Ini kisah Alina seorang wanita wanita introver dan sangat menyayangi ibunya. Pengkhianatan yang dilakukan ayahnya meninggalkan luka menganga di hatinya.
Luka yang belum sembuh itu semakin menjadi saat Reyhan Wijaya datang. Sosok yang keras kepala, egois, dan berhati dingin, telah menodai Alina tanpa sengaja. Reyhan meninggalkan kenangan menyakitkan lainnya untuk Alina hingga ia mesti tertatih merapikan hidupnya yang semakin porak-poranda.
Takdir keduanya membawa pada beragam pertanyaan, haruskah mereka bertahan atau saling meninggalkan?
Akankah hati dan cinta mereka saling membahagiakan atau malah menghancurkan?
Temukan jawabannya dengan membaca kisah mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Sima Simi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir
Alina memegangi perutnya yang terasa nyeri, dia berjalan pelan menuju kamar mandi dan duduk di kloset.
"Aduhh ... kenapa ini perut gue kok nyeri banget sih. Gue harus bisa tahan nih, sebentar lagi udah jam pulang," batin Alina menahan rasa sakitnya, dia menarik nafas dalam-dalam mencoba meredakan rasa sakitnya.
"Udah beberapa kali gue ngerasain kram perut, sepertinya gue harus cepet periksa nih."
"Kamu sehat-sehat ya, Nak. Mama bakal nglakuin apapun buat kamu sayang," ucap Alina sambil mengelus-elus perutnya.
Setelah dia merasa sedikit lebih baik Alina keluar dari kamar mandi dan kembali ke meja kerjanya.
"Mbak Alin sedang datang bulan yaa?" celetuk Sarah teman kerja Alina.
"Ehh, enggak kok Sar," jawab Alin bingung.
"Tapi itu di rok mbak Alina ada bercak darah," ucap Sarah menunjuk bagian belakang rok yang Alina kenakan.
Alina yang terkejut segera memutar kepalanya dan benar saja, di roknya terdapat bercak darah yang sangat jelas terlihat.
"Aduh Sar, aku harus cepetan pulang nih. Tolong bantu aku minta ijin ya Sar," pinta Alina pada Sarah.
Alina melepas jas yang dia kenakan dan menutupi bercak darah dengan jasnya yang diikat ke pinggang. Alina berjalan tergesa-gesa keluar dari perusahaan, hatinya benar-benar gelisah takut jika terjadi sesuatu pada kandungannya.
*********
Pintu ruangan Reyhan dibuka dari luar, Reyhan langsung mengangkat kepalanya mendengar suara pintu terbuka.
"Mama? kapan Mama datang?" Reyhan sedikit terkejut melihat mamanya sudah ada di perusahaan.
"Baru saja, Mama langsung kesini. Mama ingin bertemu menantu Mama" ucap Mama sambil berjalan dan duduk di sofa ruangan Reyhan.
"Apakabar Nyonya?" sapa Doni.
"Baik Doni, kamu terlihat semakin tampan sekarang," ucap mama Rani yang direspon senyuman ramah Doni.
"Terimakasih nyonya."
"Panggilkan Alina kesini!" perintah Reyhan diangguki oleh Doni.
Doni segera menuju ruang kerja Alina, matanya sudah berkeliling ruangan untuk mencari keberadaan Alina tapi tidak juga menemukan wanita itu.
"Sarah, apa kau melihat Alina?"
"Mbak Alina ijin pulang Pak baru saja."
"Kenapa dia pulang awal?" tanya Doni dengan nada sedikit terkejut.
"emm ... itu Pak ... tadi ..." Sarah sedikit ragu untuk mengatakannya.
"Ada apa cepat katakan!" Doni sudah meninggikan suaranya karena tidak sabar untuk mendengar jawaban Sarah.
"Sepertinya Mbak Alina datang bulan, karena ada bercak darah tadi." Sarah berkata dengan menundukkan kepalanya, tentu saja dia sangat malu mengatakan hal seperti itu pada seorang laki-laki.
"Apa? mana mungkin?" ucap Doni terkejut dan langsung meninggalkan Sarah yang kebingungan dengan reaksi Doni.
"Kenapa Pak Doni kaget begitu ya? apa jangan-jangan dia menyukai mbak Alina ya? yahh ... kalah telak nih gue," gumam Sinta dan kembali melakukan pekerjaannya.
Doni mengetuk pintu ruangan Reyhan sebelum akhirnya masuk ke ruang dengan sedikit tergesa.
"Ada apa Don? dimana Alina?" tanya mama Rani.
"Itu Nyonya, Mbak Alina sudah pulang."
"Pulang? kenapa dia pulang jam segini?" sela Reyhan menatap tajam Doni.
"Itu—kata Sarah tadi mbak Alina datang bulan karena ada darah di pakaiannya."
"Apa? mana mungkin dia datang bulan Don, dia sedang hamil. Pasti ada apa-apa dengan kandungannya, Mama harus segera menyusul," ucap Mama panik dan segera melangkah pergi meninggalkan mereka berdua begitu saja.
Reyhan yang juga terkejut masih diam mematung di tempatnya.
"Pak apa anda tidak ingin pergi juga, nyonya sudah pergi," celetuk Doni menyadarkan Reyhan.
"Bodoh! kenapa tidak kau katakan dari tadi?" maki Reyhan pada Doni dan langsung berlari menyusul Mamanya.
"Bos sialan itu apa sekarang dia gila? bahkan dia menyalakanku karena dia melamun."
Bersambung ....
dulu udah berjanji setelah Alin a mau kembali dan anaknya lahir, hanya akan membahagiakan istri dan anaknya, mereka berdua yg jadi prioritas.
sekarang... boro-boro, inget anak juga nggak!
coba istrimu yg ada diposisimu, makan sama laki-laki lain dari siang ampe sore? pasti ngamuk tuh.
laki-laki egois!
dua-duanya salah, tapi gak ada yg mau menyampaikan apa yg menjadi keinginannya, api gak bisa dilawan dengan api, jadinya kebakar.
Alina udah tau kerepotan tp gak mau menerima ide suami untuk dibantu baby sitter, Reyhan kecewa dengan penolakan istrinya yg katanya lelah, lebih memilih meninggalkan rumah dan mencari pelampiasan lain yaitu alkohol.
takutnya seperti sekarang dia ketemu dengan wanita lain yg bisa memberinya kenyamanan
setelah baca beberapa bab ternyata ceritanya bagus banget 👍😍
cerita ini benar-benar bagus, tak terduga dan pastinya beda dengan cerita-cerita lainnya😍👍