Maliq kumbara, adalah putra tertua dari Rubby dan Edra (Madu Pilihan Istriku).
Ia dengan segala pngorbanan dan kasih sayang kepada semua adiknya, hingga mengesampingkan keingingan pribadinya.
Mengemban tangung jawab dengan Empat orang adik, Maliq terkesan posesif, karena begitu menyayangi mereka. Meskipun begitu, kekompakan, kesolidan dan pengertian masing-masing.
Suatu ketika kekompakan mereka itu diuji dengan adanya masalah. Bram diputuskan oleh kekasihnya karena tak sabar menunggu urutan mereka menikah. Adi yang harus diam-diam menjalin hubungan dengan sekretarisnya. Bayu, meskipun Ia santai, namun tak dipungkiri, Ia pun ingin merasakan seperti sahabatnya yang lain, yang bebas tanpa terlalu banyak peraturan.
Isyana, bungsu yang merupakan satu-satunya wanita diantara mereka lah yang menjadi penentu segalanya. Dimana Maliq baru akan menikah dengan wanita yang mampu menjadi. Teman bagi Isyana dan mau dengan ikhlas membantu merawat kesayangan mereka.
Masalah demi masalah lain muncul seiring berjalanya waktu, kembali menguji kesabaran mereka. Bagaimana cara mereka menghadapi masalah itu bersama? Mampukah mereka mempertahankan keharmonisan yang mereka jaga utuh selama ini bahkan ditengah semua kondisi tersulit dalam hidup mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bram dan Bayu
Bram bersiap pulang, Ia melirik Bayu agar ikut bersamanya. Namun ketika Bayu mulai berdiri, seseorang meletakan beberapa file dimeja kerjanya.
"Revisi dulu, baru boleh pulang." Aldi, seorang manager baru yang baru setengah tahun bekerja dikantor Bram. Entah siapa yang menjadi pegangannya, hingga dikemampuan yang tak seberapa itu, Ia bisa menjadi seorang wakil manager keuangan.
"Ini kan tugas Bapak. Kenapa kasih ke saya?" tanya Bayu.
"Kamu itu masih magang, ngga usah kebanyakan protes. Itung-itung ini jadi wadahmu belajar agar semakin lancar nanti." jawab Pak aldi dengan nada sok pintarnya.
Bayu kembali melirik Bram dari kaca ruanganya, dan Bram hanya mengisyaratkan untuk melanjutkan pekerjaan itu secepatnya, lalu Bayu pun kembali duduk dengan komputer kembali menyala.
Perlahan para karyawan sudah pulang, hanya tinggal beberapa yang masih lembur. Bayu pun masih sibuk dengan tugas tambahanya, dengan mata yang sudah mulai perih karena layar komputernya.
"Udah Bay?" Bram menghampirinya, dan mengecek pekerjaan Bayu.
"Sedikit lagi, Pak. Bapak belum pulang, ini udah sore loh." Bayu berusaha profesional dalam menyembunyikan identitasnya.
"Baiklah, saya tinggal kamu disini. Hati-hati, disini ada penunggunya." bisik Bram ketelinga Bayu, dan membuat Bayu merinding.
"Mas... Jangan main-main, merinding nih." lirih Bayu.
"Hust, Bapak jangan Mas. Kerjakan tugas kamu, saya mau pulang." Bram melipat jasnya ditangan, lalu meninggalkan Bayu dikantor yang sudah mulai sepi itu.
Bayu celingukan beberapa lama setelah semuanya pergi. Ia lalu mengambil flashdisknya, dan menyalin semua data diflashdisk itu.
Terdengar suara langkah menghampirinya pelah, dan membuatnya semakin merinding. Segera diambil tasnya, lalu berlari keluar kantor, hingga menabrak seseorang dengan begitu keras.
"Maaf, maaf, ngga sengaja. Saya buru-buru soalnya." ucap Bayu dengan merapikan pakaian dan tasnya.
"Buru-buru apa takut?"
"Mas Bram... Katanya mau pulang, kok balik lagi?" tanya Bayu.
"Mas tahu kamu, Bay. Dikantor sebesar ini, sendirian, berani kamu? Mas pergi sebentar cari makan buat yang dirumah barusan." jawab Bram, dengah tersenyum geli menatap adiknya yang ketakutan itu.
"Owh, ayok Mas pulang." aja Bayu, dengan menggandeng lengan Bram.
"Tugasmu selesai?"
"Bodo ah... Nanti malem aja dilanjutin dirumah, capek."
"Capek apa takut?". Ledek Bram.
"Au ah... Ngga usah dibahas lagi." balas Bayu, yang pergi tanpa mau menengok lagi kebelakang.
Mereka pulang bersama dengan kendaraan masing-masing namun beriringan.
"Assalamualaikum." Bram mengucap salam lalu masuk kedalam rumah.
Terlihat Maliq dan yang lain duduk menunggu mereka, lalu Nana menghampiri mengambil makanan yang Bram bawa.
"Mas mandi sana, Nana siapin makan malamnya, Sama Mas Bayu juga."
"Iya," jawab Bram, yang terlihat kelelahan.
"Tumben jam segini baru pulang." tanya Maliq, yang menghampiri Nana dan membantunya menyiapkan makanan.
"Bayu lembur, tapi takut sendirian. Akhirnya Bram nungguin." jawab Bram.
"Bayu ngga takutlah, cuma Bayu paham, kalau yang lain pasti udah nungguin kita buat makan malem. Daripada mereka kelaperan, kan mending tugas Bayu bawa pulang." sahut Bayu dari atas tangga.
"Ngeles aja, Loe." ledek Bram, lalu mereka masuk kekamar masing-masing.
"Mas adi lagi ngapain? Ayo sini makan." tegur Nana, yang melihat Adi sibuk dengan Hpnya.
"Iya Na, bentar. Bales Wa temen soalnya." jawab Adi, lalu meletakan hpnya dan menghampiri Nana dan Maliq.
Mereka bertiga sudah siap dimeja makan, hanya tinggal Bayu dan Bram yang akhirnya menyusul bersamaan.
Makan malampun dimulai, dengan penuh canda tawa mereka makan bersama hingga akhirnya selesai dan melanjutkan dengan shalat isya berjama'ah, kecuali Nana yang menunggu diluar membereskan meja makan.
miris.....😭😭😭
saling jaga , sayang , rukun dan berbakti kpd kedua orang tua nggak bertengkar berebut warisan
belum jadi istri saja hrs memprioritaskan dirinya dr pd keluarga mu
menikah itu bukan hanya menikahi kekasihmu saja tapi keluarganya juga