Berkali-kali Velly Alexander (26 tahun) mengungkapkan perasaannya pada seorang pria. Velly tergila-gila, pada pesona seorang David Stuart (33 tahun). Yang tak lain adalah sahabat kakaknya sendiri. Berkali-kali juga, David tak peduli dengan apa, yang dikatakan Velly.
Namun seiring berjalannya waktu, Velly yang tak pernah bosan mengejar cinta David, membuat David pun semakin dekat dengan Velly. Tentu saja, awal yang indah bagi Velly. Perhatian David membuat Velly akhirnya, menganggap hubungan mereka, seperti sepasang kekasih. Sementara David, tak pernah menyatakan, bahwa hubungan mereka lebih dari teman. Pada akhirnya, entah mengapa David berusaha menghindari Velly. Membuat Velly merasakan kekecewaan lagi dan lagi. Apa sebenarnya yang terjadi? Apakah memang David, tak memiliki perasaan apapun pada Velly selama ini? Di kisah ini, masa lalu David dan Velly akan hadir. Apakah mereka sebenarnya berjodoh? Yuk kepoin novel ku yang kedua ini guys. Jangan lupa like dan komen nya ya. Love you readers🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Octa_since, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#30
New york..
“ Agnes! Kenapa diam?” tanya Lidya lagi dari seberang telepon. Seketika, Agnes terkejut,
“ Ah ya nyonya, tidak apa-apa,” jawab Agnes dengan sedikit gugup.
“ Aku ga tau masalah kalian saat ini! Tapi, kamu harus berkata jujur denganku Agnes! Aku akan beri waktu 2 minggu lagi, untuk kau menceritakan masalah mu dengan Lucky!” tegas Lidya. Bukan karena Lidya ingin ikut campur, dalam masalah asistennya. Tapi, selama Agnes dengannya, Lidya merasa Agnes adalah tanggung jawabnya. Ya, Lidya adalah orang pertama yang tahu masa lalu Agnes, sekaligus yang menolong.
“ Apa kau mengerti Agnes?” kata Lidya dengan tegas. Agnes pun menghela nafasnya yang sesak. Dia tak bisa mengelak lagi dari bos nya itu.
“ Saya mengerti nyonya,” jawab Agnes lemah. Itu bisa di rasakan Lidya, insting nya sebagai wanita selalu benar.
“ Dengar Agnes! Aku tak pernah masalah, dengan siapa kau akan menjalin asmara. Dari dulu, aku selalu bilang ada aku yang akan memberi mu, masa depan yang lebih baik. Aku akan gagal, jika kau punya masalah! Apa kau tak percaya, kalau aku bisa membantu mu?” kata Lidya pada asistennya itu. Mendengar itu, Agnes langsung terisak dan itu bisa di dengar oleh Lidya.
“ Aku sudah menganggap mu sebagai saudara ku, sahabat ku dan sekaligus partner kerja. Kau pun sudah sejauh ini berjuang, bekerja dengan ku. Membantu ku memajukan perusahaan yang ku bangun. Jadi kenapa kau tak percaya padaku? Kalau kau punya masalah, kenapa tak berbagi denganku?” kata Lidya panjang lebar pada asistennya itu. Begitu baiknya Lidya padanya selama ini. Tak pernah Lidya memaki atau menghina nya.
“ Maafkan aku nyonya, aku hanya tak sanggup bercerita,” sahut Agnes menangis tersedu-sedu.
Lidya pun menghembuskan nafas nya, dia teringat Agnes di masa lalu. Seperti inilah keadaannya. Dimana saat itu, Agnes pun menangis sambil bercerita.
“ Agnes, seandainya aku dalam keadaan tidak sedang mengandung, aku sudah terbang ke New york. Jadi aku mohon padamu, nanti katakan sejujurnya apa yang terjadi! Jangan takut, aku akan ada Agnes!” kata Lidya memberi semangat pada Agnes.
“ Baik nyonya, akan ku katakan nanti. Namun jangan sekarang nyonya,”
“ 2 minggu lagi Agnes! Aku beri kau waktu,” sahut Lidya tegas.
“ ya nyonya aku mengerti,”
“ Sudah, jangan menangis lagi! Jadi wanita jangan lemah! Kau ku tempah untuk menjadi wanita kuat! Fokuslah bekerja, aku akan memantau dari sini. Hubungi aku, kalau ada kendala di perusahaan,” kata Lidya lagi.
“ Baik nyonya, terimakasih atas dukungan anda selama ini,” ucap Agnes dengan suara yang masih terisak.
“ Sama-sama Agnes! Aku tutup dulu, ingat! Bersemangat lah! Ada aku yang akan mendukung,” kata Lidya mengingatkan asistennya.
“ Iya nyonya, terimakasih banyak,” kata Agnes dan Lidya pun langsung memutuskan sambungan telepon.
Agnes tertunduk, ada sedikit kelegaan dalam hatinya. Lagi-lagi, hanya Lidya yang mampu membuatnya merasa lega. Ya, itulah yang membuatnya pernah berjanji, akan mengabdi pada bos nya itu kapan pun Lidya mau. Sungguh, dia sangat bersyukur di pertemukan dengan bidadari seperti Lidya.
“ Thank you God, telah mempertemukan ku dengan nyonya Lidya,” ucapnya pelan.
*
Di kediaman Praja Alexander…
Lidya yang baru saja berbicara dengan asistennya, akhirnya bernafas lega. Karena, Setidaknya dia bisa memberi semangat pada Agnes, walau pun mereka sekarang jauh.
“ Sayang, ada apa?” tanya Juna pada istrinya yang berada di ranjang mereka.
“ Seperti perkiraan ku sayang, Agnes dan Lucky memang ada masalah,” kata Lidya pada suaminya itu.
“ Kamu sudah bertanya pada asisten mu?” tanya Juna lagi.
“ Hmm ya! Agnes menangis sayang, tapi aku memberi dia waktu 2 minggu, untuk bercerita dengan ku,” kata Lidya melihat suaminya.
“ Apa perlu ku tanya Lucky?” kata Juna.
“ Jangan dulu sayang, aku ingin mendengar dulu cerita dari Agnes. Baru kita tanya Lucky. Kita harus mencocokkan cerita mereka,”
Juna pun mengangguk, dia tau istrinya bisa mengatasi masalah para asisten mereka.
“ Ayo mandi, bentar lagi kita ada tamu. Mama sudah bilang tadi,” kata Lidya pada suaminya itu.
“ Tamu?” kata Juna menaikkan alisnya.
“ Iya sayang! Kata mama sih pria yang akan di jodohkan dengan Velly,” sahut Lidya semangat. Seketika, Juna diam dan senyum-senyum. Dia seperti merencanakan sesuatu, untuk menjahili adiknya itu.
“ Kenapa senyum sayang ku?” tanya Lidya heran melihat tingkah suaminya.
“ Aku ada bahan, untuk mengejeknya nanti!” kata Juna yang masih senyum. Seketika, Lidya mencubit lengan suaminya itu.
“ Awhh sakit sayang,” ringis Juna.
“ Kamu ya! Awas nanti kamu bikin ulah! Nanti kamu cukup diam, jangan buat Velly malu!” tegas Lidya pada suaminya itu.
“ Cuma sedikit saja say..”
“ Aduh!” ringis Juna karena Lidya menjewer telinganya.
“ Bisa diam ga? Kamu tidur di luar kalau bikin ulah nanti!” kata Lidya lagi yang masih menjewer telinga Juna.
“ Ampun sayang! Iya, aku akan diam saja nanti,” kata Juna.
“ Sekarang ayo mandi!” ajak Lidya.
“ Baiklah sayang,” kata Juna yang menurut, pada istri tercinta nya itu.
*
Sementara, Velly baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Dia sibuk mencari pakaian, yang akan di kenakan nya malam ini. Apa Velly bahagia? Tentu saja tidak! Tapi, dia sudah tak ingin lagi melawan mama nya. Dia hanya menuruti keinginan mama nya.
“ Aku pakai yang mana ya?”
“ Memangnya dia orang nya cool banget?” gumamnya sambil mencari-cari pakaian yang cocok.
“ Demi mama nih! Aku ga mau jadi anak pembangkang deh! Aku takut kualat,” celoteh nya lagi masih memilih pakaian.
“ Nah! Yang ini saja ya,” Velly pun mendapatkan salah satu pakaian nya. Lalu dia pun memakai dress itu. Dia sangat cantik, tubuhnya langsing dan dress itu pas membentuk tubuhnya.
“ Nah! aku make up dulu deh kayaknya,” gumamnya lagi dengan mengambil peralatan make up nya. Velly duduk di meja riasnya, dan memandang wajahnya di kaca. Dia tersenyum di depan kaca itu. Tiba-tiba bayangan David melintas di pikirannya. Lalu, dia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, dan menghembuskan nya kembali.
“ Aku tau, saat ini mana mungkin secepat itu melupakan mu,” katanya pelan dan tersenyum.
“ Namun, seiring berjalan nya waktu, aku yakin bisa. Dulu, harapanku adalah kamu yang datang melamar ku. Namun, aku hanya bisa bermimpi, angan-anganku terlalu tinggi,” ucapnya pelan namun wajah nya mulai berubah sedih.
“ Dulu, aku selalu mengkhayal kalau kamu akan jadi suamiku. Hah! Kalau sebatas khayalan siapa aja bisa!”
“ Dia lebih memilih, bersama wanita masa lalunya! Sudah lah! Kalau di ingat lagi, aku nanti susah move on,” katanya lagi tertawa hambar.
🌿🌿🌿