NovelToon NovelToon
Dear Diary

Dear Diary

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Tamat
Popularitas:25.8k
Nilai: 5
Nama Author: Far Choinice

Dear diary...
Siapa yang akan mati selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Far Choinice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

An Epilogue

  

   “Aaarrrgggg!” dokter selasa mengerang kesakitan saat Dei menusuk tangannya. Darah segar mengalir dari tangannya yang kian berdenyut nyeri.

            “Kenapa anda melakukan ini padaku? Katakan padaku, kenapa kau menolongku? Rasa bersalah? Dan kau bilang apa? Demi siapa? Orang yang kamu cintai? Huh! Dasar wanita jal*ng! Kau! Kau yang menghancurkan hidupku!” pekik Dei dengan sorot mata yang tajam. Dei mendelik, dia seperti Dei yang lemah selama ini.

            Dokter Elisa semakin memundurkan langkahnya ke belakang dan terhenti, terpojok di dinding saat Dei menatapnya tajam. Tak lama, Dei menyunggingkan senyum licik penuh kemenangannya.

     “Kau tahu... alasan kenapa aku membunuh mereka semua? Karena mereka sama sepertimu. Kalian adalah manusia sampah. Jal*ng yang menghancurkan hidupku!”

            Dei kembali ingat hari ulang tahunnya saat itu. Sebelum Dei masuk ke dalam bioskop bersama Yuna, dia melihat Langit dan Sherin berduaan dengan mesra di toko pakaian yang berseberangan dengan bioskop. Mereka bermesraan dengan tangan Sherin menggelayut manja di lengan Langit. Mereka saling tersenyum penuh cinta do belakang Dei.  Langit dan Sherin berkencan.

        Itulah titik awal kemarahan Dei. Dia melihat mereka bercumbu, berselingkuh dengan matanya sendiri. Dan sejak saat itulah kebenciannya pada Sherin membuncah. Jadi, dia membunuh Sherin yang pertama. Membunuh wanita murahan itu dengan tangannya. Dia membenci Sherin.

            “Aku membunuh Sherin karena dia menggoda Langit. Dia diam-diam berselingkuh dengan Langit. Saat itu, rasanya begitu membahagiakan. Puas rasanya sudah menghabisi nyawa perempuan jal*ng itu. Puas sudah mencongkel matanya.” ucap Dei sambil tertawa ringkih.

Kemudian, ingatan Dei melayang saat ia mendapat serangan dari Deka. Jelas sekali terdengar ucapan Deka kala itu. Ia membisikkan kalimat itu saat menyerangnya di Rumah sakit jiwa.

“Aku melihatmu, pembunuh!”

Jadi, Dei membunuh Deka. Dia merencanakannya dengan matang. Beruntung sekali, dia punya pengalaman menyelinap di rumah sakit jiwa. Dia tahu persis seluk beluknya. Dia pernah di sana waktu kecil. Denah dan jalan rahasia di sana, dia sangat menghapalnya. Jadi, dia sukses membunuh Deka dengan sempurna. Menghilangkan barang bukti.

“Lalu aku membunuh Deka karena dia saksi atas tindakanku. Aku baru mengetahuinya jika Deka berkunjung ke rumah Sherin saat aku membunuhnya. Jadi, aku membunuh Deka sebelum dia membongkarnya. Ah, sebenarnya... dia jadi gila karena beberapa kali aku berhasil membuatnya menelan pil khusus. Aku mengeluarkan banyak uang untuk membayar orang yang bersedia mencampur pil itu. aku membuatnya gila tapi ternyata tidak cukup. Matanya seolah mengancamku. Jadi... aku membunuhnya.”

Dokter Elisa menatap Dei dengan mata berkaca. Rasa takut menyelimutinya. Namun, rasa iba mengendap-endap di relungnya. Menyaksikan Dei menjadi pembunuh secara nyata. Gadis yang harusnya bisa hidup baik-baik saja, menjadi pembunuh karena kebencian.

“Lalu Langit? Awalnya aku tidak mau membunuhnya. Tapi, dia diam-diam ingin menyerahkan buku kesayanganku ke polisi setelah aku menceritakan kisah pilu dalam bukuku. Yah, memang kisah pilu yang penuh kebohongan sih... aku menciptakan keberadaan buku kutukan itu. Aku ingin menahan Langit karena aku mencintainya. Tapi, kebencianku mencuat juga.,” Dei tersenyum picik, “Dasar lelaki berengsek yang hidung belang. Hatinya memang pantas gosong. Tangannya yang kotor itu pernah menyentuh wanita lain selain aku. Jadi, tangannya itu penuh racun dan harus dibuang.”

Dei terhenti sejenak, tersenyum sambil menikmati momen saat mengingat semua kejadian itu. dia terlihat puas tanpa rasa bersalah. Yang pantas mati, memang harus mati.

“Ah... terakhir... ada Yuna harus mati karena dia akan melaporkanku pada polisi,” ucap Dei dengan lantang. “Untung saja saat itu aku segera sadar jika Yuna mencurigakan setelah mengemas barangku di rumah. Jadi, aku bisa mencari cara untuk mencegahnya. Walau akhirnya, dia berhasil menelepon polisi. Sungguh kesialanku, memang.”

            Dei menyunggingkan senyum sumringah sementara dokter Elisa terdiam di sudut ruangan dengan menggenggam tangannya yang berdarah.

            “Dan buku itu? Sebenarnya apa? Bagaimana kamu memilikinya?” tanya dokter Elisa.

            “Aku sengaja membelinya. Aku membelinya telah lama dan baru menggunakannya saat aku ingin menuliskan kematian-kematian mereka. Aku menuliskannya sebagai kenang-kenangan.” jawab Dei sambil mengingat bagaimana aktingnya selama ini.

Seolah dia dihantui buku yang ia beli sendiri, mengingat betapa bahagianya dia saat membunuh mereka yang ia benci. Dia puas berhasil melakukan aktingnya. Dia pantas mendapat penghargaan. Dia berhasil mengelabui banyak orang. Hantu mamanya? Itu hanya karangan. Semua hanya karangan.

            “Lalu... Aida Martasya?”

”Tidak ada kepribadian ganda, dok. Hanya ada aku, aku berpura-pura seolah aku memiliki kepribadian ganda. Seolah aku sakit jiwa. Mengulur waktu sebelum aku berencana membunuh. Aku sadar membunuh mereka. Karena aku membenci mereka. Mereka pantas mati,” Dei menyunggingkan senyum puas, “Dan... anda juga pantas mati, dok.”

            “Hah? Kenapa kau melakukan ini padaku? Aku sudah bilang, aku akan menolongmu,” ucap dokter Elisa.

            Dei mengangkat sebelah alisnya lalu terkekeh kecil. Ia merunduk kecil dan mengeluarkan sebuah pisau lipat dari balik celana lusuhnya, memainkannya di atas pergelangan tangan, membuat dokter Elisa bergidik ngeri. Dei menatap sesuatu dari diri dokter Elisa. Menatap jam tangan usang dokter Elisa.

            “Aku pernah melihat jam tangan itu. Jam tangan mahal.”

Dokter Elisa memandang jam tangan usang di tangannya dan terkejut mendengar penyataan Dei.

“Anda mau tahu... ? Terakhir aku melihatnya, jam tangan itu  melingkar di pergelangan tangan papa saat mati. Tangan papa yang berlumuran darah, meregang nyawa. Aku melihat jam tangan usang itu”

            Dokter Elisa tertegun dan mencengkeram jam tangannya. Dei meringis kecil. Pandangan Dei berubah menjadi jijik ke arah dokter Elisa yang semakin pucat pasi.

            “Anda mematikan CCTV di ruangan ini, dok. Aku tahu, anda selalu mematikan CCTVnya karena memang aku tahu anda merencanakannya. Tapi, sungguh tindakan bodoh. Aku berhasil menjebakmu dengan aktingku ini. Luar biasa, bukan?”

            “Apa maksudmu yang sebenarnya, Dei?” tanya dokter Elisa sambil berusaha terus menjauhi Dei yang nampak bersiaga untuk menyerangnya setiap saat.

            “Jujur saja, anda adalah wanita sialan yang menggoda papaku, khan? Aku ingat, anda membeli roti di hari kematian papa dan mengirimkan pesan untuknya. Dasar... anda dan Sherin itu sama saja. Murahan. Berengsek!” umpat Dei.

            “Kami saling mencintai. Mamamu itu sakit jiwa. Dan papamu akan menikahiku setelah mengirimnya ke rumah sakit jiwa. Dengar Dei, aku menyayangimu. Sungguh. Aku tulus. Aku berusaha menyelamatkanmu saat ini karena aku mencintai papamu. Semua ini agar kamu juga bahagia.”

            “Oh, ya?” tanya Dei sangsi.

            “Dei... jangan lakukan ini. Aku akan membebaskanmu. Kamu nggak mau di penjara, khan? Kamu nggak mau terkurung, khan?”

            “Aku tidak perduli.”

            “Bohong! Kamu ingin bebas! Kamu ingin aku selamatkan. Ayolah, Dei... katakan kau ingin aku tolong. Dan, terimakah bantuanku.”

            Dei menatap dokter Elisa yang nampak memohon pada Dei. Dei lalu tertawa kencang sambil menghentikan gerakan pisau di tangannya. Ia menatap lurus dokter Elisa yang ketakutan di hadapannya.

            “Persetan! Anda adalah dalang semua ini. Titik awal kehancuran hidupku!” teriak Dei. “Dan anda bilang apa? Ingin membuatku bahagia? Kebahagianku... sudah lenyap sejak anda menyentuh tubuh papaku.”

            Sedikit lengah, dokter Elisa berhasil lari menerobos Dei dan menuju pintu. Dokter Elisa berhasil menekan tombol kunci pintu dan nyaris membukanya saat sebuah pisau berhasil ditusukkan Dei ke punggung dokter Elisa. Dokter Elisa  mengerang sambil terlunglai di lantai, merasakan nyeri di punggungnya. Dei melangkah mendekatinya, mencabut pisau itu dan membalik tubuh dokter Elisa yang basah oleh keringat. Wajahnya syarat akan ketakutan. Dei membuka paksa mulut dokter Elisa dan memasukkan hendak pisaunya ke dalam mulut dokter Elisa.

            “Dei... aku mohon,” pinta dokter Elisa.

            “Apa anda tahu bagaimana rasanya melihat pembunuhan di hadapanmu? Itu mimpi terburukku, dok. Aku tidak akan melupakannya. Aku melihat papaku mati. Mamaku. Rasa ngeri itu menancap, bercokol kuat dalam nadiku. Aku ingin terlepas dari semua itu. Dan aku tahu, hanya dengan melakukan ini, aku sanggup bangkit dari rasa sakitku. Melihat seseorang meregang nyawa, membangkitkan semangat hidupku. Bau darah, jeritan kesakitan... itu obat yang lebih mujarab ketimbang obat-obat sialanmu, dok.”

            “Maaf... ,” lirih dokter Elisa.

            “Terlambat. Selamat tinggal, Dok. Sampai bertemu di neraka!”

            Dan tusukan terakhir menembus tenggorokan, menghabisi nyawa dokter Elisa yang menyempatkan diri menekan tombol darurat. Dei tertawa riang menyaksikan kematian dokter Elisa beriringan dengan suara sirine tombol darurat. Dalam hitungan detik, ruangan terbuka bersamaan dengan beberapa petugas yang mengacungkan pistol ke arah Dei. Dei tidak perduli. Dia sudah puas. Semua memorinya berdansa, seiring tawanya. Semua kenangannya akan kematian orang-orang di sekelilingnya kini nampak jelas. Yah, Dei yang membunuh mereka. Karena mereka pantas untuk mati.

 

-Fin-

Yak.. dan novel ini tamat ^^

jangan lupa berikan like. komentar. rating ^^

terimakasih sudah mau membaca karya ini ^^

sampai jumpa di novel selanjutnya ^^

Regards Me

Far Choinice ^^

1
🥑⃟Rɪᷤᴀͣɴᷠᴀ
Tambah penasaran aja...😅🤗
🐾Bunda Lis@
ternyata emg dei pembunuhnya
🐾Bunda Lis@
yg bunuh hantu atau si dei sih..
Jans🍒
deka kmu lg ga baik2 aja
Jans🍒
d hntui rsa brsalah kah
Mom FA
aku hadir🤗🤗
Yen Lamour
Gak nyangka 😨 endingnya gak ketebak kyk bgni kak 😳 bravo 👏
Silence mampir kak, semangat berkarya baru 🥰💪🌹
VLav
waah sungguh plot twist yang membuatku tercengang 😱😱
MommyAtha
cerita penuh teka teki
Your name
Kenangan kelam masih kecil Dei juga menyebabkan ia mengidap pobia "nyctophobia" memiliki rasa takut yang berlebihan terhadap kegelapan, bahkan di kamar tidurnya sendiri.
irul brave
Plot twiissttt
irul brave
oh jadi gtu.. oh.. jdi buku itu ilusi? dei gila!!!
irul brave
Aduuhhh bakal ending beneran nih... tapi blm tau kenapa Dei seperti iniiii
MommyAtha: tolong mampir diceritaku kakak...
pilihan hati kiara
siapa tahu suka
terima kasih
total 1 replies
irul brave
ternyataa Dei beneran yg bunuh mereka semua?????
irul brave
beneran aku curiga bgt ama Deiii
irul brave
hororr dan thrilerrr yng seru
irul brave
Curiga ama Dei itu sendirii
irul brave
SERUUUUU ABISS
Afief Rahman
seruuuu bingo
Afief Rahman
ternyata oh, ternyata begituuu
MommyAtha: tolong mampir diceritaku kakak...
pilihan hati kiara
siapa tahu suka
terima kasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!