Penuh dengan Misteri. 👺👺
Vivana Gadis desa berusia 21 tahun di paksa menikah dengan seorang pria kota yang baru saja bertemu dengan Ayahnya.
Hanya karena pria tersebut memberikan sebuah perkebunan yang cukup luas, Ayahnya rela menjadikan Vivana syarat pembayaran buat menikah.
Bukannya kebahagiaan di dapatkan Vivana setelah menikah. Pria yang menikahi Vivana adalah seorang Psikopat dan MAHAR MEWAH bernilai fantastis pemberian pria tersebut malah menjadi TEROR yang merenggut beberapa orang tercinta dan terdekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Siapa bibi yang bersamaku?
🍃🍃Ruang tamu. 🍃🍃
Aku melihat Ayah mondar-mandir, tangan kanan memegang benda pipih. Ayah terus berusaha menghubungi nomor Barra yang tak kunjung di angkat.
Kedua mataku terus mengikuti Ayah berjalan ke sana dan kemari, melihat Ayah terlihat cemas, kedua tanganku mengepal erat rok milikku. Aku segera berdiri, kedua mata menatap serius Ayah yang masih mondar-mandir dihadapanku, benda pipi masih menempel di daun telinga kanannya.
“Ayah.”
“Hem.” Sahut Ayah, tangan kanan terus menekan nomor kontak Barra. Merasa kesal karena Barra tidak menjawab panggilan telepon darinya, Ayah menghentikan langkahnya. Ayah segera duduk di sisi kananku, tangan kanan mengepal erat benda pipih.
Drrrttt!!! Drttt!!
Benda pipih di tangan kanan Ayah berdering.
“Barra.”
Ayah langsung berdiri, tangan kanan menekan tombol berwarna hijau, meletakkan benda pipih tersebut di daun telinga kanannya.
[ “Hallo.” Sahut Ayah sopan.]
[“Tidak perlu basa-basi, langsung saja ke intinya. Mau apa Anda menelepon saya berulang kali?”]
[“Begini, saya hanya ingin bertanya kapan Anda pulang? Vivana sudah 2 minggu di rumah saya. Apa Anda tak merindukannya?”]
[“Rindu? Hahaha. Buat apa saya rindu dengan gadis bodoh seperti putri Anda. Dia sudah berhenti membicarakan omong kosong itu tidak? jika sudah tidak, maka saya akan segera pulang.”]
[“Anda tenang saja, saya sudah mengusir semua hantu yang mengganggu putri saya. Saya harap Anda segera menjemput dan bawa putri saya pulang.” Ucap Ayah sopan.]
[“Hantu! Jangan-jangan Anda pelakunya.”]
[“Maaf, maksud Anda apa ya?”]
[“Sudahlah. Ketepatan aku juga sedang menuju kediaman rumah Anda. Segera tutup panggilan telepon ini agar aku tidak mati di jalan saat menuju ke rumah Anda.”]
[“Baik.”]
Ayah segera menutup panggilan telepon, tangan kanan menggenggam erat benda pipih yang sudah mati di tangan kanannya. “Berani sekali dirinya berkata jika aku adalah seorang pembunuh.” Ayah menjatuhkan tubuhnya di sofa, jari-jemari mengulur menutupi cahaya lampu. “Jika kamu ingin aku habisi bilang saja, tidak perlu kamu menuduhku tanpa bukti seperti itu. Jangan-jangan kamu pelaku di balik teror yang terus menghantui Vivana.”
“Maksud Ayah?” Tanyaku spontan saat kedua telinga mendengar percakapan Ayah dan Barra.
“Tidak ada.” Ayah mengarahkan jari telunjuk tangan kanan ke lantai 2. “Segera kemas barang kamu karena Barra sedang menuju ke sini.”
“Tapi Ayah, aku ingin mendengar penjelasan Ayah. Siapa pembunuh yang baru saja Ayah katakan?” Tanyaku sekali lagi.
“Aku bilang segera pergi kemasi barang-barang kamu, kamu harus pergi. Aku perhatikan kamu sudah belajar jadi anak pembangkang kamu sekarang, ya.” Ucap Ayah dengan nada suara meninggi.
“Ba-baik Ayah.” Sahutku patuh, karena aku tak ingin membantah Ayah. Aku berbalik badan, sesekali aku memandang wajah Ayah yang terlihat cemas dengan kedua tangan memijat lembut puncak kepalanya. “Barusan mereka sedang membicarakan apa, dan kenapa aku mendengar ada kata-kata tentang pembunuhan.” Gumamku sendiri.
Kedua kaki terus melangkah menaiki anak tangga, pikiranku masih tertinggal bersama perkataan Ayah dan Barra sewaktu mereka membicarakan pembunuhan dari via telepon. Kenapa mereka menyembunyikan hal besar itu kepadaku, apa aku tidak berhak mengetahui segalanya?
Sesampainya di atas, aku segera menghentikan langkahku, bibir tersenyum manis melihat bibi berdiri di depan pintu kamarku.
“Bibi.” Aku melangkah cepat mendekati bibi yang hanya berdiri di depan pintu kamar, wajah terlihat pucat, tapi bibir tersenyum manis. Sesampainya di depan pintu, aku langsung merangkul bibi. “Ayo! Kenapa bibi berada di depan kamarku? Apa kamar ini sudah bersih dengan noda darah bekas kematian dukun sakti tersebut bi?”
“Hem. Bibi dengar nona muda akan pulang malam ini, izinkan bibi membantu nona muda.” Sahut bibi datar.
Aku mengelus kedua lengan gemuk bibi. “Bibi tidak perlu membantuku, cukup temani aku menyusun baju dan beberapa barang yang aku bawa ke dalam koper.” Tangan kanan membuka gagang pintu. “Mari masuk bi.” Ajakku sopan.
“Hem.”
Aku dan bibi duduk di lantai kamar, bibi membantu aku memindahkan baju dari dalam lemari ke koper. Semua baju milikku di dalam lemari sudah tersusun rapih di dalam koper, tinggal kotak perhiasan pemberian Barra. Saat bibi mengeluarkan kotak perhiasan tersebut dari dalam lemari pakaian, kedua matanya membulat sempurna, dengan dahi mengerut.
Aku segera berdiri, kedua tangan mengambil kotak perhiasan dari kedua tangan bibi, membawa kotak perhiasan menuju ranjang. “Bi. Isi yang ada di dalam kotak ini adalah perhiasan bernilai fantastis dan ada beberapa perhiasan langkah dan kuno di dalamnya. Terkadang Barra itu sangat baik kepadaku.”
“Kembalikan.” Ucap bibi datar dari arah belakang.
Aku segera menghentikan langkah kakiku, perlahan aku memutar arah menatap bibi yang masih berjalan di belakangku. “Maksud bibi apa ya?”
“Kamu seharusnya tidak menerima semua barang itu, kamu seharusnya….”
Tok!! Tok!!
Aku dan bibi menatap secara bersamaan ke arah pintu.
“Sebentar ya, bi.” Ucapku, perhiasan yang berada di kedua tangan ku letakkan di tepian ranjang, kedua kaki melangkah menuju pintu. Tangan kanan membuka pintu. “Si-a-pa.” Ucapku satu persatu. Kedua mata membulat sempurna melihat bibi berdiri di depan pintu kamar, bibir merah merona tersenyum manis kepadaku.
“Non. Kenapa nona tiba-tiba menjadi patung seperti ini?” Tanya bibi terdengar cemas, tangan kanan menggoyang pelan lengan kiriku.
Kedua kakiku tiba-tiba terasa lemah, kedua mata terpejam, pikiran berkecamuk.
Bruk!
Aku terjatuh dan pingsan di atas lantai kamar.
“Tuan! Tuan. Nona muda tuan.” Teriak bibi dari pinggiran pegangan tangga.
.
.
.
“Vivana.” Ucap Ayah dan Barra serentak. Tidak menunggu waktu lama, Barra dan Ayah berlari menuju kamarku.
.
.
Sesampainya di depan pintu kamar, Ayah menggendong tubuhku, membawa aku ke ranjang. “Kenapa ini bisa terjadi kepada Vivana, bi?” Tanya Ayah, kedua mata menatap bibi yang masih berdiri di depan pintu kamar.
“Anu tuan, saya juga tidak tahu. Saat nona muda membuka pintu wajahnya terlihat pucat dan nona muda diam seperti patung memandang saya. Habis itu nona muda pingsan tuan.” Ucap bibi jujur, kedua bahu bibi menaik. “Beneran saya tidak tahu apa-apa tuan.”
“Kenapa kalian berdua berdebat tentang hal yang tak penting.” Sambung Barra, Barra mengalihkan pandangannya ke bibi yang masih diam berdiri di depan pintu kamar. “Kamu cepat ambil minyak angin dan jangan banyak berbicara lagi. Sempat terjadi hal buruk dengan istriku, maka kalian semua akan-”
“Akan apa?” Sambung Ayah bertanya dengan tegas kepada Barra.
“Tidak ada.”
“Tuan. Ini minyak anginnya.” Ucap bibi berlari ke arah Barra yang duduk di tepian ranjang sebelah kanan.
“Lama.” Ketus Barra menarik kasar minyak angin dari tangan bibi. Barra membuka perlahan penutup minyak angin. Jari telunjuk tangan kanan berisi minyak angin di usap-usap di bawah hidungku. “Vivana. Bangun sayang.” Panggil Barra lembut.
Ayah mengerutkan dahinya, Ayah terus menatap perlakuan Barra yang terlihat lembut dan penuh kasih sayang kepadaku.
‘Vivana bilang pria ini adalah seorang psikopat, tapi kenapa perlakuannya sangat lembut dan terlihat cemas kepada Vivana. Ada hal apa ini sebenarnya, dan kenapa semua perkataan Vivana berbanding terbalik.’ Batin Bruno.
...Bersambung.......
makanya datang terus meneror
sereeeemmm