Dua penulis rival.
Dua dunia cerita.
Dua takdir yang seharusnya tidak pernah bertemu.
Namun sebuah kecelakaan mengubah segalanya mereka terlempar ke dalam dunia novel yang mereka ciptakan sendiri.
Mo Chen, pangeran ketiga yang dianggap lemah namun menyimpan kekuatan tersembunyi.
Gu Yanran, putri panglima perang yang difitnah dan ditakdirkan mati demi politik kekaisaran.
Masalahnya… mereka tidak masuk ke dunia mereka sendiri.
Mereka masuk ke dunia satu sama lain.
Dan ketika dua cerita yang berbeda mulai menyatu, alur yang seharusnya sudah ditentukan mulai retak.
Kini tidak ada lagi naskah yang pasti.
Hanya satu pertanyaan yang tersisa:
Apakah mereka bisa mengubah akhir… sebelum cerita mengubah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Buruk Para Penyusup
Langit ibu kota masih diselimuti cahaya pagi yang redup ketika Mo Chen berjalan cepat melewati lorong panjang Istana Kekaisaran. Langkahnya terdengar tegas di atas lantai batu, tetapi pikirannya sama sekali tidak tenang.
Sejak semalam, bayangan Gu Yanran terus memenuhi kepalanya.
Ia sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya ia takutkan.
Apakah kehancuran Keluarga Gu?
Atau… kehilangan Gu Yanran?
Mo Chen mengepalkan tangannya perlahan.
Semakin ia mencoba menyangkal, semakin jelas perasaannya sendiri.
Wanita itu perlahan telah menjadi bagian dari hidupnya—bagian yang tidak bisa lagi ia abaikan.
Tak lama kemudian, ia tiba di depan aula utama kekaisaran.
Dua barisan penjaga segera membuka jalan saat melihat kedatangannya.
Seorang kasim tua melangkah maju lalu berseru lantang,
“Pangeran Ketiga menghadap!”
Suasana aula langsung berubah sunyi.
Mo Chen menarik napas pelan sebelum melangkah masuk ke dalam aula megah itu.
Di atas singgasana tertinggi, Kaisar duduk dengan wajah tenang penuh wibawa. Tatapannya tajam, seolah mampu menembus isi hati siapa pun yang berdiri di hadapannya.
Mo Chen berhenti beberapa langkah dari singgasana lalu memberi hormat.
“Ananda memberi salam kepada Yang Mulia Kaisar.”
Kaisar mengangkat tangan pelan.
“Bangunlah.”
Mo Chen perlahan berdiri kembali.
Tatapan Kaisar tidak lepas darinya sedikit pun.
“Ada apa pagi-pagi begini kau datang menghadap?” tanyanya tenang.
Sudut bibir Kaisar sedikit terangkat.
“Ini tidak seperti dirimu biasanya.”
Mo Chen terdiam sesaat.
Ia tahu Kaisar sudah menebak tujuan kedatangannya sejak awal.
Namun ia tetap harus mencoba.
“Yang Mulia…” ucap Mo Chen pelan.
“Hamba ingin meminta izin pergi ke perbatasan untuk menyusul Nona Gu Yanran.”
Suasana aula mendadak terasa lebih dingin.
Tatapan Kaisar berubah tajam.
Namun jauh di dalam matanya, tersimpan kilatan kepuasan samar yang sulit disadari orang lain.
Ia memang sudah menunggu Mo Chen datang.
Semua masih berjalan sesuai permainan yang telah ia susun.
“Kenapa aku harus mengizinkanmu pergi?” tanya Kaisar dingin.
Mo Chen mengepalkan tangannya semakin erat.
Karena ia tahu…
Apa pun jawabannya, Kaisar memang tidak berniat membiarkannya pergi.
Tetapi kali ini, Mo Chen tidak mundur.
“Karena aku harus melindungi calon istriku.”
Jawaban itu membuat suasana aula semakin sunyi.
Tatapan Kaisar menusuk langsung ke arah Mo Chen.
Beberapa pejabat yang berdiri di dalam aula tampak terkejut mendengar keberanian Pangeran Ketiga berbicara seperti itu.
Namun Mo Chen tetap berdiri tegak.
Untuk pertama kalinya sejak masuk ke dunia ini, ia berbicara tanpa berpura-pura.
Kaisar memandangnya lama sebelum akhirnya tersenyum tipis.
Sayangnya…
Senyum itu sama sekali tidak hangat.
“Permintaanmu ditolak.”
Nada suaranya dingin tanpa emosi.
“Keluar.”
Mo Chen perlahan mengangkat kepalanya.
“Kenapa?”
Tatapan Kaisar sedikit menyipit.
“Kenapa Yang Mulia tidak mengizinkan hamba pergi?”
Kaisar tertawa kecil.
Namun tawa itu terdengar sinis.
“Lihat dirimu sekarang.”
“Di mana wibawamu sebagai seorang pangeran?”
“Kau bahkan terlihat seperti kehilangan akal sehatmu.”
Kaisar bersandar santai di singgasananya.
“Bukankah selama ini kau tidak pernah tertarik pada politik?”
“Tidak tertarik pada peperangan.”
“Bahkan urusan istana pun selalu kau hindari.”
Tatapannya semakin tajam.
“Lalu kenapa sekarang kau bersikeras ingin pergi ke perbatasan?”
Mo Chen terdiam.
Pertanyaan itu membuat pikirannya sendiri kacau.
Ia juga tidak tahu kapan semuanya mulai berubah.
Awalnya, Gu Yanran hanyalah karakter dalam novel yang ia tulis.
Seseorang yang memang ditakdirkan mati demi membangun alur cerita.
Namun sekarang…
Ia justru takut kehilangan wanita itu.
Mo Chen perlahan menundukkan pandangannya.
Apakah ia benar-benar sudah jatuh cinta pada Gu Yanran?
Pertanyaan itu terus berputar di dalam hatinya.
Melihat Mo Chen terdiam, Kaisar kembali berbicara.
“Kau tidak bisa pergi.”
Nada suaranya semakin dingin.
“Masih banyak hal yang harus kau selesaikan di ibu kota.”
Mo Chen langsung memahami maksud tersembunyi di balik ucapan itu.
Kaisar sedang memancingnya.
Jika ia memaksa pergi atau membangkang perintah kekaisaran, maka Kaisar akan memiliki alasan untuk menuduhnya sebagai pemberontak.
Keluarga Gu juga akan ikut terseret dan dituduh bersekongkol dengannya.
Itulah tujuan sebenarnya.
Kaisar ingin menjatuhkan Keluarga Gu dengan mengorbankan dirinya.
Dan jika itu terjadi…
Akhir hidupnya akan sama seperti alur asli novel.
Kematian.
Mo Chen menarik napas panjang.
Ia sadar betul bahwa dirinya dan Gu Yanran kini terjebak di antara dua cerita.
Cerita yang ia tulis sendiri.
Dan cerita yang ditulis oleh Gu Yanran.
Karena itu…
Ia tidak boleh bertindak gegabah.
Meski amarah memenuhi dadanya, Mo Chen tetap menahannya.
Tatapannya perlahan kembali tenang.
“Kalau begitu, hamba permisi.”
Setelah memberi hormat singkat, Mo Chen langsung berbalik meninggalkan aula.
Langkahnya tetap tenang.
Namun begitu pintu aula tertutup—
Wajah Kaisar perlahan berubah dingin.
Tatapannya dipenuhi ketidaksenangan.
Permainan yang ia siapkan tidak berjalan sesuai keinginannya.
Mo Chen tidak terpancing.
Dan itu membuat Kaisar mulai merasa keadaan perlahan keluar dari kendalinya.
Sementara itu…
Jauh di wilayah perbatasan.
Angin dingin berembus melewati markas pertahanan desa.
Langit mulai gelap ketika para prajurit menyeret seorang pria masuk ke ruang interogasi bawah tanah.
Kedua tangan pria itu terikat rantai besi.
Tubuhnya penuh luka akibat pukulan sebelumnya.
Namun yang paling membuatnya ketakutan bukanlah rasa sakit itu.
Melainkan sosok wanita yang berdiri di depannya.
Gu Yanran.
Wanita itu duduk tenang di kursi kayu dengan tatapan dingin menusuk.
Cahaya obor yang redup membuat auranya terlihat semakin mengerikan.
Tidak ada emosi di wajahnya.
Tidak ada belas kasihan.
Hanya ketenangan yang membuat siapa pun merasa tertekan.
Gu Yanran perlahan menyilangkan kaki.
“Mulailah bicara.”
Nada suaranya datar.
Namun justru itulah yang membuat suasana semakin mencekam.
Pria itu gemetar.
“A-Aku tidak tahu apa-apa…”
“Aku hanya diperintah memata-matai penduduk desa…”
Belum selesai ia berbicara—
SRAK!
Suara cambuk menggema keras di dalam ruangan.
“AARGHH!”
Tubuh pria itu langsung terjatuh sambil menjerit kesakitan.
Darah mulai merembes dari punggungnya.
Namun ekspresi Gu Yanran tidak berubah sedikit pun.
Tatapannya tetap dingin.
“Di sini,” ucapnya pelan, “kami tidak memberi pilihan.”
Ruangan mendadak terasa semakin berat.
“Hanya ada satu hal yang boleh kau ucapkan.”
“Kebenaran.”
Gu Yanran berdiri perlahan lalu berjalan mendekat.
Langkahnya pelan.
Namun setiap langkah terasa seperti tekanan besar bagi pria itu.
Ia berhenti tepat di depan tahanan tersebut.
Tatapannya turun dingin ke arah pria yang gemetaran di lantai.
“Kalau kau tetap berbohong…”
Suara Gu Yanran terdengar rendah.
“Bahkan kematian pun akan menjadi kemewahan yang tidak bisa kau dapatkan.”
Tubuh pria itu langsung membeku.
Keringat dingin bercucuran di dahinya.
Seluruh ruangan dipenuhi aura mencekam yang menyesakkan.
Para prajurit yang berjaga di sekitar ruangan bahkan ikut menahan napas.
Mereka sudah lama mengikuti Gu Yanran.
Namun setiap kali melihat wanita itu menginterogasi musuh…
Mereka tetap merasa ngeri.
Karena Gu Yanran selalu terlihat jauh lebih menakutkan dibanding algojo mana pun.
Pria itu akhirnya tidak mampu bertahan lagi.
“Baik! Baik! Aku akan bicara!”
Suaranya bergetar penuh ketakutan.
“Tolong… tolong hentikan…”
Ia bahkan tidak lagi meminta pengampunan.
Yang ia inginkan sekarang hanyalah terbebas dari tekanan mengerikan itu.
“Tolong bunuh aku saja…”
Mendengar ucapan itu, beberapa prajurit langsung saling pandang.
Mereka tahu apa artinya.
Musuh di depan mereka lebih memilih mati dibanding terus menghadapi Gu Yanran.
Wanita itu benar-benar telah menjadi mimpi buruk bagi para penyusup dan bandit di perbatasan.
Gu Yanran menatap pria itu tanpa belas kasihan.
“Kalau begitu,” ucapnya dingin.
“Mulailah bicara.”
“Siapa yang mengirimmu?”
Pria itu menggigil hebat sebelum akhirnya membuka mulut perlahan.
Dan malam itu…
Rahasia besar mulai terungkap sedikit demi sedikit di balik bayangan perang yang semakin mendekat.