Menceritakan soal pemuda bernama Lucien yang dulu dikenal sebagai Ash van Astoria, pangeran keempat yang dibuang karena dianggap gagal. Tidak punya sihir, dihina keluarganya sendiri, lalu dijatuhkan ke jurang demi menjaga "harga diri" kerajaan.
Tapi bukannya mati, ia justru dipilih oleh konstelasi kuno, Ophiuchus.
Sejak saat itu, hidupnya berubah.
Lucien mendapatkan kekuatan langka, kemampuan untuk memanggil dan mewarisi kekuatan dari para rasi bintang. Namun setiap konstelasi hanya akan memberikan kekuatannya kepada orang yang mereka akui.
Ditemani Chiron dari Konstelasi Centaurus, Lucien memulai perjalanan untuk menjadi lebih kuat, menaklukkan ujian para bintang, dan membuktikan kalau "sampah" yang dibuang kerajaan… bisa bersinar paling terang.
Dan ini baru permulaan.
Karena suatu hari nanti, 88 konstelasi akan menjadi kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
A-aku Cuma Mau Periksa Suhu Tubuhmu!
Kesadaran Luc perlahan kembali.
Hal pertama yang ia rasakan adalah dingin.
Bukan dingin yang menusuk seperti hujan di jurang, melainkan dingin lembap yang menempel di pakaian basahnya. Kepalanya masih terasa sedikit berat, seolah baru saja bangun setelah tidur yang terlalu lama.
Lalu ia merasakan sesuatu yang hangat di dekat wajahnya.
Luc mengernyit pelan sebelum membuka matanya perlahan.
"Hm...?"
Pandangannya yang sempat buram mulai menjadi jelas. Dan hal pertama yang memenuhi penglihatannya adalah sepasang mata ungu cerah yang membelalak lebar.
"Lea?" gumamnya pelan.
Jarak mereka terlalu dekat. Luc bahkan bisa merasakan embusan napas hangat gadis elf itu menyentuh wajahnya.
Beberapa helai rambut silver Lea jatuh di sekitar pipinya. Wajah gadis itu tampak dipenuhi kepanikan dan kekhawatiran. Mata ungu cerahnya yang biasanya terlihat tenang kini bergetar gelisah saat terus memperhatikan kondisi Luc.
Bibir mereka... Hampir bersentuhan.
Otak Luc membutuhkan beberapa detik untuk memproses keadaan itu.
"..."
"..."
"Eh...?"
Lea yang sedari tadi menempelkan dahinya sendiri ke dahi Luc untuk memeriksa suhu tubuhnya tiba-tiba membeku.
Tatapan mereka bertemu. Mata ungu cerah milik Lea mulai membesar.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Lalu...
"Kyaaah?!" Lea langsung tersentak mundur seperti tersengat petir.
Karena panik, tubuhnya kehilangan keseimbangan.
"Aduh!" serunya saat jatuh terduduk.
Luc sendiri masih bersandar di dinding sambil berkedip beberapa kali.
"Apa yang terjadi?" tanyanya polos sambil mengusap kepalanya.
Lea buru-buru menunjuk ke arahnya dengan tangan gemetar. Wajahnya memerah sampai ke ujung telinga.
"K-Kenapa kamu tiba-tiba bangun?!" serunya dengan nada panik.
Luc langsung memasang wajah bingung.
"Ya... karena aku udah sadar?" jawabnya jujur.
"Itu bukan maksudku!"
"Terus?"
Lea membuka mulut dan menutupnya lagi. Wajahnya semakin merah.
"K-Kamu..."
"Aku?" tanya Luc sambil memiringkan kepala.
"Kamu..."
Luc mengangkat alis.
"Apa ada yang terjadi waktu aku pingsan?" tanyanya polos.
"Tidak ada apa-apa!" bentak Lea sebelum buru-buru menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Dasar bodoh!"
Luc yang masih setengah sadar hanya memiringkan kepalanya. Ia lalu memperhatikan keadaan sekitar.
Hujan tampaknya sudah sedikit mereda. Sulur-sulur yang diikat menjadi tali tergeletak tidak jauh dari mereka.
Lea juga terlihat basah kuyup. Beberapa helai rambut silvernya menempel di pipi, sementara beberapa daun kecil tersangkut di atas kepalanya.
"Kamu habis ngapain?" tanya Luc sambil duduk perlahan.
Lea yang masih menutupi wajahnya menjawab dengan nada kesal. "Nyari sulur buat narik kamu ke atas! Kehujanan! Terus pas balik, kamu malah pingsan!"
Lea perlahan menurunkan kedua tangannya. Mata ungu cerahnya masih menyisakan kekhawatiran yang belum benar-benar hilang.
"Aku pikir..." suaranya mengecil, "aku pikir kamu kenapa-kenapa."
Luc terdiam.
Baru sekarang ia benar-benar memperhatikan ekspresi Lea. Biasanya gadis itu terlihat tenang. Kadang suka mengejek dirinya. Sesekali juga menunjukkan sisi canggungnya.
Namun sekarang, kecemasan di mata ungu cerah itu terlihat begitu jelas.
Luc menggaruk pipinya pelan. "Maaf," ucapnya sambil tersenyum canggung. "Kayaknya aku bikin kamu repot lagi."
Lea langsung memalingkan wajah. "Hmph."
"Lea?" panggil Luc pelan.
"Aku lagi kesel sekarang," balas Lea tetap memalingkan wajahnya.
"Iya..." Luc hanya bisa mengangguk pelan pasrah.
"Besok-besok kalau mau pingsan, bilang dulu."
Luc menatapnya beberapa detik sebelum tertawa kecil. "Gimana caranya aku bilang kalau aku mau pingsan?"
"Itu urusanmu!" balas Lea kesal.
Luc tidak bisa menahan tawanya lebih lama.
Lea langsung menatapnya tajam. "Kamu malah ketawa?!"
"Soalnya..." Luc menahan tawanya sambil mengusap sudut matanya. "Cara marahmu aneh."
Wajah Lea kembali memerah. "Kamu ini memang nyebelin!"
"Terima kasih udah balik buat nyelametin aku," ucap Luc tiba-tiba.
Kalimat itu keluar dengan sederhana. Tanpa nada bercanda ataupun menggoda.
Lea yang semula hendak membalas langsung terdiam. Ia perlahan menoleh ke arah Luc. Pemuda itu tersenyum kecil ke arahnya.
"Tapi serius," lanjut Luc sambil menggaruk tengkuknya. "Makasih."
Lea memalingkan wajah lagi. "Memang sudah seharusnya," balasnya lirih.
Meskipun begitu, ujung telinganya perlahan memerah.
Luc memperhatikan hal itu beberapa detik. Lalu ia menyipitkan mata. "Ngomong-ngomong..."
"Hm?" sahut Lea tanpa menoleh.
"Tadi pas aku bangun..." ujar Luc sambil menunjuk jarak di antara wajah mereka.
Tubuh Lea langsung membeku. Wajahnya yang sudah memerah kini semakin merah.
"A-Aku cuma periksa suhu tubuhmu!" jelasnya buru-buru sambil melambaikan kedua tangan. "Itu aja! Bukan yang aneh-aneh!"
"Hee..." Luc tampak menatap Lea dengan curiga.
Lea langsung mengambil gulungan sulur di sampingnya lalu memukul bahu Luc. "Berhenti bertanya!"
"Aduh! Sakit!" protes Luc sambil mengusap bahunya.
"Rasain!"
Di tengah hujan yang mulai mereda, suara pertengkaran kecil mereka kembali terdengar.
Dan entah kenapa, setelah melewati ujian Columba yang memperlihatkan seluruh luka masa lalunya, Luc merasa bahwa mata ungu cerah yang menatapnya dengan penuh kekhawatiran itu jauh lebih menenangkan daripada lautan sunyi mana pun.
...----------------...
"Sepertinya Anda berhasil melewati ujiannya."
Suara Chiron terdengar di samping Luc. Tidak seperti biasanya yang tenang dan formal, kali ini ada sedikit nada bangga dan kelegaan dalam ucapannya.
Luc yang baru saja bangun sepenuhnya mengusap tengkuknya pelan sebelum tersenyum tipis.
"Ya," balasnya sambil mengembuskan napas panjang. "Walaupun rasanya cukup berat."
Ia menundukkan pandangannya sesaat. Bayangan tentang ujian Columba masih teringat jelas dalam benaknya.
Kemarahan.
Kesedihan.
Pengkhianatan.
Semua perasaan yang selama ini berusaha ia abaikan dipaksa muncul kembali. Bahkan sampai sekarang, dadanya masih terasa sedikit sesak saat mengingatnya.
"Tetapi Anda berhasil melaluinya," ujar Chiron sambil menganggukkan kepala pelan. "Saya turut bersyukur, Tuan."
Luc tersenyum kecil.
"Jujur aja..." gumamnya sambil menggaruk pipi. "Aku sempat mikir bakal gagal."
"Tapi Anda berhasil melaluinya."
Lea yang sejak tadi masih memegangi gulungan sulur langsung menatap Luc dengan tatapan bingung.
"Kamu ngomong apa sama Chiron?" tanyanya sambil mengernyitkan dahi.
Luc menoleh ke arahnya.
"Hm?"
"Soalnya..." Lea menggenggam sulur di tangannya sedikit lebih erat. "Setelah sekian lama, aku masih nggak ngerti."
Tatapan mata ungu cerahnya tertuju pada ruang kosong di samping Luc.
"Kamu selalu bilang kalau Chiron ada di sampingmu."
"Iya."
Lea menyipitkan matanya. "Dan sekarang kamu kelihatan habis ngalamin sesuatu yang cukup serius."
Luc langsung memalingkan wajah. "Ah, bukan apa-apa."
Lea mengangkat alis. "Bukan apa-apa?"
"Iya."
"Kamu bohong."
"Nggak."
"Kamu jelas bohong."
Luc tertawa canggung sambil menggaruk kepalanya. "Pokoknya bukan sesuatu yang bisa dijelasin dengan gampang."
Sebenarnya ia ingin menghindari pembahasan itu. Bukan karena tidak percaya pada Lea. Namun ujian konstelasi terasa terlalu pribadi. Terlalu banyak hal yang tidak ingin ia ceritakan sekarang.
Lea memandangnya beberapa detik. Mata ungu cerahnya seolah mencoba membaca ekspresi Luc. Namun pada akhirnya, ia menghela napas pelan.
"Ya udah."
"Hm?"
"Aku nggak bakal maksa."
Lea memalingkan wajah sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Tapi kalau suatu saat nanti kamu mau cerita, aku bakal dengerin."
Luc membeku sejenak. Lalu tersenyum tipis.
"Makasih."
Lea langsung mendengus kecil. "Jangan salah paham. Aku cuma penasaran."
"Iya, iya."
Suasana kembali hening untuk beberapa saat.
Hujan yang sebelumnya turun deras kini sudah berubah menjadi gerimis tipis sebelum akhirnya benar-benar berhenti. Udara terasa lebih segar, sementara aroma tanah basah memenuhi sekitar ceruk batu tempat mereka berada.
Luc berdiri perlahan sambil meregangkan tubuhnya.
"Kalau gitu..." ujarnya sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang masih lembap, "kita langsung keluar aja dari tempat ini."
Ia mengangkat kepalanya ke atas.
Sulur-sulur yang sebelumnya dikumpulkan Lea kini sudah terikat dari tepian jurang hingga mencapai ceruk batu tempat mereka berdiri.
"Hujannya juga udah reda," lanjut Luc. "Mending kita cepet naik."
Lea mengangguk pelan. "Ya."
Luc berjalan mendekati sulur tersebut.
Ia mencoba menariknya beberapa kali untuk memastikan kekuatannya. "Nggak putus, kan?"
"Tentu aja nggak," balas Lea dengan nada sedikit kesal. "Aku yang bikin."
"Oke, aman." Luc langsung memegang sulur itu. "Kalau aku jatuh, berarti salahmu."
Lea langsung menatapnya tajam. "Kalau kamu jatuh, aku dorong sekalian ke bawah."
"Uwah..." Meski begitu, Luc tertawa kecil sebelum mulai memanjat.
Gerakannya masih sedikit kaku karena tubuhnya belum pulih sepenuhnya. Beberapa kali ia berhenti untuk mengatur napas, tetapi kali ini langkahnya terasa lebih ringan dibanding sebelumnya.
Mungkin karena ujian Columba telah berakhir. Atau mungkin karena ia tahu ada seseorang yang sudah bersusah payah menyiapkan jalan ini untuknya.
Dari bawah, Lea ikut mulai memanjat.
"Luc."
"Hm?" sahut Luc tanpa menoleh.
"Kamu yakin udah nggak mau istirahat dulu?" tanya Lea khawatir.
Luc berpikir sejenak, lalu tersenyum kecil. "Nanti aja."
"Kamu benar-benar keras kepala," Lea tampak kurang senang mendengar jawaban itu.
"Kata orang yang nyari sulur sendirian pas hujan deras," balas Luc.
"..."
"..."
"Kita impas?" tanya Luc sambil melirik ke bawah.
Lea memalingkan wajah meskipun Luc hampir tidak bisa melihat ekspresinya dari posisi itu. "Hmph."
"Itu iya atau nggak?" tanya Luc dengan nada jahil.
"Cepetan manjat aja!" balas Lea.
Luc terkekeh pelan. "Iya, Bu."
"Siapa yang kamu panggil Bu?!" Suara protes Lea menggema di sepanjang dinding jurang.
Sementara itu, untuk pertama kalinya sejak dibuang ke tempat terkutuk ini, Luc merasa bahwa jalan menuju permukaan tidak lagi terasa begitu sepi. Ia masih belum tahu apa yang menunggu mereka di atas sana.