Dara adalah gadis cantik berusia 22 tahun. Dia harus terjebak dalam situasi yang sangat rumit di mana dia harus menghadapi dua pria yang sama-sama mencintainya. Yang satu sebagai tunangannya, sedangkan yang satu adalah adik dari tunangannya.
Dara selalu dihadapkan dalam sebuah situasi yang sulit dan rumit karena sang calon adik ipar begitu pemaksa dan suka mengambil keuntungan darinya. Namun siapa yang menduga jika akhirnya Dara malah terjebak dalam perasaan tak wajar itu.
Akankah dara bisa lepas dari jerat cinta calon adik iparnya, atau dia tetap menikahi calon tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jessica_226, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bercocok Tanam
New Novel di akun Lusica Jung 2... jangan lupa mampir dan kasih like komentnya 🙏🙏🙏🤗🙂
-
Dara menopang tubuhnya dengan kedua siku untuk menatap Ken yang tengah melepas sisa kain yang melekat di tubuhnya, dan Dara langsung terkesiap saat Ia benar-benar tel*njang di hadapannya.
Ini adalah kali pertamanya melihat seorang pria tanpa sehelai benang pun, dan itu nyata dan itu Ken! Suaminya! Dan tatapan Dara kemudian beralih ke sosis beruratnya, Oh my...
Dara merasakan sebuah sensasi yang sangat luar biasa . Dan dia tak akan berhenti berterimakasih pada Tuhan karena memberinya jodoh dengan sosis berurat yang berukuran normal.
Dara tersenyum-senyum seperti orang bodoh, sedangkan dewi batinnya di dalam sana sedang melompat-lompat girang atas pemandangan yang ada di hadapannya ini.
"Kenapa? Apa kau merasa kecewa karena milikku tidak seperti yang kau bayangkan?" Tanya Ken milihat mimik muka Dara.
Dara menggeleng. "Ehm, tidak, aku... Hanya sedikit gugup." Jawabnya.
Ken lalu menyeringai dan bergerak untuk mengambil posisi di atas Dara. Salah satu kakinya di tempatkan diantara pahanya, menjaganya untuk tetap terpisah, dan itu membuat gadis itu kembali basah.
Kemudian Ken mencium bibir Dara keras. Sebelum mengalihkan mulutnya menuju telinga wanitanya. "Aku pikir kau kecewa dengan milikku yang tidak seperti dalam bayanganmu."
Dara menggeleng. "Kau salah besar. Justru aku menyukai yang ukurannya normal seperti milikmu. Itu sangat pas dan tidak terlalu mengerikan." Ujar Dara menuturkan.
Ken kembali membenamkan bibirnya pada bibir Dara. Mel*matnya seperti tadi, dan ciuman kali ini tentu lebih dalam dan menuntut. Sedangkan tangannya mengelus, meremas, dan memainkan kedua bukit kembar istrinya.
"Oh Tuhan, Dara. Sungguh, aku benar-benar menginginkanmu." Suaranya terdengar serak saat Ia berbicara di tengah cumbuannya, sedangkan jarinya masih bekerja di bawah sana, memijat menggesek dan melebarkan cairan Dara di atas permukaan organ **** nya.
"Begitu pula denganku." Dara menyahutinya dengan antusias.
Tak ada keraguan dalam setiap kalimatnya. Dara memang menginginkan Ken berada di dalam dirinya, dan dia tahu pasti bahwa mereka memang saling menginginkan ini.
Dara menginginkannya berada di dalam dirinya. Sekarang. Dan dewi batinnya di dalam sana tengah berjingkrak riang menunjukkan kebahagiaan.
"Ken, please, aku membutuhkan dirimu sekarang juga. Aku ingin kau berada di dalam diriku, saat ini." Dara berbicara dalam kondisinya yang tengah di terjang badai yang bernama gairah.
Ken semakin liar menatap Dara."Katakan Sayang, katakan apa yang kau butuhkan dariku." Pemuda itu berbisik di telinga Dara, seraya menggigit-gigit kecil daun telinganya.
"Aku membutuhkan dirimu." Nafasnya mulai tersengal-sengal. "Di dalam diriku, Please." Lanjutnya memohon.
Ken menyeringai untuk yang kesekian kalinya. Dara mengerang nikmat saat salah satu jari Ken memasukinya, Ia menggerakannya perlahan, memaju mundurkan jarinya di dalamnya, di ikuti oleh pinggul Dara yang juga bergerak maju mundur searah dengan jarinya.
"Sebentar lagi kau akan siap untukku baby." Bisik Ken.
"Kau memang terasa nikmat." Ken berbisik. Kemudian dia memposisikan ujung sosis beruratnya di depan pusat Dara.
Dara mengeram, dia bisa merasakan daging kecilnya berdenyut dan semakin membengkak saat Ken menggesek-gesekan ujung miliknya di sekitar Miss-nya.
"Please." Aku kembali menggerakan pinggulku.
"Kenapa kau tidak sabaran sekali, Sayang?" Ucap Ken.
Ken menempatkan sosis beruratnya di depan Miss Dara. Ia menumpukan kedua tangannya di lutut Dara saat mencoba mendorong Ujung Sosisnya menuju kedalamnya. Dara memejamkan matanya dan meringis.
"AAH, KEN PELAN-PELAN!!" jerit Dara histeris. Dan mungkin saja jeritannya sudah sampai telinga orang-orang di luar sana.
Seketika itu juga gerakan Ken terhenti. "Apa sangat sakit?" Dara mengangguk. Ken kembali membenamkan bibirnya pada bibir Dara."Percayalah padaku, ini akan segera berakhir dan kau bisa merasakan kenikmatan." Ucapnya meyakinkan.
Dara hanya mengangguk. "Ya." Ia sedikit meringis. "Ini terasa hebat." Lalu dia menambahkan.
"Akan lebih hebat setelah kau merasakan diriku sepenuhnya di dalam dirimu."
"Soo, tunggu apa lagi? Lakukan sekarang juga, Ken." Pinta Dara memohon.
"### Dengan senang hati, Baby."
-
Tiga orang berjejar di depan pintu kamar Ken dan Dara. Mereka meletakkan telinganya pada daun pintu berpelitur elegan tersebut. Tujuan mereka hanya satu, mengetahui apa yang tengah dilakukan oleh kedua insan manusia di dalam sana.
"Bagaimana, Dev? Apa kau mendengarnya?"
"Ya, Pa. Aku mendengarnya, aku mendengar des*han Dara. Sepertinya mereka berdua sedang bercocok tanam." Ujar Devan.
"Benarkah? Minggir lah, Papa juga ingin mendengarnya." Brian menarik Devan dari depan pintu lalu mengambil alih posisi putranya itu.
"Aaahh... Ken, lebih dalam lagi. Uhhh, lebih cepat lagi."
Brian Jung sampai menelan Saliva dan membelalakkan mata mendengar suara rintihan dari dalam sana. Dia berjingkrak kegirangan, antara bahagia juga geli.
Sementara itu. Henry yang sedari tadi hanya bisa mendengar percakapan ayah dan anak itu tentu tak tinggal diam. Dia menarik mereka dan mengambil alih posisi mereka saat ini.
"Menyingkirkan, aku juga ingin melihatnya." Ucap Henry tak ingin kalah.
Kedua matanya sontak membelalak setelah mendengar suara-suara dari dalam sana. Seketika bulu kuduknya berdiri, dia merinding. Dan apa yang dilakukan oleh kedua insan anak manusia di dalam sana, membuat Henry menginginkannya juga.
"Mereka membuatku iri. Sebaiknya aku pergi ke club' malam saja. Aku ingin merasakan kenikmatan seperti itu juga." Ucapnya.
"Hei, tunggu aku. Aku juga ingin ikut!!"
"Yakk!! Kalian bedua, kenapa Papa malah ditinggal?! Tunggu Papa!!"
-
Untuk yang kesekian kalinya. Ken kembali menanamkan bibirnya di bibir Dara. "Come with me baby." Mulutnya berbisik hanya beberapa centi dari bibir wanita itu.
"Oh Tuhan, Ken!" Dan detik berikutnya Dara menjerit merasakan nikmat yang menghantam dirinya disusul dengan geraman pria itu di lehernya, saat miliknya semakin jauh menghantam bibir Miss Dara yang seketika menghangat oleh cairan itu di dalam sana.
"Kau terasa luar biasa, baby. Kau begitu mengagumkan." Ken kembali menatap Dara dan tersenyum lembut seraya membelai pipinya.
"Begitu pula denganmu, Ken. Kau juga sangat luar biasa." Dara mengecup bibirnya singkat.
"Aahh," Dara meringis ketika Ken menarik miliknya keluar. Pria itu menatapnya cemas.
"Kau tidak apa-apa?" Ken kemudian berbaring di samping Dara lalu merengkuh tubuh itu ke dalam pelukannya.
Dara menggeleng. Meyakinkan pada Ken jika dirinya baik-baik saja. "Aku menikmatinya." Bisiknya.
"### Tidurlah." Ken membelai rambut panjang Dara dan sentuhannya itu mengirim wanita itu menuju dimensi mimpi.
-
"BAJINGAN!!"
Kai langsung menerjang tubuh Ken begitu dia melihat sang adik tengah menuruni tangga.
Ken yang terkejut dan tak sempat menghindar hanya bisa membelalakkan matanya melihat pria itu melayangkan tinju pada wajahnya, lebih tepatnya pada salah satu pelipisnya yang belum sepenuhnya kering, membuat lukanya yang mulai tertutup kembali terbuka dan mengucurkan banyak darah segar.
Tubuh Ken sedikit terhuyung, sebelah tangannya menyentuh sisi wajahnya yang terasa hangat dan basah. Ternyata itu adalah darah.
"Bajingan, apa yang kau lakukan?!" Geram Ken marah.
"Kau yang bajingan, Ken!! Berani sekali kau merebut Dara dariku?! Sejak awal dia adalah tunangan ku, dan kenapa kau malah mengambilnya dari sisiku?!"
"Kau ngelindur ya? Jelas-jelas kau yang sudah mengambilnya dari pelukanku. Jelas-jelas orang yang di jodohkan dengannya adalah diriku. Tapi dengan jahatnya kau mengambil alih perjodohan itu dan mengatakan pada semua orang jika aku menolaknya!!"
"Kau memang brengsek, Ken!!"
"Terima saja kenyataan, Kai. Terim kenyataan jika sejak awal Dara tidak pernah mencintaimu, dia mencintaiku!!"
"Bajingan, aku akan membunuhmu!!"
Grepp...
Ken menahan tangan Kai yang hendak memukulnya. Dengan emosi yang menggebu-gebu. Ken melayangkan tinjunya pada wajah Kai dan membuat pria itu terjengkang kebelakang.
"Berhentilah bersikap bodoh, Kai!! Di dunia ini, Wanita bukan hanya Dara saja. Dan sebaiknya terima saja kenyataan jika dia bukanlah jodohmu!!"
"Ken, kau memang brengsek!!"
-
Bersambung.