8 Tahun pernikahan dan di karuniai seorang putri cantik,nyatanya tak mampu meluluhkan hati aldric pada Eveline sang istri.
Pernikahan mereka terjadi karena perjodohan keluarga, Aldric yang mencintai wanita lain namun tak mendapatkan restu dari orang tuanya,dan di desak untuk menerima perjodohan itu akhirnya menerima,namun tak pernah menganggap ada sang istri.
Selama bertahun tahun juga Eveline mengejar cinta Aldric, karena memang dia mencintai laki laki itu sedari lama. Segala cara dia lakukan,bahkan dengan memberikan keturunan bagi Aldric yang dia kira akan membuat laki laki itu menatap ke arah nya.
Namun nyatanya tidak, Aldric tetap sama bahkan setelah ada buah hati di antara mereka. Hingga akhirnya Eveline menyerah mengejar cinta sang suami dan hanya bertahan demi putri mereka mendapatkan figur seorang ayah, walaupun nyatanya tidak Aldric berikan pada putri mereka.
Akankah Eveline benar benar menyerah dan pergi meninggalkan Aldric? atau Aldric akan luluh dan mulai menerima Eve?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon h.alwiah putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30. mulai perubahan baru
Malam itu, atmosfer di kediaman Lucien tidak lagi sebeku biasanya. Meskipun sisa-sisa ketegangan dari isak tangis Sera masih membekas di sudut ruang, ada secercah harapan yang mulai merayap di antara celah gorden yang terbuka lebar. Janji telah diucapkan, dan bagi Sera, janji adalah segalanya.
Sera mengusap sisa air matanya, lalu menatap kedua orang tuanya bergantian dengan mata bulat yang penuh harap. "Kalau begitu, malam ini Sera mau kita tidur bareng. Di kamar Daddy dan Mommy. Sera mau tidur di tengah."
Permintaan itu membuat jantung Aldric berdegup kencang, sementara Eveline hanya bisa terdiam dengan napas yang tertahan. Selama sebulan kebelakang, kamar utama itu hanya menjadi saksi bisu kesendirian Aldric, sementara Eveline memilih mengasingkan diri di kamar tamu lantai bawah untuk menghindari setiap jengkal kenangan pahit.
"Tentu, Sayang. Apa pun untuk Sera," sahut Aldric cepat, suaranya sedikit bergetar karena rasa lega yang luar biasa. Ia melirik Eveline, memohon dukungan lewat tatapan matanya.
Eveline menghela napas panjang. Ia tahu, menolak permintaan ini sama saja dengan merobek kembali luka yang baru saja berusaha ia balut di hati putrinya. "Baiklah, Sera. Malam ini kita tidur bertiga."
Di kamar utama yang luas terasa lebih sempit namun jauh lebih hidup. Sera sudah melompat ke tengah ranjang king size dengan piyama bermotif kelincinya. Di sisi kanan, Eveline berbaring dengan tubuh yang kaku, sementara Aldric berada di sisi kiri.
"Ayo, ceritain tentang putri yang punya istana awan, Mommy!" pinta Sera sambil menarik selimut hingga ke dadanya.
Eveline mulai bercerita dengan suara lembutnya yang menghanyutkan. Aldric mendengarkan dalam diam, matanya tak lepas dari wajah istrinya yang terlihat begitu cantik di bawah temaram lampu tidur. Sesekali, Aldric menimpali cerita itu dengan suara baritonnya, membuat Sera tertawa kecil. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, mereka berfungsi sebagai sebuah unit—sebuah keluarga.
"Sekarang, waktunya tidur," bisik Aldric saat melihat mata Sera mulai memberat.
"Kiss dulu..." gumam Sera lirih.
Eveline mencondongkan tubuh, mengecup pipi kanan Sera. "Selamat tidur, Sayang."
Aldric menyusul, mengecup pipi kiri Sera.
"Mimpi indah, Putri Daddy."
Namun, Sera belum sepenuhnya terlelap. Ia membuka matanya sedikit, menatap Aldric dengan tatapan menuntut yang polos.
"Daddy... Kiss Mommy juga. Teman Sera bilang, kalau Daddy sayang Mommy, Daddy harus kasih kiss sebelum tidur."
Suasana mendadak menjadi sangat canggung. Eveline merasa wajahnya memanas, ia segera membuang muka, menatap ke arah jendela. Aldric menelan ludah. Ia tahu ini adalah wilayah yang berbahaya, namun ia juga tahu Sera sedang menguji kebenaran janji mereka tadi.
Dengan gerakan perlahan dan penuh keraguan, Aldric mendekat. Ia mencondongkan tubuhnya melewati Sera. Wangi parfum vanila dan melati yang khas dari rambut Eveline menyeruak masuk ke indra penciumannya—wangi yang sangat ia rindukan.
Cup.
Sebuah kecupan singkat mendarat di pelipis Eveline. Hanya sekilas, namun efeknya seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuh mereka berdua. Eveline memejamkan mata rapat-rapat, tangannya meremas ujung selimut.
"Sudah, kan? Sekarang tidur ya, Sayang," bisik Aldric dengan suara yang mendadak serak.
Sera tersenyum puas, lalu perlahan napasnya menjadi teratur dan tenang. Ia tertidur pulas dalam dekapan kehangatan yang telah lama ia dambakan. Eveline memeluk Sera erat dari satu sisi. Aldric, dengan tangan panjangnya, melingkarkan lengannya melewati tubuh Sera hingga tangannya menyentuh bahu Eveline, menarik keduanya ke dalam pelukan pelindung. Malam itu, untuk pertama kalinya, benteng es di hati Eveline sedikit retak oleh kehangatan tubuh pria yang pernah sangat ia cintai.
Keesokan harinya
Sinar matahari pagi mulai mengintip, menyinari wajah Aldric yang perlahan terbangun. Ia merasakan sesuatu yang lembut dan hangat di dadanya. Saat matanya terbuka sepenuhnya, ia tertegun.
Entah bagaimana caranya, posisi tidur mereka telah berubah total. Sera, yang tadinya berada di tengah, kini sudah merosot ke ujung bantal di samping Aldric, tertidur dengan posisi melintang. Sementara itu, Eveline berada tepat di pelukan Aldric. Kepalanya bersandar nyaman di dada bidang sang suami, dan tangannya melingkar di pinggang Aldric. Mereka saling berpelukan erat, seolah-olah tubuh mereka mengingat kenyamanan masa lalu yang pernah hilang.
Eveline mengerang kecil, perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah kancing piyama Aldric yang terbuka sedikit, lalu ia menyadari bahwa ia sedang mendekap pria itu. Ia tersentak, wajahnya seketika memerah padam.
"Astaga..." bisik Eveline panik. Ia mencoba mendorong tubuh Aldric dan melepaskan diri, namun lengan kekar Aldric justru refleks mempererat pelukannya.
"Diem, Mom... Daddy masih ngantuk," gumam Aldric dengan suara serak khas bangun tidur, matanya masih terpejam namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang menggoda.
"Aldric, bangun! Ini sudah pagi!" Eveline mendesis dengan suara rendah, takut membangunkan Sera, namun hatinya berdegup kencang karena posisi mereka yang terlalu intim. "Lepasin, ihh!"
"Bentar... lima menit lagi. Rasanya nyaman begini," sahut Aldric, ia justru membenamkan wajahnya di ceruk leher Eveline, menghirup aroma istrinya dalam-dalam.
Eveline membeku. Jantungnya berkhianat, ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa berada dalam dekapan Aldric memberikan rasa aman yang sudah lama tidak ia rasakan. Akhirnya, ia mengalah. Ia membiarkan Aldric memeluknya selama lima menit penuh dalam keheningan pagi yang damai, sebelum akhirnya ia kembali menepuk bahu Aldric dengan tegas.
"Sudah lima menit. Bangun, kita harus mengantar Sera sekolah."
Pagi itu terasa jauh lebih hangat. Meja makan tidak lagi sunyi. Sera bercerita dengan penuh semangat tentang mimpinya semalam, sementara Aldric dan Eveline saling bertukar pandang yang kini tidak lagi penuh dengan duri.
Setelah sarapan, mereka bertiga berangkat bersama. Aldric yang menyetir, dengan Sera yang duduk di belakang terus mengoceh, dan Eveline di kursi penumpang depan. Di depan gerbang sekolah, Sera mencium tangan kedua orang tuanya dengan wajah berseri-seri.
"Dad, Mom, jangan lupa nanti jemput Sera lagi ya! Love you." seru Sera sebelum berlari masuk ke kelasnya.
"Love you too sayang."jawab mereka,sembari melihat kepergian Sera masuk kedalam kelasnya.
"Ayo,mas antar ke galeri."ucap aldric.
"Gak usah mas,aku bisa naik taksi."
"Kalau ada mas kenakalan harus naik taksi,udah yuk. Mulai sekarang mas yang akan anterin kamu."
Eveline pun akhirnya menurut, mereka kembali masuk kedalam mobil. Mobil kembali melaju,keheningan di dalam mobil tidak lagi terasa mencekik. Aldric sesekali melirik Eveline yang tampak sibuk memeriksa jadwal di ponselnya.
"Eve," panggil Aldric lembut saat mereka berhenti di lampu merah. "Terima kasih untuk semalam. Dan terima kasih sudah memberi kesempatan ini demi Sera."
Eveline terdiam sejenak, lalu menoleh. Matanya masih menunjukkan sisa-sisa luka, namun amarah yang membara tempo hari mulai meredup. "Aku melakukannya untuk Sera, Aldric. Aku tidak ingin dia tumbuh dengan perasaan tidak dicintai."
"Aku tahu. Dan aku akan membuktikan padamu, bukan hanya pada Sera, bahwa aku sungguh-sungguh ingin memperbaiki ini semua. Aku tidak akan memaksamu menerima galeriku atau uangku lagi jika itu membuatmu merasa rendah. Aku akan mendukungmu dengan caramu," ucap Aldric sungguh-sungguh.
Eveline tak menjawab apapun lagi,dia tak ingin terlalu banyak berharap. Jikalaupun aldric benar benar berubah,aldric tak akan hanya berucap dengan kata kata tapi dengan tindakan nya.
Mobil berhenti tepat di depan gedung butik Eveline yang sedang dalam tahap renovasi. Eveline bersiap untuk turun, namun langkahnya tertahan saat Aldric meraih lembut tangannya,hingga Eveline mendekat ke arah aldric.
Tanpa di sangka aldric membubuhkan kecupan di kening Eveline.
"Semangat untuk hari ini, Eve. Kalau ada apa apa kabarin mas."
Eveline menatap tangan Aldric yang menggenggamnya, lalu perlahan menariknya kembali. "Terima kasih, Mas. Mas juga semangat,hati hati di jalan."
Meskipun panggilannya masih terdengar formal, penyebutan "Mas" yang sudah lama hilang itu bagai oase di padang pasir bagi Aldric. Ia memperhatikan punggung Eveline yang menjauh masuk ke dalam galerinya dengan senyum yang tak bisa disembunyikan.
smoga segera launching adikmu