"Saya mohon menikah lah dengan putri saya! Putri saya sangat mencintai nak Tomi. Waktu saya tidak lama lagi, dan saya akan pergi dengan tenang jika sonia telah menikah." Tangis Sonia semakin pecah mendengar permintaan Daddy-nya sedang kritis di rumah sakit, kepada pria yang sudah setahun terakhir dicintainya secara diam-diam. Ya, diam-diam, sebab Sonia tidak pernah mengutarakan perasaannya terhadap pria itu kepada siapapun, termasuk pada Daddy-nya.
Sonia memang sangat mencintai pria yang merupakan bosnya tersebut, akan tetapi Sonia juga tidak ingin menikah dengan cara seperti itu. Ia ingin berusaha menaklukkan hati Pria bernama Tomi tersebut tanpa permintaan atau paksaan dari pihak manapun. Namun kondisi Daddy-nya yang sedang sekarat membuat Sonia tak tega untuk banyak berkata-kata, apalagi untuk menolak.
Akankah pernikahan Sonia berjalan layaknya pernikahan bahagia pada umumnya, atau justru kandas ditengah jalan, mengingat Tomi tidak memiliki perasaan apapun terhadap Sonia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30.
Hari ini hanya Sonia yang berangkat ke kampus dengan diantarkan oleh Tomi, sebab Zira memilih membawa mobil sendiri. Jika ditanya mengapa Sonia tidak sekalian berangkat bersama Zira? Tentu saja jawabannya karena Tomi ingin dirinya lah yang mengantarkan Sonia ke kampus.
Seperti kemarin, Tomi mengantarkan Sonia hingga depan gerbang kampus.
"Kalau pulang nanti langsung telepon, biar mas segera menjemputmu!." Pesan Tomi sebelum Sonia turun dari mobil.
"Baik, mas." Senyum yang terpatri indah di bibir Sonia membuat Tomi seakan tak rela bila senyuman itu terlihat oleh pria lain.
"Cukup dihadapan mas saja kamu menunjukkan senyuman kamu itu, sayang!." Mungkin kedengarannya sedikit lebay, namun seperti itulah faktanya, Tomi tak ingin Sonia sampai menunjukkan senyum manisnya itu di hadapan pria lain.
"Iya, mas." Kata Sonia sebelum beranjak.
"Masuklah! Mas akan pergi setelah melihatmu memasuki gerbang kampus." Ujar Tomi.
Sungguh, sikap Tomi yang seperti ini membuat Sonia merasa begitu di cintai oleh pria itu.
Sonia terus mengayunkan langkah menuju gedung kampusnya. Setibanya di lorong kampus, secara tidak sengaja tubuhnya bertabrakan dengan seseorang.
"Maaf, saya tidak sengaja." Dengan perasaan bersalah, Sonia menunduk guna memungut satu persatu lembaran kertas yang berserakan di lantai. Lembar demi lembar di rapikan Sonia dalam genggamannya, sampai dengan tidak sengaja ia membaca salah satu lembar kertas yang berisikan hasil pemeriksaan DNA. Tubuh Sonia terpaku seketika, saat melihat nama suaminya tercetak dengan jelas di lembar kertas tersebut. Sonia sontak menengadahkan kepalanya.
"Nona Cili."
"Nona Sonia." Cili memasang wajah terkejut. Seolah keberadaan Sonia begitu mengejutkan baginya.
"Apa anda kuliah di kampus ini?." Tanya Cili pura-pura tak tahu. Dalam diam Sonia mengangguk pelan, setelah kembali menegakkan tubuhnya.
Sonia berusaha mempertahankan lembar kertas di genggaman tangannya, sementara tatapannya masih terfokus pada Cili.
"Bisa anda jelaskan semua ini, Nona Pricilia Marda!." Ujar Sonia dengan tatapan menuntut.
Cili memasang wajah bersalah, tatapannya pun kini telah berubah sendu. Sungguh, wanita itu begitu lihai memainkan sandiwaranya.
"Maaf."
"Saya tidak butuh permintaan maaf anda, tapi yang saya butuhkan adalah penjelasan anda, nona Cili!." Sonia hampir tak kuasa menahan rasa sesak di dadanya.
"Seperti yang anda lihat, Aku dan Tomi, kami memiliki seorang anak."
Deg
Pengakuan Cili berhasil membuat kedua kaki Sonia lemas seketika. Namun Sonia masih berusaha tegar, ia tak ingin terlihat menyedihkan di hadapan mantan kekasih suaminya tersebut.
"Apa mas Tomi mengetahui keberadaan anak itu?." Mungkin pertanyaan itu sedikit konyol bagi sebagian orang, namun Sonia tetap melontarkan pertanyaan tersebut pada Cili.
"Tentu saja. Bagaimana mungkin seorang ayah tidak mengetahui keberadaan putranya sendiri, Nona Sonia." Jika Cili mengatakannya dengan kasar atau semacamnya, mungkin Sonia akan menaruh curiga. Akan tetapi, Cili mengatakan semua itu dengan gurat wajah penuh kesedihan.
"Bukan hanya sekedar mengetahui, Tomi bahkan sengaja memutus kontrak kerjasama denganku demi menjaga keselamatan putra kami. Tomi tidak ingin sampai kakak sepupu anda, tuan Syabil Fahreza, melakukan sesuatu yang akan membahayakan keselamatan putra kami."
Untuk kesekian kalinya Sonia terlihat syok mendengar pengakuan Cili. Jadi, sejauh ini Tomi menipunya? Sonia merasa hatinya benar-benar hancur, ia merasa tertipu oleh Tomi tentang anak itu. Namun begitu, semua itu tak mampu mengurangi porsi cinta yang dimiliki Sonia untuk suaminya.
"Kenapa kamu harus menipuku seperti ini, mas? Kenapa? Jika kamu jujur tentang keberadaan anak itu, aku pasti bisa menerimanya, bahkan aku akan menganggapnya seperti anak kandungku sendiri." Batin Sonia. Sonia tetap mempertahankan sikap tenang dihadapan Cili. Ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan wanita itu.
"Apa mungkin ungkapan cinta kamu untukku pun hanyalah sebuah tipuan, mas Tomi?." Sonia masih setia membatin.
"Maaf, jika pengakuanku ini melukai hati anda, tetapi seperti itulah kenyataannya, Nona Sonia."
"Tidak perlu meminta maaf, kalau pun apa yang anda katakan benar adanya, tidak akan merubah situasi. Aku tetaplah istri sah nya mas Tomi." Sonia sengaja menekankan kata istri sah agar Cili sadar diri akan posisinya saat ini.
"Sia-lan." Dalam hati Cili mengumpat Sonia. Geram sekali rasanya melihat Sonia masih terlihat tegar, meskipun ia sudah mengatakan hal-hal yang seharusnya mampu meruntuhkan pertahanannya sebagai seorang istri sah.
Merasa pembahasan mereka sudah cukup, Sonia pun berlalu meninggalkan Cili. Ia segera masuk ke kelas untuk menenangkan hati.
Sonia mendudukkan tubuhnya di kursi, menghela napas panjang, seolah saat ini organ pernapasannya membutuhkan pasokan oksigen lebih.
"Oh Tuhanku." Sonia menepuk-nepuk dadanya pelan, berharap rasa sakit di dalam sana sedikit berkurang.
"Sonia...Are you okey?." Tanya Rana ketika menyadari sikap berbeda Sonia.
"Aku baik-baik saja." Sonia mencoba mengulas senyum di atas luka hatinya.
Rana lantas mengangguk, percaya dengan ucapan Sonia.
Setelah semua mata kuliahnya hari ini selesai, Sonia bersiap pulang. Namun, Sonia tidak berniat menghubungi suaminya, ia memilih pulang dengan menggunakan taksi online.
Di tengah perjalanan pulang, ponsel Sonia berdering, dan tertera nama suaminya di layar ponselnya.
"Halo, mas."
"Kamu dimana, sayang?." Terdengar suara bariton milik Tomi dari seberang telepon. Rupanya Tomi sudah tiba di kampus namun kata seseorang yang kebetulan mengenal Sonia, wanita itu baru saja meninggalkan kampus dengan menggunakan taksi online.
"Aku sedang diperjalanan pulang, mas." Jawab Sonia seadanya.
"Pulang? Naik taksi online? Kenapa tidak menghubungi mas, Sonia?." Cecar Tomi yang mengkhawatirkan istrinya.
Sonia berdalih hendak mampir sebentar ke toko buku makanya memutuskan untuk menumpangi taksi online, dan tidak menghubungi Tomi. Jangan pikir Tomi tenang mendengar itu, tentu saja tidak. Karena, Tomi langsung meminta Sonia mengirim alamat toko buku yang hendak dikunjunginya. hingga mau tak mau, Sonia yang awalnya hanya berdalih, kini harus benar-benar mampir ke toko buku.
Sonia lantas mengirim alamat toko buku yang biasa dikunjunginya. Tak berselang lama setelah taksi online yang mengantarkan Sonia tiba di alamat toko buku yang di maksud, mobil Tomi pun tiba di sana.
Tomi langsung beranjak turun dari mobilnya dan menghampiri sang istri.
"Kamu membuat mas cemas, sayang." Tomi memeluk sang istri tanpa peduli dengan keberadaan orang-orang disekitarnya.
"Apa kamu bersungguh-sungguh menyayangi aku seperti panggilan kamu itu, ataukah kamu hanya sedang berpura-pura agar aku merasa disayangi olehmu, mas?." Andaikan rasa cinta dihatinya pada Tomi tidak sebesar itu, mungkin Sonia sudah tidak sanggup menutupi hancurnya hatinya saat ini.
"I love you, mas."
Tomi sontak mengurai pelukannya, menatap manik mata indah milik sang istri.
"I love you more, sayang." balas Tomi dengan tatapan dalam.
Setelahnya, Tomi pun mengajak Sonia memasuki toko buku untuk mencari buku yang diinginkan oleh istrinya itu.
dari kisah keluarga besar orang tua Abil dan Dika juga🤗😍🙏