NovelToon NovelToon
The Path To Godhood

The Path To Godhood

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Dikelilingi wanita cantik / Fantasi
Popularitas:406
Nilai: 5
Nama Author: Made Budiarsa

Xuan Han terbangun di dalam gua sembari mengingat kalimat tentang cinta. Ia hanya tahu namanya, tidak ada yang lain, kecuali kalimat itu.
Berbekal rasa penasaran tentang identitasnya ia mulai menelusuri hutan, bertemu para kultivator, hewan-hewan buas dan berbagi hal unik di dunia itu.
Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih dan pada saat ia tahu jika kebenarannya menyakitkan, akankah ia mau menerimanya?

Ikuti perjalanannya yang memegangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zhao Jing’er

Mulut Xuan Han terasa sangat sakit dan tidak nyaman. Kedua matanya terbelalak. Seekor naga masuk ke tubuhnya, bagaimana itu bisa terjadi? Dan mengapa hal menakutkan itu bisa terjadi? Xuan Han jelas tidak tahu. Segera perutnya mengembung dan terasa begitu sakit. Pembuluh darah di seluruh tubuhnya mulai membesar. Bersamaan dengan itu, jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia kejang-kejang menahan sakit yang luar biasa. Sulit menjelaskan penderitaannya, tapi itu benar-benar sangat menyiksa.

Pada kedua pupil mata Xuan Han perlahan-lahan muncul retakan-retakan merah. Ia ingin berteriak melampiaskan rasa sakitnya, tapi tidak bisa. Sementara itu, sang naga terus merangsek masuk dengan kasar. Rasanya benar-benar menyakitkan sekaligus menyeramkan. Xuan Han tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya, ia merasa sangat putus asa.

...----------------...

Setelah melewati malam, matahari perlahan-lahan muncul. Zhao Jing’er membuka jendela. Cahaya matahari yang hangat menyentuh tangan lalu mendarat di wajahnya. Segera ia melihat hamparan pepohonan. Ternyata kota yang sebelumnya terlihat dekat itu sebenarnya jauh. Ia tidak tahu mengapa hal seperti itu bisa terjadi. Jelas-jelas sebelumnya kota itu tampak di balik bukit, sepertinya ia salah menerka.

Di balik bukit itu ada hamparan hutan yang rimbun. Zhao Jing’er awalnya takut dengan para bandit di tempat-tempat sepi, tapi Paman Zhao memintanya tenang dan berjanji akan melindunginya. Melihat wajahnya dan seharian bersamanya, Zhao Jing’er percaya pria itu bukan orang jahat. Jadi, pada malam sebelumnya ia bisa tidur lebih nyaman, walaupun masih menyisakan sedikit kewaspadaan.

Di pangkuannya ada buntalan kain berisi beberapa pakaian. Ia selalu menggenggamnya, takut jika itu hilang. Setelah makanan, hal terpenting kedua adalah pakaian. Dengan pakaian, tubuhnya bisa berlindung. Paman Zhao bilang jangan khawatir tentang makanan, dan karena memang tidak ada persediaan lagi di rumah, pada akhirnya Zhao Jing’er mempercayainya. Memang benar Paman Zhao memberinya makan kemarin sore. Walaupun hanya beberapa buah-buahan, tapi itu lebih dari cukup. Toh, ia juga terbiasa makan hal-hal seperti itu.

Menggenggam ujung kain yang terlipat, tangannya terasa hangat dan menyenangkan. Itu mengingatkannya pada tangan ibunya, atau kakak yang mengasuhnya saat kecil. Kakak itu kini sudah pergi menikah. Terakhir kali saat musim salju tiba, Zhao Jing’er berlari ke rumahnya dan mengetuk pintu dengan kasar sembari memanggil nama kakak itu berkali-kali.

Setelah beberapa ketukan, akhirnya pintu terbuka. Cepat-cepatlah gadis itu mundur. Sembari menyembunyikan kedua tangannya di belakang, ia berusaha tersenyum manis lalu mengajak kakak itu bermain salju.

Kakak itu berwajah cantik. Bagi Zhao Jing’er, ia seperti peri. Bukankah sosok peri itu sering tersenyum, baik hati, cantik, tidak gampang marah, dan suka merias diri? Bagi Zhao Jing’er, kakak itu persis seperti itu. Namun pagi itu sang kakak menggeleng. “Tidak bisa,” katanya pelan.

Maka Zhao Jing’er merajuk dan menggembungkan pipinya. “Kok gitu? Aduh, padahal boneka saljunya sudah manggil ketika Jing’er tidur.”

Kakak itu tidak memberi alasan, ia hanya mencubit pipi Zhao Jing’er agak keras hingga gadis itu protes.

“Lain kali,” katanya.

Saat itu Zhao Jing’er batal bermain salju dan pulang. Lima hari kemudian, sebuah kereta kuda datang ke rumah kakak itu lalu berhenti. Dengan penasaran Zhao Jing’er berlari mendekat. Maka kakak itu muncul dengan gaun merah cantik yang kontras dengan warna salju.

“Kakak, apa sekarang hari raya? Pakaian kakak sangat cantik. Peri, kakak seperti peri! Aromanya juga...” Zhao Jing’er berusaha mengendus dan melanjutkan, “Wangi sekali.”

Kakak itu tersenyum. Ia bersimpuh hingga setara dengan tinggi gadis kecil itu. “Jing’er, ayo peluk kakak.”

Gadis itu ceria, tapi ia teringat sesuatu. “Kakak, aku belum mandi, tidak apa-apa?”

Kakak itu menggeleng pelan.

“Sungguh?”

Kakak itu mengangguk. Dengan riang, Zhao Jing’er berlari menjatuhkan diri ke dalam pelukan sang kakak. Ia merasa hangat, pakaian kakak itu sangat nyaman dan aromanya menyenangkan untuk dihirup.

Setelahnya ia mundur dan bertanya heran, “Kakak belum menjawab, apa sekarang hari raya?”

“Kakak akan menikah.”

Kakak itu segera berdiri dan menatap Zhao Jing’er.

“Ah, aku tahu. Kakak pasti akan pergi ke pesta atau acara, bukan?”

“Menikah. Kakak akan menikah.”

“Menikah?”

Kakak itu hanya tersenyum lalu berbalik pergi. Saat mencapai kereta kuda, ia melempar senyuman pada Jing’er kecil. “Aku akan merindukanmu,” katanya. Lalu kereta pun berjalan.

Mulai saat itu, kakak itu pergi dan Jing’er sangat merindukannya.

Saat bertanya tentang pernikahan pada ibunya, ibu menjawab, “Kamu akan tahu nanti. Lagipula, kelak kamu juga akan menikah.”

“Jika harus pergi meninggalkan desa ini, aku tidak mau menikah.”

Ibunya terkekeh dan mencubit pipinya, membuat Zhao Jing’er mengusap pipinya sendiri.

Kini kakak itu telah pergi, begitu pula ayah dan ibunya. Sekarang, ia juga pergi meninggalkan desa itu.

...----------------...

Zhao Jing’er membayangkan pasti perlahan-lahan desa itu mulai ditinggalkan dan menjadi tempat yang sepi. Entah mengapa ia rindu masa kecilnya, bermain di hamparan salju dan berjalan-jalan. Ia jelas tidak bisa mengulang masa lalu. Dan seandainya ia diberikan kesempatan mengulang, apakah ia bisa mengubah apa pun? Apakah ia mampu menampung sikap dan pemikiran dewasa di dalam tubuh anak kecil?

Di luar, matahari perlahan-lahan naik dan akhirnya kereta berhenti. Paman Zhao menyibak korden.

“Makanlah sebentar.”

Di tangannya ada sebuah tas, ia segera masuk menyerahkannya.

“Terima kasih, Paman.”

Di dalamnya ada beberapa buah-buahan. Ia mengambil buah jeruk kuning indah yang mengingatkannya pada senja yang cerah, lalu segera mengupasnya. Paman Zhao masih memperhatikannya. Karena merasa diawasi, setelah mengupasnya Zhao Jing’er membelah jeruk itu. Sembari mengulurkan setengahnya, ia mendongak. “Paman tidak mau?”

Usia paman itu mungkin sekitar empat puluhan tahun, tapi wajah dan tubuhnya masih terlihat bugar dan mencerminkan banyak kehidupan.

Paman itu tertawa lalu berbalik. “Untukmu saja.”

Zhao Jing’er sedikit memiringkan kepalanya lalu tersenyum. “Paman baik, terima kasih.”

Hanya terdengar tawa sebagai jawabannya.

Zhao Jing’er menikmati buah-buahan itu. Paman Zhao memberi makan kuda sebentar lalu kembali melanjutkan perjalanan.

Si gadis belum pernah keluar dari desa. Ternyata dunia luar memiliki banyak pepohonan, gunung yang tinggi, dan lembah yang dalam. Pada siang harinya, ia mendengar suara air dan mendongak. Ternyata ada air terjun yang terlihat dari kereta kudanya. Lalu akhirnya mereka melintasi sebuah desa.

Di sana Zhao Jing’er melihat seorang anak yang girang menunggang kuda, dengan tali kekang yang dipegang seorang pria, mungkin itu ayahnya. Anak itu menyadari tatapan Zhao Jing’er lalu melambai. Senyuman segera merekah dan Zhao Jing’er menyapanya balik. Ia juga melihat beberapa gadis berlarian sembari memegang baling-baling. Ada juga seorang anak yang sedang belajar mengukir, karena matanya malah menatap Zhao Jing’er, segera tangannya ditepuk oleh seorang wanita bersikap serius di dekatnya.

Pada akhirnya ia melihat beberapa orang berjualan. Berbagai aroma makanan masuk ke hidungnya. Paman Zhao menghentikan keretanya.

“Jing’er, apa kamu mau beli sesuatu?”

1
Pena Quality
saling support
Budiarsa: Terima kasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!