Aruna pernah memiliki segalanya — cinta, sahabat, dan kehidupan yang ia kira sempurna.
Namun segalanya hancur pada malam ketika Andrian, pria yang ia cintai sepenuh hati, menusukkan pisau ke dadanya… sementara Naya, sahabat yang ia percaya, hanya tersenyum puas di balik pengkhianatan itu.
Kematian seharusnya menjadi akhir. Tapi ketika Aruna membuka mata, ia justru terbangun tiga tahun sebelum kematiannya — di saat semuanya belum terjadi. Dunia yang sama, orang-orang yang sama, tapi kali ini hatinya berbeda.
Ia bersumpah: tidak akan jatuh cinta lagi. Tidak akan mempercayai siapa pun lagi.
Namun takdir mempermainkannya ketika ia diminta menjadi istri seorang pria yang sedang koma — Leo Adikara, pewaris keluarga ternama yang hidupnya menggantung di antara hidup dan mati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novia na1806, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30 -- konflik kecil aruna
Matahari Surabaya pagi itu seperti sedang unjuk gigi. Sinar emasnya menembus tirai kamar hotel Aruna tanpa permisi, memenuhi ruangan dengan cahaya yang terlalu cerah untuk seseorang yang baru tidur tiga jam.
Udara yang masih bercampur aroma AC membuat kontras dengan panas di luar, namun sama sekali tidak membantu mood Aruna. Ia hanya bisa menatap langit-langit beberapa detik sambil mencoba mengumpulkan kesadaran yang tercecer.
Alarmnya berhenti bekerja sejak pukul enam lewat sedikit. Aruna baru benar-benar bangun satu jam kemudian, dan itu membuatnya duduk tegak seperti zombie yang baru dihidupkan ulang. Ia meraih karet rambut di atas bantal dan menatap jam lagi dengan pasrah.
“Oke,” gumamnya lirih. “Aku telat lima puluh tujuh menit, tapi… hidup masih bisa diselamatkan.”
Namun optimisme itu langsung runtuh ketika ia membuka koper. Isinya yang sudah ia tata rapi semalam, kini berjatuhan ke lantai seperti pakaian-pakaian itu sedang berdemo.
Blouse, blazer, celana, dan rok saling menumpuk tanpa belas kasihan. Aruna menghela nafas panjang sambil menatap kekacauan itu, seolah berharap pakaian-pakaian itu bisa kembali melipat dirinya sendiri.
“Aduh… jangan bilang ini pertanda buruk,” keluhnya.
Setelah memilih pakaian kerja dengan kecepatan yang tidak manusiawi, ia masuk ke kamar mandi dengan niat ingin mandi air hangat untuk memulai hari. Sayangnya, niat itu dipatahkan secara brutal oleh shower hotel. Saat ia memutar tuas air panas, yang keluar justru semburan air dingin seperti air gunung.
“Aaaaaah!”
Aruna melompat mundur sambil memeluk dirinya sendiri. Air dingin memercik ke lantai, membuatnya bergidik keras.
Ia mencoba memutar tuas lagi, berharap itu hanya keisengan kecil. Namun hasilnya sama: air dingin, sedingin harga diri yang pecah karena mantan selingkuh di kehidupan sebelumnya.
“Selamat pagi juga, dunia yang penuh konspirasi,” desisnya sambil memaksa dirinya mandi cepat.
Lima belas menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi dengan rambut sedikit acak dan pipi memerah karena dingin. Meski begitu, ia berhasil berdandan cukup baik. Foundation merata, riasan tipis menutupi kelelahan yang tersimpan di bawah mata, dan bibirnya tampak segar dengan lipstik merah muda natural. Rambutnya sedikit mengembang, namun masih bisa diatur dengan sisir bulat.
Ia mengenakan blouse putih, blazer abu muda, dan celana panjang yang membuatnya terlihat profesional, meski dalam hatinya ia sedang mempertanyakan seluruh keputusan hidupnya.
Ketika hendak keluar kamar, tumit sepatunya justru tersangkut karpet.
BRAK!
Aruna hampir menubruk pintu.
“Astaga, Aruna Surya, kamu ini istri CEO atau badut sirkus?” gumamnya kesal. Ia memijit hidung sendiri dan menghela napas panjang. “Untung tidak ada yang lihat…”
Sayangnya, ketika pintu lift terbuka, seorang bellboy berdiri di dalam dengan mata terbelalak. Ia melihat ujung sepatu Aruna yang masih menyentuh karpet, lalu menatap wajah Aruna dengan ekspresi canggung.
“…Pagi, Nona.”
Aruna pura-pura batuk sambil masuk lift. “Iya, pagi. Jangan ditiru.”
Mobil dinas yang dikirim ayah nya menunggu di depan hotel. Sopir segera membuka pintu, memberi salam sopan, dan Aruna masuk dengan elegan—setidaknya lebih elegan daripada kejadian barusan.
“Surabaya cerah sekali ya,” gumamnya sambil melihat keluar jendela. Ia mencoba menghirup udara kota itu dan berharap hari ini tidak seburuk pagi tadi. “Semoga suasananya lebih bersahabat daripada kamar hotelku.”
Namun begitu mobil tiba di depan gedung Surya Group cabang Surabaya, suasana justru jauh dari bersahabat. Beberapa karyawan terlihat bermuka panik. Ada yang jalan cepat sambil membawa map, ada yang berdebat sambil menggenggam laptop, dan ada yang menatap layar HP dengan wajah seperti baru melihat neraka.
Aruna mengangkat satu alis.
“Saya curiga…” gumamnya pelan. “Drama belum selesai.”
Baru saja kakinya menginjak lobby, sekretaris cabang berlari menghampirinya dengan ekspresi hampir menangis.
“Nona Aruna! Maaf sekali, tapi sistem presentasi pagi ini tiba-tiba error!”
Aruna menatapnya beberapa detik tanpa ekspresi. “Error? Lagi-lagi hantu sistem?”
“Bukan begitu!” sekretaris itu menelan ludah. “Sepertinya seseorang mengubah file utama di server. Tim IT sedang memeriksanya.”
Aruna menarik napas panjang. “Baik. Atur ulang rapat sepuluh menit lagi. Saya ingin lihat langsung ruang servernya.”
Karyawan itu mengangguk cepat, lalu berlari pergi.
Aruna berjalan melewati lobby dengan langkah mantap. Suasana kacau itu justru membangkitkan naluri kepemimpinannya. Ada sesuatu yang tidak beres, dan ia bisa merasakannya seperti bau asap sebelum kebakaran terjadi.
“Ada aroma sabotase,” gumamnya tanpa suara.
Matanya menyipit. “Mari kita lihat siapa yang berani bermain di wilayahku.”
Sepuluh menit kemudian, rapat dimulai dengan suasana tidak menentu. Data presentasi utama rusak, grafik hilang, dan beberapa file tidak dapat dibuka. Beruntung Aruna membawa flashdisk cadangan yang berisi backup data pribadi. Ia mengambil alih layar presentasi, mengatur ulang slide, dan mulai memimpin rapat dengan tenang.
Suasana perlahan stabil. Para karyawan mulai fokus. Tuan Rendra, direktur cabang, tampak lega. Namun tepat saat Aruna mulai menjelaskan strategi jangka panjang, pintu ruang rapat perlahan terbuka.
Seorang pria masuk dengan langkah mantap dan percaya diri. Jas abu yang pas badan, kemeja putih yang rapi, kacamata tipis yang membuatnya terlihat semakin dewasa, dan aura profesional yang tenang namun berwibawa.
William.
Aruna tak sengaja terhenti selama satu detik—lebih karena terkejut melihat wajah lama yang dulu pernah mengisi masa-masa sekolahnya.
“Kita bertemu lagi rupanya,” ucap William dengan senyum kecil yang hangat, senyum yang dulu sering ia tunjukkan saat menjadi ketua kelas.
Beberapa karyawan saling berbisik pelan. Nama William cukup terkenal—reputasinya di dunia bisnis bukan main.
Aruna menghela napas ringan sambil tersenyum samar. “Aku tidak menyangka Surabaya bisa memanggil konsultan secepat ini. Apalagi… konsultan yang pernah satu kelas denganku.”
Tuan Rendra terlihat agak gugup saat berdiri. “Nona Aruna, saya memanggil Tuan William sebagai konsultan eksternal. Kami pikir bantuan tambahan akan mempercepat progres.”
Aruna mengangguk pelan, tatapannya melunak karena kenangan lama muncul tanpa diminta. “Tidak apa. Senang juga bertemu teman lama. Apalagi ketua kelas paling cerewet yang pernah kubilang sok sibuk.”
Beberapa orang langsung menahan tawa.
William terkekeh pelan, matanya memperhatikan Aruna dengan cara yang jelas tidak sekaku rekan kerja biasa. “Aku memang sibuk, tapi dulu kamu yang paling sering minta contekan, kalau tidak salah.”
Aruna memutar matanya kecil, wajahnya sedikit memerah. “Itu fitnah. Aku cuma memastikan nilai kita tidak terlalu jauh bedanya.”
Suasana yang sempat tegang berubah hangat, tetapi tetap ada sesuatu—sesuatu seperti tarikan halus antara dua orang yang pernah punya cerita yang hampir terjadi tapi tidak pernah benar-benar dimulai.
William kemudian duduk, tetap mempertahankan senyum yang tenang. “Tenang saja. Aku di sini untuk bekerja dengan baik.”
Aruna menatapnya sebentar, lalu mengangguk. “Baik. Kita mulai saja. Sepertinya rapat ini jadi lebih menarik dari yang kukira "
Baru satu jam berlalu setelah William masuk, namun energi ruangan berubah drastis. Aruna tetap memimpin rapat dengan tegas, sementara William beberapa kali memberikan komentar strategis yang cerdas namun terkesan terlalu cepat. Sesekali mata mereka bertemu, seperti dua pemain catur yang memahami bahasa diam.
Ketika rapat hampir selesai, seorang staf IT tiba-tiba menerobos masuk sambil terengah.
“Nona Aruna! Seseorang masuk ke ruang server! Kami dengar suara benturan keras!”
Ruang rapat mendadak senyap.
Aruna berdiri secepat kilat. “Kunci semua pintu keluar gedung! Jangan biarkan ada yang kabur!”
Ia langsung keluar, melangkah cepat di lorong marmer yang dingin. Suara langkah sepatunya terdengar jelas dan mantap, menciptakan gema kecil yang menambahkan kesan urgensi.
Sesampainya di depan ruang server, pintunya terbuka lebar. Lampu di dalam berkedip-kedip, membuat ruangan tampak seperti set film thriller.
“Siapa di sana?!” seru Aruna sambil melangkah masuk.
Tidak ada jawaban. Hanya suara dengungan server dan hembusan AC.
Ia melangkah lebih dalam.
Seketika, sebuah bayangan bergerak di atas.
BRAK!
Sebuah pipa besi jatuh mendadak, hampir menghantam kepalanya.
Aruna berjongkok refleks, napasnya terkejut. “Hebat,” gerutunya sinis. “Pagi ini lengkap. Mandi air dingin, hampir nabrak pintu, sekarang mau dihajar pipa besi. Tinggal meteor saja yang belum.”
Ia baru hendak bangkit ketika suara tembakan menggema.
DOR!
Lampu pecah.
Cahaya menyebar, dan dari antara bayangan muncul sosok tinggi dengan mantel hitam panjang dan topeng emas-hitam yang menutupi separuh wajahnya. Langkahnya pelan namun mantap, seolah setiap gerakan sudah diperhitungkan.
Pria bertopeng itu.
Pria misterius yang selalu muncul di waktu kritis.
Aruna mendecak. “Kamu lagi? Kamu muncul lebih sering daripada notif promo Shopee-ku.”
Leo menatap penyerang yang terkapar di lantai, lalu matanya beralih kepada Aruna. Diamnya terasa dingin, namun perhatian itu jelas. Ia memeriksa Aruna dari atas hingga bawah, seolah memastikan wanita itu tidak terluka.
“Terlambat dua detik,” keluh Aruna sambil menyilangkan tangan. “Aku hampir jadi berita nasional: ‘Pewaris Surya Group dihajar pipa misterius di Surabaya’.”
Belum sempat Leo menjawab, suara langkah cepat terdengar dari koridor.
“Aruna!”
William muncul dengan napas terengah, dan matanya langsung tertuju pada Leo.
Dan dalam hitungan detik, udara di ruangan berubah seperti suhu turun lima derajat.
Tatapan mereka bertemu.
Dingin.
Tajam.
Penuh peringatan.
William menegakkan tubuhnya. “Sepertinya aku datang saat yang tepat.”
Leo tidak bergeming. “Kau seharusnya tidak ada di sini.”
William tersenyum tipis. “Kau juga.”
Aruna memandang keduanya sambil menekan pelipis. “Serius? Kalian mau pamer testosteron di depan server yang hampir meledak?!”
Kedua pria itu sama sekali tidak mengindahkan protesnya.
William mendekat sedikit. “Aruna, kau baik-baik saja?”
“Saya baik,” balas Aruna cepat. “Yang tidak baik itu hubungan kalian berdua.”
Leo akhirnya menoleh sedikit kepada Aruna. “Dia tidak perlu ikut campur urusanmu.”
William mengangkat alis. “Dan kau tidak perlu muncul setiap kali dia dalam bahaya. Terlihat… terobsesi.”
Leo menajamkan tatapan, sementara Aruna membeku.
“Astaga,” gumam Aruna. “Aku punya dua pria yang saling menatap tajam seolah aku hadiah undian. Tolong… aku cuma ingin kerja.”
Ketegangan semakin meningkat hingga hampir terasa seperti listrik.
Aruna akhirnya berteriak, “Cukup! Kalian mau berantem lanjut nanti! Di sini bukan cage fight!”
Mereka berdua diam… tapi jelas belum selesai.
...----------------...
Setelah penyerang diamankan, tim keamanan mengecek seluruh gedung. Situasi akhirnya kembali stabil. Aruna mendapat laporan bahwa server diutak-atik secara manual, bukan sekadar disusupi dari jarak jauh. Pelaku tampaknya seseorang yang mengenali struktur gedung Surya Group.
Aruna duduk di ruang kerjanya sambil menyesap kopi hangat. Rasanya pahit, namun jauh lebih menenangkan daripada kejadian lima jam terakhir.
Di luar ruangannya, ia mendengar suara William memberi arahan kepada tim IT dengan nada tegas. Laki-laki itu tampaknya memutuskan untuk memperpanjang masa tugasnya di cabang Surabaya.
Di sisi lain, sosok bertopeng hitam itu sudah menghilang seperti biasa—seolah ia hanyalah bayangan yang datang dan pergi sesuka hati.
Namun keberadaannya masih terasa.
Seolah udara di ruangan belum kembali normal setelah ia pergi.
Aruna memejamkan mata sebentar. “Kalau kamu terus muncul begini, jantungku beneran bisa berhenti.”
Ia mengangkat pandangan ke langit Surabaya. Senja telah mulai turun, memberikan warna jingga dan keemasan pada kota.
Aruna tersenyum kecil sambil memutar cangkirnya pelan.
“Hidupku resmi masuk genre drama-romantis-sabotase,” ujarnya pelan. “Dan kalau begini terus… aku butuh asuransi untuk jantungku sendiri.”