Charlotte Mikaela Vanhoiren, yang ditetapkan sebagai Ratu dari Kaisar Vanhoiren ke-XX, dieksekusi gantung oleh Kaisar yang adalah suaminya sendiri dan dicap sebagai pengkhianat.
Saat berpikir tidak ada lagi kesempatan bagi Charlotte untuk membalaskan dendamnya, dia malah kembali ke saat di mana dia belum menjadi seorang Ratu.
Season 2:
Setelah Charlotte berhasil naik takhta menjadi seorang Kaisarina Vanhoiren I, Charlotte pun memulai rencananya untuk menyatukan keempat wilayah, termasuk Vanhoiren.
Selain itu, Charlotte juga harus mencari cara untuk menyatukan hubungannya bersama dengan Lucas. Berhasilkah Charlotte menggapai rencananya? Apakah Charlotte dan Lucas bisa bersama?
Rilis : Dua hari sekali (Sesuai kondisi author)
Cerita original Nojaelin
Cover The Second Life hanyalah visualisasi dan bukan milik Nojaelin
Kata per Chapter (kecuali Prolog dan Epilog) : 1000 - 1
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nojaelin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
XXIX - Rekan Baru
Aku bangun dari tidurku dan menemukan sebuah gaun yang diletakkan di atas sofa panjang kamarku. Itu pasti dari Lucas. Dia menepati janjinya padaku. Bahkan saat kulihat lebih teliti, di samping gaun itu pun ada heels dengan warna senada. Gaun itu agak terbuka di bagian atasnya dan memiliki warna silver yang dihiasi oleh beberapa berlian di bagian pinggang.
Seharusnya dia membangunkanku agar aku bisa berterima kasih langsung padanya. Hm.
“Selamat pagi, Nona Winston,” sapa Chloe yang masuk ke kamarku seperti biasa.
“Selamat pagi, Chloe.” Aku menunjuk gaun pemberian Lucas. “Sebentar malam aku akan memakai gaun itu. Siapkan aksesoris yang cocok nanti.”
Chloe terlihat takjub sekaligus bingung dengan keberadaan gaun itu. Ya, dia belum pernah melihat gaun itu di antara gaun yang diberikan Idris. Dia akhirnya hanya bisa mengangguk.
“Siapkan juga lilin aroma untukku nanti malam. Aku membutuhkannya untuk tidur.”
“Baik, Nona Winston.”
Holly masuk ke kamarku setelah mengetuk pintu. “Selamat pagi, Nona Winston. Tuan Franklin sudah datang dan menunggu Nona di halaman belakang.”
“Baiklah.”
*
Aku pergi ke halaman belakang dan melihat Hendery sedang meregangkan tubuhnya. Dia tahu aku sedang berdiri di belakangnya. Dibandingkan kemarin yang memakai pakaian resmi seorang kesatria, sekarang Hendery hanya memakai pakaian latihan biasa. Wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan kesan ramah bahkan saat menyapaku.
“Hari yang cerah, Nona Winston.”
“Ya, Anda benar,” kataku.
“Kita tidak akan latihan pedang untuk terlebih dahulu. Tubuh Nona harus terbiasa dengan latihan fisiknya. Lepaskan pedang Nona dan kita akan mulai melakukan one by one,” jelas Hendery.
Aku melakukan apa yang Hendery minta. Jelas saja menjadi seorang ahli pedang membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan latihanku selama ini. Menjadi kuat membutuhkan proses yang tidak sedikit. Jika kita tidak memiliki bakat, yang harus kita lakukan adalah berusaha lebih keras daripada orang yang memiliki bakat.
Ini adalah cara kerja kehidupan.
“Sekarang serang aku dengan kepalan tangan Nona,” pinta Hendery. “Rasakan saja alirannya. Saat meninju, bawa lengan Nona bersamaan dengan pinggul untuk menambah kekuatan dari pukulan.”
Aku kurang lebih paham dengan maksud Hendery. Jadi, kutinju telapak tangan Hendery yang dia angkat ke atas sebagai samsak alami. Aku melakukannya berkali-kali sebelum akhirnya diminta untuk berhenti.
Sekujur tanganku kebas. Ototku menegang karena kaget dengan aktivitasku yang tidak biasa ini. Hendery menangkap rasa sakitku lalu tersenyum.
“Apakah Nona punya motivasi yang kuat melakukan hal ini?” tanya Hendery setelah dia menyuruhku menyerangnya lagi.
“Motivasi? Saya?” Aku terkekeh dan hendak meninju wajah Hendery meskipun dia akhirnya menghindar. “Saya sama sekali tidak bodoh melakukan ini tanpa motivasi yang kuat.”
“Apakah itu rahasia?” tanya Hendery.
Aku berhenti melayangkan tinjuku kepadanya. “Apakah Tuan Franklin adalah tipe orang yang akan melakukan apa pun untuk mendapatkan sesuatu yang Tuan inginkan?”
“Hoo, pertanyaan menarik. Tapi aku tidak ingin menjadi munafik dengan berkata tidak.” Itu berarti, Hendery mengiyakan pertanyaanku.
Pikiranku bergejolak. Apakah Hendery orang yang tepat untuk kujadikan sekutu?
“Termasuk membunuh?”
Seringaian menghiasi bibir Hendery lagi. “Apa Nona tahu seberbahaya apa kata-kata itu?”
Membunuh, ya. Itu memang adalah sebuah kata berbahaya dan tindakan yang terlarang. Aku tahu seberbahaya apa hal itu. Karena aku adalah korban dari pembunuhan. Mari kita lihat selicik apa Hendery untuk bisa kuajak bekerja sama. Jika kulihat lebih rinci, Hendery tipe orang yang akan menetap di satu kubu yang lebih unggul.
Untuk apa dia merelakan diri menjadi pelatihku jika bukan tanpa alasan? Ya, tentu saja dia menginginkan kekuasaanku sebagai Ratu agar bisa merebut hak Kakaknya sendiri. Meskipun sudah bersepakat, dia berpikir jika aku menerimanya begitu saja dengan hanya menerima latihan darinya.
“Jawab saja pertanyaan saya, Tuan Franklin,” desakku.
“Ya, aku bisa melakukan apa pun dengan cara kotor sekali pun,” ungkap Hendery. “Bisa dibilang, aku adalah orang yang bisa jadi apa pun yang kuinginkan. Bersikap netral atau memihak.”
“Bagaimana Anda bisa sepercaya diri itu jika saya memang akan menjadi Ratu? Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya karena saya sama sekali belum bertunangan dengan Yang Mulia Putra Mahkota.” Aku berusaha memancingnya.
Hendery menghela napas. “Bilang saja aku punya insting yang kuat. Dan Nona Winston sangat percaya diri saat kita bersepakat kemarin. Seakan-akan menjadi Ratu adalah sesuatu yang sudah mutlak akan terjadi.”
“Tuan Franklin, jika saya bilang ... saya bisa menaikkan gelar Anda menjadi seorang Duke, apa Anda akan percaya?”
“Duke?” Hendery tertawa. “Ratu tidak punya kuasa akan hal itu, Nona Winston.”
Aku tersenyum dan Hendery pun terdiam. Dia sudah terpancing. “Ya, saya tidak bilang bahwa saya akan menaikkan gelar Anda saat menjadi Ratu.”
“Wah, Nona Winston. Nona pasti sudah gila,” ucap Hendery menggeleng-gelengkan kepala.
Dia tidak percaya padaku. Akan kupakai itu sebagai tali pengekangnya.
“Berlututlah,” kataku tegas. Dalam sekejap Hendery berlutut tanpa diinginkan olehnya. Dia terlihat kaget. Aku membiarkannya seperti itu. “Diam dan dengarkan perkataanku.”
Aku berjongkok di depannya dan memelankan suaraku. “Tuan Franklin, jika Anda tidak mendengarkan perkataan saya sekarang, Anda tidak bisa kembali lagi. Saya akan memusnahkan Anda di tempat ini sebelum Anda bisa membocorkan segala yang telah Anda dengar sekarang. Mengangguklah jika Anda paham.”
Hendery mengangguk dan aku pun melepas belenggu yang kupasang padanya. Dia mengambil napas dalam-dalam dan berdiri kembali.
“Kau terlalu berlebihan padaku, Nona Winston ....” Hendery menatapku. “Tapi bagaimana bisa masih ada penyihir yang tersisa di Vanhoiren?!”
“Kecilkan suara Anda itu,” kataku. “Karena Anda sudah tahu segalanya, pilihan Anda hanyalah bergabung atau mati.”
“Kesatria biasa sepertiku pastinya tidak akan menang melawan penyihir,” kata Hendery. “Tapi tetap saja aku tertarik dengan kesepakatan yang Nona Winston katakan.”
“Soal gelar Duke?”
“Ya.” Wajah Hendery berbinar.
“Itu bukanlah omong kosong. Tapi caranya pun tidaklah mudah karena saya tidak bisa menjadi Ratu untuk melakukan hal itu.” Aku meliriknya sedikit dan mengambil pedangku yang sengaja diletakkan di atas rumput. “Saya harus menjadi Kaisar.”
Mata Hendery melebar. “Nona Winston ..., itu berarti Nona hendak-”
“Ya, saya akan menggulingkan Kaisar yang akan naik takhta selanjutnya.”
***
Holly menghampiriku dengan tergesa. Dia memberikan surat dengan cap keluargaku. Jayden sudah memberikan balasannya.
Kubuka surat itu dan membaca isinya.
Nona Charlotte, ini aku, Jayden.
Beberapa waktu berlalu dan tidak mendengar kabar dari Nona, Tuan Viscount, Layla, dan aku sendiri sempat khawatir. Tapi akhirnya setelah mendapatkan surat dari Nona, kami pun langsung lega.
Aku akan segera datang ke Istana Perunggu dalam waktu dekat setelah membantu Tuan Viscount yang sedang mengurus bisnisnya. Nona Charlotte tidak perlu khawatir dengan urusan yang ada di tempat ini.
Kalau begitu, sampai jumpa nanti, Nona Charlotte.
P.S. Layla menanyakan kabar Isla juga. Saat akan ke Istana Perunggu, Layla akan menitipkan cemilan coklat untuk Nona dan Isla.
Tertanda, Jayden.
Aku tertegun saat melihat nama Isla di surat yang dituliskan oleh Jayden untukku. Hm, aku tidak bisa berlarut dalam kesedihan dan mempercepat seluruh rencanaku untuk menyelamatkan Isla juga.