Sakit tak berdarah dirasakan perempuan bernama Ananta Gayatri Rumi ketika laki-laki yang menjadi suaminya justru mendorongnya pergi. Tidak hanya itu Ananta Gayatri Rumi di ceraikan hanya karena masalah sepele, Laki-laki yang menjadi suaminya kecewa karena saat pulang kerja tidak menemukan istrinya di rumah.
Hanya perihal sepele yang menjadi alasannya.
Saat mengetahui kebenaran yang terjadi. Suaminya itu menyesal, tapi semua tak lagi sama. Talak sudah jatuh.
Tak habis akal, anak kepala desa itu memanfaatkan kedudukannya untuk menjerat istrinya yang sudah terlanjur dijatuhi talak tiga.
Dia memaksa Ananta Gayatri Rumi menikah dengan laki-laki pilihannya, laki-laki yang kerap perempuan itu ajak bicara.
Laki-laki tak sempurna yang akan dijadikan tumbal supaya dia bisa kembali rujuk dengan Ananta Gayatri Rumi.
Lantas siapa sebenarnya laki-laki pilihannya itu?
Benarkah rencananya sesuai dengan keinginannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jatuh cinta.
Suara Jaya membuat Rumi gegas menoleh.
Lagi-lagi Jaya melihat air mata sang istri. Entah sampai kapan air mata itu akan berhenti mengalir? Jaya sudah tak sanggup melihat kesedihan di raut wajah istrinya. Meskipun wanita itu kerap menangis sembunyi-sembunyi, jejaknya tetap mampu Jaya lihat, bahkan mata itu masih sembab mulai sejak berita kehilangan itu mereka ketahui.
"Ya, Mas?" jawab Rumi dengan tangan gegas menghapus air matanya.
"Makan, ya? Sejak tadi kamu belum makan, bahkan setelah acara doa bersama, Mas baru melihatmu." Ajak Jaya sambil mendekati Rumi.
Rumi menggeleng. "Aku mau disini dulu, jagain Zahra. Kasian dia tidur sendirian."
Rumi kira Jaya akan menyerah, dan memilih keluar dari kamar, tapi Jaya malah ikut berbaring di belakang Rumi. Pria itu memeluk Rumi dari belakang.
"Kamu masih mau, berada disisi Mas, dek?" pertanyaan itu terlontar dengan pelan.
Jaya semakin memeluk erat pinggang Rumi, ketika hanya Isak kecil yang ia dengar.
"Memang sudah waktunya kamu berhenti berjuang, dek_"
Tubuh Rumi menegang mendengar kata-kata Jaya. "Setelah anak kita, apa sekarang giliran Mas buat ninggalin aku?"
Jaya menghela napas pelan. "Mas akan meninggalkan kamu, jika ajal datang menjemput. Jika belum, maka kamu akan terus melihat Mas selamanya."
Rumi membalikkan badannya perlahan, Jaya juga gegas membantu.
"Mas cuma mau bilang, kamu boleh berpikir untuk menyerah dengan hubungan kita, Rum. Tapi sekarang saatnya Mas yang akan berjuang dan menunjukkan ke kamu betapa Mas sudah sangat bergantung dengan istri Mas yang bernama Ananta Gayatri Rumi."
Jaya mengecup kepala Rumi dengan sayang. " Maaf, atas ketidaksempurnaan suamimu ini, dek. Kehilangan Azka membuat Mas sadar bahwa selama ini Mas sudah jatuh cinta pada ibunya, istriku. Kamu."
Bibir tipis itu bergetar, air mata Jaya mengalir.
"Mas ini tidak sekuat yang orang pikirkan, Rum. Kamu yang membuat Mas kuat dan bertahan untuk tetap waras menghadapi ini. Mas sebenarnya tidak sekuat itu, Rum. Tolong kuat-lah untuk Mas," rintihan pelan itu begitu menyayat hati keduanya.
Rumi terisak. Sebelah tangannya menangkup tangan Jaya yang berada di pinggangnya.
"Saya cinta sama kamu, Rum. Kamu harus ingat dan tau itu. Kalau kamu mau nangis, nangis didepan Mas. Jangan nangis sendirian, hati Mas hancur melihatnya."
Mendengar itu Rumi langsung memeluk Jaya. Membenamkan wajahnya di dada Jaya dan kembali terisak disana.
Jaya ikut menangis. Saat ini mereka memang tengah berduka. Entah sampai kapan duka dan air mata ini akan redam. Tapi Jaya telah berjanji, setelah badai ini Jaya bertekad membawa pelangi untuk istrinya. Dia akan membuat Rumi tersenyum bahagia, dengan cara apapun. Rumi akan bahagia bersamanya.
"Makan ya, dek. Mas nggak akan tenang jika kamu nggak mau makan."
Rumi akhirnya mengangguk. Jaya mengelap wajah Rumi dengan tissue yang ada diatas nakas. Pria itu juga membersihkan hidung Rumi.
"Zahra nggak papa sendirian, Mas?" tanya Rumi, dengan suara yang masih serak karena baru saja menangis.
Jaya tersenyum kecil. "Nggak papa, Putri kita sudah besar, Rum. Bukan bayi lagi."
Mendengar kata putri kita, hati Rumi berdesir.
"Mas sudah ijin sama Abah, untuk sementara Zahra tinggal bersama kita, temani bundanya biar nggak sedih lagi."
"Tapi, bagaimana dengan sekolah Zahra?" tanya Rumi. Tentu Rumi belum lupa bagaimana tanggapan sang suami kala ia pernah ijin untuk membawa putri sambungnya berkunjung. Lelaki itu jelas-jelas menentang, tapi sekarang...
"Aman, Mas yakin, Zahra juga nggak fokus belajarnya jika bundanya masih bersedih. Abah dan Umah juga masih mau tinggal bersama kita untuk beberapa hari ke depan."
Mereka berdua keluar dari kamar dan menuju meja makan.
Rumi merasa beruntung masih dikelilingi keluarga Jaya yang begitu tulus menyayanginya. Rumi sadar mereka ikut terpukul dengan apa yang menimpanya, mereka menangis saat Rumi menangis. Benar kata Jaya, dia harus kuat untuk membuat orang disekitarnya kuat.
Kenyataan bahwa mereka adalah orang tua almarhumah istri Jaya tak membebaninya lagi, pasalnya ketulusan mereka terasa nyata. Bahkan mengalahkan kasih sayang mertua aslinya.
Nyatanya ibu mertuanya justru memusuhinya, menganggapnya tak pantas untuk bersanding dengan Jaya. Tapi, Rumi cuma harus percaya dengan Jaya bukan?
Sementara di tempat yang berbeda, disebuah hotel bintang lima.
Seorang wanita tak lagi muda tengah berdiri di jendela kaca raksasa. Dia adalah nyonya Sanjaya yang tengah meratapi kesunyian hatinya.
Menjadi tak dianggap dan tidak dihiraukan kehadirannya itu menyakitkan. Itu yang tengah wanita itu rasakan. Kedatangannya menambah daftar luka untuk sang putra. Seorang putra yang kini menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Seorang putra yang kini menatapnya dengan pandangan muak. Nyonya Sanjaya menyadari betapa mereka tak menyukai kehadirannya.
Setelah berkali-kali bertanya tentang apa yang terjadi, hanya seorang wanita yang bergelar menjadi orang tua angkat putranya lah yang bersedia menjawab. Sementara putranya sendiri hanya menatapnya nanar.
Merasa terabaikan, ia memilih pergi, bukan saja keinginannya, tapi Jenifer yang membawanya berada disini dan untuk saat ini.
"Bu, kapan kita kembali? Mungkin kita perlu memikirkan ulang rencana kita, sebab kini wanita itu tak lagi sendirian." Suara Jenifer membuat nyonya Sanjaya mendesis lirih.
Kepalanya sudah sangat penuh dengan masalah soal hubungannya dengan Jaya, kini ditambah lagi rengekan Jenifer yang tiada habisnya untuk terus bertanya dan mendesaknya dalam hal apapun.
"Bisakah kamu diam? Atau perlu ku sumpal mulutmu dengan botol wine?"
Dibentak seperti itu membuat hati Jenifer berang luar biasa. Dia tak takut untuk mengibarkan bendera perang untuk nekat merampas Jaya dari istrinya, bahkan dari perempuan tua ini sekalipun. Dia nekat untuk menyerang siapapun yang menjadi penghalang dia mendapatkan tambang emasnya.
Jenifer telah bersumpah untuk menaklukkan Jaya dan menghancurkan rumah tangga lelaki itu.
Walaupun berada di titik ini karena Nyonya Sanjaya, namun Jenifer tetap tidak terima jika wanita itu membentak dirinya seenaknya.
Percayalah, Jenifer lebih kejam dari yang orang ketahui. Dia adalah wanita yang sudah sangat berpengalaman dalam merusak hubungan seseorang.
Di Indonesia orang bisa mengenal wanita seperti Jenifer adalah Wanita bookingan kelas kakap.
Jenifer akan melakukan apapun untuk merebut Jaya, dia yakin dengan kemolekan tubuh yang ia miliki tak perlu waktu lama untuk memikat hati seorang pria. Jangankan sekelas Putra Sanjaya, sekelas CEO saja sudah sering ia taklukkan, sayang Jenifer tipe wanita yang mudah bosan. Tidak ada yang tahu wajah asli wanita tersebut, karena Jenifer kerap operasi plastik setelah usai mendapatkan targetnya.
****
"Mas_"
"Biarkan Mas puas memeluk tubuh ini, tubuh yang sudah bertaruh nyawa untuk melahirkan malaikat kecil." bisik Jaya di dekat daun telinga sang istri.
"Mas sayang kamu, dek. Setelah ini, mari kita cari kebahagiaan kita sendiri. Kamu setuju jika kita pindah dari kota ini?"
######
Gimana dong rencana Jenifer, kalau Rumi malah dibawa pergi oleh Jaya?
Akankah setelah perasaan cinta terucap. Bahagia akan hadir diantara keduanya?
Jangan lupa dukungan untuk author ya...
Happy reading
Saya sungguh terharu,
Karya Anda sungguh berkesan 🤍
Gnti nama jadi jaya?