NovelToon NovelToon
Si Kecil Yang Terbuang (Revisi Pelan-pelan)

Si Kecil Yang Terbuang (Revisi Pelan-pelan)

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daneen_Nis

Si Kecil yang Terbuang

Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.

Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.

Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?

Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 - Isi Buku Harian Clara

Kapel tua yang selama bertahun-tahun sunyi berubah menjadi tempat penuh kepanikan. Anak buah Victor menyerbu ke dalam ruangan, sementara Rangga bersama para pengawal Arsen langsung menghadang mereka.

"Jaga Aluna!" teriak Arsen.

"Siap, Pak!" jawab Rangga.

Aluna memeluk buku harian itu erat-erat. Dadanya berdebar sangat kencang. Ia tahu, apa pun yang terjadi, buku itu tidak boleh sampai direbut.

Victor melangkah perlahan mendekati Aluna.

"Berikan buku itu. Aku masih bisa mengampunimu."

Aluna menggeleng tegas.

"Aku tidak akan menyerahkannya."

Victor tersenyum sinis.

"Keras kepala. Sama seperti ibumu."

Ucapan itu membuat Aluna terdiam sesaat.

"Kau mengenal ibuku?"

Victor tidak menjawab. Ia hanya memberi isyarat kepada anak buahnya untuk terus menyerang.

Arsen langsung menghadang Victor.

"Kalau ingin buku itu, kau harus melewatiku."

Victor tertawa kecil.

"Baiklah."

Perkelahian pun kembali pecah.

Suara benda-benda yang jatuh memenuhi ruangan. Bangku-bangku kayu di dalam kapel berhamburan akibat benturan.

Rangga berhasil melumpuhkan dua orang penyerang, sementara pengawal lainnya menjaga pintu agar Aluna tidak terkepung.

Melihat situasi semakin kacau, Tiara menarik tangan Aluna.

"Luna, ke belakang!"

Mereka berlari menuju ruang kecil di belakang altar.

"Di sini lebih aman."

Aluna mengangguk sambil masih memeluk buku harian itu.

"Nak," kata Tiara pelan.

"Bukalah."

"Apa?"

"Buku itu."

Dengan tangan gemetar, Aluna membuka halaman pertama.

Tulisan tangan yang rapi memenuhi lembaran kertas yang mulai menguning dimakan usia.

"Untuk putriku tersayang..."

Air mata Aluna langsung mengalir.

Ia melanjutkan membaca.

"Kalau suatu hari kamu membaca buku ini, berarti Ibu tidak berhasil menjagamu. Maafkan Ibu karena harus berpisah denganmu. Semua yang Ibu lakukan hanya agar kamu tetap hidup."

Aluna menggigit bibirnya agar tidak menangis keras.

"Namamu bukan Aluna saat lahir. Ibu memberimu nama Alesha Prasetya. Tetapi siapa pun nama yang kamu gunakan nanti, kamu akan selalu menjadi putri Ibu."

Aluna menutup mulutnya.

"Alesha..."

Tiara mengangguk sambil menangis.

"Itu nama yang diberikan ibumu."

Di luar ruangan, suara perkelahian masih terus terdengar.

Arsen berhasil menjatuhkan salah seorang anak buah Victor.

"Victor! Semua ini harus berakhir!"

Victor hanya tersenyum.

"Belum."

Ia mengeluarkan sebuah remote kecil dari saku jasnya.

Arsen langsung curiga.

"Itu apa?"

Victor tertawa pelan.

"Kapel ini terlalu tua."

"Lalu?"

"Sayang kalau dibiarkan tetap berdiri."

Wajah Arsen berubah.

"Kau memasang bom?"

Victor tidak menjawab.

Ia hanya menekan tombol pada remote.

Bip...

Suara alat elektronik terdengar dari bawah lantai kapel.

Rangga yang mendengarnya langsung berteriak.

"Pak Arsen! Ada bom!"

Semua orang membeku.

Victor tertawa puas.

"Kalau aku tidak bisa mendapatkan buku harian itu..."

"...tidak ada seorang pun yang akan membacanya."

Arsen segera berlari menuju ruang belakang.

"Luna! Keluar sekarang!"

Aluna menggenggam buku harian itu erat.

"Tapi—"

"Tidak ada waktu!"

Rangga dan para pengawal segera mengarahkan semua orang menuju pintu belakang kapel.

Hitungan mundur pada alat peledak berbunyi pelan.

00:59...

Victor memanfaatkan kekacauan itu untuk melarikan diri bersama beberapa anak buahnya.

Arsen berhasil membawa Aluna keluar dari kapel, sementara Tiara dan Ratih dibantu Rangga menuju tempat yang aman.

Ketika mereka hampir mencapai halaman, Aluna tiba-tiba berhenti.

"Pak Arsen!"

"Ada apa?"

"Liontin Ibu..."

Liontin pemberian Tiara terjatuh di dalam kapel.

Arsen menoleh ke arah bangunan yang hitungan mundurnya tinggal beberapa puluh detik.

Ia tahu tidak ada waktu lagi.

Namun, melihat air mata Aluna, ia mengambil keputusan yang sangat berbahaya.

"Tunggu di sini."

Tanpa memedulikan teriakan Rangga, Arsen berlari kembali masuk ke dalam kapel yang sewaktu-waktu bisa meledak.

Aluna hanya mampu memandang dengan tubuh gemetar.

"Arsen... jangan..."

Hitungan mundur terus berjalan.

00:21...

Tidak seorang pun tahu apakah Arsen masih sempat keluar hidup-hidup, atau justru akan ikut terkubur bersama semua rahasia yang tersisa di dalam kapel tua itu.

1
Adinda
mungkin victor simpanan istrinya damar bapak kandungnya Keisha
ժׁׅ݊ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊ꫀׁׅܻ݊݊ꪀ_݊ꪀꪱׁׅ꯱: Terima kasih sudah Like dan Komen ka🙏🙏🙏
total 1 replies
Adinda
semoga Aluna bertemu keluarga sebelah ibunya atau kakeknya
Adinda
Aku harapnya Aluna direbut oleh keluarga dari ibunya atau kakeknya yang Kaya biar ayah kandungnya Tau rasa dibenci oleh anaknya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!