Bagi sebagian orang hal pertama yang terpikirkan saat mendengar kata ‘ibu tiri dan saudara tiri’ pastinya tergambar ibu tiri dan saudara tiri yang galak dan jahat sama seperti cerita- cerita dongeng yang sering di tonton dalam film kartun waktu anak- anak. Dan mungkin itulah yang ditakutkan Elisabeth.
***
“ Elisa, kenalkan ini Berta dan anaknya Ezra.”ucap George suatu hari.
“ siapa mereka, Dad?” heran Elisa.
“ ini adalah kekasih ayah dan anaknya, aku harap kalian berteman akrab, dia lebih tua darimu 3 tahun, jadi nantinya ia akan jadi kakak darimu dan Adrian.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 Kejutan
Saatnya Ezra pulang kantor, kali ini Robert ikut sebagai supir yang menemani Elisa dan Ezra.
“ kita mau kemana? Sampai Robert ikut dengan kita.”
“ aku ingin memberi kejutan Elisa, perjalanan yang cukup jauh dan hari yang mulai gelap membuatku memutuskan meminta tolong dia membawa kita ke tempat tujuan kita.” ucap Ezra menggenggam tangan Elisa karena melihat ELisa yang mulai gelisah. Ini bukan perjalanan menuju rumahnya ataupun rumah Ezra ataupun tempat ayah Ezra.
Karena perjalanan cukup jauh dan lelah karena seharian diajak Ezra kekantornya tanpa sadar Elisa tertidur di pundak Ezra. Atau mungkin Ezra- lah yang menarik kepala Elisa agar bersandar di bahu- nya. Elisa semakin lelap tertidur karena Ezra mengelus rambut Elisa senantiasa memberi kenyamanan untuk Elisa. Diam- diam robert tersenyum hangat melihat tuannya bisa tersenyum bahagia seperti itu. Ezra yang selama ini Robert kenal selalu dingin pada lawan- lawannya selalu kaku pada semua perempuan yang mendekatinya. Menolak para perempuan dengan pandangannya. Ezra memang dermawan dan suka memberi namun selama ini wajahnya tak pernah sebahagia ini saat ini wajahnya seolah menemukan kepingan puzzle dalam hatinya yang telah hilang.
Jam menunjukkan pukul 8 saat mereka tiba di tempat yang Ezra inginkan dengan pelan dan hati- hati membangunkan Elisa.
“ El, bangun El.” ucap Ezra lembut.
” em? Ini dimana?” ucap Elisa menggeliat pelan dan mendapati di tempat yang belum pernah dilihatnya.
“ keluarlah.” ucap Ezra menyuruh Elisa keluar.
“ Ezra? Ini?” ucap Elisa terbata melihat pemandangan didepannya.
“ mungkin kamu tidak ingat, Elisa, namun ini akan selalu menjadi kenangan dan mungkin ikatan yang membuatku selalu mengingatmu.” ucap Ezra merangkul Elisa. Dan mengeluarkan kertas gambar yang sudah sangat lama sekali namun selalu terawat.
“ saat kita kecil, kita berjanji akan selalu bersama selamanya, membangun rumah dibawah tanah seperti yang ada di cerita dalam dongeng yang di sekelilingnya adalah taman bunga yang indah dan taman air.” ucap Ezra menuntun Elisa masuk ke rumah yang di buat Ezra.
“ ini indah Ezra.” ucap Elisa kagum.
“ aku sudah mewujudkan rumah yang ada dalam impian kita El, sekarang maukah kamu memenuhi impianku? Impian yang membuat hatiku terikat padamu?” ucap Ezra mendekati Elisa.
“ apa itu?” heran Elisa.
“ hidup bersama Elisa.” ucap Ezra berlutut di hadapan Elisa.
“ sama- sama sebagai keluarga namun sebagai istriku, Elisabeth Walker, maukah kau menjadi istriku? Menerimaku apa adanya, dalam suka dan duka, dalam susah dan senang?” ucap Ezra memperlihatkan cincin pasangan kepada Elisa.
“ Ezra?” ucap Elisa tak percaya.
“ aku menunggu, Elisa.”
“ bagaimana Daddy- ku?” ucap Elisa ragu.
“ aku yakin Daddy George akan setuju, Elisa.”
“ Ezra, kau tahu- kan? Aku ini cacat.” ucap Elisa mencoba meyakinkan.
“dan apakah aku merasa terganggu dengan semua itu? Aku terus mencarimu, Elisa, gadis yang selalu menerimaku disaat aku hanyalah anak buruk rupa. Dan kini aku berubah bukan untukku Elisa,melainkan untukmu. Gadis yang selalu menerimaku apa adanya.”ucap Ezra yain.
“ apa tanggapan orang- orang nanti? Aku takut kehadiranku hanya akan digunakan orang untuk menghalangi langkahmu.” ucap Elisa lirih.
“ dan aku akan menyingkirkan orang- orang yang menghalangi langkahku, Elisa. Yang aku mau hanyalah kau disisi- ku, dan ikatan yang kau berikanlah yang menguatkan langkahku hingga sekarang.” ucap Ezra yakin.
“ aku mencintaimu Elisa.” tiga kata dari Ezra meruntuhkan keraguan Elisa, bulir air mata jatuh dari pelupuk mata indah Elisa.
“ aku juga mencintaimu Ezra.” ucap Elisa memeluk Ezra. Ezra mengelus kepala Elisa dengan lembut. Menatap wajah cantik calon istrinya itu dan menciumnya lembut. Sebelum akhirnya menghapus air mata Elisa dan menautkan cincin di jari manis Elisa. Elisa menangis menatap cincin yang bertaburkan bubuk berlian dengan berlian yang paling besar berada di tengah- tengah sebagai penghiasnya, di dalam lingkar cincin itu tertaut ukiran nama Elisabeth Walker. Air mata tak kunjung berhenti namun senyuman- pun tersungging di bibir Elisa.
Kebahagiaan dan rasa haru memenuhi hatinya. Dari dulu semua penderitaan silih berganti datang dalam kehidupnya. Kelahirannya yang tidak sempurna, disalahkan keluarga besar karena merengut mimpi mendiang ibunya. Kehilangan adik kandungnya, di pandang sebelah mata karena kekurangannya bahkan sempat di bully semasa sekolahnya.
dan saat ia berharap kekasihnya Nathan yang akan meruntuhkan pandangan keluarganya, Nathan- lah yang semakin membuat mimpinya menjadi jauh, ia semakin di benci oleh keluarganya karena kelakuan Nathan dan Helena yang sering meneror dirinya bahkan keluarganya. Dan saat ia mendapatkan keluarga baru ibu tiri dan saudara tiri, Elisa pikir itu adalah puncak dari penderitaanya. Namun ia salah, Berta sangat peduli juga sayang padanya dan Ezra mencintainya. Mereka menerimanya apa adanya mengalahkan keluarganya sendiri.
“ kenapa kau menangis, Hem?” ucap Ezra yang melihat tangis Elisa tak juga berhenti.
“ aku bahagia, Ezra.” ucap Elisa memeluk calon suaminya itu.
“ dulu, aku pikir Nath- lah yang akan menautkan cincin pernikahan di jari manisku, aku tidak menyangka jika ia malah mengecewakanku dari hari- kehari dan meninggalkanku. Dan kau tahu? Saat Dad mengenalkanmu dan Mom Berta aku sempat takut, aku takut kalian akan sama jahatnya dengan ibu tiri dan saudara tiri yang sering ku tonton semasa anak- anak.”
“ tapi malah kau yang memberiku rasa bahagia dan menerimaku apa adanya, melebihi keluargaku.” ucap Elisa tangisnya mulai terhenti. Mendengarnya Ezra hanya tersenyum, mengelus kepala Elisa dan menghapus air matanya.
“ aku akan memberimu rasa bahagia sebesar aku yang bahagia bersama- mu Elisa.” ucap Ezra kembali mencium Elisa.
Dari ciuman menjadi *******, ia mulai menggendong Elisa menuju kamar yang ada di rumah itu. Sementara Robert sedari awal datang hanya menunggu di mobilnya, mengetahui jika tuannya tidak akan pulang malam ini.
harusnya yang jadi Elisa itu song hye Kyo
Helena lebih cocok yg jadi Elisa karena pelakor heheheh
song hye kyo lagii...
karyamu hebat kak
like meluncur 👍
karyamu hebat kak
like meluncur 👍
aku mampir nih thorr
semangatt yaa
yuk baca juga cerita aku yang judulnya CONVERGE!!
dijamin baper deh bacanyaa 😍
mari saling support thorr ❤️
thanks
Aku datang membawa 10 like untukmu,
mampir juga yuk ke karyaku yg berjudul "Before you go"
Mari kita saling mendukung kak^^