Sakitnya dikhianati pria yang dicintainya, membuat Amanda Adelia menjadi frustasi, ia pergi ke club malam dan tidak sengaja tidur dengan seorang pria bernama Brian Marcelino Bramasta. Namun, tidak disangka-sangka pria itu justru paman dari mantannya, Reno Bramasta.
Bagaimana kisah mereka?
follow akun IG othor Marica-Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gangguan dari Reno
"Amanda, aku duluan ya," kata Hana sambil membereskan barang-barangnya.
"Iya, nanti aku menyusul," balas Amanda dengan ramah.
Hanya tinggal dirinya sendiri di tempat itu. Amanda segera menyelesaikan pekerjaannya.
Beberapa saat kemudian ia telah menyelesaikan semua pekerjaannya, Amanda keluar dari ruangan tersebut. Berjalan seorang sendiri di lorong panjang lantai itu. Suasana sangat sepi nyaris tak ada suara.
Tidak ada rasa takut, Amanda terus berjalan dengan langkah mantab namun penuh kehati-hatian. Sesekali mengusap perutnya yang masih rata.
"Ayo kita temui ayahmu," gumamnya seolah bayi dalam perutnya bisa merespon perkataannya.
Namun, di tengah perjalanan seseorang menghadang langkahnya. Tanpa izin, orang itu menghimpitnya di antara dinding bahkan mengunci pergerakannya, tak memberikan ruang sedikitpun. Amanda jelas terkejut lantaran dirinya merasa terjebak.
"Hai--lepaskan!" Mata Amanda terbelalak saat pandangannya bersirobok dengan Reno, orang yang tak ingin dirinya lihat. "Kamu." Amanda mengangkat kedua tangannya, menaruhnya di depan dada Reno agar tubuh mereka tidak saling menempel.
"Hai, Sayang. Kamu merindukanku?" tanya Reno dengan penuh rasa percaya diri.
Amanda menatapnya dengan dingin, bibirnya melengkung dalam senyuman sinis seolah sedang mengejek Reno. "Heh, maaf jika aku membuatmu merasa seperti itu."
"Jangan munafik, Sayang. Aku tahu kamu merindukanku. Aku bisa melihat dari matamu," kata Reno, sengaja merendahkan suaranya, mencoba untuk menembus pertahanan Amanda. Tangannya kemudian terulur, ingin menyentuh pipi Amanda, namun sebelum ia benar-benar melakukan itu Amanda lebih dulu menepisnya.
"Don't touch me!" larang Amanda. "Lebi baik kamu menyingkir dariku atau aku akan beteriak."
Mendengar itu, Reno tersenyum jahat dan juga menantang, suaranya nyaris seperti sedang berbisik. "Do it. Lagi pula tidak ada orang di sini. Lantai ini kosong bukan. Lalu siapa yang akan mendengar teriakanmu."
Ketegangan dan perasaan resah mulai merayap dalam tubuh Amanda. Andai saja dirinya tidak ingat ada nyawa di dalam perutnya, Amanda akan memberikan pukul kepada pria yang ada di hadapannya saat ini. Namun, Amanda merasa takut jika pergerakannya akan menyakiti bayinya.
"Apa maumu sebenarnya?" tanya Amanda dengan napas yang mulai tidak beraturan lantaran menahan amarah.
"Aku mau kamu," jawab Reno diikuti senyuman nakalnya.
"Jangan bermimpi!" tekan Amanda.
Senyuman yang terukir di bibir Reno mulai luntur. Kepercayaan dirinya seketika hancur oleh perkataan Amanda. Kilatan amarah pun mulai muncul dan terlihat di mata pria itu.
"Cih, kamu berani sekali menolakku." Wajah Reno mulai mengeras, dalam sekejap tangannya mencengkram leher Amanda, membuat wanita itu mendongak.
Amanda mulai merasakan takut dengan situasi saat ini. Apalagi saat melihat kemarahan di mata Reno. Rasanya ia ingin menangis, tetapi mencoba bertahan, berharap seseorang akan datang menolong.
"Lepaskan aku! Jangan ganggu aku lagi!" Amanda mencoba menarik tangan Reno dari lehernya, tetapi tenaganya kalah.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" ejek Reno, nada bicaranya semakin menyesakkan.
"Kamu sudah gila, Reno. Kamu mengkhianatiku dan sekarang kamu memaksaku kembali padamu. Apa Jolie tidak cukup untukmu?" geram Amanda. Suaranya pecah di antara kemarahan dan kepedihan.
"Ck, Amanda. Jolie itu membosankan. Dia itu juga sangat cerewet," kata Reno, nada bicaranya dibuat seolah dirinya amat frustrasi.
Amanda sendiri tidak bersimpati sedikitpun justru menatap Reno dengan perasaan jijik.
"Kau pikir aku peduli. Itu masalahmu dengan dia." Dengan sisa tenaganya Amanda mendorong tubuh Reno, membuat punggung pria itu menabrak tembok di belakangnya.
"Berani sekali kamu!" Jangan ditanya seberapa marah Reno saat ini. Pria itu terlihat kalap dan kembali ingin mendekati Amanda.
"Stop! Jaga batasanmu, Reno!" Amanda menunjukkan telapak tangannya yang terbuka hingga membuat langkah Reno terhenti.
Mata Reno seketika terbelalak, tatapannya terpaku pada cincin yang melingkar di jari manis Amanda. Ia lantas menarik pergelangan tangan Amanda untuk melihat cincin itu lebih jelas. "Cincin? Kamu sudah menikah?"
"Ya, aku sudah menikah!" Amanda menarik tangannya dari Reno, tak sudi disentuh oleh mantan kekasihnya itu.
"Jangan bohong!"
"Nggak ada gunanya juga aku bohong," kata Amanda dengan tegas.
"Heh." Reno tersenyum sinis, mulutnya pun meluncurkan hinaan untuk Amanda. "Siapa pria yang mau menikahi wanita nggak jelas dan mis—"
PLAK
"Watch your mouth, Reno!"
Amanda terkejut dan langsung melihat ke asal suara. Rupanya Brian yang memberikan tanpa untuk Reno. Senyuman terukir di bibirnya, perasaannya pun menjadi lega melihat suaminya datang.
"Paman." Reno terbelalak saat melihat keberadaan Brian. Dalam hati, Reno mengumpat lantaran Brian selalu saja ikut campur di dalam urusannya.
Brian sendiri melirik malas ke arah sang keponakan, kemudian menarik Amanda, menyembunyikan wanita itu di belakang tubuhnya.
"Jangan bertingkah kurang ajar!" kata Brian pelan tetapi dipenuhi tekanan.
"Ini bukan urusan Paman," kata Reno.
"Apa kamu lupa, Reno. Ini kawasanku," kata Brian tegas dan penuh arti.
Tidak butuh banyak kata untuk menjelaskan siapa yang berkuasa di tempat itu.
Reno berdecih, lantas menatap tajam ke arah Brian. "Kenapa? Apa Paman menyukainya? Bukankah Paman sudah memiliki tunangan?"
Suasana menjadi hening seketika, udara tiba-tiba terasa berat seolah atmosfer di tempat itu mulai menipis. Di antara mereka, Amanda adalah orang yang paling terkejut mendengar hal itu sampai tidak tahu harus bicara apa. Ucapan Reno berhasil mengubah ritme degub jantungnya.
Mendadak pikiran Amanda menjadi kalut. Kata 'tunangan' terus berdenyut di kepalanya, menenggelamkan pikirannya. Ia lantas menatap Brian dengan perasaan kecewa yang tak bisa ia sembunyikan.
"Sebaiknya saya pergi. Permisi." Tanpa bicara apa pun, Amanda pergi meninggalkan tempat itu.
Brian melihatnya, namun tak menghentikan kepergian sang istri. Setelahnya, ia menatap Reno dengan tatapan tajam. "Ubah sikap dan sifatmu jika kau ingin menjadi seorang pemimpin."
"Cih, Paman tidak perlu mengguruiku," desis Reno membuat Brian mendengkus lantas pergi meninggalkan tempat itu.
Brian kembali berjalan dengan diikuti oleh asisten pribadinya, Alan. Sambil melangkah, ia mencoba menghubungi Amanda, tetapi wanita itu menolak panggilannya.
"Bawa istriku ke ruanganku!" perintahnya.
"Baik, Tuan." Alan membungkuk sebagai bentuk penghormatan dan setelahnya pergi untuk menemui nyonya mudanya.
***
"Pak Alan, ada apa anda ke sini?" tanya Jolie.
Alan tidak menjawab, tatapannya hanya terpaku pada sosok Ananda.
"Kau ikut aku!" ucapnya pada Amanda.
Amanda nampak tidak peduli, ia masih kesal saat mengetahui sang suami sudah memiliki tunangan.
"Saya tidak mau. Suruh saja yang lain," tolak Amanda dengan wajah kesal.
"Kalau dia tidak mau, saya bersedia." Jolie mencoba merayu Alan, tetapi pria itu tak memperdulikannya.
"Jika Anda tidak mau. Anda tahu akibatnya, bukan," kata Alan setengah mengancam Amanda.
Mata Amanda terbelalak lantas mengerucut sebal, "Iya, iya aku ke sana."
Setelahnya Amanda melangkah mengikuti Alan masih dengan perasaan kesal.
Tidak berselang lama mereka sampai di ruangan Brian. Hanya Amanda yang masuk, sedangkan Alan berjaga di luar.
"Ada apa?" tanya Amanda ketus.
Brian tidak langsung merespon perkataan Amanda, ia menepuk pahanya, memberikan isyarat pada sang istri untuk duduk di atas pangkuannya.
"Aku nggak mau," tolak Amanda.
Brian menatap tajam ke arah Amanda, membuat wanitanya itu merasa ngeri sendiri.
"Iya, iya aku duduk, tapi jangan menatapku seperti itu." Amanda berjalan dan duduk di pangkuan Brian seraya melipat kedua tangannya.
Brian langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang Amanda, berjaga-jaga jika sang istri kehilangan keseimbangan tubuhnya.
"Marah?" tanya Brian.
"Kamu pikir saja sendiri," balas Amanda dengan wajah kesal.
"Cemburu?" tanya Brian lagi.
"Nggak!" balas Amanda.
"Lalu kenapa sikapmu seperti ini?" tanya Brian.
Amanda menoleh ke arah Brian, menatapnya dengan kemarahan dan kekecewaan yang tak bisa ia sembunyikan.
"Kamu sudah memiliki tunangan, kenapa menikahiku? Pria memang semuanya sama. Dasar berengsek!" makinya.
"Dia hanya tunangan dan kamu istriku dan ibu dari anakku. Kedudukanmu lebih tinggi darinya," kata Brian dengan santai.
"Tapi nanti kau pasti akan menikahinya, bukan," tebak Amanda.
"Siapa yang bilang?" tanya Brian.
"Aku, apa kau tidak dengar tadi," jawab Amanda dengan ketus.
Brian terkekeh pelan lantas menarik Amanda ke dalam dekapannya. "Kalau begitu tunjukkan pada semua orang jika kamu istriku, makan perjodohan kami akan batal."
rupanya hanya anak adopsi koq belagu banget🤣🤣🤣