Naya seorang Intel negara harus bertransmigrasi ke tubuh seorang wanita malam dan lebih gilanya lagi ternyata pria-pria simpanan wanita itu adalah bandit kelas kakap. Mampukah Naya bertahan di tubuh wanita itu dan menjalani hidup layaknya orang normal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sellachan23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Layaknya Iblis
Setelah selesai mengunjungi rumah Selena mereka akhirnya pulang ke rumah dan di sambut oleh Sonia ibunya Damian. Melihat dua orang yang ia nantikan dari tadi sudah pulang Sonia bergegas ingin menyambut nya namun Grey tampak acuh dan berjalan masuk tanpa mendekati istrinya dulu, begitu juga Damian yang menatap malas pada ibunya dan berlalu pergi
Sonia benar-benar seperti orang asing di rumah itu sudah menikah karena perjodohan mendapat suami tidak perhatian dan kini putra yang memiliki gangguan emosi. Tetapi Sonia mencoba bertahan karena dia tak mau keluarga nya jatuh miskin akibat ulah Grey
Bulan berganti menjadi tahun kini usia Damian telah menginjak dua belas tahun dan ia tumbuh menjadi pria yang hangat di luar tetapi sangat berbahaya di dalam. Semua teman-teman nya memandang Damian adalah orang yang bijak serta mendewa-dewakan Damian akibat kuasa dan kekayaan nya
"Damian kau sangat hebat di semua olimpiade kau juara satu!" Seru salah satu teman Damian yang dia sendiri tak tau namanya
"Jangan memuji ku berlebihan aku tak sehebat itu" ucap Damian sok rendah hati
"Heyy kau sangat hebat di umur dua belas tahun sudah duduk di bangku kelas tiga SMP!" Puji mereka lagi
"Tapi aku dengar anak kelas tujuh itu tak kalah pintar juga" ucap salah satu dari mereka
"Siapa maksud mu?" Tanya yang lain lagi
Damian hanya diam dan mulai penasaran siapa kira nya yang berani menjadi saingan dirinya sebab jika dia bisa menandingi Damian maka seseorang itu tak kalah jenius nya
"Kalau tidak salah namanya Selena" seru anak tadi
Degg...
Jantung Damian berpacu cepat mendengar nama itu, dia ingat nama anak kecil yang dulu sudah dia klaim akan menjadi miliknya. Damian tak menyangka setelah bertahun-tahun akan bertemu kembali dengan gadis kecil yang berani bilang bahwa mereka saling memiliki
"Di kelas mana dia?" Tanya Damian penasaran
"Kelas unggulan " balas nya
Karena penasaran Damian jadi ingin pergi ke sana setelah jam pulang sekolah dan benar saja setelah pulang Damian langsung ke kelas unggulan untuk melihat anak perempuan itu. Saat sampai di depan kelas Damian mengintip dari jendela yang sebatas lehernya saja, di sana dia dapat melihat Selena sedang beres-beres untuk pulang
"Cantik" ucap Damian lirih
Selena yang terkena cahaya matahari sore serta rambut yang sedikit acak-acakan efek dari pelajaran melelahkan membuat wajah Selena tampak sangat cantik. Damian merasa baru kali ini dia mendapat kan sesuatu yang benar-benar cantik melebihi koleksi mata kelinci di ruangan rahasianya
"Dia seperti kelinci hanya saja wajahnya imut seperti anak anjing, apa kalau aku kurung dia akan menurut?" Batin Damian yang terus menatap Selena
Ternyata akibat melamun Selena sudah ada di sebelah Damian dan karena bingung Damian menatap apa padahal kelas sudah kosong akhirnya Selena menegur Damian
"Cari apa kak?" Tanya Selena lembut
Damian tertegun mendengar suara seseorang di sebelah nya dan kini mereka saling bertatapan hingga mata Damian rasanya tak ingin berpaling
"Benar-benar harus ku kurung dalam permainan ku" ucap Damian
"Ha? Maksudnya kak?" Tanya Selena bingung
"Kau anak yang juara itu kan? Senang bertemu denganmu " kata Damian dan dia berlalu pergi dari sana
"Aneh! Tapi wajahnya tidak asing sepertinya aku pernah melihat nya" bingung Selena
"Selena!" Panggil seseorang entah dari mana
Selena melihat dan ternyata yang memanggil nya adalah Samuel sahabat sekaligus teman terdekatnya di masa SMP ini. Selena melambaikan tangannya untuk memanggil Samuel agar menghampiri nya. Damian yang mendengar ada seseorang memanggil Selena menjadi berbalik dan menatap tidak suka kepada Samuel namun yang di tatap tidak menyadari hal tersebut
"Bocah itu mengganggu saja!" Kesal Damian
Damian segera pulang kerumahnya namun saat sampai dia mendengar orang tuanya yang sepertinya sedang bertengkar sehingga Damian menghampiri untuk melihat apa yang mereka ribut kan
"Hebat sekali kau hamil anak pria lain Sonia!" Kesal Grey
"Ini karena kau Grey! Kau tak pernah menghiraukan aku sebagai istri mu! Kau fikir aku tak butuh nafkah batin" teriak Sonia
"Ya sudah pergi sana dengan pria itu!" Usir Grey
"Aku tau setelah aku bersamanya kau akan membunuh kami kan?!" Tebak Sonia
"Hahaha... kau pintar Sonia! Tapi sayang sekali otak mu buntu" kekeh Grey
"Aku tak akan pisah dengan mu!" Ucap Sonia bertekad
"Terserah mu saja! Tapi anak itu tak akan mendapatkan apa pun dari harta ku"
"Tidak masalah " balas Sonia lega setidaknya mereka tak akan mati
"Kalian sedang bahas apa?" Tanya Damian penasaran
Mereka berdua terkejut mengetahui putra nya mendengar pertengkaran itu dan Grey jadi menatap sinis ke Sonia gara-gara dirinya putranya jadi melihat pertengkaran mereka
"Tidak ada, kau baru pulang?" Tanya Grey lembut
"Iya Daddy! Oh iya gadis kecil itu ada di sekolah ku" seru Damian senang
"Maksud mu Selena?" Tanya Grey memastikan
"Benar! Aku mau dia boleh kan Daddy?" Tanya Grey memastikan
Sebelum Grey menjawab Sonia langsung memotong perkataan suaminya sebelum berbicara yang tidak-tidak
"Tidak boleh! Dia bukan barang atau pun hewan yang bisa kau bilang milik mu Damian" tolak Sonia
"Tapi dulu dia bilang bahwa aku milik nya dan dia milik ku " protes Damian
"Iya-iya dia akan menjadi milik mu, kau tak perlu dengar kan apa kata mama mu ok?" Bujuk Grey agar Damian tak kesal
"Baik terimakasih Daddy " senyum Damian yang terlihat menyeramkan di mata Sonia
Jika Grey terus saja memanjakan Damian dan menuruti semua kemauan nya bisa berbahaya sebab Damian itu sangat protektif jika sudah bersangkutan dengan milik nya. Belum lagi Sonia yang tak mengerti jalan berfikir putra nya itu meskipun dia sangat jenius tetapi Damian akan terlihat seperti monster jika moodnya buruk
Damian pergi ke kamarnya dan Grey juga pergi ke ruang kerja nya menyisakan Sonia yang sendiri seperti biasa di sana. Sonia menarik nafas lelah dan mencoba beranjak ke kamar Damian dan sebelum masuk Sonia sengaja mengetuk pintu kamar Damian terlebih dahulu
Tok .. tok...
"Boleh mama masuk Damian?" Tanya Sonia
"Masuk saja tidak di kunci" balas Damian
"Kau sedang apa nak? " ucap Sonia lembut sembari memperhatikan putranya yang sibuk dengan alat-alat aneh
"Uji coba" ucap Damian singkat
"Oh iya mama ada berita gembira loh!" Seru Sonia dengan semangat
Damian segera menghentikan aktifitasnya dan menatap Sonia bingung dengan alis terangkat
"Apa?"
"Kau sebentar lagi akan menjadi seorang kakak!" Senang Sonia
Dia fikir Damian akan tampak gembira nyatanya putranya tetap terlihat datar saja dan melanjutkan eksperimen nya serta mengacuhkan Sonia
"Kau tidak senang?" Tanya Sonia sedih
"Senang hanya saja aku dengar apa yang kalian bicarakan tadi" ucap Damian tanpa mengalihkan pandangan nya
"Maaf kan mama ya, hanya saja Daddy mu tak pernah memperhatikan mama"
"Terserah kalian saja aku tak perduli" kata Damian dingin
Mendengar nada dingin dari anaknya Sonia memutuskan untuk keluar kamar dan hari-hari berlalu dengan tingkah putra nya yang semakin dingin kepadanya hingga kini kondisi perutnya sudah memasuki delapan bulan
"Damian bisa kemari sebentar?" Tanya Grey yang duduk di bangku kerjanya
"Ada apa dad?" Tumben Daddy nya mengajak Damian mengobrol di kantornya
"Daddy ingin bertanya, jika warisan ini setengah Daddy beri kepada adik mu apa kau tidak masalah?" Tanya Grey dan dia tampak tersenyum licik
Damian memandang Grey tidak suka tetapi ia segera merubah ekspresi nya menjadi biasa saja
"Terserah lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan Daddy" ucap Damian dingin
"Baiklah Daddy akan berikan sebagian kepada adik mu dan juga kau bisa berbagi mainan padanya nanti " ucap Grey lagi
Damian pergi dari sana dan saat dia ingin masuk ke kamar dia melihat Sonia yang merupakan ibunya sedang menuruni anak tangga dengan susah payah. Entah kenapa ada sesuatu yang berbisik di telinga nya untuk mendekati ibunya. Damian berjalan pelan dan hendak ingin menghampiri Sonia dengan tangan yang ia majukan
Gedebrakk..
Sonia terjatuh dan terguling kebawah dengan kaki yang sudah di penuhi darah dan dia mulai meringis menahan sakit sembari melihat ke arah Damian sedih
"Da..Damian tolong mama" lirih Sonia
"Kalian berdua mati saja!" Ucap Damian kesal
"Tolong! Akhh... siapa pun tolong ini sakit sekali hikss" ringis Sonia
Para pelayan mulai berdatangan dan tak lupa juga Grey datang menghampiri suara yang berisik dari tadi. Dia melihat istrinya sudah bersimbah darah bukan nya panik dia malah tersenyum dalam diam dan mulai berpura-pura menghampiri istrinya itu
"Kenapa dia bisa jatuh?" Tanya Grey memastikan ada saksi mata atau tidak
"I..itu tuan, tu..tuan muda sepertinya tidak sengaja mendorong nyonya" ucap salah satu pelayan gugup
"Aku ingin kalian semua tutup mulut jika ada yang berani menyeret-nyeret nama putra ku, aku tak akan segan-segan membunuh kalian mengerti!?" Ancam Grey
Mereka semua mengangguk takut dan Grey mulai menggendong Sonia masuk ke dalam mobilnya untuk ia bawa ke rumah sakit. Sonia sudah tidak tahan dengan sakit di perutnya sehingga dia berteriak-teriak namun Grey tetap tenang mengendarai mobilnya agar sampai di rumah sakit.
Saat sampai dokter-dokter langsung menghampiri Grey yang sedang menggendong Sonia yang kesakitan, mereka dengan cepat membawa Sonia ke ruang UGD agar segera di tangani sebab Grey adalah pemilik rumah sakit jadi tak perlu mengantri ataupun mendaftar
"Tuan kondisi nyonya dan bayinya kritis, kami hanya bisa menyelamatkan salah satu nya siapa yang anda pilih?" Tanya dokter itu
"Selamat ibunya saja" ucap Grey tetap tenang
Dokter itu mengangguk dan mulai masuk ke dalam lagi untuk melanjutkan operasi mengeluarkan bayi dari dalam perut wanita itu. Seperti yang di bilang oleh dokter tersebut bayi itu tak bisa di selamatkan dan juga kondisi Sonia kritis akibat kehilangan banyak sekali darah. Setelah operasi selesai Grey di perbolehkan masuk untuk melihat bagaimana kondisi istrinya dan para dokter meninggal kan mereka berdua di sana
"Sonia.. Sonia kasihan sekali diri mu! Seandainya kau tidak main-main dengan ku mungkin kau tidak akan seperti ini" ucap Grey lirih
Tok.. tok...tok
"Masuk" perintah Grey
"Tuan saya sudah menutup mulut semua pelayan tentang kasus nyonya dan juga dari tadi tuan muda tidak keluar kamar untuk makan siang ataupun malam" ucap salah satu orang kepercayaan Grey
"Jaga di sini istriku, aku ingin melihat keadaan putra ku di rumah"
Grey lantas pergi kembali untuk melihat bagaimana keadaan putra semata wayangnya itu, pasti Damian melakukan ini akibat provokasi Grey tentang warisan yang sudah Grey janjikan untuk Damian dan Grey paham bahwasanya putra nya tidak menyukai jika sesuatu yang sudah dia klaim di ganggu gugat.
Grey masuk ke kamar putranya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan di situ dia melihat putra nya yang sibuk dengan alat-alat eksperimen nya entah untuk apa itu
"Hallo kau sedang apa Damian?" Tanya Grey lembut
"Hanya menguji coba penelitian ku, bagaimana keadaan mereka?" Kata Damian dingin
"Adik mu tak bisa di selamatkan tetapi mama kritis "
"Kenapa tidak mati saja sih! Bisa kah kau buang barang yang sudah berkhianat? Aku tak ingin melihat wajah wanita itu lagi sungguh menjijikan "
"Baiklah seperti yang kau inginkan"
Akhirnya setelah bertahun-tahun lamanya ia tak melihat ibunya lagi jangan di tanya kemana wanita itu tentu saja Grey menyingkirkan nya sebab ia sudah tak berguna lagi, baik dia dan putranya tak ada yang menginginkan wanita itu lagi jadi lenyapkan saja
sudah terangsang tp belum di tuntasin,Damian bangun jd sakit struk😂😂😂
aku suka novel yg begini
serasa kita masuk ke dalam novel