Kisah ini menceritakan sekumpulan lima bocah yang bersahabat dari kecil yang memiliki keunikan yang berbeda-beda. Kelima bocah itu selalu bertingkah somplak dan menggemaskan. Dengan tingkah somplak itulah, mereka selalu saja di jitak oleh orang tua mereka. Jitakan itu terdengar bunyi "Pppplleettaakkk.." yang akhirnya mereka berkumpul dan menjadi sebuah geng yang bernama GENG PLETAK.
Kelima bocah itu tumbuh bersama walaupun usia mereka tak sama. Namun dengan perbedaan usia yang tak jauh itu, membuat mereka menjadi sahabat yang begitu akrab satu sama lainnya hingga mereka dewasa.
Suatu hari GENG PLETAK bosan dengan kiruk pikuk kehidupan yang ada di kota. Mereka pun memutuskan untuk pergi berlibur mencari suasana baru di sebuah pedesaan yang memiliki rumor bahwa ada sebuah Goa yang di dalamnya terdapat harta karun yang terkubur disana. Sontak saja membuat GENG PLETAK itu penasaran untuk mencarinya.
Akankah GENG PLETAK dapat menemukan harta karun tersebut dan menjadi kaya raya??????????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widya Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesasar
Mereka pun terbagi 4 tim dan masing-masing tim masuk ke dalam satu lorong goa. Awalnya Ari dan Giselle akan memasuki lorong tengah, namun Kuntiwati melarangnya. Walhasil Ari dan Giselle masuk ke lorong paling ujung sebelah kanan bersama Kuntiwati, sedangkan lorong tengah dimasuki oleh Gading, Rena dan Mang Urip.
Ari dan Giselle masuk ke lorong tersebut dengan menggunakan cahaya lampu senter sebagai penerangan, lantaran di dalam lorong goa itu sangat gelap walaupun saat itu kondisi sedang siang hari. Semakin masuk ke dalam suasana lorong goa tersebut kian mencekam.
"Bang, serem banget! Aku takut!" ucap Giselle merangkul lengan Ari lantaran ketakutan saat berada di dalam goa.
"Lebih serem lagi muka mbak Kunti tuh!" bisik Ari pada Giselle sembari meliriknya.
"Kedengeran wwooii!!!" pekik Kuntiwati ternyata mendengar bisikan Ari mengenai dirinya.
"Hehehe, jangan marah ya mbak Kunti! Cuma bejanda eh...becanda doang." ucap Ari gemetar saat Kuntiwati menatapnya.
"Silahkan mbak Kunti jalan duluan!" ucap Ari lagi.
"Kenapa harus gue yang jalan duluan?" tanya Kuntiwati.
"Lah, lo kan penghuni goa ini jadi lo udah pasti tau lah jalan." sahut Ari.
"Eh, entaran dulu deh! Gue baru ingat mbak Kunti kan penghuni goa ini, berarti udah pasti tau dong dimana letak harta karun itu? Kenapa gak langsung kasih tau ke kita aja sih, biar kita gak payah ribet-ribet nyari!" seru Giselle.
"Oh iya, bener juga tuh!" seru Ari.
Ari dan Giselle menatap Kuntiwati yang tampak gusar lantaran ditatap oleh mereka berdua.
"Apa?" tanya Kuntiwati.
"Kasih tau kita lah dimana tuh harta karun!" seru keduanya.
"Dasar manusia pemalas taunya mau enak doang!!!" pekik Kuntiwati marah.
"Kalian mau dapat tuh harta, ya usaha dong! Lagian kalau gue kasih tau ke kalian dimana tuh harta karun tersimpan, nih cerita udah bakalan kagak asik lagi! Kata pembaca tuh kurang gregetan!" sambung Kuntiwati.
"Huh, yang gak asik itu lo! Padahal lo tau dimana tuh harta karun tapi tetap aja gak mau ngasih tau ke kita!" gerutu Ari sewot.
"Uuugghh, lama-lama ngeselin juga nih si jomblo akut!" gerutu Kuntiwati kesal.
"Eh, busssett!!! Lo tau darimana kalau gue jomblo sejak lahir?" tanya Ari.
"Dari muka lo yang nyebelin itu!" sahut Kuntiwati.
"Ah elah, muka lo lebih nyebelin lagi bahkan nyeremin!" sahut Ari tak mau kalah.
Mendengar perkataan Ari sang Kuntiwati pun langsung sedih. Ia melayang ke pojokan goa dan menangis dengan suara tangisan yang begitu memilukan.
"Hiks...hiks...hiks..., padahal waktu masih hidup muka gue cantik banget mirip Lisa BlackPink tapi sekarang hhuuwwaaa....." ucap Kuntiwati sembari menangis histeris membuat bulu kuduk auto berdiri dan telinga berdengung.
"Serius mbak Kunti dulunya mirip Lisa Blackpink!" seru Giselle.
"Iya! Huuuwwaaa...." sahut Kuntiwati terus menangis histeris.
"Duh, kasihan banget pas udah jadi hantu malah jelek banget kayak gini!" kata Giselle membuat tangisan Kuntiwati bertambah histeris.
"Jahat banget sih mulut lo! Pengen bange gue cocol pakek cabe tuh mulut!" pekik Kuntiwati sewot pada Giselle.
"Lah maaf, gue kan cuma berkata jujur aja!" sahut Giselle.
"Heh, Lisa Blackpink! Sudah jadi setan masih aja halu!" ujar Ari.
"Gue ngambek sama kalian berdua! Gue mau pergi bareng si Pocan aja, males gue sama kalian berdua mulutnya jahat banget!" pekik Kuntiwati sembari terbang melayang dan pergi menjauh dari Ari dan Giselle.
"Mbak Kunti, tunggu!" ucap Giselle seolah ingin menahannya dengan menarik ujung gaun yang dipakai oleh Kuntiwati.
"Lepas...!!! Lepasin aku mas!!! Aku jijik sama mas!!!" pekik Kuntiwati sambil menangis histeris.
"Eeemmm, mbak! Gue cewek loh, bukan cowok! Masa gue jadi mas?" ucap Giselle bingung.
"Lah, emang di goa ada tv? Kapan nonton sinetron orang ketiga?" tanya Ari termasuk orang yang doyan ngikutin sinetron tersebut.
"Eh, lo tau sinetron itu?" tanya Kuntiwati auto berhenti menangis dan mendekati Ari.
"Iya dong! Gue ngikutin tuh cerita sampai ending. Wah, episodenya panjang beeett, kayak sinetron tersanjung sama tukang bubur naik haji!" sahut Ari.
"Endingnya gimana? Gue gak habis nontonnya soalnya gue keburu bunuh diri waktu itu!" kata Kuntiwati.
Giselle menatap kesal pada Ari dan Kuntiwati yang tiba-tiba saja mendadak kembali akrab serta membicarakan mengenai sinetron yang mereka ikuti.
"Dasar gila! Bukannya lanjut cari tuh harta karun, mereka malah ngebahas ending sinetron!" gerutu Giselle dalam hatinya.
***
Sementara itu, Lilis dan beberapa anak buahnya tiba di depan mulut goa. Disana ia tak menemukan siapapun dan meyakini bahwa anggota Geng PLETAK serta yang lainnya telah masuk ke dalam goa tersebut.
"Sialan! Mereka semua pasti udah masuk ke dalam goa ini!" umpat Lilis kesal.
"Kita terlambat! Bagaimana selanjutnya?" tanya Jalu pada Lilis.
"Ini semua gara-gara setan sialan itu! Si Kunti sama Pocong itu telah membuang waktu kita tadi." sahut Lilis.
"Kita harus segera mencari laki-laki yang bernama Ari itu! Aku akan menggodanya untuk mendapatkan peta harta karun itu." sambung Lilis.
"Nanti setalah kita dapat peta itu, apa yang akan kita lakukan pada laki-laki itu nanti?" tanya Jalu lagi.
"Terserah kalian! Kalian habisi pun aku gak perduli!" sahut Lilis dengan sikap kejamnya yang tersembunyi dibalik raut wajahnya yang tampak polos bak gadis desa yang kemayu.
"Cepat kalian berpencar dan masuk ke dalam setiap lorong goa lalu kalian rampas peta harta karun itu!" seru Lilis pada semua anak buahnya.
Lalu Lilis duduk bersila sembari menggenggam tusuk konde yang kemudian ia tancapkan ke tanah.
"Mak peyot! Tunjukkan padaku dimana laki-laki yang bernama Ari itu!" ucap Lilis sembari membaca mantra-mantra.
Lilis memejamkan matanya lalu tak lama ia seakan mendapatkan wangsit serta mengetahui dimana Ari berada.
"Huh, sialan! Si Kunti menjaga dia!" gerutu Lilis marah.
"Eemm, dia siapa neng?" tanya Jalu.
"Tentu saja laki-laki yang bernama Ari itu!!!" pekik Lilis ngegas lantaran kesal memiliki anak buah dungu seperti Jalu.
"Oh." ucap Jalu dengan lugunya.
"Apanya yang oh!!! Cepat masuk ke lorong paling ujung itu!" pekik Lilis lagi.
Lilis dan Jalu pun masuk ke dalam lorong goa dimana Ari, Giselle dan juga Kuntiwati sedang berjalan mengurusi goa tersebut.
Di sisi lain Gading, Rena, Mang Urip dan juga Pocan sedang menyusuri lorong tengah goa. Langkah mereka terhenti saat mereka menemukan jalan buntu di lorong itu.
"Lah, ngapa jadi buntu nih lorongnya?" gumam Gading bingung.
"Bang, lo salah lihat peta nya kali!" sahut Pocan.
"Kagak salah gue! Disini tertera habis jalan lurus terus belok ke kiri." kata Gading.
"Sayang, coba di cek lagi! Mungkin kamu beneran salah lihat petanya." kata Rena.
Mang Urip memperhatikan peta yang di pegang oleh Gading sebagai penunjuk jalan. Mang Urip melihat ada hal yang aneh pada posisi peta tersebut.
"Ya iyalah salah, bos Gading megang petanya kebalik!!!" seru Mang Urip.
Gading, Rena dan Pocan auto kaget saat mengetahui bahwa benar Gading memang memegang peta tersebut secara terbalik. Gading cepat-cepat membalikkan posisi peta tersebut dan melihatnya dengan seksama.
"Lah, kalau kebalik yang kanan jadi kiri dan yang kiri jadi kanan!" kata Pocan ikut menatap peta tersebut.
"Hehehe, sorry guy's! Gara-gara gue pegang petanya kebalik kita semua jadi nyasar deh!" ucap Gading cengengesan sambil garuk-garuk kepala.
"Haaaahh...."