga,dan tidak tahu apa itu 'pulang' dia selalu bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya yaitu memiliki keluarga yg harmonis.

usahanya sedikit lagi akan membuahkan hasil tapi...takdir berkata lain.dia tiba tiba saja mati,bukan tertabrak,bukan tertembak,bukan juga tertusuk,lalu apa?

semuanya terjadi begitu cepat,tanpa ada yg menyadari,ia sendiri juga tidak tahu apa yg sedang terjadi pada dirinya,lalu apakah hidupnya akan berakhir begitu saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon stella bluebell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11 - Rahasia Kegelapan

"Permisi, Nona. Anda dipanggil ke ruang guru," ucap seorang pelayan keluargaku yang memang ditugaskan untuk merawatku selama berada di akademi.

"Baik. Terima kasih, Emile."

Aku berjalan menuju ruang guru akademi meskipun tidak mengetahui alasan mereka memanggilku secara tiba-tiba.

Tok. Tok. Tok.

"Permisi," ucapku pelan sebelum membuka pintu.

Saat memasuki ruangan itu, aku mendapati suasana yang jauh lebih sepi dibandingkan asrama. Hanya ada seorang wanita yang duduk di balik meja di tengah ruangan. Rambutnya pirang terang, sementara mata ungu pekatnya tampak tajam sekaligus dingin.

"Kemarilah, Celestia," ucapnya tenang.

Aku menghampirinya, lalu memberi salam hormat khas bangsawan.

"Senang bertemu dengan Anda. Perkenalkan, saya Celestia Lunastella Celesthior."

"Ah, tidak perlu formalitas denganku."

Ia terdiam sejenak sebelum kembali berbicara.

"Ah, biarlah. Sepertinya kau memang sesuai dengan rumor."

"Ada apa?" tanyaku kebingungan.

"Namamu."

Aku mengernyit heran. Aku baru tahu ada rumor tentang namaku. Memangnya ada apa dengan namaku?

Wanita itu menatapku cukup lama sebelum akhirnya kembali berbicara.

"Kau sebenarnya anak siapa?"

Pertanyaan itu membuatku memasang wajah bingung.

"Tentu saja aku anak Ayahku, Viscount Nytherion Steris Celesthior, dan istri keduanya," jawabku heran.

"Apakah ada masalah?" lanjutku.

Tatapan mata ungunya masih tertuju padaku, seolah sedang memastikan sesuatu.

"Lunastella... itu nama ibuku."

Saat itulah aku akhirnya menyadari siapa wanita yang duduk di hadapanku.

Ia adalah Seraphine Astralune Celesthior.

Kak Sera.

"Bukan. Namun, yang memberiku nama itu memang Ibuku. Beliau menambahkan nama itu untuk mengenang ibumu yang telah meninggal."

Kak Sera tersenyum tipis sebelum mengembuskan napas pelan.

"Tapi karena itu, ibuku sering dituduh berselingkuh."

Aku sedikit membelalakkan mata.

"Rumor itu sama sekali tidak berdasar," ucapku.

"Namun, para bangsawan selalu lebih percaya pada rumor daripada kebenaran," jawab Kak Sera pelan.

"Jadi selama ini kau hidup tanpa mengetahui apa pun?" lanjutnya.

Prinsip hidupku memang tidak pernah percaya pada rumor.

"Huh... sepertinya kau memang benar-benar tidak tahu," ucap Kak Sera sambil mengembuskan napas pasrah.

"Kau belum pernah keluar dari lingkungan keluarga, bukan?"

Aku hanya terdiam.

Sudah kuduga.

Kak Sera mengembuskan napas pelan.

"Bahkan Ayah sampai mengirim ribuan surat kepadaku yang isinya hanya menyuruhku menjagamu."

Tatapannya berubah sedikit rumit.

"Ayah terlalu memanjakanmu. Dasar anak bungsu."

Aku tetap diam, tidak tahu harus menjawab apa.

"Sudahlah."

Ia menghentikan pembicaraan itu, lalu kembali menatapku dengan wajah serius.

"Sekarang jawab pertanyaanku."

"Kudengar kau memiliki sihir elemen kegelapan. Apa itu benar?"

Tubuhku langsung menegang.

Raja pernah berpesan agar aku tidak memberitahukan siapa pun mengenai sihir elemen kegelapanku.

Namun... bagaimana jika Kak Sera memang sudah mengetahuinya lebih dulu?

Apa yang harus kulakukan?

"Iya..." jawabku pelan.

Entah kenapa, bulu kudukku terasa meremang.

Semua kakakku memang terasa menyeramkan.

Kak Sera juga salah satunya.

Tatapan matanya seolah mampu melihat semua rahasia yang kusimpan.

"Kau takut padaku?" tanyanya pelan.

Aku sedikit terkejut, tetapi tetap terdiam.

Bukan... entah bagaimana aku harus menjelaskannya.

"Jadi kau memang takut."

Kak Sera memiringkan kepalanya sedikit.

"Ada apa dengan wajahku? Kenapa banyak orang takut kepadaku?"

Kali ini, nada suaranya terdengar jauh lebih lembut daripada sebelumnya.

"Bisakah kau menunjukkan sihir elemen kegelapanmu kepadaku?"

Aku sedikit ragu, namun akhirnya mengangguk pelan.

Kudengar istri pertama Ayah juga memiliki sihir elemen kegelapan.

Beliau memiliki rambut ungu pastel dengan mata ungu tua, warna mata yang sama seperti Kak Sera.

Aku mengangkat tangan perlahan.

"Kegelapan langit malam... Dark Sky."

Begitu mantra itu selesai kuucapkan, langit yang semula masih terang mendadak berubah menjadi gelap gulita.

Cahaya matahari menghilang, digantikan langit hitam pekat tanpa setitik cahaya, seolah dunia kehilangan sinarnya.

Ruangan itu pun ikut diselimuti kegelapan.

Kak Sera menatap ke sekeliling dengan tenang, lalu menciptakan setitik cahaya kecil yang melayang di hadapan kami.

Cahaya itu menjadi satu-satunya penerang di tengah gelapnya ruangan, membuatku masih dapat melihat wajah cantik Kak Sera.

Mata Kak Sera membelalak sesaat setelah melihat sihirku.

Begitu menyadari keterkejutannya, aku langsung menjentikkan jari untuk menghilangkan langit gelap itu.

Langit buatan tersebut perlahan memudar, lalu cahaya matahari kembali menyinari dunia.

"Celestia..." ujar Kak Sera pelan.

"Kenapa kau bisa menggunakan sihir sebesar itu hanya dengan mantra yang begitu pendek?" lanjutnya.

Aku memiringkan kepala kebingungan.

"Loh? Bukankah biasanya memang seperti itu?"

Kak Sera langsung terdiam sesaat.

"Tidak."

Ia menatapku dengan serius.

"Untuk menggunakan sihir sebesar itu, seseorang membutuhkan mana yang sangat besar dan setidaknya harus merapalkan mantra sepanjang sepuluh kalimat."

Aku sedikit terkejut mendengarnya.

Sekarang aku mengerti mengapa Raja memintaku untuk merahasiakan sihir elemen kegelapanku.

"Tunggu..."

Tatapan Kak Sera tiba-tiba tertuju pada rambutku.

"Rambutmu..."

Aku baru menyadarinya.

Rambutku memang berubah setiap kali menggunakan sihir dalam jumlah besar.

Warnanya akan mengikuti elemen serta jumlah mana yang kugunakan.

Saat ini, sekitar tujuh puluh persen rambutku telah berubah menjadi ungu muda, sementara sisanya masih berwarna perak berkilau.

Perlahan, Kak Sera menundukkan kepalanya.

Air mata mulai menetes dari sudut matanya.

"Kak Sera... kau tidak apa-apa?" tanyaku pelan.

Namun, ia tidak menjawab.

Ia hanya terdiam sambil terus menangis.

"Kalau Kak Sera menangis, nanti kecantikannya hilang, lho."

Entah kenapa, setelah mendengar ucapanku, bukannya berhenti menangis, Kak Sera justru menangis semakin keras.

Krek—

Pintu ruang guru tiba-tiba terbuka.

"Sera! Sera, kamu kenapa?"

Seorang guru wanita berambut cokelat dengan mata hijau berlari masuk dengan wajah panik.

Namun, saat melihatku, tatapannya langsung berubah tajam.

"Pergilah," ucapnya dingin.

Aku hanya terdiam beberapa detik sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu.

Setelah kejadian itu, aku merasa sangat bersalah kepada Kak Sera.

Aku menghabiskan hari-hariku dengan berdiam diri di kamar hingga hari pengumuman hasil ujian tiba.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!