Nia Ramadhani sudah berusia 30 tahun dan berumah tangga selama selama sepuluh tahun, karena suatu kejadian sang suami Leo Anugerah berselingkuh dengan sang sahabat.
Apa yang dilakukan oleh Nia setelah mengetahui sang berselingkuh, dia akan diam saja atau membalas perbuatan sang suami
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mutia al khairat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Masih dalam kamar Nia semua orang terkejut melihat kamar yang sudah berantakan pakaian berserakan dan pecahan kaca. Papi Primus berusaha mendekati putrinya tapi Nia terus berteriak.
Papi Primus merasa sedih melihat keadaan putrinya. " Sayang lihat ini papi" kata papi Primus dengan lirihnya sambil menunjuk dirinya sendiri.
" Green, dimana putriku mereka membawa putriku, mereka merampasnya dari pelukanku" kata Nia. Papi Primus tersenyum.
" Sayang ayo kesini mamimu memanggilmu" panggil papi Primus pada cucunya Green. Green menatap neneknya yang tersenyum sambil menanggukan kepalanya.
" Kakek Green ingin mami" Green meraih tangan kakeknya dan mendekati Nia.
" Nak lihat siapa yang bersama papi" kata papi Primus membawa Green ke depannya. Nia berusaha membuka matanya dia melihat ada anak kecil di hadapannya.
" Green anak mami mana? " Nia dengan matanya mencari sesuatu tiba saja dia tersenyum melihat boneka di depan lemari, Nia berdiri dan mengambil bonekanya diciumnya.
" Green anak mami sekarang tak ada lagi yang mengambil anakku dariku" Nia berjalan dan menaiki kasur, dia menimang boneka itu.
Semua orang di dalam kamar terkejut melihat tingkah laku yang ditunjukan oleh Nia.
" Kakek kenapa mami memanggil boneka dengan nama Green? " Gren menatap kakeknya, Papi Primus berusaha menenangkan dirinya sedangkan mami Yulia sudah menangis sambil menutup mulutnya dengan tangannya.
" Mungkin mami Green lelah sayang sekarang cucu cantik kakek ini bersama bibi dulu ya, biar mami Green bisa bisa istirahat" kata papi Primus, Green menanggukan kepalanya.
Papi Primus memanggil salah satu pelayannya untuk membawa Green ke kamarnya. Papi Primus dan mami Yulia mendekati sang anak karena kamar sudah dibersihkan oleh pelayan.
Mami Yulia menangis memeluk sang anak sedangkan papi Primus menahan kesedihannya sambil mengelus kepala putrinya.
" Tuan besar dokter sudah datang" kata kepala pelayan yang masuk bersama dokter. Papi Primus turun dari kasur dan mendekati dokter.
" Dokter tolong putri saya" kata papi Primus penuh dengan harapan. Dokter menanggukan kepalanya dan menepuk punggung papi Primus yang terlihat frustrasi.
" Nyonya boleh saya periksa nona sebentar" kata dokter, mami Yulia menanggukan kepalanya dan minggir agar dokter leluasa memeriksa putrinya.
Dokter melaksanakan tugasnya memeriksa Nia dan juga psikis dan kejiwaannya, Setelah selesai memeriksa Nia dokter mengajak papi Primus bicara diluar.
" Tuan bisa kita bicara di luar" kata dokter. Papi Primus menanggukan kepalanya. " Pspi biar mami menemani Nia disini" kata mami Yulia.
Kemudian papi Primus dan dokter menuju ruang tengah dia juga meminta bibi menemani istrinya takutnya dia membutuhkan sesuatu.
" Dokter bagaimana keadaan putri kami? " papi Primus dengan perasaan khawatir. " Tuan yang saya takutan sepertinya terjadinya, anda harus membawa putri anda ke dokter psikologis untuk memulihkan depresi yang dialaminya " kata dokter, papi Primus hanya duduk memilirkan keadaan putrinya.
Kemudian dokter pamit setelah tindakan yang harus dilakukan papi Primus terhadap putrinya.
" Nak kenapa nasibmu harus seperti ini" papi Primus mengusap wajahnya.
" Kakek mami Green baik-baik saja kan" Green datang dan mendekati kakeknya. Papi Primus melihat bibi yang menemani cucunya.
" Maaf tuan besar sejak tadi nona terus menangis memanggil nona Nia" kata bibi menunduk karena takut dimarahi.
" Tidak apa bi silahkan lanjutkan pekerjaannya " kata Papi Primus, bibi pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.
" Mami Green baik saja sayang, sekarang Green harus merawat dan menemani mami agar mami cepat sembuh" kata papi Primus, Green menanggukan kepalanya dan memeluk kakeknya.
oh iya jangan lupain kalo keluarga Nia ini orang kaya , harus nya bisa dengan sekali geleng walo pun perusahaan nya udah pindah tangan .