NovelToon NovelToon
SETELAH KITA MEMILIH

SETELAH KITA MEMILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:732
Nilai: 5
Nama Author: yavarnie

Pernikahan Ardan dan Naresa dimulai dengan duka.

Namun, rumah tangga yang mereka bangun perlahan kembali diuji oleh cinta lama yang seharusnya telah menjadi masa lalu, serta cinta dari seseorang yang seharusnya tidak mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang tidak perlu dikatakan

“Itu haus atau gimana dah? Rakus bener,” tanya Kale bingung begitu masuk ke ruang olahraga dan mendapati Ardan sedang meneguk sebotol Aqua berukuran besar. Air itu hampir tandas dalam sekali teguk, seolah-olah Ardan baru saja keluar dari dari padang pasir.

Ardan menurunkan botol dari mulutnya setelah tidak ada lagi yang tersisa. Ia mengembuskan napas panjang, tetapi bukannya terlihat lebih tenang, dadanya justru masih naik turun dengan cepat.

Kale memperhatikan kakaknya beberapa saat. Wajah Ardan terlihat biasa saja, tetapi napasnya tidak. Ada sesuatu yang membuat laki-laki itu terlihat gelisah, meskipun Kale tentu saja tidak tahu apa.

“Lo kenapa, dah?”

Ardan tidak menjawab.

Kale mengangkat bahu. Kalau memang tidak mau bicara, ya sudah. Ia pun meletakkan botol minumnya dan mulai melakukan pemanasan seperti biasa.

Beberapa menit berlalu. Ruang olahraga hanya dipenuhi suara gerakan mereka dan dengung mesin yang sesekali terdengar dari sudut ruangan. Kale yang sedang melakukan peregangan tiba-tiba berhenti ketika suara langkah cepat terdengar dari arah treadmill.

Ardan sudah berada di atas treadmill. Kecepatannya tidak main-main. Kakinya bergerak cepat mengikuti laju mesin,. sementara tubuhnya sedikit condong ke depan. Keringat mulai membasahi rambut dan pelipisnya, tetapi ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin berhenti.

“Gila!” Kale segera menghampiri. “Lo kenapa anjing?”

Ardan tetap berdiri.

“Woi.” Kale akhirnya menjangkau panel treadmill dan menekan tombol berhenti. Mesin itu perlahan melambat hingga akhirnya diam.

Ardan masih berada di treadmill dengan kedua tangan bertumpu di pinggang, berusaha mengatur napas yang sudah berantakan. Keringat mengalir dari pelipisnya menuju leher, membasahi bagian depan kausnya.

Kale menatapnya dengan wajah heran. “Kebiasaan bener dah kalau punya masalah nyiksa diri.”

Ardan menoleh sekilas. Tatapannya membuat Kale tahu bahwa kalimat itu tidak akan mendapat jawaban.

Ardan kembali mengalihkan pandangan. Rahangnya mengeras. Ia tahu dirinya seharusnya sudah tenang sekarang. Ia sudah mencoba minum. Sudah berlari. Sudah membuat jantungnya bekerja lebih keras daripada pikirannya.

Tetapi percuma. Tubuhnya masih menyimpan sesuatu yang sejak tadi berusaha ia tekan. Ardan mengusap wajahnya kasar, kemudian mencengkeram pegangan treadmill. Jari-jarinya menekan begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih.

“Bangsat!” Makinya.

Ardan melepaskan pegangan itu, kemudian berjalan beberapa langkah sebelum akhirnya menjatuhkan diri untuk duduk di lantai. Kedua kakinya diluruskan ke depan, sementara tangannya bertumpu di belakang tubuh untuk menopang berat badannya. Ia menundukkan kepala, membiarkan napasnya kembali teratur.

“Kenapa sih lo?” tanya Kale lagi.

Ardan mengusap wajahnya dengan salah satu telapak tangan. “Nggak kenapa-kenapa.”

“Terus ngapain lari kayak dikejar setan?”

“Pengen olahraga.”

“Olahraga apaan sampai hampir muntah gitu?”

Ardan tidak menjawab. Ia hanya mengambil botol air yang tadi diletakkannya di dekat treadmill.

Kale mendengus. “Berantem sama istri lo?”

Gerakan Ardan terhenti sesaat.

Kale langsung memperhatikan perubahan kecil itu. “Kenapa? Bener?”

“Bukan.”

“Terus?”

Ardan menghela napas. “Nggak ada apa-apa.”

“Bohong lo.”

“Gue cuma lagi kesel.”

“Nah, itu. Kesel kenapa?”

Ardan terdiam cukup lama. “Kadang,” ujar Ardan akhirnya, suaranya lebih rendah, “ada hal yang sebenarnya nggak bisa lo salahin ke siapa-siapa, tapi tetap bikin lo kesel.”

Kale mengernyit. “Apaan dah?”

Ardan bangkit dari lantai dan mengambil handuk yang tergeletak di dekatnya.

Kale masih menatapnya dengan wajah penuh tanda tanya. “Jadi gue nggak boleh tahu?”

“Bukan nggak boleh.”

“Terus?”

Ardan mengusap keringat di tengkuknya. “Memang nggak perlu.”

Kale mendelik. “Idih. Sok misterius.”

Ardan hanya terkekeh kecil. Kemudian berjalan begitu saja menuju pintu.

1
Yavarnie
ada yang sadar nggak nih? wkwk
Yavarnie
loh loh???
tak tahu
kale bawelnya minta ampun
tak tahu
modus?
tak tahu
aku pun begitu tau, kek GK enggeh sama lingkungan sekitar
tak tahu
kale jailnya minta ampun
tak tahu
gila sih, si Ardan kuat bener nahannya 🤣
Yavarnie: Ardan kan laki-laki Sholeh 🤭
total 1 replies
tak tahu
giliran sama orang gaenakan, sama istri seenaknya🙄
Yavarnie: kebanyakan gitu, tapi Ardan enggak kok😍
total 1 replies
tak tahu
hati seorang istri itu luas bgt
Yavarnie: seluas samudera
total 1 replies
tak tahu
nah iya aku pun penasaran, why?
tak tahu
hah? serius?
tak tahu
bener
Yavarnie
apakah Ardan ingin mempunyai istri 2👀
tak tahu
ini mah kesukaan nya si ardan🤭
tak tahu
si Ardan tuh manja bgt ya sis
tak tahu
pewaris pun ada enak gak enaknya ya
tak tahu
ya jangan dibiarin atuh
tak tahu
mantan atlet gak tuh? wkwk🤣🤣
tak tahu
nah bener tuh, bisa sendiri kerjain sendiri
tak tahu
suami kalo di minta tolong emang suka dinanti nantikan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!