Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.
Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.
Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.
Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.
Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Saat Saka Menemukan Arti Bahagia
Bagi sebagian orang, cinta pertama adalah tatapan. Bagi Saka, cinta pertamanya adalah kebaikan.
...Happy Reading!...
...*****...
Pernah mendengar bahwa uang tidak menjamin kebahagiaan, tetapi kebahagiaan bisa didapat dengan menggunakan uang?
Terdengar kejam, tetapi itulah kenyataan hidup yang berjalan di dunia ini. Ya, meskipun uang memang tidak bisa membeli segalanya, tetapi segalanya pasti membutuhkan uang.
Saka pernah berpikir, untuk apa hidup menjadi orang kaya jika tidak pernah merasakan kebahagiaan yang orang lain rasakan?
Lebih baik menjadi orang biasa tetapi bisa bahagia, daripada menjadi orang kaya yang bahkan tidak tahu makna kebahagiaan itu sendiri.
Sampai saat ini, Saka tidak pernah benar-benar tahu apa itu kebahagiaan. Ia merasa seakan belum pernah benar-benar merasakannya.
Hidupnya dari luar terlihat sempurna. Tapi jika orang tahu seberapa kelam kehidupannya, mereka mungkin akan berpikir puluhan kali sebelum menjalani takdir hidup seperti Saka.
Sejak kecil, ia dituntut untuk selalu belajar. Membaca buku adalah aktivitas yang tidak pernah ia lewatkan. Jika sampai ia tidak membaca minimal dua buku dalam sehari, ayahnya bisa marah. Dan hukumannya? Menulis rangkuman dari buku setebal kamus bahasa Inggris.
Ayahnya tidak pernah benar-benar memperlakukannya sebagai anak, melainkan sebagai mesin yang diprogram untuk berguna di masa depan.
Sungguh miris. Saka bahkan tidak tahu rasanya bermain bersama teman sebayanya. Ia bahkan tidak paham apa artinya jatuh cinta.
Jangankan cinta, yang ia pikirkan hanyalah bagaimana menyelesaikan semua buku yang ia pinjam dari perpustakaan kota.
Ya, Saka hampir setiap hari pergi ke perpustakaan kota. Di rumah sebenarnya sudah ada perpustakaan pribadi milik ayahnya. Tapi entah mengapa, ia merasa lebih bebas saat membaca di tempat umum.
Setiap sore, ia selalu pergi ke perpustakaan kota. Terkadang, ia sempatkan untuk duduk di bangku taman kota yang kebetulan letaknya berdekatan dengan perpustakaan kota sambil membaca buku bisnis yang direkomendasikan ayahnya.
Hari itu pun sama. Saka duduk sendiri di bangku taman. Tapi konsentrasinya terganggu oleh suara tawa seorang perempuan dari kursi di dekatnya.
Refleks, Saka menoleh. Seorang perempuan sedang tertawa, memegang selembar kertas, menggambar anak-anak kecil berbaju lusuh yang sedang berpose di hadapannya.
Anak-anak itu tampak begitu riang. Perempuan itu tersenyum sambil menunjukkan sketsa gambar mereka.
"Nih, gambar kalian sudah jadi," ujarnya.
Anak-anak itu langsung berkerumun, berebut melihat hasil gambar.
"Mana? Kami mau lihat?"
"Gantian, ya. Jangan berebut," jawabnya sabar.
Saka memperhatikan dari kejauhan. Perempuan itu begitu telaten menjawab setiap pertanyaan anak-anak tersebut. Ada kehangatan yang tidak dibuat-buat.
Saka tidak tahu apa yang lebih menenangkan - tawa perempuan itu, atau cara jemarinya menari di atas kertas.
"Kak, kalau gambar ini buat kita, boleh dibawa pulang?" tanya salah satu anak.
"Tentu boleh."
"Tidak perlu bayar, kan? Kami tidak punya uang."
"Tidak perlu. Ini buat kalian," jawab perempuan itu sambil tersenyum.
"Terima kasih, Kak."
"Sama-sama."
Anak-anak itu pun pamit. Perempuan itu mengangguk dan melambaikan tangan. Saat ia sedang membereskan barang-barangnya, seorang wanita paruh baya mendekat.
"Mbak, kok mau-maunya bergaul sama anak jalanan?" tanya wanita itu dengan nada sinis.
"Memangnya kenapa, Bu? Apakah ada yang salah?"
"Ya... tidak salah sih. Tapi mereka itu kan miskin. Bau. Ganggu banget."
Perempuan itu tersenyum kecil. "Bu, semua orang berhak bahagia. Kaya ataupun miskin, tidak ada yang berbeda. Kita semua sama."
Saka mendengarkan. Ucapan perempuan itu membuatnya diam.
"Kebahagiaan tidak selalu didapat dengan cara mahal. Terkadang, kita justru bahagia saat melihat orang lain bahagia karena bantuan kita," lanjut perempuan itu. "Saya salah satu orang yang merasakannya."
Wanita paruh baya itu pergi dengan ekspresi tidak puas. Tapi perempuan itu tetap tersenyum, lalu berjalan meninggalkan taman kota dengan langkah ringan.
Saka tidak bisa berhenti memikirkan ucapannya. Mungkinkah kebahagiaan bisa sesederhana itu?
Keesokan harinya, setelah keluar dari perpustakaan, Saka berniat kembali ke taman kota. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat seorang nenek menyeberang jalan dengan sangat lambat. Sebuah mobil melaju cepat dari arah berlawanan.
Tanpa berpikir panjang, Saka berlari, menarik sang nenek, dan menjatuhkan diri ke tepi jalan. Nenek itu mendarat di atas tubuh Saka.
Suara rem mendadak terdengar memekakkan telinga. Orang-orang mulai mengerumuni mereka.
Saka tampak kacau. Bajunya kusut, sikunya berdarah, bukunya tergeletak di pinggir jalan. Tapi yang ia pikirkan hanya satu.
"Nek, apa nenek baik-baik saja? Perlu ke rumah sakit?"
"Nggak usah. Nenek baik-baik saja. Kamu sendiri gimana?"
"Aku baik. Yang penting nenek nggak apa-apa."
Beberapa saat kemudian, seorang anak kecil berbaju lusuh menghampiri. Cucu sang nenek. Mereka berdua pergi, sementara Saka bangkit perlahan dan memungut bukunya.
Darah di sikunya tidak terasa sakit. Yang aneh justru dadanya - terasa hangat, tapi bukan karena luka.
Saat itulah ia melihat perempuan dari taman kemarin. Perempuan itu berdiri tidak jauh, lalu berjalan pergi. Saka menatapnya diam-diam dan tersenyum.
Hari itu, untuk pertama kalinya, Saka merasa bahagia.
Bukan karena uang. Bukan karena pencapaian. Tapi karena ia menolong seseorang.
Sejak saat itu, Saka mulai suka membantu orang lain. Bukan karena ingin dipuji, tapi karena itulah makna kebahagiaannya.
Membantu orang lain terasa seperti hobi baru.
Seperti pagi ini.
Saka hendak berangkat ke kantor ketika melihat Cayra dan ayahnya mengotak-atik motor di depan rumah.
Awalnya ia tidak peduli. Tapi entah kenapa, kakinya melangkah menghampiri.
Ia bertanya apa yang terjadi. Ayah Cayra menjelaskan bahwa motor itu mogok dan tidak ada yang bisa mengantar Cayra karena adik dan kakaknya sedang sibuk.
Saka menawarkan tumpangan. Ia menjelaskan bahwa ia dan Cayra sekarang bekerja sama dalam proyek Manterra.
Ayah Cayra menerima tawaran itu dengan senang hati. Ia menyuruh Cayra berangkat bersama Saka. Cayra tampak ragu, tapi akhirnya setuju.
Dalam perjalanan, suasananya kaku. Saka sempat menyesal karena menawarkan diri. Tapi saat melihat Cayra menatap jendela mobil, ia tahu, ia tidak akan pernah menyesal.
Karena dari Cayra pula, ia belajar bahwa kebahagiaan bisa hadir dengan cara paling sederhana.
Membantu orang lain. Termasuk membantu perempuan yang pernah mengajarinya cara tersenyum, bahkan sebelum ia tahu caranya.
Dan di hari itu, Saka bukan hanya menemukan kebahagiaan. Ia juga merasakan cinta pertama yang selama ini tak pernah terlintas dalam pikirannya.