Bertahun- tahun Arini berusaha menjadi istri yang baik buat Ilham. Dan menantu yang penurut untuk Bu Lastri.
Atas permintaan Ilham. Arini terpaksa melepas posisinya yang cukup bagus di sebuah perusahaan swasta. alasanya Ilham ingin Arini menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.
Namun seiring waktu, karier Ilham yang terus melejit membuat perubahan sikap mertuanya. Arini masih bernafas lega, karna Ilham selalu membelanya.
Puncaknya ketika sebuah rahasia terungkap. Ilham telah mengkhianatinya. Dia berselingkuh dengan Anita, sahabatnya sendiri. Alasannya sepele, yaitu Arini yang tak kunjung hamil. Berbagai konflik mulai terjadi.
Ilham yang berbakti menjadi buta hatinya. Ia selalu menuruti apapun yang di katakan ibunya.
Di tengah keterpurukannya, Denis datang sebagai penyelamat.
Akankah Arini memperjuangkan Ilham? ataukah memilih Denis menjadi partner hidupnya?
Kita ikuti kisah selengkapnya yuuk!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Ilham melepaskan Denis.
Denis mengibas kerah bajunya.
"Rin, aku melihat mu di klinik kemarin malam.
Ada perlu apa?"
Arini terperangah. Ia khawatir kalau Ilham tau kepentingannya pergi ke klinik itu.
"Tidak ada!" jawab Arini tegas.
"Tapi aku jelas-jelas melihatmu disana!"
Ilham masih kukuh dengan pendapatnya.
'Heh Bung! kau tidak dengar Arini bilang apa? dia tidak ada disana seperti tuduhan mu!"
"Minggir! jangan ikut campur, ini urusan suami istri."
Ilham mendorong Denis ke samping.
Denis mengalah, benar kata Ilham. Bagaimanapun buruknya hubungan mereka saat ini, tak bisa di pungkiri mereka masih berstatus suami istri yang sah.
Justru Anita yang tidak terima.
"Kau bilang masih suami istri, Mas? lalu tempatku dimana di diantara kalian?" ia menyela dengan gusar.
"Diam!!' bentak Arini dan Ilham hampir bersamaan.
Anita cemberut dan menekuk wajahnya.
"Dalam keadaan bertengkar juga, mereka masih kompak!" ia menggerutu kesal.
"Ayo Rin, kau harus jujur! ada perlu apa kau kesana?" desak Ilham lagi karna merasa yakin sudah melihat Arini disana.
Arini menarik nafas panjang.
Sebenarnya dia ingin merahasiakan tentang kehamilannya. Tapi sampai kapan? dari hari ke hari perutnya akan semakin besar. bagaimana di akan menyembunyikannya lagi?
Arini memandang ke arah Denis seolah minta
persetujuan.
Denis mengangguk.
"Aku ingin bicara sesuatu Mas, kita bicara disana!" Arini melangkah kearah pojokan.
"Kau tidak bisa..!" Anita belum menyelesaikan kalimatnya Arini sudah memotongnya.
"Hanya berdua! dan kau hanya orang luar!" Arini memandang Anita dengan tajam.
Dulu ia sangat menghormati wanita yang ada di depannya ini. Tapi kini di matanya, Anita tak lebih dari sosok pelacur yang menjajakan tubuhnya.
"Sombong kau sekarang, Rin?!"
"Kalian belum menikah, jadi kau masih orang asing untuknya!"
Telunjuk Arini menunjuk Ilham.
Arini segera melangkah agak menjauh di ikuti Ilham.
"Aku mau memberi tau mu sebuah kebenaran!"
Ilham menunggu dengan penasaran.
"Kau benar, aku memang pergi kesana kemarin malam. aku hamil sudah tiga bulan Mas!"
Suara Arini yang datar mengejutkan Ilham.
"Ha- mil?" ulangnya tak percaya."Kenapa kau baru bilang sekarang Rin, aku mau kau bicara jujur! siapa ayah dari anak itu?"
Arini menatap Ilham tak berkedip. Sedangkan air matanya mengambang di pelupuk matanya.
"Kau, bertanya siapa ayah anakku? apakah kau sudah mengajukan pertanyaan yang sama pada Anita saat tau dia hamil?"
Arini tak bisa menahan sesak di dadanya saat Ilham mempertanyakan ayah anaknya.
"Kasus ku dengan Anita lain, kami telah melakukan kesalahan." ucap Ilham membela diri, seolah tidak merasa bersalah dengan perbuatannya.
Arini semakin muak.
"Semula aku mau menyembunyikan ke kehamilan ini. tapi aku tidak mau disalahkan di kemudian hari karna menyembunyikan sebuah kebenaran..."
"Rin, aku sangat gembira mendengar mu bisa hamil, ini, kan yang selalu kau inginkan dari dulu. tapi yang aku sesalkan. Kenapa kabar ini datang di saat kita ada masalah?" Air mata bening menetes di pipi Ilham.
"Aku memberi tau kabar ini bukan karna ingin kau kasian padaku dan mengabaikan Anita.
Tugas ku sudah selesai. apa pun keputusanmu, aku tidak akan menarik gugatan ku!"
Arini berdiri dari duduknya.
"Rin, tunggu dulu! kau harus kembali ke rumah, ibu akan bahagia mendengar kabar ini!" Ilham memohon dengan bersimpuh di kaki Arini.
"Tidak Mas, bukan itu maksud ku, jangan iba pada ku atau pun anak ku! aku tidak akan pulang, dan ingat! kita akan segera bercerai!"
Arini meninggalkan Ilham yang terduduk lemas.
"Apa yang mereka bahas hingga membuat mas Ilham menangis seperti itu, mudahan dia tidak berusaha mempengaruhi calon suami ku." gumam Anita dengan congkak.
"Hei mbak, ngaca dong! barusan kau sendiri yang bilang kalau Ilham masih calon suami mu. Sedangkan untuk Arini, dia masih sah sebagai suami istri. Jadi,jangan ikut campur!"
Anita menggeram kesal.
Denis berlari mengejar Arini yang langsung keluar dari tempat itu.
"Rin, kau akan pulang kemana? biar aku temani!"
Arini menggeleng.
"Aku baik-baik saja, aku bisa sendiri."
"Baiklah, tapi ingat. Kalau kau mau, aku selalu siap menjadi pendengar mu!"
Arini tersenyum berterimakasih.
Arini meninggalkan tempat itu dengan perasaan galau.
"Aku tidak tega melepas nya pulang sendiri."
Denis mengikuti Arini dari jarak yang cukup jauh.
"Kayaknya aku kenal jalan ini, sebenarnya dia tinggal dimana?"
Karna terjebak di. lampu merah, Denis kehilangan jejak Arini.
***
Sedangkan Anita dan Ilham masih di tempat semula.
"Apa sih yang di katakan wanita itu sampai kau bersikap seperti ini, Mas?"
Ilham masih terbengong sendiri.
Ia seperti orang linglung saat tau Arini sedang hamil.
" Kalau benar aku ayahnya, lalu kenapa dia bersikeras tidak mau pulang kerumah? apa yang ada di pikiran Arini? apa dia mau hidup di jalanan? ini pasti hasutan pria itu?"
Mengingat wajah Denis yang begitu perhatian terhadap Arini membuatnya semakin panas.
Aaargh..!!
Ilham menyapu meja dengan tangannya hingga isinya berhamburan.
"Mas apa yang kau lakukan? ayo kita pulang!"
Anita menarik paksa Ilham ke mobilnya.
"Kenapa dengan Ilham?" Bu Lastri merasa
kaget' melihat keadaan Ilham yang di papah Anita.
"Nit, kenapa dia?" cecar Bu Lastri cemas.
"Tidak tau, Bu! tadi dia bicara dengan Arini terus jadi begitu."
Bu Lastri mendengus kesal.
"Wanita itu lagi!"
" Arini hamil..!" ucapan Ilham membuat
Anita dan Bu Lastri terperanjat.
"Ha-mil?" Anita menggeleng tak percaya.
'Pantas waktu itu aku bertemu dia di klinik. Ternyata dia sedang hamil juga. Lalu bagaimana denganku?" bathin Anita cemas.
"Tapi ibu tidak percaya itu anaknya Ilham!" suara Bu Lastri membuat Ilham terhenyak.
"ibu benar, bukankah selama ini dia selalu bersama pria itu? siapa namanya? Denis., ya Denis!" timpal Anita. Ia merasa mendapat celah untuk menjatuhkan Arini.
"Bisa tidak jangan sebut nama itu lagi!"
Bentak Ilham dengan keras.
"Tapi Anita benar, Dia mengatakan ini padamu pasti karena mau simpati mu saja.
Denis itu pasti ayah dari anaknya Arini,"
Bu Lastri semakin memperkeruh suasana.
Dengan bantuan Anita akhirnya mereka berhasil membuat hati Ilham terbakar cemburu.membuat
Ia Ilham masuk ke kamar sambil memegangi kepalanya.
"Tenang saja! kita akan buat Ilham percaya bahwa anak itu bukan anaknya!" bisik Bu Lastri di telinga Anita.
"Terima kasih, Bu. kau selalu mendukung ku."
"Ingat kau harus berakting lebih baik lagi. Kalau perlu gunakan air matamu! sekarang temani dia di kamar, hibur dan besarkan hatinya."
Anita membubuhkan sedikit minyak angin di matanya, lalu masuk ke kamar Ilham.
"Mas, apa kau percaya bahwa itu anak mu?
bayangkan saja, setiap saat dia bersama pria itu. Dia sengaja mengatakan itu anak mu, tujuannya adalah untuk menjauhkan kita."
"Kau benar, aku merasa curiga, kalau memang benar itu anak ku, kenapa dia ngotot ingin berpisah?"
Anita tersenyum ke arah lain. ia merasa mendapat angin.
"Betul banget Mas, kau harus memaksanya mengaku!"
Ilham mencerna kata-kata Anita.
Akhirnya setelah Ilham tertidur, Anita keluar dengan hati lega.
"Bu, pernikahan kami sedianya mau di tunda oleh mas Ilham. apalagi dengan kejadian ini pasti membuatnya semakin yakin untuk menundanya." ratap Anita.
"Kau tidak usah khawatir. ibu akan mengatur semuanya. pokoknya Arini tidak akan mendapat tempat lagi di rumah ini, ataupun di hidup Ilham!" tegas Bu Lastri.
Anita pamit pulang dengan hati galau. ia merasa posisinya terancam oleh kehamilan Arini. bagaimana tidak, sebelum tau kehamilannya saja Ilham sudah mengejar Arini, apalagi sekarang?
"Aku harus bertemu Arini, harus!"
Sebuah Karya bisa menjadi besar karna dukungan para pembacanya!
🙏🙏