Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 PGS
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, sudah lima hari setelah kepergian Tri. "Mommy ke mana, kok tumben belum bangun?" gumam Sherina kala melihat meja makan masih kosong.
Sherina berpikir kalau Mommynya mungkin kelelahan dan masih tertidur. Sherina pun mulai memasak sarapan untuk semuanya. Hingga tidak lama kemudian, nasi goreng buatan Sherina sudah selesai.
"Dek, bangun sudah siang!" teriak Sherina.
Sherina mengetuk pintu kamar Mommynya tapi tidak ada jawaban sama sekali. Sherina pun membuka pintu secara perlahan dan terlihat Mommynya masih tertidur. "Mommy, sudah siang!" seru Sherina sembari menggoyangkan tubuh Mommynya itu.
Wita mulai membuka mata tapi wajahnya terlihat sangat pucat. "Ya, Allah Mommy sakit?" tanya Sherina.
"Kepala Mommy rasanya pusing, sayang," lirih Sherina.
Sherina menyentuh kening Mommynya dan ternyata Mommynya demam. "Mommy demam."
Sherina bingung harus melakukan apa. Dia pun mengambil air hangat di dalam baskom lalu mengambil handuk kecil untuk mengompres Mommynya. "Ada apa, Kak?" tanya Syarif yang baru keluar dari kamarnya.
"Mommy demam, Dek," sahut Sherina.
Sherina pun segera masuk ke dalam kamar Mommynya, disusul oleh Syarif. Sherina mulai mengompres. "Mommy sarapan dulu ya, habis itu minum obat," seru Sherina.
"Memang obatnya ada?" tanya Syarif.
"Kayanya gak ada, soalnya kita ga nyetok obat," sahut Sherina.
"Mana apoteknya jauh lagi," seru Syarif.
"Gak apa-apa, nanti biar Kakak yang beli obat," sahut Sherina.
"Sama siapa?"
"Pesan ojeg saja."
"Ya, sudah hari ini gua gak masuk kerja saja. Lu sama gua aja Kak ke apoteknya," seru Syarif.
"Lah, nanti Mommy sama siapa kalau kita berdua pergi," sahut Sherina.
"Gak apa-apa, kalian pergi saja Mommy bisa sendiri kok. Lagi pula jika kamu beli sendirian, takutnya ada apa-apa di jalan jadi lebih baik Syarif antar kamu," lirih Mommy Wita.
"Tapi mau pakai apa, Dek?" tanya Sherina bingung.
"Gua pinjam motor si Badru saja, sebentar Gua hubungi dia," sahut Syarif.
Syarif pun segera menghubungi Badru. "Mommy tidak apa-apa 'kan ditinggal sendiri di rumah?" seru Sherina.
"Tidak apa-apa, kalian cepat saja pulang dan belikan saja Mommy bubur sepertinya Mommy ingin makan bubur," lirih Mommy Wita.
"Iya, nanti Sherina belikan bubur juga."
Tidak lama kemudian terdengar suara motor berhenti di depan rumah Sherina. "Bro, gak apa-apa 'kan gua minjem motor dulu sebentar?" seru Syarif.
"Gak apa-apa, kamu pakai saja," sahut Badru.
Sherina pun keluar dan mengunci pintu rumah. "Kalau seandainya aku gak ada kerjaan, aku yang beliin obat sama Syarif. Tapi sekarang ada panen di kebun aku," seru Badru.
"Gak apa-apa Badru, aku terima kasih karena kamu mau meminjamkan motor," ucap Sherina.
"Santai saja, kalau kalian butuh kendaraan tinggal hubungi aku saja," sahut Badru.
"Sekali lagi terima kasih ya, Bro," sambung Syarif.
"Ok. Kalau begitu aku pergi ke kebun dulu kalian hati-hati," ucap Badru.
Badru pun segera bergegas ke kebun. Sedangkan Syarif dan Sherina pergi ke apotek untuk membeli obat. Sekedar informasi, Mail tidak terlihat karena sudah satu minggu ini dia bekerja ikut proyek bangunan di kampung sebelah jadi dia jarang kelihatan dan kadang-kadang juga dia tidak pulang.
Orang yang selalu memantau rumah Sherina menghubungi Tama. Tama yang saat itu sedang duduk santai di teras rumah merasa sangat bahagia mendengar berita itu. Ia pun bergegas berpenampilan rapi.
"Papa mau ke mana sudah rapi seperti itu?" tanya Mama Ningsih dan mendapat tatapan curiga dari Ariel dan Rossa.
"Mau ke kebunlah, memangnya mau ke mana lagi," sahut Juragan Tama.
"Rapi banget Pa, kaya yang mau bertemu seseorang?" sindir Rossa.
"Bertemu siapa? jangan ngarang kamu, Papa 'kan harus berpenampilan rapi masa seorang Juragan penampilannya dekil," sahut Juragan Tama dengan senyumannya.
Ariel dan Rossa saling pandang satu sama lain. Rossa secara diam-diam mengirimkan pesan kepada Ida untuk memantau rumah Sherina. Dia yakin jika Papanya akan ke rumah Sherina hari ini.
"Lihat saja, jika memang benar hari ini Papa akan ke rumah wanita itu makan hari ini juga aku bakalan mengumumkan kepada semua warga untuk menggerebek rumah itu," batin Rossa dengan mengepalkan tangannya.
Setelah semua warga pergi ke kebun, Tama segera pergi ke rumah Wita. "Kamu jaga-jaga di luar, takutnya ada orang yang lewat," seru Juragan Tama.
"Baik, Juragan," sahut Yosep.
Tama mengambil kunci rumah Wita dari bawah keset. Dia tahu karena orang suruhannya memberitahukan jika Sherina menyimpan kunci di sana sebelum tadi berangkat. Tama tersenyum penuh kemenangan.
"Jika cara halus kamu tidak bisa luluh, maka dengan sedikit paksaan mungkin kamu akan luluh," batin Juragan Tama.
Perlahan Tama membuka pintu rumah Wita, dari kejauhan Ida merekam semuanya atas perintah Rossa. Tama celingukan mencari keberadaan Wita, hingga dia pun melihat pintu salah satu kamar terbuka sedikit. Tama mengintip dan ternyata itu kamar Wita.
Mata Tama melotot, kala melihat Wita tertidur dengan menggunakan daster. Wita memang tidak memakai selimut karena cuaca di kampung itu sedang panas sehingga pagi-pagi pun terasa sangat panas. Awalnya Tama berencana untuk mengancam Wita supaya mau menikah dengannya, tapi melihat kondisi Wita seperti itu justru membuat otak Tama rusak.
"Astaga, tubuh Jeng Wita seksi sekali. Meskipun sudah punya anak dua, tapi Jeng Wita seperti masih gadis," gumam Juragan Tama.
Perlahan Tama masuk, dan duduk di samping Wita yang masih memejamkan mata dengan posisi miring membelakangi pintu. Tama memperhatikan Wita dari atas hingga bawah, membuat Tama semakin na*su dan ingin melakukan hal yang bejad. Tangan Tama mulai menyentuh kaki Wita membuat Wita mengerutkan keningnya.
"Sherina, kamu sudah pulang lagi?" seru Mommy Wita lemah.
Tidak ada jawaban, tangan Tama semakin liar membuat Wita langsung membuka mata. Wita membelalakkan matanya kala melihat siapa orang yang sudah menyentuhnya. "Ngapain kamu ada di sini?" bentak Mommy Wita.
"Jeng Wita, kamu selalu menolak saya padahal saya tahu jika kamu hanya jual mahal. Sekarang tidak ada siapa-siapa di sini, saya ingin membuat kamu bahagia," seru Juragan Tama dengan senyumannya.
Wita langsung bangkit dan berlari ingin keluar dari kamar, tapi sayang Tama lebih cepat dan menahan tubuh Wita lalu menutup pintu kamar Wita. "Mau apa kamu!" teriak Mommy Wita.
"Kamu tidak bisa diajak secara halus, jadi terpaksa saya harus memaksa kamu supaya kamu mau menikah dengan saya," ucap Juragan Tama.
Tama mulai melepaskan bajunya membuat Wita semakin ketakutan dan berteriak. Tama langsung mendekati Wita dan menjatuhkan tubuh Wita ke atas tempat tidur. Wita yang sedang lemah karena sakit hanya bisa menangis dan berusaha pergi.
"Bajingan, keluar kamu dari rumah aku!" teriak Mommy Wita.
Tama tidak mendengarkannya, dia mengambil kain dan membungkam mulut Wita dengan kain itu supaya Wita tidak berteriak. Wita benar-benar sudah ketakutan, air mata sudah terus mengalir. Dia hanya berharap jika pertolongan akan segera datang.
kalian harus perlihatkan siapa kalian biar tama dan yg lainnya kicep, kesel sumpah